Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Ajian Rengkah Gunung Dan Ajian Curuk Dewa


__ADS_3

"Terimakasih eyang guru. Aku akan selalu mendengarkan apa kata eyang," kata Cakra Buana.


Cakra Buana pun melanjutkan latihannya kembali dengan semangat. Bagaimanapun caranya, dia harus bisa mewujudkan impian gurunya, Eyang Resi Patok Pati. Atau bahkan impian para pendekar terdahulu, mungkin juga merupakan impian ki Wayang Rupa Sukma Saketi.


Meskipun dia sendiri menyadari bahwa menyatukan tatar Pasundan tidaklah semudah yang dibicarakan, tapi dia yakin bahwa hal itu akan dapat dia wujudkan.


Cakra Buana mempunyai keyakinan seperti gunung. Besar, tinggi, kokoh, dan sangat sulit untuk goyahkan, apalagi diruntuhkan.


Ketika manusia sudah memiliki keyakinan seperti ini, maka dia akan selalu tenang dan yakin dalam keadaan apapun. Bahkan jika kematian menjemputnya, dia masih memiliki keyakinan. Bahwa mati lebih baik baginya.


Keyakinan adalah salahsatu modal utama untuk menjalani hidup. Jika dalam hidup kau tidak yakin, lalu untuk apa kau hidup? Yakinlah. Karena hanya dengan keyakinan pun, kau bisa mengubah dunia, disamping ada usaha yang membutuhkan perjuangan keras.


Keyakinan, usaha, dan doa. Tiga modal hidup yang utama. Tiga kata yang tak dapat dipisahkan. Sampai kapanpun.


Tak terasa, hampir dua tahun sudah Cakra Buana berlatih ilmu kanuragan dibawah bimbingan seorang pendekar tanpa tanding, yaitu ki Wayang Rupa Sukma Saketi.


Usianya sekarang sudah dua puluh tiga tahun. Dia sudah berbeda dengan dua tahun yang lalu. Dimana kini tubuhnya lebih gagah perkasa. Sorot matanya selalu tajam tapi meneduhkan, menandakan bahwa dia merupakan pemuda yang jujur.


Wajahnya semakin tampan seperti seorang pangeran. Walaupun penampilannya selalu sederhana, tapi itu tidak mengurangi ketampanannya.


Selama dua tahun itu, Langlang Cakra Buana sudah banyak mewarisi ilmu tingkat tinggi dari ki Wayang Rupa Sukma Saketi. Seluruh gerakan silatnya semakin matang. Disamping mendapatkan ilmu tingkat tinggi, ada dua ilmu yang kini menjadi andalan Cakra Buana.


Dimana pada zaman kejayaan ki Wayang Rupa Sukma Saketi, dua ilmu itu pula yang paling ditakuti oleh lawan. Meskipun sekarang tidak ada jaminan bahwa ilmu itu paling hebat, tapi setidaknya bisa dipastikan tidak akan banyak yang akan menyanggupi kesaktiannya. Hanya mereka yang sudah mumpuni saja yang bisa menandingi dua ilmu tersebut.


Dua ilmu itu bernama Ajian Rengkah Gunung dan Ajian Curuk Dewa.

__ADS_1


Ajian Rengkah Gunung merupakan ajian yang sangat digdaya. Dimana Rengkah berarti retak/remu/terbelah, sedangkan gunung, tentu saja berarti tanah yang menjulang tinggi juga bisa diartikan gunung. Jika dilihat dari segi bahasa, maka ajian ini bisa diartikan sebagai meremukan gunung. Jika gunung saja jika hancur, bagaimana jika manusia?


Cara menggunakan ajian ini adalah si pengguna harus mengambil jarak dari target sasaran. Kemudian mengambil ancang-ancang, mengatur nafas, lalu menghentakkan tangan kanannya ke tanah.


Dalam waktu sekejap, sukma si pengguna akan keluar menuju target sasaran. Telapak tangan sukma itu kemudian dipukulkan pada dada target atau musuh. Seketika, musuh langsung meledak (jika tidak kuat menerima tenaga gaib si pengguna), luka dalam, keluar darah matang, dan gosong.


Bisa dibayangkan bagaimana keganasan ajian ini. Hampir setara dengan Ajian Gelap Ngampar yang dulu didapatkan dari mendiang Eyang Resi Patok Pati.


Sedangkan ajian yang satu lagi tentu saja Ajian Curuk Dewa. Sebuah ajian yang sukar diukur kekuatannya. Ajian ini diciptakan sendiri oleh ki Wayang Rupa Sukma Saketi setelah menjalani laku tirakat yang panjang dan sangat beresiko.


Dimana ketika Ajian Curuk Dewa dikeluarkan, maka jari-jari kita akan menjadi "senjata" yang lebih mengerikan daripada pedang ataupun senjata lainnya. Jangankan orang, gunung batu pun bisa retak atau bahkan hancur jika si pengguna sudah memiliki tenaga dalam yang mengerikan.


Tapi sayangnya hal itu hanyalah bisa dilakukan oleh ki Wayang sendiri. Sedangkan Cakra Buana sendiri tidak yakin bisa seperti eyang gurunya jika mengggunakan ajian ini.


Tapi menurut ki Wayang, semakin sering dia berlatih maka semakin tinggi harapan untuk bisa menggunakan Ajian Curuk Dewa sampai ke tahapan tertinggi.


"Cakra, coba sekarang kau praktekan Ajian Rengkah Gunung. Setelah itu, kau praktekan juga Ajian Curuk Dewa," kata ki Wayang memberi perintah kepada muridnya tersebut. Dia sedang duduk diatas sebuah batu hitam sebesar kerbau.


"Baik eyang guru."


Cakra Buana kemudian menuju ke arah sebuah batu sebesar gubuk. Batu itu batu hitam, jadi bisa dipastikan kerasnya. Jangankan kapak, godam sekalipun belum tentu bisa menghancurkan batu tersebut.


Cakra Buana mundur sepuluh langkah. Kemudian dia mengatur nafas lalu memfokuskan kepada "target" sasaran. Tenaga dalamnya sudah terkumpul. Dia setengah berjongkok dengan lutut kanan berada di posisi bawah. Dia menarik nafas lalu menghentakkan tangannya.


"Ajian Rengkah Gunung …"

__ADS_1


"Haaa …"


Dia sengaja meneriakan jurusnya. Karena menurut ki Wayang, jika diteriakan maka Ajian Rengkah Gunung atau ajian apapun akan semakin maksimal.


Berbarengan dengan teriakannya, sukma Cakra Buana keluar dengan sangat cepat. Kemudian sukma itu memberikan serangan tapak ke batu hitam tersebut.


"Blarrr …"


Batu hitam tersebut hancur berkeping-keping tanpa sisa. Hanya beberapa tarikan nafas, batu itu sudah berubah menjadi serpihan-serpihan kecil.


Setelah mengambil posisi kembali, Cakra Buana lalu menyalurkan lagi seluruh tenaga dalamnya. Tangannya bergetar hebat. Ada cahaya berwarna merah yang menyelimuti kedua tangannya.


Setelah kekuatannya terkumpul, dia langsung membuka kepalan tangan lalu melesat dengan cepat ke depan. Kali ini target sasarannya batu hitam yang besarnya dua kali lipat daripada batu pertama.


"Ajian Curuk Dewa …"


"Haaa …"


"Blarrr …"


Kembali batu hitam yang besarnya dua kalo lipat itu hancur menjadi debu hanya dengan totokan tiga jari. Bahkan tanah pun sedikit bergetar.


Cakra Buana sangat girang melihat hasil perjuangannya selama dua tahun tidak sia-sia. Buru-buru dia kembali menghampiri ki Wayang Rupa Sukma Saketi.


"Bagus muridku. Kau sudah sempurna menguasai Ajian Rengkah Gunung. Tapi untuk Ajian Curuk Dewa, kau baru setengah jalan. Tak mengapa, karena hanya setengah itu pun sudah lebih dari cukup sebagai bekal perjalananmu nanti. Tapi ingat, jangan keluarkan ajian-ajian tingkat tinggi jika tidak dalam keadaan terdesak. Jangan gegabah dengan sebuah ilmu," kata ki Wayang menjelaskan dan memperingati Cakra Buana.

__ADS_1


"Baik eyang. Aku akan selalu mengingat wejangan eyang guru," kata Cakra Buana.


__ADS_2