
"Hemmm … lumayan juga kemampuanmu bocah," kata Munding Aji sambil tersenyum sinis.
"Diam kau. Sekali lagi aku tanya baik-baik, dimana kau sembunyikan gadis desa itu? Kalau tidak kau beritahu juga, maka aku akan memaksa dengan serius," kata Cakra Buana. Dadanya sudah sesak menahan amarah yang meluap-luap.
"Dasar bocah *****. Sudah aku katakan bahwa gadis itu dibawa pergi oleh seseorang. Dia dibawa oleh seorang nenek tua yang bernama Nini Hideung. Apa kau melihat kebohongan dalam bicaraku ini he?" kata Munding Aji yang tak kalah marah karena dirinya terus disangka berbohong.
Cakra Buana terdiam sebentar. Dia mengamati wajah Munding Aji dengan teliti. Dan memang benar, pemuda serba putih itu tidak melihat kebohongan dalam ucapan Munding Aji yang barusan.
"Baiklah, kalau begitu, cepat kau cari gadis itu lalu berikan padaku,"
"Omong kosong. Berani sekali kau berkata kurang ajar padaku. Aku saja sedang pusing kemana harus mencari, sekarang dengan mudahnya kau berkata seperti itu? Sepertinya kau memang bosan hidup," kata Munding Aji. Wajahnya sudah merah padam.
"Kau atau aku?"
"He bocah tengik. Berani sekali kau berkata seperti itu kepada kakang Munding Aji. Kakang, kau diamlah. Biar aku saja yang memberikan pelajaran kepada bocah busuk ini," kata Sugriwa yang langsung melompat dan berdiri di pinggir Munding Aji.
"Baiklah rai. Jangan gegabah, kita tidak tahu kekuatan lawan," ucap Munding Aji memperingatkan Sugriwa.
"Kau tenang saja kakang,"
"Hemmm … lihat serangan …" kata Sugriwa sambil menerjang Cakra Buana dengan kaki kanan di julurkan ke depan.
"Wuttt …"
Cakra Buana tidak menghindar, sebaliknya dia akan menahan terjangan itu untuk mengukur sampai dimana kekuatan lawan.
Dia menyilangkan kedua tangannya didepan dada dengan posisi kaki yang mantap.
"Bukkk …"
Kaki kanan Sugriwa bertemu dengan tangan Cakra Buana. Keduanya mengadu tenaga dalam untuk beberapa saat sebelum mereka sama-sama terpundur.
Cakra Buana hanya terpundur satu langkah. Sedangkan Sugriwa hanya setengah langkah.
"Bagus, kau bisa menghiburku."
"Haittt …"
Sugriwa kembali menyerang. Kali ini kedua tangannya yang bergerak. Tangan kanan mengincar dagu, sedangkan tangan kiri mencakar mengincar pundak.
"Wuttt …"
"Plakkk …"
__ADS_1
"Plakkk …"
Cakra Buana menepis kedua serangan itu dengan tangannya.
Melihat serangan keduanya gagal, Sugriwa semakin terpancing emosinya. Dia kembali menerjang. Kali ini kaki dan tangannya menyerang bersamaan.
Akan tetapi Cakra Buana sudah siap, sehingga ketika serangan datang, pemuda serba putih itu sudah siap untuk menangkis.
"Plakkk …"
"Bukkk …"
"Bukkk …"
Keduanya sudah bertukar serangan. Kali ini gerakan mereka semakin cepat disamping kuat. Cakra Buana bertahan dengan pertahanan yang kokoh bagaikan benteng istana.
Sedangkan Sugriwa menyerang dengan ganas seperti serigala yang marah akibat diamnya diganggu.
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Setiap pukulan dan tendangan yang dilancarkan Sugriwa menimbulkan embusan angin yang terasa panas. Tapi Cakra Buana bukanlah pendekar biasa, maka dia bisa menahan atau menghindari serangan lawan dengan cukup mudah.
Karena semua serangannya tidak berhasil merobohkan lawan, maka Sugriwa semakin geram. Dia sudah berniat untuk mengeluarkan ajian tingkat tinggi miliknya.
"Pukulan Setan Kober …"
"Wuttt …"
Tangan kanannya memberikan sebuah pukulan yang sangat cepat dan dahsyat. Saking cepatnya bahkan Cakra Buana hampir saja celaka jika tidak berlaku hati-hati.
"Ajian Tapak Dewa Nanggala …"
"Wuttt …"
Kedua pendekar itu sudah mengeluarkan ajian masing-masing. Pertarungan keduanya kini semakin menegangkan lagi.
"Awas kepala …" teriak Cakra Buana.
Sugriwa menarik kepalanya ke belakang ketika pendekar muda alias Cakra Buana memberikan serangan tapaknya. Tapi ternyata itu hanya sebuah tipuan.
Karena ketika Sugriwa menarik kepalanya, justru serangan Cakra Buana menurun sedikit dan mengarah ke dada.
__ADS_1
Sugriwa tidak bisa menghindar lagi karena tidak sempat. Maka dengan telak serangan tapak yang sudah dilambari oleh Ajian Dewa Tapak Nanggala milik Cakra Buana bersarang kepada dada kirinya Sugriwa.
"Bukkk …"
"Hughhh …"
Sugriwa terpental dua tombak. Hampir saja dia bergulingan jika tidak segera menjaga keseimbangan. Namun nama Sugriwa memang bukan omong kosong belaka, kekerasan kulit dan kekebalan tubuhnya tak bisa dianggap remeh.
Sehingga jika menghadapi serangan dalam kekuatan wajar, maka dia tidak akan terluka parah. Seperti sekarang, dia hanya terhuyung saja, jika orang lain mungkin sudah muntah darah.
"Kekebalan tubuhnya benar-benar luar biasa. Aku tidak boleh menahan diri lagi." gumam Cakra Buana ketika menyadari kekuatan tubuh lawan.
"Keparat. Sekarang mampuslah kau …" teriak Sugriwa yang kembali menyerang dengan Ajian Setan Kober.
"Haittt …"
"Hiyaaa …"
"Pukulan Penghancur Sukma …"
"Wuttt …"
"Blarrr …"
Kedua ajian tingkat tinggi beradu ditengah-tengah hingga menimbulkan desiran angin yang kencang. Cakra Buana terpental tiga tombak. Sedangkan Sugriwa terpental dua tombak lalu bergulingan dan berhenti ketika tubuhnya menabrak kaki kuda.
Dia langsung muntah darah. Dadanya terguncang hebat dan sukmanya serasa mau lepas.
"Rai … kau tidak papa?" Kedung Reja langsung menghampirinya dan membantu Sugriwa berdiri.
"Tidak kakang. Hanya saja dadaku terguncang … uhukk," kata Sugriwa yang diiringi dengan batuk darah.
Cakra Buana sudah siap kembali. Dari sudut bibirnya keluar sedikit darah dan dadanya pun terasa sesak.
"Kau mundurlah. Sekarang giliranku dan yang lain." kata Kedung Reja kepada Sugriwa.
"*******. Kau memang tidak pantas diberi ampun …"
"Haittt …"
"Haittt …"
"Hiyaaa …"
__ADS_1
Kali ini yang menyerang Cakra Buana langsung tiga orang sekaligus. Kedung Reja, Gombang, dan Cukrak Luta. Ketiganya sudah mencabut senjata masing-masing yang berupa golok, trisula, dan pedang pendek.