Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pertarungan Lewat Batin


__ADS_3

Cakra Buana segera menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menuju ke asal suara pertarungan tersebut.


Benar saja, disana ada tiga orang pendekar pria dengan pakaian seragam berwarna merah yang sedang mengeroyok satu orang pendekar wanita berpakaian serba jingga.


Umur mereka paling banyak sekitar dua puluh satu tahun, sepantaran dengan usianya sekarang.


Ketiga pendekar pria itu mengeroyok pendekar wanita dengan ganas. Meskipun pendekar wanita tersebut mampu mengimbangi ketiganya, tapi lambat laun gerakannya menjadi kacau.


Keringat sudah membasahi tubuhnya. Hingga suatu ketika, sebuah pedang dengan telak mengenai bahu kananya.


Si pendekar wanita bertahan beberapa saat lalu tak lama kemudoan dia terhuyung-huyung dan roboh, pingsan.


Ketiga pendekar pria itu tertawa bergelak. Suara tawanya terdengar sedikit menyeramkan.


"Hahaha … rasakan kau manusia tidak tahu diri,"


"Kita nikmati tubuhnya dulu sebelum dia benar-benar tewas," kata salah seorang rekannya.


Kedua rekannya mengangguk, tapi baru saja mereka berniat melampiaskan nafsu bejatnya, tiba-tiba sesosok pendekar berpakaian serba putih sudah berdiri didepan mereka sambil menatap tajam.


"Manusia-manusia iblis," kata pendekar yang tiba-tiba datang itu.


"Keparat … siapa kau?" tanya salah seorang diantara mereka.


Harus mereka akui, bahwa pendekar muda yang kini ada dihadapannya bukanlah pendekar biasa. Terbukti ketika bagaimana dia tiba-tiba sudah ada disana dan melindungi wanita yang terluka itu.


"Aku Cakra Buana," jawabnya dengan tegas.


"Kami tidak mempunyai urusan denganmu sebelumnya. Jadi pergilah, jangan ikut campur," katanya menyuruh Cakra Buana supaya pergi dari situ.


"Kalian memang tidak punya urusan denganku, begitupun sebaliknya. Tapi jika menyangkut kebenaran dan kejahatan, maka aku pastikan bahwa aku akan ikut campur. Aku paling benci melihat keangkaramurkaan terjadi didepanku. Seperti apa yang kalian lakukan ini," tegas Cakra Buana.


"Kalau begitu kau cari ******. Jangan so pahlawan didepan kami …"


Selesai berkata demikian, tiba-tiba saja ketiganya langsung menyerang Cakra Buana dengan senjata mereka yang berupa pedang.


Cakra Buana sudah memperkirakan hal ini, sehingga ketika tiga pendekar itu menyerang secara tiba-tiba, maka dengan mudahnya dia bisa menghindari serangan tersebut. Dia melompat mundur ke belakang, tiga serangan itu pun luput.

__ADS_1


Melihat lawan menghindari serangan mereka, ketiganya menjadi geram. Tanpa menunggu lebih lama, tiga pendekar berpencar dan kembali menyerang Cakra Buana secara bersamaan.


Tiga serangan dari sisi berbeda pun tiba, ketiganya mengayunkan pedang dengan penuh tenaga. Sehingga serangan itu menimbulkan angin yang tajam.


Serangan dari bagian kanan mengarah ke leher, bagian kiri mengarah ke pinggang, dan bagian tengah mengancam menusuk ulu hati.


Bahkan kecepatannya tiga serangan itu pun sama, agaknya ini merupakan jurus gabungan dari tiga pendekar tersebut.


Tapi meskipun begitu, Langlang Cakra Buana bisa menghindari ketiga serangan tersebut dengan mudah. Agaknya si pendekar wanita tadi pun kerepotan karena melawan jurus kombinasi ketiganya.


Setelah serangan itu lolos, lagi-lagi ketiga pendekar menyerang tanpa memberikan jeda. Cakra Buana dibuat terus menghindar berloncatan kesana-kemari.


Sebenarnya dia sengaja melakukan hal ini supaya mengetahui sampai dimana tingkat kekuatan lawan, hingga suatu ketika, dia mulai membalas serangan ketiga pendekar itu dengan tangan kosong.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Cakra Buana menggerakan kedua tangannya untuk menghalau serangan. Gerakan tangannya bahkan lebih cepat dari gerakan lawan, sehingga baru beberapa saat saja ketiga pendekar itu mulai kerepotan sendiri.


Tapi karena kombinasi jurus mereka baik, ketiganya perlahan mulai bisa mengimbangi gerakan Cakra Buana. Sehingga keempat pendekar itu sudah bertarung sengit.


"Sergapan Tiga Beruang Hitam …"


Ketiga pendekar berdiri didepan Cakra Buana. Kemudian secara tiba-tiba sudah melesat menyerang kembali.


Gerakan pedang mereka berubah. Menjadi lebih berat dan agak melambat. Tapi justru dibalik itulah ada sebuah kekuatan yang cukup menggetarkan.


Meskipun selama jalannya pertarungan Cakra Buana bisa mengimbangi gerakan ketiganya, namun lambat laun dia juga kewalahan.


'Tak ada jalan lain lagi …' batin Langlang Cakra Buana.


Tiba-tiba dia mengumpulkan tenaga dalam di kedua telapak tangannya lalu dihentakkan kepada tiga pendekar yang kini sedang berusaha untuk memojokkannya.


Al hasil ketiga pendekar itupun terpental hingga dua tombak. Pedang ditangan mereka hampir saja lepas jika tidak digenggam dengan erat.


Ketiganya tercengang atas apa yang mereka rasakan barusan.

__ADS_1


Cakra Buana baru saja mengeluarkan "Ajian Dewa Tapak Nanggala …"


Kini kedua telapak tangan Cakra Buana sudah dipenuhi oleh tenaga tak kasat mata. Wajahnya memandang bengis kepada tiga pendekar tersebut.


Tiga pendekar pun sama, keempatnya saling pandang. Pandangan mata mereka sama-sama tajam dan sama-sama menusuk. Layaknya sebilah pisau yang siap menghunjam jantung.


Mereka saling pandang tanpa henti. Tanpa berkedip. Bahkan seperti tanpa bernafas.


Jika ada orang biasa yang melihat hal ini, pasti mereka berpikir bahwa keempat pendekar itu hanyalah sebuah patung.


Mereka tidak tahu. Padahal, sebenarnya keempat pendekar itu sedang bertarung sengit dengan kekuatan yang mencapai puncak. Bukan perang lahir, bisa disebut sebagai perang batin.


Samar-samar terlihat muncul sesuatu mirip bola berwarna merah. Ukurannya tidak besar, paling hanya sekepal lengan saja. Bola itu terus bergerak kesana-kemari.


Kadang mendekat ke arah Cakra Buana, kadang juga mendekat kepada ketiga lawannya.


Deru angin menerpa hutan menerbangkan daun-daun kering. Terik panas matahari sudak tidak dirasakan oleh keempat pendekar yang kini sedang 'bertarung' di alam lain.


Keringat sudah membasahi seluruh tubuh. Terutama mereka keempat pendekar. Semakin lama, tatapan mata Cakra Buana semakin tajam dan semakin buas. Bagaikan seekor harimau yang siap menerkam buruannya.


Hingga pada akhirnya, bola merah tadi melesat dengan cepat menghantam tiga pendekar.


"Darrr …"


Terdengar sebuah ledakan yang membuat ketiga pendekar itu terpental kembali. Kali ini pedang yang mereka genggam, lepas tak tentu arah. Ada yang jatuh dipinggir mereka, ada yang patah, bahkan ada yang menancap di sebuah pohon. Menyedihkan.


Sedangkan nasib ketiga pendekar itu sendiri tak kalah menyedihkannya, ketiganya muntah darah. Dada mereka terguncang hebat karena sebuah energi tak kasat mata.


Hanya beberapa saat kelojotan, hingga akhirnya mereka tewas dengan luka dalam yang sangat parah.


Terdengar mustahil memang, seseorang bisa bertarung bahkan membunuh hanya dengan tatapan mata. Hanya dengan pertarungan batin. Bagi yang awam pasti bepikir seperti itu.


Tapi bagi mereka yang ahli kanuragan, hal ini sebuah hal wajar. Bahkan setiap saat bisa saja ada serangan batin semacam ini.


Cakra Buana segera menghampiri pendekar wanita tadi setelah ketiga lawannya benar-benar tewas. Dia khawatir karena wanita itu terlihat terluka.


Ternyata ketika dia menghampiri pendekar wanita itu, wajahnya sudah berubah kebiruan. Bibirnya sudah pucat pasi.

__ADS_1


"Celaka … racun …" gumam Cakra Buana.


Tanpa berpikir panjang, Pendekar Maung Kulon itu segera memondong wanita tersebut dan membawanya pergi dari sana.


__ADS_2