Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pertemuan Besar


__ADS_3

Malam tiba. Kelelawar dan burung gagak berbunyi di kejauhan. Jangkrik terus bernyanyi tiada henti memecah keheningan malam. Rembulan dengan sinarnya yang terang benderang, menggantung anggun di cakrawala. Bintang bertaburan begitu menawan.


Cakra Buana dan yang lainnya akan bersiap-siap untuk segera berangkat ke Bukit Maut. Di mana di sana sudah terdapat ratusan pendekar yang sudah menunggu kedatangan mereka.


Seperti yang diceritakan sebelumnya, malam ini tepat malam ke tujuh. Itu artinya, saat ini sedang terjadi bulan purnama. Dan pertemuan besar, sebentar lagi akan segera berlangsung.


Setelah semua persiapan selesai, beberapa orang itu lalu segera berangkat. Mereka adalah Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, Pendekar Tangan Seribu, Raden Kalacakra Mangkubumi, Prabu Katapangan Kresna, Gagak Bodas, Jalak Putih, Ling Zhi, dan yang terkahir tentu saja Cakra Buana.


Mereka semua berangkat bersama-sama, masing-masing menaiki satu ekor kuda.


Derap langkah kuda terdengar tiada henti menerbangkan debu jalanan di bawah gelap malam. Sekelebat terlihat bayangan berbagai warna melintasi beberapa tempat. Lari semua kuda itu terbilang cepat, karena kuda-kuda tersebut merupakan yang terbaik di Istana Kerajaan Tunggilis.


Menjelang tengah malam, mereka semua baru tiba di tempat tujuan yaitu Bukit Maut. Benar saja, para pendekar sudah berkumpul di sana. Bahkan jumlahnya sedikit lebih banyak dari yang di perkirakan. Mereka yang berkumpul ini rata-rata pendekar sepuh.


Walaupun bukan datuk dunia persilatan, setidaknya para pendekar tersebut rata-rata berada pada kelas pilih tanding. Bahkan beberapa orang kekuatannya ada yang hampir menyamai seorang datuk rimba hijau.


Saat rombongan Prabu Katapangan tiba di sana, semua pendekar tersebut langsung membungkuk memberikan hormatnya. Tidak ada yang tidak hormat. Jika ada yang tidak hormat, sungguh orang itu sangat tak tahu diri.


Seorang yang bijaksana, ke mana pun pasti akan mendapatkan penghormatan. Bahkan kalau dia sudah tidak ada, namanya akan selalu di kenang orang.


Mereka bangkit berdiri seperti semula lagi tepat saat rombongan Prabu Katapangan sudah berdiri di tempat yang di sediakan. Di sana ada sebuah tanah berbatu yang lebar dan lebih tinggi. Mirip seperti mimbar.


Sedangkan para pendekar berdiri di depan mimbar tanah tersebut. Mereka menunggu Prabu Katapangan berbicara. Sebelum ia bicara, tidak ada yang berani angkat suara.


"Selamat malam saudara-saudaraku sekalian. Terimakasih kalian sudah rela jauh-jauh datang dan hadir di sini. Sungguh, ini sebuah hal yang sangat membuatku berbahagia. Tak ada kata lagi yang pantas di ucapkan selain rasa terimakasih yang mendalam kepada kalian semua," Prabu Katapangan berhenti sesaat lalu memandang ke arah semua pendekar itu, ia memperhatikan wajah mereka satu persatu.


Kemudian Prabu Katapangan melanjutkan kembali, "Mungkin saudara-saudaraku sudah mendengar tujuanku sebenarnya mengumpulkan kalian di sini saat ini, seperti yang kita ketahui, saat ini Tanah Pasundan sedang berada di bawah pimpinan seorang yang tidak peduli akan kebahagiaan dan kesejahteraan rakyatnya. Di mana mereka selalu mementingkan kekuasaan dan dirinya sendiri. Sedangkan rakyat dibuat terlantar menjalankan kehidupan yang keras dan kejam ini."


"Kita selaku manusia yang masih mempunyai rasa perikemanusiaan dan tanggungjawab, sudah sepantasnya merebut kembali hak-hak rakyat yang selama ini telah hilang. Kita harus membantu rakyat lepas dari belenggu ini."

__ADS_1


"Mungkin sebagian tokoh tua tahu peristiwa besar di masa silam, di mana setelah kejadian itu kita pernah juga berkumpul untuk mengambil kembali kekuasaan yang sudah mereka rebut secara paksa. Dulu kita pernah sepakat, bahwa jika pewaris Prabu Bambang Sukma Saketi dan Ratu Dewi Sekar Arum sudah ditemukan, maka kita akan melancarkan rencana yang sempat terhenti itu. Dan sekarang, orang itu sudah ada bersama kita. Maka oleh sebab itu, aku berencana untuk menyerukan genderang perang kepada Kerajaan Kawasenan dalam waktu dekat,"


"Apakah kalian semua siap membantu?"


"Siap …" jawab semua pendekar secara serempak.


"Siap mengorbankan nyawa tanpa imbalan apapun?"


"Siap …"


"Siap berjuang sampai titik darah penghabisan?"


"Siap …"


Jawaban demi jawaban mereka jawab dengan kompak. Semua yang di katakan oleh Prabu Katapangan, mendapatkan persetujuan dari semua orang. Tidak ada yang tidak setuju.


Rembulan semakin terang. Bintang semakin gemerlapan. Seolah alam semesta tersenyum menyaksikan orang-orang yang sedang berkumpul dan berencana melakukan perjuangan mulia itu.


Entah bagaimana kedua orang tuanya bisa memiliki orang-orang yang bahkan setia sampai detik ini. Tapi yang jelas, ayah ibunya pasti merupakan orang yang sangat bijaksana.


Saat semuanya bersorak-sorai gembira, tiba-tiba ada dua orang kakek tua maju melangkah ke depan. Usia mereka tidak jauh dari Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.


Keduanya memakai pakaian berwarna putih agak lusuh dengan jenggot lumayan panjang. Alis matanya tebal. Senyumnya menenangkan walaupun sedikit tertutup kumis. Keduanya memegang sebatang tongkat hitam sedikit meliuk.


Dua kakek tua itu maju ke depan lalu memberi hormat. Semua pendekar yang tadi bersorak gembira, langsung bungkam saat itu juga ketika melihat dua sosok lanjut usia ini. Entah apa sebabnya.


Sebelum keduanya bicara, Prabu Katapangan Kresna lebih dulu melangkah dan memberikan hormat kepadanya. Kemudian ia pun segera berbicara mendahului.


"Maaf, bukankah kalian ini Pendekar Tongkat Kembar Dari Timur?" tanya Prabu Katapangan penuh hormat.

__ADS_1


"Baginda Raja tidak salah. Tak disangkanya Anda bisa mengenali kami yang sudah tua renta ini," kata seorang di antara mereka.


"Aih Kakek Tongkat Kanan. Tentu saja aku mengenali kalian, nama kalian sudah menyebar dan harum di mana-mana. Sungguh, hari ini aku beruntung bisa bertemu kalian. Apakah ada yang ingin kalian sampaikan?"


"Ada, bolehkah kami bicara?" tanya seorang lagi.


"Dengan senang hati aku akan mempersilahkan Kakek Tongkat Kiri untuk bicara," kata Prabu Katapangan kepada seorang kakek yang memegangi tongkatnya di tangan kiri.


"Terimakasih Baginda Raja. Bolehkah aku mengetahui yang mana keturunan Prabu Bambang Sukma Saketi dan Ratu Dewi Sekar Arum?"


"Tentu, tentu saja kek,"


"Cakra, kemarilah. Kakek Tongkat Kiri ingin bertemu denganmu," kata Prabu Katapangan memanggil Cakra Buana.


Cakra Buana segera maju ke depan. Kemudian ia segera memberikan hormat kepada dua kakek tua itu.


"Perkenalkan kek, namaku Cakra Buana. Aku memberikan hormat untuk kakek berdua. Semoga sehat selalu," katanya sambil membungkuk hormat.


"Anak baik, anak baik. Apakah benar kau putera dari Prabu Bambang Sukma Saketi dan Ratu Dewi Sekar Arum?" tanya Kakek Tongkat Kiri.


"Benar kek, kakek tidak salah,"


"Bagus, bagus. Kau sudah tahu semua kan tujuan kami ada di sini?"


"Tentu kek,"


"Karena kelak kau akan jadi seorang raja besar, pemimpin yang besar, aku harap kau bisa seperti kedua orang tuamu dahulu. Mereka terkenal adil dan bijaksana. Selain itu, mereka pun memiliki kepandaian yang sulit dicari tandingannya. Bukannya aku merendahkan, namun seorang pemimpin tentu harus memiliki kepandaian lebih, betul?"


"Apa yang kakek ucapkan semuanya benar,"

__ADS_1


"Karena itulah, tanpa mengurangi rasa hormat, kami berdua yang tua ini ingin mengujimu pangeran. Apakah kau siap?"


__ADS_2