Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Sepucuk Surat


__ADS_3

Menjelang jurus kedua puluh, si wanita semakin terpojok hebat. Enam pria itu mengepungnya dari segala sisi. Bahkan beberapa kali si wanita terkena tendangan atau pukulan yang keras.


Tiba-tiba seorang pria melayangkan pukulan kejamnya. Sehingga begitu mengenai sasaran, si wanita itu langsung terpental ke belakang.


Pada saat itulah Cakra Buana keluar dari persembunyiannya. Dia menangkap tubuh si wanita yang sedang melayang deras ke belakang. Pemuda itu mendekapnya lalu berputar satu kali untuk mengurangi tenaga dorongan.


Keduanya saling berpandangan. Si wanita memegangi pundak Cakra Buana secara tidak sengaja. Kejadian secara tidak sengaja yang jelas membuat semakin marah gerombolan pria tadi.


"Hehh, berani sekali kau. Datang-datang sudah mencari kesempatan dalam kesempitan," kata seorang pemuda berbadan tinggi berwajah sangar.


Ucapan pemuda itu membuat sadar Cakra Buana dan si wanita. Mereka segera melepaskan diri.


"Maaf, aku tidak sengaja," kata Cakra Buana agak gugup.


"Ti-tidak papa. Te-terimakasih," jawab si wanita dengan wajah memerah tomat.


Enam pria tadi semakin memandang tajam Cakra Buana. Mereka tentu marah dengan kejadian barusan.


"Apa kau juga ingin wanita itu?" tanya seorang pria.


"Maaf, aku tidak ada maksud apapun. Aku hanya berusaha menyelamatkannya dari sergapan serigala liar seperti kalian," jawab Cakra Buana dengan tenang.


"Lancang sekali mulutmu. Belum tahu siapa kami heh?"


"Aku tidak peduli. Dan aku tidak mau tahu. Yang jelas, segera minta maaf dan tinggalkan tempat ini dengan segera," ucap Cakra Buana.


Mendengar perkataan tersebut, sontak keenam pria itu bertambah gusar.


"Kau pikir kau siapa? Berani sekali memerintah kami," katanya dengan geram.


"Hemm …"


"Banyak bicara, mampus kau …"


"Wutttt …"


Seorang pria tiba-tiba melancarkan serangan ke arah Cakra Buana berupa pukulan keras. Pukulannya lumayan cepat, tapi bagi Cakra Buana sangat lambat.


Hanya dengan memiringkan tubuhnya saja, pukulan itu luput dari sasaran. Sedangkan pelakunya segera terjerembab ke tanah karena Cakra Buana mendorong sedikit dengan tangannya.


Sedikit. Tapi yang sedikit itu bagi mereka sudah banyak. Karena tenaga Cakra Buana yang sekarang dengan yang dulu, jelas sudah sangat jauh berbeda.

__ADS_1


Melihat serangan rekannya gagal, lima pria yang lainnya segera tahu bahwa pemuda asing ini tentu memiliki kepandaian.


Karena alasan tersebut, mereka segera mengurung Cakra Buana dari segala sisi. Detik selanjutnya, keenam orang tersebut sudah maju menyerang secara bersamaan.


Cakra Buana hanya menanti semua serangan itu dengan tenang. Bahkan dia tidak terlihat mengeluarkan tenaga banyak.


Tapi yang dihasilkannya cukup untuk membuat lawan terkejut. Karena bagaimanapun mereka menyerang, serangan mereka tetap saja hanya mengenai udara hampa.


Pemuda itu selalu bisa berkelit dari serangan yang dilancarkan. Walaupun sudah mengeluarkan beberapa jurus, tapi tetap tidak berguna sama sekali.


Sementara itu, di pinggir pertarungan, si wanita nampak memperhatikan sekali Cakra Buana. Dia sungguh kagum dengan pemuda asing tersebut.


Padahal dia tahu bahwa keenam pria itu bukanlah pria sembarangan. Mereka cukup mempunyai nama, apalagi keenamnya merupakan anggota dari sebuah organisasi gelap di Tanah Jawa ini.


Namun dihadapan pemuda yang menolongnya, mereka sama sekali tidak berarti.


Menjelang jurus kelima belas, Cakra Buana sudah mulai bosan menghadapi mereka. Hanya dengan beberapa gerakan sederhana, keenam orang tersebut berhasil dia pukul mundur.


Tidak ada yang terluka berat di antara mereka. Karena memang Cakra Buana tidak berniat untuk melukai, dia hanya memberikan sedikit pelajaran saja kepadanya.


"Lebih baik kalian pergi saja. Aku sedang berbaik hati kali ini," kata Cakra Buana.


Cakra Buana berpikir sebentar. Dia tidak mau memberikan nama aslinya. Apalagi dia sendiri sudah pasti banyak diincar oleh sebagian pendekar Tanah Jawa karena masalah setahun terkahir.


"Namaku? Sebut saja Pendekar Tanpa Nama," katanya dengan tenang.


"Baik. Tunggu pembalasan kami," katanya lalu mereka segera pergi dari sana.


Setelah mereka pergi, pemuda itu segera menghampiri wanita yang sempat di tolongnya.


"Kamu tidak papa?" tanya Cakra Buana.


Si wanita tidak langsung menjawab. Dia memperhatikan lekat-lekat wajah Cakra Buana yang sangat tampan itu.


Seperti diceritakan sebelumnya, bahwa sekarang Cakra Buana sudah jauh berbeda. Baik itu di lihat dari segi ilmu, maupun fisik.


"Tampan sekali," gumam si wanita tanpa sadar.


"Heii," kata Cakra Buana sambil menepuk pelan pundaknya.


Si wanita langsung gelagapan dibuatnya. Dia salah tingkah.

__ADS_1


"An-anu, kamu tanya apa?"


"Kamu tidak papa?" tanyanya mengulangi pertanyaan.


"Eh ti-tidak, tidak," katanya gugup.


"Siapa namamu?" tanya Cakra Buana.


"Namaku Ratih Kencana, kamu?" jawab wanita yang bernama Ratih tersebut.


"Panggil saja Cakra," jawabnya singkat.


"Baiklah, sekali lagi terimakasih Cakra,"


"Jangan sungkan. Kalau begitu, aku pamit dulu," kata Cakra Buana.


Tanpa menunggu jawaban, dia segera pergi dari sama untuk mencari penginapan.


Sedangkan Ratih Kencana masih berdiri mematung. Dia seperti kenal dengan nama itu. Tetapi karena tidak mau berpikir panjang, dia juga segera pergi dari sana.


Cakra Buana sudah mendapatkan kamar penginapan. Tapi tidak langsung berisitirahat, dia pergi keluar untuk melihat-lihat keadaan lebih jauh dan menikmati pemandangan yang ada.


Setelah matahari tenggelam di ufuk barat dan burung-burung sudah kembali ke sarang mereka, Cakra Buana pun segera pulang ke penginapan karena dia juga sudah kenyang mengelilingi sudut-sudut kotaraja.


Menurut hasil pengamatannya, kotaraja ini memang dijaga ketat. Tetapi sayangnya para punggawa istana yang berjaga, hanya merupakan prajurit biasa. Sehingga mereka kurang teliti dan kurang ahli untuk mengetahui gerak-gerik para pembuat onar.


Karena Cakra Buana sudah mempunyai kepandaian yang tinggi, dia bisa tahu di mana tempat dan bagaimana cara bergerak pembuat onar itu dalam menjalankan aksinya. Hanya saja dia tidak mau bertindak gegabah, apalagi ini di negeri orang.


Namun yang pasti, dia semakin meningkatkan kewaspadaannya terhadap segala hal yang memungkinkan terjadi sewaktu-waktu.


Dia sudah masuk ke kamar yang dia sewa. Ketika baru saja merebahkan tubuhnya, tiba-tiba ada sepucuk surat tergeletak di pembaringannya.


Cakra Buana tidak tahu surat apa itu. Tapi karena penasaran, dia segera membuka tersebut.


"Tengah malam nanti kami tunggu di Bukit Sabdo Dewo. Kami tahu bahwa kamu bukanlah pendekar sembarangan dan pasti memiliki sifat pendekar sejati. Apalagi menyebut bahwa kau mengaku Pendekar Tanpa Nama. Ingat! Tengah malam nanti, kami tunggu di Bukit Sabdo Dewo."


Demikian isi surat yang ditulis dengan warna merah. Entah itu merah darah atau apa, Cakra Buana tidak mau memikirkan hal tersebut.


"Hemm, Bukit Sabdo Dewo? Di mana bukit itu? Ah terserah lah. Yang penting nanti malam aku akan datang ke sana. Aku ingin melihat siapa orang yang sudah mengirimkan surat ini," gumam Cakra Buana tidak mau berpikir panjang.


Selesai berkata, dia pun merebahkan tubuhnya sebentar untuk meluruskan otot dan tulangnya yang terasa mulai kaku.

__ADS_1


__ADS_2