
"Silahkan kau mulai lebih dulu," kata Prabu Ajiraga dengan tenang dan penuh wibawa.
"Baik. Terima seranganku," kata Cakra Buana lalu melesat ke depan.
Tanpa sungkan, Pedang Pusaka Dewa yang dikenal dengan lambang kejayaan langsung dikeluarkan. Serangan pertama yang dilancarkan oleh Cakra Buana berupa sabetan dari arah kiri ke kanan mengincar leher.
Gerakannya sangat cepat dan tepat. Sabetan Pedang Pusaka Dewa membawa kekuatan dahsyat dan dendam yang sudah menggelora dalam diri Cakra Buana. Kilatan sinar hitam terlihat menyeruak saat serangan itu dilancarkan.
Prabu Ajiraga bersikap waspada. Dia sama sekali tidak mau memandang rendah Cakra Buana, sebab dirinya juga tahu bahwa pendekar muda tersebut mempunyai kemampuan yang mungkin lebih tinggi daripada pamannya sendiri.
Angin berdecit tajam membawa hawa kematian, Prabu Ajiraga menggerakan Tongkat Dewa Batara untuk menangkis serangan pertama Cakra Buana.
"Trangg …"
Benturan dua logam keras menggelegar menerbangkan debu dan menimbulkan gelombang kejut. Para pendekar yang ada di sana tersentak, yang tidak kuat bahkan sampai terpundur beberapa langkah.
Detik berikutnya, pertunjukan benturan senjata pusaka legenda itu sudah selesai, kini diganti dengan pertunjukan yang lebih seru lagi. Kilatan pedang dan tongkat memenuhi langit.
Sinar hitam dan kuning emas menyilaukan pandangan mata dan membawa kengerian tersendiri. Dua orang manusia terbungkus dalam sinar-sinar tersebut. Bentakan demi bentakan terdengar seiring berlangsungnya pertarungan.
Cakra Buana menggetarkan Pedang Pusaka Dewa, selanjutnya dia langsung mengirimkan serangan berupa tusukan yang mengincar empat titik penting. Pedang Pusaka Dewa terus bergetar sehingga di mata lawan terlihat menjadi beberapa batang.
Kalau orang lain, pasti akan kewalahan menghadapi serangan ini, tetapi lain lagi kalau yang menjadi lawannya Prabu Ajiraga.
Saat muda, dia sudah terkenal dengan ilmu tongkatnya. Maka tidak diragukan lagi kalau dia bisa memainkan Tongkat Batara Dewa dengan lincah.
Pusaka Tongkat Dewa Batara di hentakkan ke atas, ujung tongkat berusaha untuk menangkis semua serangan yang dilancarkan oleh Cakra Buana lewat Pedang Pusaka Dewa.
Kilatan senjata berputar-putar di udara membentuk sebuah lingakaran. Pertarungan keduanya berlangsung semakin sengit.
Tubuh Cakra Buana mencelat sedikit karena tiba-tiba saja ujung tongkat lawan menyodok kakinya. Tak berhenti sampai di situ, Prabu Ajiraga terus memberikan serangan kepada Cakra Buana yang kini masih berada di udara.
Setiap serangan yang mereka lancarkan mengadung tenaga dalam tinggi. Mungkin gunung pun akam retak jiak terkena serangannya.
Cakra Buana turun menukik seperti seekor rajawali menyambar kelinci. Pedang Pusaka Dewa dia putarkan dengan cepat. Pusaka itu bergetar tanpa henti sehingga sedikit membingungkan lawan.
__ADS_1
Prabu Ajiraga tidak kalah hebat, dia memutarkan Tongkat Dewa Batara di depa dadanya seperti kincir. Putaran tongkat itu mampu memberikan pertahanan yang sangat kokoh kepadanya.
"Trangg … trangg … trangg …"
Bunga api memercik ke udara tanpa henti. Cakra Buana masih berusaha keras membobol pertahanan lawan.
"Ilusi Pedang Kematian …"
"Wushh …"
Cakra Buana nekad, jurus hebat dari Kitab Dewa Bermain Pedang sudah keluar. Dalam sekejap, keadaan langsung berubah. Prabu Ajiraga merasa bahwa langit menjadi hitam legam. Jantungnya berdetak tidak karuan lagi.
Dunia terasa kelam sepenuhnya. Tidak ada lagi suara benturan senjata, tidak ada lagi jeritan kematian atau teriakan untuk membangkitkan semangat. Dia benar-benar merasa sendiri. Benar-benar merasakan kesunyian yang mencekam.
Bahkan dia tidak bisa merasakan naik turunnya nafas sendiri. Dia hanya bisa merasakan adanya angin dingin yang berkelebat mengelilingi tubuhnya tanpa henti. Semakin lama, dia merasa angin itu semakin dingin dan tajam.
Prabu Ajiraga sadar bahwa dirinya sudah terjebak dalam ajian lawan. Dia terkena ilusi. Maka ketika dirinya sadar, dia membentak dengan keras. Suaranya menggetarkan sukma siapapun yang mendengar.
Begitu bentakkannya selesai, saat itu juga dia lepas dari ilusi lawan. Tanpa membuang waktu, Prabu Ajiraga langsung balas memberikan serangan dengan jurus dahsyatnya.
"Wushh …"
Jurus terkuat dari Tongkat Dewa Batara keluar. Cakra Buana langsung merasakan sangat tertekan dibuatnya.
Prabu Ajiraga menyerang ganas seperti raja hutan yang sedang marah besar. Sodokan dan pukulan tongkatnya bertambah kuat beberapa kali lipat. Gerakannya lima kali lebih cepat. Bahkan lebih cepat daripada satu tarikan nafas.
Kelebatan sinar emas langsung mengurung Cakra Buana. Hanya dalam hitungan detik, Prabu Ajiraga mampu membalikan keadaan dengan mudah.
Jurus ini benar-benar dahsyat. Sinar dari Tongkat Dewa Batara memenuhi langit. Suaranya menggelegar memekakan setiap telinga yang mendengar. Langit benar-benar seperti terguncang dan bumi bergetar keras.
Saat ini Cakra Buana berada jauh di bawah angin. Sinar dari Pedang Pusaka Dewa tertutup oleh Tongkat Dewa Batara. Prabu Ajiraga tidak mengurangi daya serangnya, dia justru menambah kekuatan dalam setiap serangan.
Tongkat itu membingungkan Cakra Buana, sebab sebentar lentur seperti sebuah tali, sebentar lagi berubah keras seperti semula. Tongkat tersebut benar-benar terlihat seperti seekor naga yang sedang mengamuk di cakrawala.
"Prakk …"
__ADS_1
"Ahhh …",
Cakra Buana terlempar sejauh lima tombak. Bahu kirinya terkena hantaman tongkat dengan sangat keras. Andai kata bukan Cakra Buana, mungkin dia sudah tewas dengan kondisi tulang hancur. Sebab efek dari tongkat tersebut mencakup keseluruhan.
Sekujur tubuh Cakra Buana terguncang keras. Beberapa tulangnya remuk, teurtsma dibagian bahu yang terkena hantaman tadi. Dari mulutnya keluar darah kental.
"Cakra …" teriak Prabu Katapangan sangat terkejut saat melihat keponakannya terluka.
"Aku tidak papa paman, kau jangan khawatir," jawab Cakra Buana sambil berusaha bangkit berdiri dengan susah payah.
"Hebat, benar-benar pendekar yang hebat. Baru kali ini ada orang yang masih mampu bertahan setelah terkena jurus Mengguncangkan Istana Langit Menggetarkan Tujuh Lapis Bumi milikku. Aku salut padamu," kata Prabu Ajiraga menuju Cakra Buana dengan tulus.
"Terimakasih, tapi barusan tidak apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit dendamku," kata Cakra Buana penuh amarah.
"Aku tahu, alasan kau masih mampu bertahan tentunya karena dendammu kepadaku sangat besar. Bahkan lebih besar dari apapun,"
"Bagus kalau kau mengerti. Mari kita lanjutkan pertarungan ini supaya cepat selesai," kata Cakra Buana tidak sabar.
"Tenang dulu. Kumpulkanlah tenaga dalammu dan pulihkan lukamu, aku tidak kau dianggap melawan yang sedang terluka," ucap Prabu Ajiraga.
"Jangan -…"
Belum sempat Cakra Buana perkataannya, Prabu Katapangan telah memotongnya lebih dulu.
"Turuti perkataannya Cakra," ucapnya dengan tegas.
"Baiklah. Aku menurut apa kata paman,"
Selesai berkata, Cakra Buana langsung berisla melakukan meditasi. Dia menghimpun tenaga dalm dan menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh untuk menyembuhkan luka-lukanya.
Setelah beberapa saat kemudian, dia telah bangkit berdiri lagi. Wajahnya menjadi lebih tenang dibanding sebelumnya. Alasannya karena Cakra Buana menyadari satu hal dalam meditasinya barusan. Dia mendapatkan kunci pertarungan ini.
'Dalam situsai apapun kita harus tenang. Pikirkan semuanya dengan matang, jangan terbawa emosi'.
Kini Cakra Buana sudah melangkah kembali ke arena pertarungan. Di sana Prabu Ajiraga sudah menunggunya dengan santai.
__ADS_1