
Hal seperti itu terjadi bukan tanpa alasan. Justru karena sebuah alasan yang kuatlah mereka sampai berekspresi seperti demikian.
Julukan Bidadari Tak Bersayap memang belum lama muncul di dunia persilatan. Paling-paling hanya beberapa bulan belakangan. Tapi walaupun baru muncul, justru saat ini dia sedang naik daun.
Namanya sangat gemilang di seantero negeri. Konon kabarnya, beberapa tokoh dan pendekar kelas atas dunia persilatan telah tewas di tangan gadis tersebut. Bahkan satu datuk rimba hijau di Tanah Jawa juga ada yang tewas karena bertarung dengannya.
Bidadari Tak Bersayap cepat terkenal karena diakibatkan dia sangat sering membantu siapapun yang sekiranya membutuhkan pertolongan. Baik itu rakyat biasa, maupun para pendekar. Kalau dia melihat ada yang kesulitan, pasti gadis cantik itu akan membantu tanpa di suruh sekalipun.
Hanya saja, seperti yang kita ketahui semuanya, semakin tingginya pohon, semakin besar angin yang menerjang. Semakin nama seseorang tinggi dengan harum, semakin banyak juga orang yang tidak suka bahkan menaruh benci terhadapnya.
Siapapun orang itu. Baik di dalam dunia persilatan, maupun di dalam kehidupan biasa. Setiap orang yang sedang naik derajatnya, selalu saja bakal ada yang iri dan bahkan berniat buruk padanya.
Dan hal ini bukan cuma bualan belaka. Tetapi memanglah nyata adanya. Bahkan mungkin kau sendiri pernah mengalami hal seperti ini.
Ada yang bilang kalau belum sanggup untuk menerima semua cobaan, jangan mencoba-coba untuk menjadi orang baik. Karena menjadi orang baik itu sangat susah. Hampir sama susahnya dengan berusaha menggelitik mayat sampai tertawa.
Karena ketika menjadi orang baik, Tuhan akan menurunkan berbagai macam cobaan kepada kita dengan berbagai macam cara. Di situlah Dia menguji sampai di mana niatmu untuk mengubah diri. Sudah siapkah semuanya, atau belum?
Namun di balik semua cobaan yang kelak akan datang, teruslah berusaha menjadi orang baik. Walaupun perjuangannya sulit, tapi tidak ada perjuangan yang sia-sia. Kau harus percaya ini, karena memang inilah rumus hidup.
Ingin sukses, harus berani berjuang. Ingin menjadi orang baik, harus berani menerima ujian. Apapun itu, pasti mengandung resiko.
Selama itu baik, kau harus mencobanya. Tapi jangan coba-coba untuk merebut kekasih seseorang.
"Apakah yang nona bicarakan itu benar?" tanya si tokoh yang memegang gada.
"Untuk apa aku berbohong?"
"Hemm, baik. Kami percaya. Sebelum terlambat, lebih baik nona segera pergi dan jangan mencampuri urusan kami," kata si pemegang gada melanjutkan.
"Kalau aku tidak mau pergi?"
"Terpaksa kami akan berbuat kasar,"
"Apakah kalian sanggup?"
__ADS_1
"Lancang!!!" bentak seorang tokoh dengan sangat marah.
Ketika seorang marah, memang emosinya terkadang tidak terkendali. Jangankan kepada orang asing, kepada atasan sendiri pun kadang berani membentak.
"Justru menghadapi orang-orang macam kalian ini memang aku harus lancang. Kalau tidak, rasanya sangat sayang sekali,"
"Bangsat. Lihat serangan,"
Seorang tokoh langsung menerjang tanpa banyak berkata lagi. Sebuah tongkat berwarna hijau menusuk cepat mengarah ke ulu hati.
Tapi Bidadari Tak Bersayap bukanlah pendekar wanita biasa. Kalau datuk rimba hijau saja mampu dia bunuh, apa bedanya dengan tokoh-tokoh ini? Walaupun jumlahnya lebih banyak dan kekuatannya bukan main-main, tapi dia yakin bahwa dirinya sanggup.
Dengan gerakan sederhana sekali, dia memutarkan tubuhnya. Tongkat hijau yang ternyata terbuat dari bambu ampel tadi berhasil dia hindari. Saat tubuhnya berputar, tangan kanannya segera menepak tongkat bambu hijau.
Si tokoh pemegangnya tergetar. Tanpa sadar dia menarik kembali bambunya.
"Kakang, kita bagi dua. Kau melawan tiga orang, aku juga melawan tiga," katanya dengan lembut. Lembut sekali.
Bahkan terdengar sangat indah di telinga Cakra Buana. Apalagi Bidadari Tak Bersayap berkata seperti barusan memang dekat dengan telinganya.
Si pendekar wanita sudah memulai pertarungan dengan tiga tokoh. Sedangkan Cakra Buana masih dalam keadaan melamun.
Pendekar Tanpa Nama itu baru tersadar saat tubuhnya merasakan ada hawa dingin yang menerjang dengan kekuatan hebat.
Sebuah tusukan tombak yang bergerak sangat cepat mengarah ke lehernya. Hampir saja Cakra Buana menjadi korban. Untung bahwa dia segera memutarkan tubuh sehingga tusukan tombak tadi hanya mengenai udara kosong.
Tiga tokoh segera menggempur di kala dia belum bersiap. Tusukan tombak, sabetan pedang dan hantaman gada sudah melesat mengincar dirinya.
Cakra Buana sudah sadar total dari lamunannya. Maka seketika itu juga dia segera mencabut kembali Pedang Naga dan Harimau.
Tak tanggung-tanggung lagi, dia kembali mengeluarkan jurus Hujan Kilat Sejuta Pedang. Kali ini Cakra Buana tidak mau bermain-main. Dia akan menurunkan tangan keras kepada semua lawan.
Kalau enam tokoh saja sanggup dia hadapi sampai ratusan jurus, apalagi kini yang hanya tinggal tiga orang?
Pedang Naga dan Harimau segera bergerak kembali. Kilatan cahaya putih muai memenuhi arena pertarungannya. Ledakan halilintar terdengar kembali di telinga tiga tokoh tua itu.
__ADS_1
Cakra Buana terus menyerang tanpa memikirkan benteng pertahanan. Pedang Naga dan Harimau menusuk mengincar ulu hati dan menyabet mengarah ke leher.
Dalam waktu singkat, dua belah pihak sudah bertarung lebih dari tiga puluh jurus. Dari awal hingga sekarang, Cakra Buana tetap berada dalam posisi menyerang.
Jurusnya menjadi lebih dahsyat ketika jumlah lawannya berkurang. Bahkan kali ini tangan kirinya tidak nganggur, tangan itu turut melancarkan serangan berhawa dingin dan kadang berubah menjadi hawa panas.
Entah bagaimana Cakra Buana melakukannya, tetapi saat memasuki jurus kelima puluh, satu orang tetua sudah terpental akibat terkena hantaman telapak tangan kiri. Tidak mau menunggu, Pendekar Tanpa Nama sudah meluncur deras ke arah tokoh tersebut.
Pedang Naga dan Harimau terjulur ke depan sambil bergetar hebat sehingga membingungkan lawan. Tanpa ampun, si tokoh itu sudah meregang nyawa akibat jantungnya tertusuk pedang milik Cakra Buana.
Dua rekannya sangat marah melihat si pemegang gada tewas. Mereka segera memberikan serangan menggunakan tombak dan pedang.
Jurus pamungkas keluar kembali. Bahkan lebih hebat lagi. Tetapi Cakra Buana tidak mau mundur.
Dengan tekad bulat, dia justru membenturkan Pedang Naga dan Harimau.
"Trangg …"
Tiga senjata pusaka beradu.
"Krakk …"
Terdengar suara retakan di saat beradunya pusaka tersebut. Bukan pedang milik Cakra Buana yang rusak. Sebaliknya, batang pedang milik lawannya retak. Sedangkan kayu tombak rekannya telah patah menjadi dua bagian.
Cakra Buana segera mementalkan ke atas Pedang Naga dan Harimau.
Selama pedang itu melayang di udara, dua buah hantaman telak dengan hawa berbeda sudah dia lancarkan mengincar jantung lawan.
Sontak kedua tokoh itu meluncur ke belakang tanpa bisa dihentikan. Di saat seperti itulah Pedang Naga dan Harimau kembali kepadanya.
Begitu pedang sudah tergenggam, Cakra Buana segera menyusul kedua tokoh yang terpental tersebut.
Pedang pusakanya sudah dia ayunkan dari sisi kanan ke kiri siap untuk menebas lawan.
###
__ADS_1
Bantu kasih rate bintang ya, hhi😆☕