Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Kembali ke Kerajaan Tunggilis


__ADS_3

"Tentu saja benar. Untuk apa aku berbohong? Kau pun tahu bukan siapa kami?" Gada Maut mulai naik darah. Ucapannya tanpa sadar sedikit meninggi.


"Tapi matamu mengatakan bahwa kau berbohong. Dan gerak bahumu, mengatakan juga begitu. Hemm … aku jadi ragu," ucap Gagak Bodas.


Baik Gada Maut maupun dua rekannya langsung terdiam. Ketiganya kehabisan kata-kata. Sebab mereka tahu siapa yang sedang dihadapi saat ini.


Gagak Bodas!


Seorang tokoh tua yang terkenal dengan kecerdikan dan terkenal karena pintar memancing emosi lawan.


"Sudahlah. Aku tanya sekarang, apakah kau mau menghindar atau tetap melindungi dua pencuri itu?" kakek tua si Bambu Hijau sudah tidak sabar. Darahnya terasa panas.


"Kalau aku bilang akan tetap melindungi dua orang yang kau sebut pencuri, lantas kau mau apa?" tanya Gagak Bodas menantang.


"Maka terpaksa aku akan memaksamu untuk menghindar," si Bambu Hijau semakin naik darah. Pusaka Bambu Hijau miliknya sudah di genggam erat. Tanda ia siap menyerang lawan kapan saja.


"Apakah kau yakin bisa membuatku menghindar?"


"*******. Banyak mulut kau orang tua …" kata Golok Pembelah Kepala yang sudah tidak tahan menahan emosinya.


Selesai berkata demikian, ia maju menyerang mendahului dua rekannya. Golok yang terkenal akan ketajamannya, ia sabetkan dari sisi kanan ke sisi kiri mengingat perut Gagak Bodas.


Kakek tua itu hanya tersenyum simpul. Begitu golok sudah dekat, ia mengangkat tongkat bututnya untuk menahan sabetan golok tersebut.


"Trangg …"


Golok dan tongkat berbenturan. Tapi anehnya, tongkat butut milik Gagak Bodas tidak patah. Bahkan tongkat itu terasa keras bagaikan sebuah baja.


Tanpa menunggu lama, Gagak Bodas menghentakkan tongkatnya sehingga golok lawan terpental kembali.


"Kalian masih mau mencoba?" Gagak Bodas mengejek sedikit lawannya.


"Setan alas …"


"Wuttt …"


Cahaya hijau terlihat berkilat saat si Bambu Hijau menyerang secara tiba-tiba. Benturan seperti dua logam terdengar kembali. Tapi kali ini hanya sebentar, sebab si Bambu Hijau langsung menarik kembali pusakanya.


Namun begitu ia menarik bambu hijau tersebut, cahaya hitam berkelebat menyusul dari arah kiri ke kanan.

__ADS_1


Gada Maut!


Sepertinya dia sudah tidak tahan lagi. Sehingga serangan yang di lancarkan pun mengandung tenaga dalam besar. Gagak Bodas tahu akan hal ini, maka dia tidak berani menahannya.


Dia melompat mundur ke belakang. Tapi si Gada Maut tidak melepaskannya. Begitu ia mendarat, sambaran gada yang membawa hawa kematian kembali mengincarnya. Kali ini yang jadi sasaran adalah kepala.


Andia kata gada tersebut berhasil mengenai kepala Gagak Bodas, bisa dipastikan bahwa kepala itu bakal hancur tidak karuan bentuknya.


Gagak Bodas menundukkan kepalanya. Begitu menunduk, ia menyodokkan tongkat butut yang sejak tadi di genggam.


"Wuttt …"


"Tappp …"


Gada Maut menahan tongkat itu dengan tangan kirinya. Gadanya ia putarkan arah dan kembali meluncur. Berbarengan dengan itu, si Golok Pembelah Kepala menyusul dari belakang.


Pusaka yang ia beri nama Golok Hitam dan sudah terkenal dengan ketajamannya itu, melesat bagaikan anak panah lepas dari busur.


"Wuttt …"


sebelum goloknya sampai, kesiur angin yang tajam dan hawa panas sudah terasa. Gagak Bodas tidak mau mengambil resiko, ia memutar tubuhnya melepaskan tongkat lalu mencabut pedang pendek yang merupakan senjatanya.


"Sringg …"


"Trangg …"


"Haaa …"


Golok Pembelah Kepala dan Gada Maut terpental. Senjata mereka hampir saja lepas dari genggaman.


Belum sempat membenarkan posisi, Gagak Bodas sudah memberikan serangan lagi. Ia memang terkenal dengan gerakannya yang cepat dan sering mengejutkan lawan.


"Brett …"


"Brett …"


"Ahh …"


Dua lawan mengeluh kesakitan. Perut bagian pinggir mereka robek cukup besar dan dalam akibat sabetan pedang Gagak Bodas. Keduanya langsung jatuh berlutut. Darah segera mengucur deras. Gada Maut dan Golok Pembelah Kepala tak mampu melanjutkan pertarungan lagi.

__ADS_1


Berbarengan dengan semua kejadian tadi, Jalak Putih pun sudah bertarung sengit melawan Bambu Hijau.


Keduanya berada dalam gulungan sinar bambu hijau dan kipas hitam putih. Suara-suara gertakan masing-masing terdengar mengiringi pertarungan.


Jalak Putih tidak memberikan kesempatan bagi lawan. Ia bertarung semakin menempel sehingga si Bambu Hijau menjadi kesulitan. Jurus silat yang ia pelajari adalah ilmu tongkat, sudah pasti kakek tua itu akan kerepotan kalau bertarung dengan jarak yang sangat dekat.


Jalak Putih mengerti akan hal tersebut. Karena alasan itulah dirinya terus menempel dan membuat si Bambu Hijau kewalahan.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Kipas hitam putih miliknya berkelebat ke kanan dan kiri mencari sasaran. Tubuhnya sendiri berputar tanpa henti. Kakinya dengan lincah mengikuti irama tangan.


Bambu Hijau semakin kerepotan. Sehingga pada suatu kesempatan, pangkal lengan kirinya secara telak jadis sasaran lawan.


"Brett …"


Baju bagian lengan robek beserta kulit dan dagingnya. Luka yang dalam dan agak lebar langsung menganga. Sama seperti kedua rekannya, ia kemudian jatuh terduduk sambil memegangi luka tersebut. Pusaka tongkatnya jatuh tak jauh dari tempat dia sendiri.


Pertarungan selesai. Hanya dalam waktu singkat, ketiga pendekar itu telah dalam keadaan terluka cukup parah. Wajah mereka mulai pucat pasi.


"Pergilah sebelum aku mengubah pikiran," kata Gagak Bodas dengan suara yang dingin.


Tanpa banyak bicara, ketiganya langsung pergi. Mereka tidak menghiraukan menghiraukan luka yang terus mengeluarkan darah itu. Yang terpenting untuk saat ini adalah pergi dari sana untuk menyelamatkan diri.


Setelah Bambu Hijau berikut dua rekannya tak terlihat lagi, saudara seperguruan itu segera menghampiri Cakra Buana dan Pendekar yang Tangan Seribu.


"Pangeran tidak papa?" tanya Gagak Bodas sambil memberikan hormat.


"Tidak paman. Terimakasih karena paman sudah menyelamatkan kami. Tidak di sangka kita akan bertemu lagi secepat ini," ujar Cakra Buana.


"Sudah menjadi kewajiban kami untuk melindungi pangeran. Kalau boleh tahu, pangeran dan Pendekar Tangan Seribu akan pergi ke mana?" tanya Jalak Putih.


"Kami akan pulang kembali ke Kerajaan Tunggilis paman. Sebab hal ini harus segera di laporkan kepada Baginda Raja Katapangan. Sepertinya pedang tak dapat dihindari lagi, karena itulah kami harus bertindak cepat," kata Pendekar Tangan Seribu.


"Ah …, kalau begitu kita berangkat bersama saja. Kebetulan aku dan kakak seperguruanku juga berniat untuk ke sana," kata Jalak Putih bersemangat.


"Baik, usul yang bagus. Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang juga," katanya menyetujui.

__ADS_1


Keduanya mengangguk setuju. Tanpa berlama-lama lagi, mereka segera pergi dari sana menggunakan ilmu meringankan tubuh. Sehingga beberapa saat kemudian, empat pendekar itu sudah berada jauh dari hutan tadi.


Cakra Buana ingin secepatnya sampai di Kerajaan Tunggilis. Pendekar Maung Kulon ingin segera melepaskan rasa rindu kepada kekasihnya, Ling Zhi.


__ADS_2