
Bidadari Tak Bersayap sebenarnya melihat ada "hal lain" pada gelagat Cakra Buana. Hanya saja, dia tidak ingin memperpanjang masalah. Lagi pula, toh si gadis sudah tewas olehnya. Dan itu, membuatnya senang. Karena tidak ada lagi gadis yang mengejar-ngejar Cakra Buana.
Setidaknya untuk saat ini.
"Kisanak, nissnak, bagaimana kalau kalian aku undang kalian ke Perguruan Tunggal Sadewo?" tanya Tuan Santeno kepada Cakra Buana secara tiba-tiba.
Pendekar Tanpa Nama tentu sangat senang sekali. Tetapi, masih ada kecurigaan dalam hatinya. Karena bagaimanapun juga, beberapa waktu lalu dia dinyatakan menjadi buronan perguruan besar tersebut.
Selain itu, siapapun orangnya, mereka pasti mempunyai "topeng" tersendiri. Setiap manusia mempunyai topeng. Entah itu Cakra Buana, Bidadari Tak Bersayap, atau bahkan kau sendiri, pasti mempunyai topeng.
Topeng yang menutupi segalanya. Di luar terlihat bahagia, padahal sebenarnya sedang berduka.
Cakra Buana masih belum menjawab, matanya melirik ke arah Bidadari Tak Bersayap. Seolah dia memintanya untuk mempertimbangkan ajakan tersebut.
Si gadis memang terkenal pintar lagi cerdik. Sehingga begitu melihat tatapan Cakra Buana, dia langsung mengerti.
Sebenarnya dia sendiri bingung. Kalau di tolak, rasanya sangat tidak sopan. Bahkan bisa menjadi benih permusuhan di antara mereka. Kalau di terima, keduanya tidak tahu apakah ajakan tersebut memang tulus atau ada rencana di dalamnya.
Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Bidadari Tak Bersayap mengiyakan ajakan tersebut.
"Rasanya kami berdua tidak dapat menolak ajakan Tuan Santeno. Dan memang begitulah, siapapun tidak bisa menolak ajakan tuan," kata Bidadari Tak Bersayap.
Mendengar jawaban seperti itu, maha guru tersebut merasa sangat senang sekali. Senyuman bersahabat berkembang di bibirnya.
"Ah, nisanak terlalu berlebihan memujiku. Mana ada kabar seperti itu, baiklah kalau begitu, mari kita berangkat sekarang," ajak Tuan Santeno.
Ketika meraka hendak berangkat menuju ke Perguruan Tunggal Sadewo, terlihat Cakra Buana masih diam. Dia berdiri menatap jauh dengan tatapan kosong. Semua kenangan dan kesedihan menjadi satu. Tetapi Pendekar Tanpa Nama mencoba untuk menyembunyikan.
Kalau bukan kenangan dan kesedihan karena kematian sahabatnya, apalagi?
Sahabat mana yang tidak sedih kalau ditinggalkan oleh sahabat baiknya sendiri? Siapapun pasti sedih. Sangat sedih. Dan Cakra Buana sedang mengalami hal tersebut.
__ADS_1
Hal-hal seperti ini, atau mereka yang mengerti bagaimana kesedihan Cakra Buana, biasanya mempunyai pengalaman di masa lalu ketika sahabatnya pergi.
Karena yang mengerti sudah pasti pernah mengalami.
"Kisanak, apakah ada masalah atau ada sesuatu yang membebani pikiranmu?" tanya Tuan Santeno saat melihat kebimbangan Cakra Buana.
Pendekar Tanpa Nama tidak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan seraya melemparkan senyum. Senyuman yang penuh duka nestapa.
Tuan Santeno sangat paham atas apa yang sedang dirasakan oleh pendekar muda itu. Sebab sekarang, dia juga sedang berada di posisi yang sama.
"Masalah apa yang membebani pikiranmu? Kalau aku mampu, aku pasti akan membantumu," katanya sambil menepuk pundak Cakra Buana pelan.
Sangat pelan dan mengandung perasaan penuh pengertian. Bahkan suaranya juga lembut, seolah dia tahu semuanya.
"Aku bingung, bagaimana kalau kalian berangkat lebih dulu? Sedangkan aku, nanti akan segera menyusul kalau urusan sudah selesai," ucap Cakra Buana.
"Urusan apa?" tanya si maha guru tersebut.
"Sahabatku. Aku ingin menguburkan sahabat baikku dengan layak. Setelah selesai, aku pastikan akan segera menyusul kalian,"
"Giwangkara Baruga si Pendekar Pedang Kesetanan," jawabnya dengan suara berat.
Orang-orang Perguruan Tunggal Sadewo semuanya tersentak. Mereka tentu mengenal siapa itu Pendekar Pedang Kesetanan. Apalagi, baru-baru ini bahkan pihak perguruan sudah mendapatkan bantuan yang sangat berarti.
"Apa? Dia sahabatmu?" tanyanya sangat terkejut.
"Benar, apakah ada masalah? Kalau memang ada, kita segera selesaikan sekarang," jawab Cakra Buana dengan tegas dan mengandung rasa tidak senang.
"Tidak, tidak. Justru beliau sudah sangat berjasa kepada perguruan kami,"
"Memangnya apa yang dia lakukan?" tanya Cakra Buana.
__ADS_1
"Nanti saja aku ceritakan kalau kita sudah sampai. Sekarang, kita segera pergi ke sana. Kalau kisanak tidak merasa keberatan, bagaimana jika mendiang Pendekar Pedang Kesetanan aku makamkan di Perguruan Tunggal Sadewo?"
Perkataan barusan membuat Cakra Buana sangat terkejut. Dia belum tahu jasa apa yang sudah diberikan oleh sahabatnya kepada perguruan itu. Namun, dalam nada bicaranya, jelas bahwa si Tangan Tanpa Belas Kasihan tidak mengandung maksud buruk. Semua yang dia katakan benar-benar tulus.
"Kalau tuan tidak keberatan, baiklah," jawab Pendekar Tanpa Nama.
"Terimakasih. Kalian, bawa mendiang Pendekar Pedang Kesetanan ke perguruan. Kami akan berangkat lebih dulu. Pastikan tidak terjadi sesuatu, kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, nyawa kalian sebagai gantinya," ucap Tuan Santeno. Nada bicaranya jelas dan sangat tegas.
"Baik, kami mengerti,"
Tiga orang segera pergi ke dalam markas cabang untuk mengambil jasad Pendekar Pedang Kesetanan. Sedangkan Cakra Buana dan yang lain sudah melesat pergi untuk menuju ke Perguruan Tunggal Sadewo.
Setelah hampir tiga jam perjalanan, akhirnya rombongan tersebut telah sampai di tempat tujuan.
Perguruan Tunggal Sadewo terletak di daerah yang cukup damai. Perguruan itu berdiri di tengah hutan sebuah gunung. Konon pada zaman dahulu, di gunung tersebut pernah ada seorang dewa yang bertapa. Di ketahui dewa itu adalah Dewa Bumi.
Saat Tuan Santeno bertapa di sana, dia mendapatkan petunjuk untuk mendirikan perguruan. Karena hanya ada satu perguruan, dan gunung yang pernah menjadi tempat bertapa seorang dewa, oleh karena itulah perguruannya di namakan Tunggal Sadewo. Perguruan tunggal di bekas tempat bertapanya seorang dewa.
Perguruan tersebut memiliki halaman yang luas dan biasa digunakan untuk berlatih. Bangunan yang ada di sana pun berjejer indah. Di kanan kiri terdapat pemandangan memukau. Ada sungai, bukit, bahkan lautan yang membiru serta hamparan samudera hijau membentang luas.
Sungguh anugerah yang sangat indah.
Perguruan ini setidaknya mempunyai murid sebanyak kurang lebih tiga ratus orang. Sebagian dari mereka sudah keluar dan diperintahkan turun gunung untuk mengamalkan ilmu yang telah mereka peroleh.
Rombongan Tuan Santeno sudah tiba di sana. Bahkan kini mereka telah duduk di sebuah balairung penerima tamu. Saat tiba, para murid menyambut mereka dengan penuh hormat.
"Nah, inilah perguruan kami. Semoga kisanak dan nisanak tidak merasa kecewa," kata Tuan Santeno merendah.
"Justru kami sangat senang. Sungguh, ini perguruan terindah yang pernah aku kunjungi. Tempat yang sangat strategis," jawab Cakra Buana tanpa berbohong sedikitpun.
Saat berbicara hal-hal ringan mengani perguruan tersebut, dari dalam balariung datang seorang gadis muda nan cantik. Sepertinya dia merupakan murid perguruan, terlihat dari pakaian yang dia kenakan.
__ADS_1
Gadis itu membawa hidangan cukup banyak dibantu oleh beberapa odang rekannya. Jumlahnya ada tiga orang. Dan semuanya cantik-cantik.
'Mereka cantik sekali,' batin Cakra Buana sambil memandangi si gadis yang menyodorkan arak kepadanya sambil tersenyum manis.