Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pukulan Dewa Kresna


__ADS_3

Berbarengan dengan Cakra Buana tadi, pertarungan antara Sepasang Kakek dan Nenek Sakti melawan Ki Ragen Denta berjalan semakin sengit.


Kakek dan Nenek Sakti mulai merasa kewalahan saat ini. Pasalnya karena kekuatan yang dimiliki oleh Ki Ragen Denta semakin bertambah. Terlebih lagi saat ini ada Iblis Pengejar Nyawa yang membantunya.


Meskipun Sepasang Kakek dan Nenek Sakti merupakan pendekar tua pilih tanding, tapi mereka juga manusia. Rasa lelah mulai mendera keduanya. Tubuh mereka sudah basah kuyup oleh keringat yang terus membasahi.


"Trangg …"


"Trangg …"


Mereka terus bertarung dengan jurus-jurus yang hebat. Sudah hampir satu jam mereka bertarung, tapi kedua belah pihak nampaknya belum ada yang ingin mengaku kalah.


Namun di balik itu, bisa dilihat bahwa Sepasang Kakek dan Nenek Sakti sudah semakin lelah. Tenaga mereka hanya tersisa sedikit. Sehingga semakin lama, serangan kakek dan nenek itu semakin berkurang. Bahkan saat ini mereka hanya mampu bertahan dari semua serangan lawan.


Ki Ragen Denta tiba-tiba menyerang Kakek Sakti dengan gerakan yang rumit. Tongkat di tangan kiri dia putarkan seperti kincir angin. Sedangkan tongkat di tangan kanan, dia gerakan untuk menyerang lawan. Menusuk, memukul, atau bahkan menipu.


Serangan Ki Ragen Denta saat ini mengandung banyak tipuan. Beberapa kali Kakek Sakti hampir terkena tongkat datuk dunia persilatan itu, untungnya dia selalu bisa mengelak dengan mengandalkan kecepatannya.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


"Trangg …" patah.


Ujung pedang Kakek Sakti patah ketika berbenturan dengan tongkat milik Ki Ragen Denta. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa senjata pusakanya bisa di patahkan lawan. Meskipun itu hanya sedikit, tapi rasa sakit hati akibat hal tersebut, begitu besar.


Bagaimana tidak, senjata pusaka yang selalu dia andalkan bisa di patahkan, apakah tidak sakit hati?


"Kurang ajar. ****** kau orang tua sialan …"


"Wuttt …"


Kakek Sakti tiba-tiba menyerang. Seolah baru saja dia mendapatkan tenaga yang entah darimana datangnya. Dengan sisa tenaga terkahir, Kakek Sakti mencoba melawan Ki Ragen Denta.


Tapi karena dirinya sudah dikuasi amarah, maka gerakannya sedikit berantakan. Karena hal ini, dengan mudah saja Ki Ragen Denta bisa menghindari serangan-serangan yang dilancarkan oleh Kakek Sakti tersebut.


"Tongkat Maut …"


"Wuttt …"


"Bukkk …"


"Ahhh …"

__ADS_1


Satu buah pukulan tongkat milik Ki Ragen Denta berhasil mendarat di tengkuk Kakek Sakti. Akibat pukulan itu, kakek tua tersebut langsung terhuyung ke belakang dan muntah darah. Dia tidak kuasa untuk bangun kembali.


Ki Ragen Denta berniat untuk segera mengakhiri hidup kakek tua itu, tapi sebelum niatnya tercapai, tiba-tiba saja dari pinggir sebelah kiri, Nenek Sakti melompat lalu langsung menyerang dirinya.


Nenek Sakti daritadi bertarung melawan Iblis Pengejar Nyawa, dia juga merasa kewalahan. Bahkan beberapa luka sudah telrihat menghiasi tubuh rentanya. Tapi saat melihat suaminya dalam bahaya, maka sebisa mungkin dia menolongnya.


"Kakang, kau pergilah. Biarkan aku yang menghadapi dua iblis ini," kata Nenek Sakti.


"Tidak nyai. Kalau kau tak pergi, aku juga takkan pergi. Kita hidup bersama, maka kalau pun harus mati, kita akan mati bersama," jawab si Kakek Sakti.


Selepas berkata demikian, dia pun mencoba berusaha berdiri lalu kembali bertarung membantu istri tercintanya.


"Hiattt …"


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Melihat semangat dan kesetiaan pasangan tua itu, Ki Ragen Denta memuji mereka dalam hatinya. Sangat jarang ada pasangan tua yang sampai setia seperti Sepasang Kakek dan Nenek Sakti tersebut.


"Kalian berdua memang pantas mendapatkan gelar Sepasang. Kalian memang tidak bisa di pisahkan, maka dari itu, aku pun akan membunuh kalian tanpa memisahkan," kata Ki Ragen Denta sambil membalas serangan.


"Hiattt …"


"Wuttt …"


Tongkat Kembar kembali bergerak. Dia meliuk-liuk seperti ular yang mengejar mangsa.


"Bukkk …"


"Bukkk …"


"Ahhh …"


Sepasang Kakek dan Nenek Sakti terlempar ke belakang. Keduanya menabrak sebatang pohon hingga pohon itu bergoyang. Darah segar kembali mengalir dari bibirnya.


Ki Ragen Denta sudah siap mengakhiri pertarungan. Dia sudah menghimpun tenaga dalam untuk serangan terakhirnya.


"Anoman Menelan Matahari …"


"Wuttt …" cahaya kekuningan menyeruak menerangi gelapnya malam. Cahaya itu begitu besar seperti akan menelan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.


"Blarrr …"

__ADS_1


Akan tetapi, tiba-tiba sebuah energi yang besar menghalau serangan terakhir datuk dunia persilatan tersebut. Daun-daun langsung berguguran karena tak kuasa menahan hawa panas di sekitar area.


Ki Ragen Denta terpental, untung Iblis Pengejar Nyawa menahannya, sehingga dia tidak sampai menabrak pohon. Datuk rimba hijau itu terkejut bukan kepalang ketika tenaganya berbalik. Dia berpikir bahwa energi yang baru saja berbenturan berasal dari pasangan tua itu, tapi hal tersebut tidaklah mungkin. Sebab mereka saja dalam keadaan terluka cukup berat.


"Hemmm … jangan kira kau mampu membunuh mereka. Masih ada aku yang sanggup untuk melawanmu kakek iblis," kata seorang pendekar muda yang kini sudah berdiri di hadapan Sekarang Kakek dan Nenek Sakti.


"Ka-kau …" Ki Ragen Denta terkejut. Ternyata yang menahan Ajian Anoman Menelan Matahari adalah seorang pemuda.


"Kau kaget kenapa aku bisa menahannya? Hahaha … jangan heran, sekarang aku mulai berlaku serius. Jadi kau tidak perlu sungkan lagi, karena lawanmu sekarang adalah aku," kata pemuda yang tak lain adalah Cakra Buana.


Ki Ragen Denta tidak menjawab. Dia melirik ke area sekitar dimana tadi telah terjadi pertarungan hebat. Betapa kagetnya datuk itu ketika mendapati muridnya sudah terbunuh dengan kondisi menggiriskan.


Kemarahan Ki Ragen Denta kembali meluap. Matanya bersinar penuh dendam ke arah Cakra Buana.


"*******. Pasti kau pelakunya yang sudah membunuh muridku," katanya sambil menahan amarah.


"Dugaanmu memang tepat. Sudahlah, mari kita segera selesaikan. Aku tidak punya banyak wakti," ucap Cakra Buana.


"Sombong. Kau harus ******,"


"Wuttt …"


Ki Ragen Denta menyerang bersamaan dengan Iblis Pengejar Nyawa. Serangan seperti ganasnya badai mulai menerjang Cakra Buana. Tapi kali ini dia sudah serius, maka begitu serangan dahsyat datang, Cakra Buana sudah siap.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Serangan demi serangan mulai dilancarkan. Pukulan dan tendangan berbenturan. Ketiganya langsung terlibat pertarungan sengit. Tapi itu tidak lama, karena saat ini Cakra Buana sudah melompat ke belakang dan siap untuk mengakhiri semuanya.


"Pukulan Dewa Kresna …"


"Wuttt …"


"Blarrr …"


"Ahhh …"


Ki Ragen Denta dan Iblis Pengejar Nyawa terlempar sampai sepuluh tombak. Keduanya tak kuasa menahan kekuatan besar yang terkandung dalam ajian Pukulan Dewa Kresna.


"Uhukkk …" Ki Ragen Denta langsung muntah darah. Tubuhnya seperti ditimpa batu besar. Sesak, sakit, semuanya sudah menjalar ke seluruh tubuh.


Iblis Pengejar Nyawa pun sama, tapi karena dia iblis, maka dia masih bisa menahan rasa sakit. Dengan sisa kekuatan yanh ada, iblis itu pergi dan langsung menghilang dari pandangan sambil membawa Ki Ragen Denta yang saat ini sudah sekarat.

__ADS_1


__ADS_2