Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Harimau Dan Kera


__ADS_3

Dua kera dan satu ekor harimau tersebut semakin mendekat ke arah Cakra Buana. Ketiga hewan itu berjalan dengan langkah pelan tapi pasti. Setiap langkahnya tidak menimbulkan jejak sama sekali.


Dari hal ini saja Cakra Buana dibuat semakin terkejut. Sebab itu artinya ketiga hewan tersebut mempunyai kepandaian. Kalau diibaratkan manusia, mungkin ketiga hewan itu mempunyai ilmu meringankan tubuh yang tinggi sekali.


Cakra Buana sudah mempersiapkan diri apabila ketiga hewan ingin menerkamnya. Tetapi semakin tiga hewan itu mendekat, justru tatapan matanya tidak menandakan permusuhan. Bahkan mereka seperti tidak ingin menerkam Cakra Buana sama sekali.


Justru sebaliknya, pandangan ketiga hewan seperti ingin bersahabat dengannya. Begitu jaraknya tinggal satu langkah, si harimau langsung mendekam. Sedangkan dua ekor kera mengambil buah-buahan yang tadi dia ambil.


Karena mereka tidak berniat buruk, maka Cakra Buana pun tidak melakukan apa-apa. Dia juga memakan lagi buah-buahan tadi. Tiba-tiba satu ekor kera lari ke sungai. Setelah beberapa saat kemudian, dia telah mendapatkan beberapa ekor ikan cukup besar lalu diberikan kepada si harimau.


Dari hal-hal kecil ini, Cakra Buana tahu bahwa ketiga hewan tersebut merupakan sahabat. Maka diam-diam dia pun merasa senang karena ada sahabat baru.


Setelah ketiga hewan selesai makan, satu ekor kera lalu menariknya sambil berdecit mengeluarkan suara khas. Cakra Buana tidak mengerti akan hal ini, tetapi dia mencoba saja untuk mengikuti apa yang ketiga hewan itu inginkan.


Dia di bawa ke pinggiran sungai tadi. Si kera memberikan isyarat dengan tangannya sambil menunjuk-nunjuk pojok danau biru.


"Aku harus berenang ke sana?" tanya Cakra Buana menyesuaikan diri.


Si kera dan yang lainnya mengangguk-angguk beberapa kali.


"Berenang ke sana dan mencari satu macam tumbuhan. Letaknya di dasar danau itu, begitu?" tanyanya kembali karena si kera masih memberikan isyarat.


Kembali tiga hewan itu mengangguk-angguk pertanda bahwa mereka mengerti apa yang diucapkan oleh Cakra Buana.


"Untuk apa aku ke sana? Airnya dingin sekali. Aku tidak mau," ujarnya seperti orang kedinginan.


Tetapi karena hal itu, dua kera dan satu ekor harimau seperti marah kepadanya. Bahkan si harimau menggeram. Mau tidak mau pada akhirnya Cakra Buana harus menuruti keinginan tiga hewan tersebut.


Dia kembali berenang ke danau biru yang airnya sedingin es itu. Awalnya rasa dingin tersebut masih bisa dia tahan. Tetapi semakin ke dalam, rasa dinginnya semakin menjadi. Semakin mencoba masuk ke dasar danau, air itu benar-benar sedingin es. Bahkan seluruh tubuh Cakra Buana terasa membeku.


Pada akhirnya dia muncul ke permukaan dan kembali lagi ke daratan.

__ADS_1


"Aku tidak bisa. Dingin sekali," katanya mengigil.


Tetapi tiga hewan itu kembali memandangnya kesal. Malahan dua ekor kera menariknya dan melemparkan Cakra Buana ke danau biru. Dia masih tetap disuruh untuk mengambil tumbuhan di dasar danau.


Apa boleh buat? Pada akhirnya dia kembali lagi menyelam. Tapi sebelum itu, Cakra Buana telah mempersiapkan dirinya. Setelah susah payah karena harus menahan dingin, perjuangannya tidak sia-sia.


Cakra Buana telah sampai ke dasar danau. Dia semakin menyelam ke ujung dan ternyata benar. Di sana terlihat ada satu tumbuhan. Dia segera mengambilnya secepat mungkin karena nafasnya hampir habis.


Setelah mendapatkan tumbuhan yang dimaksud, dia segera kembali ke daratan untuk berjemur menghilangkan rasa dingin. Tubuhnya telah pucat dsn sedikit membiru. Bahkan dia bergetar. Tumbuhan tadi dia berikan kepada seekor kera yang paling besar.


Setelah dia menerima tumbuhan tersebut, Cakra Buana kembali di suruh untuk berenang. Kali ini si kera menunjuk ke danau hijau yang airnya hangat.


Seperti sebelumnya, kalau dia menolak, maka tiga ekor hewan itu langsung marah.


Cakra Buana kembali berenang. Kali ini ke danau hijau. Dia berenang sampai ke ujung dinding batu. Setelah mempersiapkan diri, dia mulai menyelam. Menyelam ke dasar danau.


Kalau sebelumnya semakin dalam semakin sedingin es, maka kali ini semakin masuk ke dalam semakin terasa seperti air mendidih. Tubuhnya sudah tidak kuasa menahan rasa panas. Cakra Buana merasakan bahwa dirinya seperti seekor kepiting rebus. Panasnya bukan main.


"Sebentar-sebentar, aku tidak kuat. Panas sekali," kata Cakra Buana.


Si kera paling besar seperti paham. Dia membiarkan tubuh Cakra Buana kembali normal. Setelah terlihat normal, si kera melempar kembali Cakra Buana. Si harimau dan si kera lainnya seperti mentertawakan dirinya karena gelagapan.


"Sialan. Aku ditertawakan binatang," umpatnya kesal.


Setelah merasa yakin, Cakra Buana menyelam lagi. Walau panas tak tertahankan, dia tetap memaksakan dirinya berjuang untuk meraih tumbuhan yang dimaksud si kera.


Saat tiba di dasar danau, dia telah menemukan satu batang tumbuhan tumbuh di atas batu berwarna merah darah. Dia lantas mengambil tumbuhan tersebut lalu bergegas kembali ke darat.


Setelah tumbuhan diberikan lagi kepada si kera, terlihat tiga binatang itu sangat gembira. Bahkan mereka mengangguk-angguk dan berjingkrak. Sedangkan Cakra Buana sendiri hanya garuk-garuk kepala.


Dia merasa seperti orang bodoh yang menuruti keingin binatang-binatang ini.

__ADS_1


Cakra Buana berjemur lagi bersama tiga ekor hewan. Mendadak satu ekor kera pergi entah ke mana. Setelah beberapa saat menghilang, dia telah kembali sambil membawa buah-buahan yang banyak sekali.


Tapi buah-buahan kali ini berbeda dengan yang dia ambil. Sekarang warnanya kuning. Sekilas mirip apel, tetapi bukan. Si kera menaruh buah-buahan tersebut. Dan mereka segera memakannya bersama.


Cakra Buana tiba-tiba tertawa karena melihat si harimau memakan juga buah-buahan aneh itu.


"Ternyata kau juga makan buah," katanya kepada si harimau. Sedangkan binatang itu seperti malu dibuatnya.


Buah kuning itu rasanya empuk dan lembut. Ada rasa manis, pahit, dan asam. Semuanya bercampur menjadi satu. Rasanya cukup aneh memang, tetapi mengenyangkan.


Setelah selesai memakan buah-buahan, Cakra Buana merasakan tubuhnya menjadi jauh lebih segar daripada sebelumnya. Bahkan seluruh luka sudah hilang tanpa bekas. Rads nyeri akibat Racun Seribu Ular Kobra juga lenyap.


Diam-diam dia semakin merasa senang. Itu artinya kini tubuhnya sudah sehat seperti sedia kala.


"Terimakasih kawan-kawan. Tubuhku sudah pulih seperti sedia kala," katanya sambil mengusap kepala tiga binatang secara bergantian.


Melihat gelagat Cakra Buana, mereka turut senang. Dia sangat gembira karena bisa sembuh total.


Hari menjelang sore, suara burung berkicau mulai terdengar sahut-sahutan. Si kera menarik tangan Cakra Buana. Setelah beberapa saat, dia telah tiba di sebuah goa kecil. Di sana terdapat lebih banyak kera dan dua harimau lainnya.


Si kera memberikan isyarat kepada Cakra Buana untuk tetap tinggal di sana. Bahkan si kera menyuruhnya untuk tidur di sana pula.


"Aku harus tidur di sini? Baiklah, aku menurut saja," katanya diiringi suara berdecit kera karena kegirangan.


Si harimau juga girang. Dia pergi ke hutan. Tak berapa lama, tiga harimau kembali dengan membawa dua ekor ayam hutan dan satu ekor kijang.


"Aku harus membakar semua binatang buruan kalian?" tanyanya.


Si harimau mengangguk. Dia bahkan menjilati wajah Cakra Buana.


"Hahaha, kalian binatang pintar. Baik-baik, aku akan memanggangnya. Kita bisa pesta nanti," serunya gembira.

__ADS_1


__ADS_2