Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Api di Kerajaan Kawasenan


__ADS_3

Hampir sepeminum teh Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu terkapar seperti orang mati. Mereka tidak bergerak sama sekali, bahkan nafasnya pun sungguh pelan. Keadaan di hutan sudah sepi sunyi menyisahkan pepohonan yang porak-poranda. Tanah yang hancur dan bebatuan yang kini berubah menjadi serpihan kecil.


Semilir angin berhembus membawa bau amis dari darah yang mulai mengering. Matahari mulai condong sedikit ke arah barat. Tinggal menunggu waktu malaikat kematian tiba, maka nyawa pendekar yang terkapar itu tentu tak akan tertolong.


Tetapi, sepertinya Sang Hyang Widhi belum mengizinkan mereka pergi ke alam baka. Tiba-tiba angin berhembus kencang. Debu mengepul menutupi pandangan. Tak lama, dua sosok pendekar yang sudah tua ada di sana.


Entah kapan mereka datang. Yang jelas, mata manusia biasa takkan mampu melihat bagaimana ia bergerak. Keduanya berjubah putih. Di tangan mereka ada sebuah biji tasbih yang lumayan besar. Yang satu membawa tongkat.


Di lihat dari wajah, keduanya sudah pasti berusia lebih dari enam puluh tahun. Alis mereka putih tebal. Janggut agak panjang melebihi dagu. Namun wajah mereka sekilas seperti memancarkan cahaya dan membawa kesejukan siapa pun yang memandangnya.


"Kakang, sepertinya telah terjadi pertempuran dahsyat di tempat ini," kata seorang jubah putih yang memegang tongkat di tangan kiri.


"Kau benar rai Jalak Putih. Sepertinya aku kenal mereka yang tewas," kata seorang lagi.


"Menurutmu mereka itu siapa kakang Gagak Bodas?" tanya kakek tua yang disebut Jalak Putih.


"Mereka itu para pendekar Kerajaan Kawasenan," jawab kakek bernama Gagak Bodas.


"Sedangkan kedua pendekar ini, kau kenal juga siapa?" tanya Jalak Putih sambil melirik ke Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu.


"Aku kurang tahu. Tapi … sebentar," Gagak Bodas lalu mengambil lencana yang tergeletak di pinggir Pendekar Tangan Seribu.


Kedua kakek tua itu memperhatikan lencana tersebut. Tak lama keduanya berseru berbarengan.


"Kerajaan Tunggilis …" katanya sambil saling pandang.


"Benar, keduanya pendekar Kerajaan Tunggilis,"


"Apakah mereka masih hidup?" tanya Jalak Putih.


Gagak Bodas lalu memeriksa keadaan Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu.


"Masih. Hanya saja kondisi mereka parah sekali, lebih baik kita segera bawa saja mereka," ucap Gagak Bodas.


"Baik, aku setuju," jawab Jalak Putih.

__ADS_1


Kedua kakek itu lalu memboyong kedua pendekar. Jalak Putih membawa Pendekar Tangan Seribu. Sedangkan Gagak Bodas membawa Cakra Buana. Hanya dalam beberapa tarikan nafas saja, kedua kakek tua tersebut sudah lenyap dari hutan. Entah ke mana perginya mereka, karena tak seorang pun yang bisa melihatnya.


###


Di hutan tempat bertarung tadi, setelah kepergian Jalak Putih dan Gagak Bodas, tak lama ada beberapa orang lewat ke sana. Jumlahnya ada lima orang, enam orang jika di hitung dengan yang paling depan. Dan masing-masing dari mereka menunggang kuda sambil membawa tombak serta.


Pakaian mereka seragam. Bahkan postur tubuh pun, sama persis. Sepertinya mereka satu regu. Dan itu memang benar, keenamnya adalah para punggawa Kerajaan Kawasenan yang biasa berpatroli.


Seorang dari mereka yang paling depan dan diduga merupakan pemimpin, memberikan tanda dengan tangan kanannya supaya berhenti. Kelima lainnya segera berhenti. Lalu si pemimpin berseru agak lantang.


"Sepertinya telah terjadi pertarungan hebat. Cepat kalian periksa, apakah ada korban atau tidak," ucapnya memberikan perintah.


"Baik …" jawab kelima pungawa serempak.


Mereka segera turun dari kudanya masing-masing. Lalu keempatnya memeriksa di berbagai tempat. Tak lama, seorang berteriak.


"Aku menemukan mayat di sini," kata seorang punggawa.


"Aku juga …" sahut yang lainnya.


"Aku menemukan juga,"


Mereka terus berbicara seperti itu sampai sepuluh kali banyaknya. Tanpa di komando, masing-masing dari prajurit membawa mayat itu ke hadapan pemimpin mereka. Kondisi mayat itu sudah berlumuran darah. Bahkan lalat sudah mengerubungi mayat-mayat tersebut.


Walaupun terbilang baru, agaknya lalat-lalat itu mencium bau anyir dari luka dan darah. Sehingga baru beberapa jam saja, semua mayat sudah terlihat menjijikan.


Si pemimpin turun dari kudanya. Ia melangkah mengelilingi sambil melihat-lihat siapa saja mereka yang tewas itu. Begitu tahu siapa mereka, si pemimpin kaget bukan kepalang.


"Sebentar, sepertinya mereka ini orang-orang kita. Cepat periksa di saku bajunya, apakah ada tanda kerajaan?" si pemimpin memberikan perintah kepada para punggawa.


Kelima punggawa segera memeriksa saku dari masing-masing mayat itu. Kini bukan hanya si pemimpin yang kaget, melainkan kelima punggawa pun sama.


"Benar tuan, mereka ini orang-orang kita. Sepertinya mereka pendekar di kerajaan," kata seorang punggawa.


"*******. Siapa yang sudah melakukannya, cepat bawa mereka. Kita segera kembali ke istana," ucap si pemimpin menahan kemarahan.

__ADS_1


Mereka lalu menyusun mayat-mayat itu. Satu kuda, ada dua mayat yang ditumpuk. Setelah semuanya selesai, mereka segera pergi dari sana dan kembali ke istana.


Sesampainya di istana, semua orang-orang di sana gempar. Terlebih mereka yang juga merupakan pendekar Kerajaan Kawasenan. Para pendekar itu kaget. Sebab mereka tahu siapa kesepuluh orang itu dan bagaimana tingginya ilmu mereka meringankan.


Di ruangan utama kerajaan yang terdapat kursi singgasana sang raja, terdapat lumayan banyak pendekar pilihan. Jumlah mereka ada sekitar sebelas orang. Kesebelas orang ini merupakan sebagian pendekar yang di utamakan oleh Prabu Ajiraga. Mereka memiliki ilmu yang tidak kalah dari sepuluh orang yang tewas tersebut.


Suasana di sana hening cukup lama. Tapi heningnya kali ini berbeda. Mereka terdiam karena sedang menahan rasa marah yang saat ini sedang bergelora. Bahkan beberapa pendekar meremas tangannya dengan keras.


Prabu Ajiraba pun terdiam menunduk. Amarahnya jelas lebih besar daripada kesebelas pendekar. Kematian sepuluh pendekarnya, sama saja dengan penghinaan. Apalagi mereka tewas masih di wilayah sendiri, dan yang lebih parah, lokasi ditemukannya di dekat kotaraja.


"Menurut kalian, kira-kira siapakah pelakunya?" tanya Prabu Ajiraga dengan amarah yang dipendam. Matanya menatap tajam berkeliling ke sebelas pendekar.


Para pendekar itu tidak ada yang membuka mulut. Mereka semua terdiam, mulut mereka seperti terkunci.


"Jawab …" bentak prabu sambil memukul meja didepannya hingga terbelah.


Semua orang tentu saja kaget. Baru kali ini mereka melihat junjungannya marah besar.


"Maaf prabu, hamba mencurigai seseorang dalam kejadian ini," kata penasihat Kerajaan Kawasenan yang bernama Wahyu Pamungkas.


"Katakan siapa," pinta sang raja.


"Tapi hamba tidak menjamin dugaan ini benar. Bisa iya, bisa juga tidak," kata penasihat yang sudah tua itu.


"Aku bilang katakan," kata Prabu Ajiraga, ia menekan suaranya sedikit sekaligus menahan amarahnya.


"Ba-baik Yang Mulia. Menurut dugaan hamba, tewasnya sepuluh pendekar kerajaan, ada hubungannya dengan Pendekar Tangan Seribu dan Pendekar Bertopeng," katanya agak gugup.


"Hemm …" Prabu Ajiraga memicingkan matanya jauh ke depan.


"Kau yakin dengan dugaanmu itu paman?"


"Tidak sepenuhnya. Tapi firasatku, mereka berdua memang terlihat,"


"Apakah ada yang ingin menambahkan dugaan ini?" tanya Prabu Ajiraga kepada semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


__ADS_2