Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Sepuluh Pendekar


__ADS_3

"Apakah ini pendekar yang sudah membunuh kakakku?" tanya salah seorang pendekar berusia sekitar empat puluh tahun kepada rekannya.


"Benar. Pendekar Jari Besi di bunuh oleh pendekar muda ini pada setahun lebih yang lalu. Bahkan rekanku juga tewas di tangannya," kata seorang berusia lima puluh tahun menjawab pertanyaan orang tadi.


"Hemmm, usianya bahkan belum mencapai dua puluh delapan tahun. Tidak disangka, dia memiliki kepandaian lebih," kata seorang lainnya.


Sepuluh orang itu sekilas menceritakan alasannya masing-masing untuk membunuh Cakra Buana. Tetapi hampir semua dari mereka memiliki alasan yang sama. Yang itu orang-orang yang dekat dengannya, tewas di tangan pendekar muda itu.


Cakra Buana hanya diam saja sewaktu mereka berbicara berbagai hal tentangnya. Dia tidak ada selera untuk ikut bicara. Bahkan di suruh nimbrung dalam pembicaraan pun, dia tidak akan mau.


Lagi pula, apalagi yang harus di bicarakan? Toh semuanya sudah jelas. Sepuluh orang yang kini mengurungnya ingin membunuh dirinya. Dan orang yang dimaksud sudah tahu tujuan mereka.


Jadi apakah masih perlu bicara? Tentu saja tidak. Cakra Buana tidak perlu banyak bicara. Yang dia perlukan adalah justru banyak bertindak.


Selama orang-orang itu bicara, diam-diam Cakra Buana meneliti sampai di mana kemampuan orang-orang ini. Menurut pandangannya, yang terkuat di antara mereka kurang lebih berjumlah empat orang.


Mereka adalah Singa Ekor Lima, Burung Pemangsa, Pendekar Sembilan Jari dan Pendekar Pedang Kesetanan.


Cakra Buana mengetahui nama-nama mereka karena tadi mendengar pembicaraannya. Empat lawan terkuatnya hanya mereka saja. Sedangkan enam lainnya walaupun tidak bisa dikatakan memiliki kepandaian rendah, tetapi Cakra Buana yakin mampu membunuhnya kurang dari tujuh puluh jurus.


"Apakah kalian belum menyelesaikan juga pembicaraan itu? Aku sudah bosan menunggu. Kalau masih lama, biarlah aku tidur dulu. Malas kalau bertele-tele," kata Cakra Buana tanpa rasa takur sedikitpun.


Kesepuluh pendekar tersebut langsung terdiam. Tidak ada yang marah di antara mereka. Sebab masing-masing sudah tahu sampai di mana kemampuan lawan.


"Maaf sudah membuatmu menunggu anak muda. Maklum, kami yang tua kalau sudah bertemu suka keasyikan bicara," kata seorang tua tersenyum.


"Tidak masalah kakek tua. Kalau kalian memang masih mau bicara, aku tidak akan mengganggu. Biarlah aku tidur dulu sampai kalian selesai bercerita," kata Cakra Buana tenang.


Menghadapi lawan yang sudah saling mengerti satu sama lain, tentu saja tidak boleh sembarangan melampiaskan kemarahan. Hanya perlu memahami mereka saja, itu sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


Karena alasan itulah Cakra Buana meredam kembali amarahnya.


"Ah, tidak. Terimakasih. Lebih cepat lebih baik, tidak enak kalau membuatmu menunggu lebih lama lagi," ucap seorang tua lainnya.


"Baiklah kalau begitu. Sebagai tamu, aku mengikuti kemauan tuan rumah," jawab Cakra Buana.


Suasana hening untuk beberapa saat. Desiran angin terasa sejuk menerpa tubuh. Tapi suasana seperti itu hanya terjadi sebentar saja, sebab tak berapa lama kemudian ada suara besar memecah keheningan ini.


"Anak muda. Kita sudah bukan pendekar kelas teri lagi. Kami juga mengakui bahwa kau merupakan pendekar sejati yang namanya sudah terkenal di rimba hijau. Jadi tentu kami tidak akan mengeroyokmu secara bersamaan. Biarlah kau pilih saja lawan sesukamu," kata seorang pendekar yang Cakra Buana tahu namanya, dia adalah si Pendekar Sembilan Jari.


Dalam hatinya, Cakra Buana memuji juga kegagahan si Pendekar Sembilan Jari itu. Walaupun dia termasuk orang sesat, tetapi sifat sebagai pendekarnya tidak hilang.


"Baiklah, terimakasih atas kemurahan Pendekar Sembilan Jari. Aku menantang mereka," kata Cakra Buana dengan tenang sambil menunjuk ke enam pendekar yang dia maksudkan.


Pendekar Sembilan Jari sedikit terkejut. Enam orang itu bukanlah lawan yang muda meskipun kekuatannya masih di bawah dia sendiri. Tetapi dengan entengnya, justru si pemuda malah menantang mereka berenam untuk bertarung sekaligus dengannya.


'Anak ini sombong atau memang sedikit tidak waras?" pikirnya sambil memperhatikan Cakra Buana dari atas sampai bawah.


Cakra Buana hanya menggelengkan pelan kepalanya. Bahkan senyuman manis juga dia lemparkan.


"Aku sama sekali tidak keliru tuan. Kalau aku harus mati di tangan mereka, aku sudah siap memikirkannya dengan matang. Dan kalau aku yang menang, mungkin memang belum saatnya untukku tewas," tegasnya percaya diri.


Jawaban Cakra Buana memang sederhana. Bahkan sangat sederhana sekali. Tetapi sayangnya, enam orang yang akan segera menjadi lawannya terlihat tidak terima. Dalam pandangannya, sosok pendekar muda itu mempunyai sifat keras kepala dan.


"Baiklah kalau kau tetap berkeras kepala. Yang penting aku sudah memberikan keringanan bagimu. Semoga kau tidak menyesal," kata Pendekar Sembilan Jari.


"Sekali lagi terimakasih. Aku tidak akan menyesali keputusan yang sudah aku tetapkan," tegas Cakra Buana dengan mantap.


Keempat tokoh utama dari sepuluh orang itu mengangguk-angguk. Mereka cukup puas dengan sikap jantan Cakra Buana.

__ADS_1


Setelah berbasa-basi, enam orang yang dia tunjuk perlahan mulai maju ke depannya. Enam orang itu langsung mengurung Cakra Buana.


"Silahkan dimulai anak muda," kata si Burung Pemangsa.


Cakra Buana mengangguk tanda sudah siap. Begitupun dengan enam lawannya. Selanjutnya, satu dari enam pendekar sudah melancarkan serangan pertama kepada Cakra Buana.


Serangan datang berupa sodokan keras dari bawah mengincar lambung. Sebelumnya orang itu sempat memberikan aba-aba kepada Cakra Buana, tapi belum habis ucapannya, serangannya justru sudah tiba.


Dengan gerakan ringan, Pendekar Tanpa Nama melompat mundur ke belakang. Gerakannya sederhana, tetapi sangat indah di pandang. Dia seperti melayang ringan bagaikan sebuah kapas.


Namun baru saja menjejak tanah, serangan kedua dari arah belakang sudah tiba. Sebuah hantaman keras mengincar tengkuknya. Sekali lagi, dengan gerakan sederhana namun mencengangkan, Cakra Buana mampu menghindarinya.


Empat pendekar yang menonton pertarungan ini menjadi lebih kagum kepada Cakra Buana. Dari sini saja mereka sudah bisa mengukur dan menebak bahwa pendekar muda itu pasti memiliki kepandaian yang tidak rendah.


Ketika dua serangan gagal, empat pendekar lainnya segera melancarkan serangan susulan. Bedanya, kali ini mereka menyerang secara bersamaan.


Dua buah pukulan dan dua tendangan sudah membelah udara menerjang si pemuda. Cakra Buana tidak menghindari empat sedangan tersebut, dengan gerakan lincah, dia berhasil memapak keempat serangan itu.


Semua serangan pertama dari enam pendekar menemui kegagalan. Padahal siapapun tahu bahwa serangan tadi terbilang serangan kelas atas, tapi Cakra Buana mampu mengelaknya dengan mudah.


"Dia memang bukan pendekar muda biasa. Rasanya dia akan menjadi lawan tangguh," gumam si Pendekar Pedang Kesetanan yang sedari tadi diam.


Ketujuh pendekar sudah bersiap kembali untuk melanjutkan pertarungan. Seorang di antara lawan Cakra Buana membentak nyaring sambil memberikan peringatan.


"Bersiaplah anak muda …"


"Haittt …"


Serangan yang lebih cepat mulai terlihat lagi. Serangannya belum tiba, tapi anginnya sudah menerjang.

__ADS_1


"Plakk …"


Cakra Buana menepis serangan berupa pukulan itu. Si pendekar seketika terhuyung ke belakang dan tangannya terasa kesemutan.


__ADS_2