
Cakra Buana mulai menguliti kijang dan juga ayam hutan hasil buruan si harimau, setelah selesai, kemudian dia langsung memanggangnya dengan peralatan yang sudah di sediakan oleh alam.
Saat kedua macam hewan buruan tersebut matang, hari sudah menunjukkan malam. Langit sudah gelap dan hanya sinar rembulan yang nampak.
Cakra Buana sedang berpesta bersama para binatang sahabat barunya tersebut. Tapi walaupun begitu, dia masih tetap bisa tertawa karena kerap kali melihat kelakukan konyol beberapa ekor kera yang mengerjai rekannya, atau bahkan mengerjai dia sendiri.
Baginya, kehidupan seperti ini tidak buruk juga. Dia masih bisa tertawa, masih bisa bercanda walaupun hanya dengan binatang.
Mereka selesai berpesta ketika tengah malam saat bulan sudah menggantung di atas kepala. Keadaan mulai sunyi, para binatang sudah tidur terlelap.
Cakra Buana masih duduk di sebuah batu hitam besar pinggir danau. Dia melamunkan semuanya. Bagaimana cara membalaskan dendamnya? Sedangkan kekuatannya sama sekali belum cukup untuk melawan Penguasa Kegelapan dan Empat Dewa Sesat.
Berbagai macam pikiran semakin berkecamuk di benaknya. Bahkan dia baru sadar, bagaimana pula dia keluar dari sini?
Karena terlalu banyak hal yang dia pikirkan saat itu, Cakra Buana mulai pusing. Dia memilih tidur untuk menenangkan dirinya sejenak. Masalah lain, nanti saja dia pikirkan.
###
Tanpa terasa tiga bulan lebih Cakra Buana berada di sana. Setiap hari dia selalu melalukan hal-hal seperti sebelumnya. Dia selalu di suruh berenang di dua danau berbeda. Walaupun tidak lagi disuruh mengambil tumbuhan, tetapi dia harus tetap berenang.
Sehari dia bisa tiga kali menyelami dua danau tersebut. Setelah itu, biasanya dia makan buah atau kalau tidak berburu.
Cakra Buana mulai paham sekarang. Bahwa karena dia berenang di dua danau tersebut, tenaga dalamnya jauh meningkat pesat. Bahkan dia merasakan dirinya mulai bisa mengendalikan tenaga dalam dingin warisan Eyang Rembang dan tenaga dalam panas warisan Ki Wayang secara bersamaan.
Bahkan dia tidak menyangka sama sekali bahwa dirinya bisa hidup sampai sejauh ini. Padahal dulu, dia sudah mempunyai pikiran bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Tapi buktinya, dia justru merasakan badannya jauh lebih sehat dan kuat daripada sebelumnya.
Kehidupan memang begitu. Kadang kita terasa dipermainkan. Padahal bukan, justru Sang Hyang Widhi sedang menguji sampai di mana tingkat keyakinan kita kepadanya.
Seperti halnya Cakra Buana, dia dipastikan akan mati karena Racun Seribu Ular Kobra. Tapi buktinya? Dia masih hidup sampai sekarang. Berapa banyak kejadian seperti itu di dunia ini?
Ketika Sang Hyang Widhi mengulurkan tangannya, takkan ada yang mampu menghalaunya.
__ADS_1
Hari masih pagi sekali. Udara pun masih terasa sejuk. Cakra Buana sudah duduk di batu hitam pinggiran danau. Seperti biasa, dia bakal disuruh untuk berenang beberapa lama di masing-masing danau tersebut.
Dua ekor kera dan harimau yang pertama bertemu sudah ada di sampingnya. Selama beberapa bulan ini, dialah yang 'melatih' Cakra Buana.
Tak lama, ketiga 'pelatihnya' sudah memberikan isyarat kepada Cakra Buana untuk memulai latihan rutinnya. Kalau dulu dia merasa keberatan, maka kali ini dia melakukannya dengan senang hati.
Dia melompat dari batu hitam yang besar tersebut.
"Byurrr …"
Tak lama ketiga sahabatnya ikut berenang pula. Mereka berenang cukup lama sampai matahari naik di atas. Setelah selesai berenang dan selesai makan buah-buahan, si harimau dan dua ekor kera mengajak Cakra Buana ke suatu tempat.
"Kalian mau membawaku ke mana?" tanya Cakra Buana kepada tiga sahabatnya.
Tapi jawaban mereka hanya sebuah isyarat bahwa dia harus mengikuti tanpa banyak bertanya.
Apa boleh buat? Akhirnya dia menuruti saja ketiganya. Sebab Cakra Buana sudah percaya kepada mereka.
Cakra Buana di bawa masuk ke dalam goa.
Ternyata di dalam goa juga sama seperti di luar. Bersih sekali. Bahkan sarang laba-laba ataupun kelelawar tidak ada sama sekali.
Di ujung goa, tampak terlihat ada sebuah kuburan yang sudah tua sekali. Dua ekor kera sahabatnya menggali tanah di pinggir kuburan tersebut. Cakra Buana tidak tahu itu kuburan siapa dan dia juga mengerti apa yang sedang dilakukan dua sahabatnya itu.
Setelah menunggu beberapa saat, dua ekor kera selesai menggali. Mereka mengambil sebuah kotak kayu hitam tua dari hasil galian tersebut. Baik si harimau maupun dua ekor kera nampak girang sekali. Bahkan mereka melompat-lompat saking girangnya.
Tiba-tiba saja si kera yang paling besar memberikan kotak tersebut kepada Cakra Buana.
"Untukku?"
Si kera mengangguk.
__ADS_1
"Dilempar?" tanya Cakra Buana sambil bercanda.
"Plakk …" sebuah tanparan dari kera itu mendarat di pipinya.
"Plakk …" si harimau juga menamparnya.
Tapi Cakra Buana tidak melawan. Dia hanya tertawa karena kekonyolannya. Padahal tamparan kedua binatang itu terasa lumayan nyeri. Tapi dia malah tertawa dibuatnya.
"Baiklah, baiklah. Aku akan membuka kotak ini," kata Cakra Buana mulai serius.
Dia membuka kotak kayu hitam tersebut. Hal pertama yang dia temukan adalah sepucuk surat dari kulit binatang.
"Siapapun yang menemukan kitab ini, dialah jodohku. Dialah penerusku. Aku menurunkan dua kitab hasil ciptaanku ini dengan harapan ada orang yang meneruskan perjuanganku melawan keangkaramurkaan di dunia ini. Aku serahkan dua kitab pusaka ini untuk kau latih. Binatang-binatang sahabatku akan menemanimu dalam melatih dua kitabku. Kalau sudah selesai, suruhlah si harimau menunjukkan wujud aslinya. Biarkan si kera tetap di sini mengurusku. Latih dan pergunakan warisanku ini di jalan kebenaran. Kalau kau berhasil melatih dengan benar dan sempurna, maka di kolong langit ini tidak akan ada yang mengalahkamu, kecuali hanya dapat mengimbangi. Itupun mungkin dapat dihitung dengan dua tangan. Selamat bagi penerusku."
"Pendekar Tanpa Nama."
Cakra Buana tersentak kaget sekali. Dia tidak menyangka bahwa sahabat-sahabatnya itu ternyata berusia sudah sangat tua sekali. Dia membuka kembali surat satu lagi yang terdapat di dalam kotak kayu hitam pula.
"Antarkan Kitab 18 Rajawali Sakti ini ke Perguruan Rajawali Putih di Tionggoan (Tiongkok). Siapapun ciangbunjin (ketua perguruan) itu, selama dia berdiri dalam kebenaran, kau harus tetap memberikan kitab ini kepadanya. Beritahukan bahwa Pendekar Tanpa Nama yang menyuruhmu dalam surat wasiat."
Cakra Buana tertegun. Sedikit banyak dia sudah mendapat gambaran bahwa berarti Pendekar Tanpa Nama ini bukan asli Tanah Pasundan ataupun Tanah Jawa.
Jodoh sudah bertemu. Mau tidak mau Cakra Buana harus menjalankan semua surat wasiat dari Pendekar Tanpa Nama. Walaupun dia sendiri tidak tahu siapa pendekar itu, tapi dia yakin bahwa Pendekar Tanpa Nama sangatlah sakti.
Cakra Buana kemudian mengambil lagi dua kitab yang ada di dalamnya.
Kitab pertama bernama "Kitab Tenaga Dalam Langit Bumi".
Kitab kedua bernama "7 Jurus Naga dan Harimau beserta 3 Ilmu Pedang Kilat".
Cakra Buana semakin tertegun. Bahkan tubuhnya bergetar hebat.
__ADS_1