Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Akhir Pertarungan Bukit Maut


__ADS_3

Ling Zhi langsung menghampiri Cakra Buana ketika Pendekar Maung Kulon itu sudah berhasil menghabisi semua lawannya. Ling Zhi melompat sekali dan mendarat tepat di samping kanan Cakra Buana.


"Kau hebat kakang. Aku semakin bangga padamu," kata Ling Zhi sambil melirik ke arah Cakra Buana.


"Aku pun semakin bangga padamu. Sepertinya aku akan tersusul olehmu dalam waktu kurang dari dua tahun lagi," ucap Cakra Buana.


"Mimpi. Mana bisa aku melampauimu, kau bahkan setara dengan datuk rimba hijau. Aku bukanlah apa-apa," balas Ling Zhi sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Sudah-sudah, sini biar aku obati lukamu," ujar Cakra Buana sambil memperhatikan luka-luka yang ada di tubuh Ling Zhi.


"Tidak perlu repot-repot kakang. Nanti juga lukanya akan sembuh sendiri,"


Cakra Buana tidak menjawab. Dia hanya tersenyum lembut saja. Pemuda serba putih itu sudah tahu bahwa Ling Zhi mempunyai sifat yang keras kepala.


Di sisi lain, beberapa pendekar yang masih berdiri di sana daritadi memperhatikan Ling Zhi dan Cakra Buana. Ada kesan tersendiri bagi para pendekar itu. Di mata mereka, dua pendekar muda tersebut bagaikan malaikat maut.


Tapi tak bisa di pungkiri juga bahwa mereka mengakui Cakra Buana dan Ling Zhi merupakan pasangan muda yang serasi.


"Kenapa kalian tidak pergi? Apa kalian ingin seperti mereka?" tanya Ling Zhi dengan nada membentak kepada para pendekar itu sambil menunjukkan jari telunjuknya ke mayat-mayat yang berserakan.


"Ja-jangan …, jangan,"


"Ampunnn …"


"Baiklah, ka-kami akan pergi sekarang,"


Berbagai ucapan takut keluar dari mulut para pendekar tersebut. Tanpa menunggu waktu lebih lama, semua pendekar sudah beranjak pergi menembus gelapnya malam. Entah kemana, mungkin kembali ke tempat mereka masing-masing.


Kini yang ada di sana hanyalah Cakra Buana, Ling Zhi, Sepasang Elang Merah dari Selatan, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, dan juga Pendekar Pantai Selatan.


Pendekar Pantai Selatan masih terdiam. Saat ini tokoh tua itu sedang melakukan semedi untuk mengumpulkan tenaga dalamnya yang terkuras serta mengobati semua luka-lukanya.


Jika mau, tentu Cakra Buana bisa membunuh Pendekar Pantai Selatan dengan sangat mudah. Tapi tentu saja dia tidak sudi untuk melakukan tindakan tersebut. Sebab hal semacam itu hanya dilakukan oleh mereka para golongan hitam atau pun pendekar yang pengecut. Sedangkan Cakra Buana sendiri tidak termasuk dua-duanya.


Kini, Cakra Buana dan Ling Zhi sedang diam di pinggir arena. Keduanya sama-sama berdiri sambil melihat pertarungan antara Sepasang Kakek dan Nenek Sakti melawan Sekarang Elang Merah dari Selatan.


Pertarungan mereka berlangsung dengan seru. Entah sudah berapa jurus yang dilewati. Tapi masing-masing pihak nampaknya belum ada yang mau mengaku kalah. Atau bahkan mungkin, akhir dari pertarungan ini adalah di saat nanti ada yang tewas.

__ADS_1


Sebab bagi mereka para pendekar, mati dalam sebuah pertarungan adalah kematian yang terhormat. Bahkan sangat di dambakan.


Di arena pertarungan, Kakek Sakti kini sedang menghadapi Elang Merah Jantan. Keduanya bertarung dengan sangat serius. Cambuk dan pedang kadang-kadang bertemu ditengah jalan. Tenaga dalam yang dikeluarkan pun sudah mencapai tahap maksimal.


Sehingga hasilnya, setiap serangan yang diberikan oleh masing-masing lawan, mengandung kekuatan yang dahsyat.


Kali ini pertarungan pendekar yang berpasangan itu dilakukan tidak terpisah. Sehingga kadang-kadang mereka saling bahu-membahu untuk menumbangkan salah satu lawan.


Sepasang Elang Merah dari Selatan terus memberikan serangan beruntun kepada Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Tapi lagi-lagi Sepasang Kakek dan Nenek Sakti mampu menghalau semua serangan yang datang seperti hujan itu.


Pertarungan mereka saat ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pertarungan sebelumnya. Yang membedakan hanyalah besar kekuatan yang diberikan untuk membunuh lawan.


Tapi sekeras apapun Sepasang Elang Merah berusaha melumpuhkan lawan, tetap saja usahanya sia-sia. Dia sama sekali tidak bisa memberikan luka serius, kecuali sebuah luka yang ringan.


"Keparat …, rasakan ini!!!" kata Elang Merah Jantan sambil berteriak kencang.


Dia langsung memutar-mutar Cambuk Elang Kematian miliknya menjadi lebih cepat. Dari seluruh bagian cambuk, keluar asap hitam tipis yang mengeluarkan aroma bangkai. Asap itu memiliki bau yang teramat sangat, sampai-sampai Cakra Buana dan Ling Zhi pun harus melindungi jalur pernafasannya dengan tenaga dalam.


"Aroma Tujuh Bangkai …"


"Tarrr …"


"Trangg …"


"Tarrr …"


Senjata pusaka bertemu menghasilkan suara nyaring. Pertarungan di dalam kabut terus berlangsung. Meskipun tidak bisa melihat, tapi Sepasang Kakek dan Nenek Sakti masih bisa merasakan dari mana datangnya arah bahaya maut.


Pijaran kembang api kembali terlihat. Pertarungan pun berlangsung semakin menegangkan. Tak ada yang bisa melihat dengan jelas bagaimana pertarungan tersebut berlangsung. Yang jelas, semakin lama, suara pertarungan pun semakin terdengar.


"Werrr …"


"Tarrr …"


"Tarrr …"


"Ahhh …"

__ADS_1


Kakek dan Nenek Sakti terpental hingga keluar dari kabut hitam itu. Keduanya langsung muntah darah agak kehitaman. Ada bekas cambukan pada dada Kakek dan Sakti itu. Bahkan bekas itu berwarna garis merah kehitaman.


Kedua orang tua itu langsung bangun untuk mengambil posisi kembali. Meskipun organ dalamnya terasa sakit akibat serangan barusan, tapi Kakek dan Nenek Sakti tidak menghiraukan itu semua.


"Kita akhiri semuanya sekarang," kata Kakek Sakti kepada istrinya, Nenek Sakti.


"Baik kakang," jawabnya.


Keduanya lalu memejamkan mata. Mengumpulkan tenaga dalam dan menyalurkan hawa murni untuk mengurangi rasa sakit yang di derita.


Hanya beberapa saat, sisa tenaga dalam mereka sudah terkumpul menjadi satu. Keduanya lalu bersiap untuk mengeluarkan sebuah ajian yang jarang di keluarkan jika memang nyawa tidak dalam bahaya.


Melihat hal ini, Sepasang Elang Merah dari Selatan ingin mencegah. Tapi terlambat, karena begitu mereka bergerak, dua orang tua itu pun ikut bergerak.


"Sepasang Malaikat Bayangan …"


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Kakek dan Nenek Sakti langsung menyerang membabi buta. Gerakan mereka mirip seperti angin beliung. Sangat cepat dan sangat ganas. Sambaran pedang berkelebat ke sana ke mari, memberikan ketakutan bagi lawan. Atau mungkin memberikan kematian.


"Trangg …"


"Trangg …"


"Srettt …"


"Ahhh …"


Teriakan kesakitan susul menyusul terdengar menggema di seluruh hutan. Angin langsung berhembus dengan dingin. Udara mencekam. Sepasang Elang Merah dari Selatan akhirnya tewas di tangan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.


Keduanya tewas dengan luka tusukan pada bagian ulu hati. Saking hebatnya, tusukan itu bahkan tidak menyebabkan keluarnya darah. Pembunuhan yang sempurna. Tidak setiap pendekar bisa melakukan hal seperti ini.


Bahkan Cakra Buana pun belum ada jaminan bisa untuk melakukannya.


Semua serangkaian kejadian itu berlangsung secara berbarengan, dan ketika pembunuhan selesai, tiba-tiba sebuah energi besar melesat ke arah Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.

__ADS_1


__ADS_2