
Dengan gerakan cepat, Nyai Kembang Ros Beureum langsung menyerang Nenek Sakti menggunakan jurus pamungkas yang dia miliki. Meskipun Nyai Kembang sadar bahwa dia tidak mungkin dapat mengalahkan nenek tua tersebut, namun tidak ada salahnya juga untuk berusaha.
Kedua jari tangannya dikembangkan lebar, sepuluh kuku yang agak panjang tiba-tiba muncul, ada bau busuk yang menyengat keluar dari sepuluh kuku-kuku tersebut.
"Wuttt …"
Untungnya lawan dia saaat ini bukanlah seorang nenek tua biasa. Maka dengan mudah saja Nenek Sakti bisa menghindari serangan tersebut.
Tapi sepertinya, Nyai Kembang sudah benar-benar nekad, serangan pertama gagal, dia langsung menyerang kembali. Gerakannya semakin cepat dan semakin berbahaya pula. Si Nenek Sakti menyarungkan pedangnya karena melihat lawan tidak bersenjata. Lalu dia pun turut mengeluarkan ajian yang dia miliki.
"Dua Tangan Penolak Bala …"
"Tarian Kematian …"
"Wuttt …"
Nenek Sakti mulai membalas serangan yang diberikan oleh Nyai Kembang.
Dia seolah-olah seperti sedang menari. Gerakannya gemulai. Tapi di balik gemulainya itu, ada sebuah sesuatu yang mengerikan. Kedua tangannya sudah memberikan serangan-serangan mematikan kepada Nyai Kembang.
Lima belas jurus sudah terlewati. Nyai Kembang sudah berusaha untuk membalas semua serangan nenek tua, tapi sayangnya tidak bisa. Lagi-lagi, dia yang harus menerima serangan pukulan ataupun tendangan.
Hingga pada suatu kesempatan, Nenek Sakti melompat tinggi. Tangan kanannya siap untuk mencabut nyawa lawan. Ada hawa panas yang terkandung dalam kepalan tangan tersebut.
"Hiattt … matiii …"
"Wuttt …"
"Bukkk …"
"Ahhh …" mati.
Nyai Kembang tak dapat lagi mengelak. Sebuah pukulan keras dan mematikan dengan telak bersarang di dadanya. Bahkan karena di pukulnya dari atas, Nyai Kembang dibuat melesak masuk ke dalam tanah sampai sebatas lutut.
__ADS_1
Dia langsung tewas dengan organ dalam yang berantakan.
Setelah memastikan bahwa lawannya sudah tewas, Nenek Sakti langsung menghampiri si Kakek Sakti yang sedang kerepotan melawan Ki Ragen Denta.
Tiga pertarungan itu sudah kembali berlanjut. Munding Aji dan Adipati Wulung Sangit melawan Cakra Buana. Maung sukma melawan Dyah Rengganis dan Ayu Pertiwi, sedangkan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti melawan Ki Ragen Denta.
Malam semakin larut. Rembulan menggantung di langit dengan sedikit cahayanya. Bintang-bintang bertaburan menghiasi angkasa raya. Suara binatang-binatang liar memenuhi area hutan.
Pertarungan itu semakin lama semakin sengit. Luka-luka baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, sudah diterima oleh mereka masing-masing.
Pertarungan maung sukma melawan dua murid Nyai Kembang baru saja berakhir. Dua wanita itu tidak tewas, tapi mengalami luka yang sangat parah. Terlebih Dyah Rengganis. Ayu Pertiwi terluka pada bagian perutnya, ada bekas cakaran harimau di sana.
Wanita itu memang bertarung dengan perasaan berkecamuk. Terlebih ketika dia menyadari bahwa suaminya, Raden Buyut Sangkar, tewas di tangan Cakra Buana. Meskipun dia tidak mencintainya dengan sepenuh hati, namun sebagai isteri, hasilnya beda lagi.
Perasaan antara cinta, dendam, marah, terharu karena bisa bertemu kembali dengan Cakra Buana, semua menjadi satu. Tapi yang paling membuatnya sedih adalah kematian gurunya. Namun bagaimanapun dia berusaha, tetap saja sebuah hal sulit untuk mengalahkan maung sukma.
Maka ketika ada kesempatan, dia langsung pergi sambil membawa kakak seperguruannya, Dyah Rengganis. Entah pergi dia kemana, karena gerakannya begitu cepat.
Setelah kedua lawannya pergi, maung sukma pun lalu ikut pergi dari sana. Cakra Buana tidak menyadari akan hal ini karena dia sedang bertarung dengan sangat serius.
Sejauh ini, Kakek Sakti bisa dibilang kerepotan melawan Ki Ragen Denta. Sebab pasangannya sedang melawan Nyai Kembang. Beberapa kali nyawanya hampir lepas, tapi untungnya dia berhasil menyelamatkan diri karena kelincahannya.
Ternyata, setelah lama tidak muncul, Ki Ragen Denta sekarang sudah memiliki kesaktian yang lebih hebat lagi. Ilmunya sudah bertambah pesat, bahkan sukar untuk ditakar. Tenaga dalamnya juga seperti tidak habis-habis.
Karena alasan itulah Kakek Sakti kewalahan jika melawannya sendirian. Untungnya disaat-saat yang menentukan, si Nenek Sakti datang untuk membantu. Ada sedikit harapan ditengah semua keluhannya.
Pertarungan mereka terhenti sejenak setelah melihat si Nenek Sakti datang. Hal ini digunakan oleh si Kakek Sakti untuk kembali menghimpun tenaga dalamnya yang sudah banyak terkuras.
"Walaupun sudah lama kita tidak bertemu, ternyata kalian masih sehebat dulu. Aku akui hal itu, tapi sayangnya sekarang aku sudah berbeda. Jadi jangan harap bisa mengalahkanku dengan mudah," kata Ki Ragen Denta memuji Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.
"Terimakasih atas pujianmu itu. Ya, harus kami akui juga bahwa kau memang semakin hebat Ki Ragen Denta. Tapi kami takkan menyerah begitu saja, selama kita tidak bertemu, kami juga sudah banyak menciptakan jurus-jurus terbaru yang belum dicoba. Maka dari itu, marilah kita keluarkan jurus-jurus terbaru yang kita miliki," kata si Nenek Sakti.
"Sepertinya menarik. Baiklah, mari kita lanjutkan dan segera kita selesaikan," kata Ki Ragen Denta sambil bersiap-siap.
__ADS_1
Mulut datuk rimba hijau itu komat-kamit, matanya sedikit di pejamkan. Setelah selesai membaca mantra, maka sebuah keanehan segera terjadi. Tongkat kembar yang tadinya berwarna hitam legam, kini tiba-tiba berubah menjadi merah membara.
"Tongkat Kembar Lembah Neraka …"
"Wuttt …"
Ki Ragen Denta sudah bergerak. Kedua tongkatnya dia putarkan dengan sangat cepat. Sepasang Kakek dan Nenek Sakti tak mau kalah, mereka pun turut mengeluarkan jurus-jurus tingkat atasnya.
"Dua Ombak yang Menggulung …"
"Wuttt …"
Sepasang Kakek dan Nenek Sakti pun bergerak. Mereka menyerang dengan gerakan yang sangat lincah dan cepat. Kedua pedang suami istri itu diputarkan sehingga seolah terlihat bagaikan sebuah ombak yang menggulung-gulung di lautan.
Hawa panas bertemu dengan hawa dingin. Ketiga tokoh tua tersebut sudah bertarung. Gerakan ketiganya sama-sama luar biasa. Jika orang biasa, maka jangan harap untuk bisa menyaksikan pertarungan itu dengan jelas.
"Trangg …"
"Trangg …"
Benturan keempat benda pusaka mulai terdengar. Ki Ragen Denta berusaha untuk menembus pertahanan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti yang terkenal dengan kekokohannya.
Tak mau kalah dari lawan, kakek dan nenek itu pun berusaha untuk membalas serangan lawan dengan permainan pedang yang indah namun mematikan itu. Pertarungan sengit di antara ketiganya kembali terjadi. Dentingan pusaka yang berbenturan kian ramai terdengar.
"Tongkat Kembar Menggempur Batu Karang …"
"Wuttt …"
Ki Ragen Denta mengubah pola serangan. Kali ini dia lebih banyak menyerang daripada bertahan. Setiap serangan selalu menimbulkan hawa panas yang menyengat kulit.
Sinar yang keluar akibat dari empat pusaka berkelebat tiada hentinya. Ketiga tokoh tua itu sudah di selimuti gulungan sinar senjata pusaka mereka.
"Wuttt …"
__ADS_1
"Brettt …"
"Ahhh …"