Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Orang-orang Yang Dicari


__ADS_3

Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu sudah berada jauh dari Perguruan Merpati Wingit. Saat ini mereka berdua sedang berjalan di tengah malam yang gelap.


Keduanya sudah berada di sebuah perkampungan. Keadaan di sana sudah sunyi sepi. Sepertinya para warga sudah beristirahat, jika sudah begini, maka untuk mencari warung atau penginapan sekalipun tentu sangat sulit.


"Pangeran, ke mana tujuanmu selanjutnya?" tanya Pendekar Tangan Seribu tiba-tiba.


"Aku masih ingin mengembara paman. Sumpahku belum selesai, aku masih harus membalaskan beberapa dendam lagi. Sekaligus, aku juga harus merebut kembali tiga pusaka legenda yang kini ada di tangan Penguasa Kegelapan," kata Cakra Buana menjawab jujur.


"Untuk membalaskan dendam mungkin bagimu masih bisa. Tapi kalau untuk merebut kembali tiga pusaka itu, hemmm …, bukan aku merendahkan kemampuanmu, tapi rasanya sangat sulit sekali. Kau juga paham betul bagaimana kemampuan dia. Muridnya saja sudah setara dengan satu atau dua datuk rimba hijau. Apalagi gurunya?" kata Pendekar Tangan Seribu bicara jujur pula.


Apa yang dikatakan oleh Pendekar Tangan Seribu memang ada benarnya. Siapa yang tidak tahu kemampuan orang-orang berjuluk Empat Dewa Sesat itu? Siapa pula yang tidak takut kepada Penguasa Kegelapan? Jangankan para pendekar kelas satu, datuk rimba hijau pun akan merasa jeri jika berhadapan dengannya.


Hanya orang gila atau orang bodoh saja yang tidak takut kepada Penguasa Kegelapan.


Lalu apakah Cakra Buana termasuk orang gila dan orang bodoh karena dia tidak takut?


Tentu saja tidak, bagi dia ada pengecualian. Perasaan dendam yang besar terkadang membuat keberanian manusia menjadi beberapa kali lipat.


Dan Cakra Buana yakin satu hal. Yaitu kebaikan akan menang melawan kejahatan. Entah bagaimana caranya, tapi dia percaya bahwa suatu saat nanti, cara itu mampu dia temukan.


Hanya sebuah harapan. Tapi terkadang harapan itu mampu membuat manusia bertahan dan mampu melewati segala macam rintangan yang ada di bumi ini.


"Aku sadar benar akan hal tersebut paman. Tapi aku juga yakin, suatu saat aku bisa membunuh mereka. Sekarang kalau aku tidak berusaha, mau bagaimana mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan orang-orang yang aku sayangi nanti?"


"Hahh …" Pendekar Tangan Seribu menghela nafas sebelum melanjutkan bicaranya. "Aku hanya berharap semoga saja apa yang kau inginkan bisa tercapai," kata pria itu.


"Terimakasih paman. Paman sendiri setelah ini akan ke mana?"


"Paman harus segera kembali ke kerajaan. Sudah terlalu lama paman pergi. Lagi pula, masih banyak tugas di sana yang sudah menanti,"


"Kapan paman akan kembali?"


"Sekarang," katanya.

__ADS_1


"Sekarang?"


"Benar pangeran. Sekarang juga paman akan segera kembali. Harap pangeran mengerti," ujar Pendekar Tangan Seribu serius.


"Tentu, aku mengerti maksud paman. Silahkan kalau memang paman mau pergi. Tapi tolong, jika ada yang menanyakan aku, jawab saja paman tidak bertemu," pinta Cakra Buana.


"Baiklah. Paman akan menuruti permintaanmu. Nah sekarang, paman pergi dulu. Sampurasun …"


"Rampes …" jawab Cakra Buana.


Setelah memberi hormat, Pendekar Tangan Seribu pun segera melesat.


Mereka berpisah kembali. Dan Cakra Buana harus mengembara sendiri lagi.


Entah ke mana tujuannya. Tapi yang jelas, dia ingin sekali mengembara di Pulau Jawa. Di tanah tersebut Cakra Buana masih mempunyai beberapa dendam yang harus segera di bayar. Selain itu, dia juga ingin menambah pengalamannya.


###


Satu minggu kembali lewat. Cakra Buana sekarang sudah berada di perbatasan Timur Tanah Pasundan dan Tanah Jawa.


Burung-burung terbang dari sarang mereka untuk mencari makan. Embun masih menetes jatuh dari daun-daun yang hijau.


Keadaan di sini sangat dingin sekali. Sehingga Cakra Buana memutuskan untuk membuat api di goa itu. Setelah api menyala, dia segera pergi keluar mencari buruan.


Tak perlu waktu yang lama, dia sudah kembali membawa satu ekor ayam hutan. Dia langsung memanggang seadanya.


Pagi yang dingin. Udara sejuk. Sarapan ayam panggang, walaupun bumbu seadanya, tapi rasanya tetap saja nikmat.


Dia memakan ayam itu dengan lahap. Entah kenapa, kalau udara dingin, makan makanan atau minuman yang hangat bisa langsung menyegarkan badan.


Setelah selesai makan, tanpa terasa dia tertidur kembali. Mungkin karena cuaca di sana memang enak untuk tidur. Tapi itu tak lama, sebab dia terbangun karena sebuah suara yang cukup berisik terdengar tak jauh dari goa.


Seperti sebuah suara pertarungan. Entah siapa yang sedang bertarung, padahal cuaca seperti ini enaknya berdiam dan menghangatkan badan.

__ADS_1


Tapi begitulah manusia. Manusia memang unik.


Karena sangat penasaran, Cakra Buana pun akhirnya mengintip dari mana asal suara itu.


Ternyata suara tersebut berasal dari sebelah kanan. Di sana terlihat ada tujuh orang. Yang sedang melangsungkan pertarungan terlihat tiga orang.


Cakra Buana mengawasi orang-orang itu. Dua orang pendekar asing sedang bersatu berusaha mengalahkan satu lawannya.


Walaupun satu orang, ternyata yang satu itu justru berada di atas angin. Dia hanya melakukan gerakan sederhana untuk menghindari semua serangan kedua lawannya.


Cakra Buana masih terus memperhatikan pertarungan tersebut dari dalam goa. Dia tidak mau ikut campur urusan orang lain. Apalagi dirinya belum mengetahui bagaimana duduk perkaranya.


Pertarungan itu berjalan semakin lama semakin seru. Dua pendekar terus saja mengggempur lawannya dengan segenap kemampuan mereka. Senjata berupa golok dan tombak berkelebat ke arah lawan.


Tapi bagaimanapun dua orang itu menyerang, jurus apapun yang mereka gunakan, semuanya berhasil dihindari oleh lawan.


Sebaliknya, hanya dengan beberapa gerakan sederhana, yang satu orang itu langsung mampu membuat kedua pendekar terpental hampir lima langkah.


'Ilmu orang itu sungguh hebat. Hanya dengan gerakan seperti itu, langsung mampu memukul mundur dua lawannya. Sungguh kepandaian yang tinggi sekali. Tak kusangka di Tanah Jawa banyak sekali para pendekar tangguh,' batin Cakra Buana.


Kedua pendekar tadi sudah bangun kembali. Serempak mereka sudah menerjang lawan lagi. Dua senjata kembali berkilat di bawah sinar matahari yang sudah mulai naik tinggi.


Pertarungan mereka semakin seru. Menuru Cakra Buana, kedua pendekar itu setidaknya setara dengan pendekar kelas satu.


Jurus yang mereka keluarkan semakin dahsyat. Tenaga dalam yang keluar semakin besar.


Cakra Buana melihat pertarungan itu tanpa berkedip. Lewat lima jurus kemudian, orang yang sendirian itu mengeluarkan jurusnya.


Kedua tangannya berubah menjadi hijau tua dan terlihat mengepulkan asap tipis. Bau busuk segera tercium sedikit olehnya.


Cakra Buana tertegun. Dia seperti mengenali jurus dan bau ini. Hatinya berdegup kencang saat itu juga.


Karena dorongan penasaran semakin besar, dia keluar dari goa. Cakra Buana memilih pohon yang rindah untuk mengintip pertarungan lebih jelas lagi.

__ADS_1


Dia melompat ke atas pohon lalu bersembunyi di balik dedaunan. Begitu melihat semua dengan jelas, jantungnya berdetak lebih kencang. Tubuhnya bergetar hebat.


Ternyata mereka orang-orang yang selama ini dicari. Kemarahannya timbul saat itu juga. Rasa dingin berubah menjadi rasa panas yang menggelora.


__ADS_2