Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Amarah Si Tangan Tanpa Belas Kasihan


__ADS_3

Hanya dalam waktu satu tarikan nafas, jurus serangan Cakra Buana atau si Pendekar Tanpa Nama segera berubah. Sekarang dua tangan yang sudah seperti baja itu menyerang dari segala arah. Atas, bawah, tengah, semuanya di libas habis oleh Cakra Buana.


Gerakannya sangat cepat bagaikan sebuah kilat. Beberapa jurus kemudian, terdengar satu erangan tertahan dari salah satu lawan. Seorang tokoh kelas satu meregang nyawa karena tenggorokannya robek di cakar oleh Cakra Buana.


Dua tokoh yang masih tersisa tersentak melihat bagaimana kematian rekan mereka. Alasannya karena kedua tokoh tersebut tidak tahu bagaimana pemuda itu melancarkan serangannya.


Sudah tentu kejadian ini membuat jantung lawan terasa mau copot. Seumur hidup, baru kali ini mereka di buat sedemikian terkejut dalam sebuah pertarungan. Apalagi pelakunya hanya seorang pendekar muda.


Kali ini mereka harus mengakui bahwa kabar tentang kehebatan pendekar muda yang mempunyai julukan Pendekar Tanpa Nama, memang benar-benar digdaya.


Tetapi walaupun dalam keadaan terkejut, kedua tokoh kelas atas tersebut ternyata mampu menjaga konsentrasi.


Sehingga ketika Cakra Buana melancarkan serangan susulan, mereka masih mampu menghindarinya. Walaupun, kejadian berikutnya masih sama seperti sebelumnya.


Cakra Buana menyerang. Mencakar, menendang. Kedua tokoh tersebut semakin keteteran. Mereka menyaksikan bukan hanya tangan dan kaki saja yang menyerangnya, bahkan tatapan pemuda itu pun terasa seperti menusuk jantung keduanya.


Lima belas jurus kemudian, kedua tokoh itu telah terkapar menyusul rekannya yang lain. Yang satu mengalami luka robekan dari punggung atas sampai bawah. Darah terus menggenangi.


Sedangkan yang satu lagi, terluka di bagian dada. Mulai dari sisi kiri sampai sisi kanan, semuanya koyak terkena cakaran maut Cakra Buana.


Jurus Harimau Menyongsong Rembulan memang patut di acungi jempol.


Cakra Buana menghela nafas, dia bersemedi untuk mengendalikan diri sekaligus mengendalikan kekuatan yang terus merembes keluar.


Di sisi lain, pertarungan Tuan Santeno Tanuwijaya berjalan semakin hebat. Puluhan jurus sudah dia lewati bersama lawannya.


Si Tangan Tanpa Belas Kasihan dan Manusia Kejam Langkah Seribu, bertarung dengan sengit. Kedua tokoh tersebut mengeluarkan jurus andalan yang mereka miliki.


Manusia Kejam Langkah Seribu atau yang merupakan pemimpin cabang Organisasi Tengkorak Maut itu ternyata menyimpan kekuatan hebat. Walaupun masih kalah seurat dengan Tuan Santeno, namun setidaknya dia juga tidak akan bertahan lebih dari tujuh puluh jurus lagi.


Pemimpin cabang itu saat ini berada dalam posisi bertahan. Dia terus berusaha menghindari pukulan maut dari Tuan Santeno.


Dengan jurus Langkah Sejuta Kaki, dia mampu bergerak lebih cepat daripada anak yang akan di pukul oleh ibunya karena bandel.


Bayangannya bahkan hampir tidak terlihat.


Tetapi, yang sedang dia hadapi juga bukanlah orang sembarangan. Dia adalah maha guru dari Perguruan Tunggal Sadewo. Perguruan besar yang terkenal seantero negeri Tanah Jawa.


Walaupun memang benar bahwa semua pukulannya tidak mampu mengenai sasaran secara telak, setidaknya lawan terkena juga serempetan ataupun angin pukulan yang mengakibatkan efek.


Tuan Santeno Tanuwijaya atau Si Tangan Tanpa Belas Kasihan semakin marah. Jurus ketiga atau yang terkahir dari serangkaian jurus Pukulan Dewa Bumi segera dia gelar.

__ADS_1


"Dewa Bumi Memukul Langit Membalik Gunung …"


Sebuah jurus dahsyat yang sangat digdaya. Konon katanya, dia jarang sekali mengeluarkan jurus ini. Kalau sekarang jurus tersebut dia keluarkan, berarti dapat dipastikan bahwa maha guru tersebut sudah sangat marah.


Begitu tenaga dalam dengan jumlah besar tersalurkan, dia menggeram keras lalu memukul ke atas. Ke ruangan hampa. Namun yang terjadi berikutnya membuat siapapun terkejut.


Langit bergemuruh. Waktu seolah berjalan dengan sangat lambat.


Detik berikutnya, Si Tangan Tanpa Belas Kasihan segera melesat ke arah Manusia Kejam Seribu Langkah sambil melancarkan pukulan yang membawa kabar dari Malaikat Maut.


Pukulan tersebut datangnya sangat cepat. Bahkan hingga mengeluarkan suara gemuruh dan angin kencang.


Si Manusia Kejam Seribu Langkah tidak dapat menghindari pukulan itu. Sebab ternyata, kecepatannya bahkan masih kalah cepat kalau dibandingkan.


"Blarrr …",


Pukulan dari jurus Dewa Bumi Memukul Langit Membalik Gunung dengan telak menghantam dada pemimpin cabang itu.


Dia terpental cukup jauh. Sejauh jarak dia denganmu saat ini.


"Brugg …"


Satu batang pohon yang besar dan tinggi tumbang karena terkena luncuran Manusia Kejam Langkah Seribu.


Tuan Santeno Tanuwijaya segera menghela nafas. Dia mencoba untuk menenangkan diri dari amarahnya.


Sementara itu, beberapa guru besar yang ikut bersamanya, kini juga hampir mencapai pertarungan akhir.


Beruntung bahwa mereka tidak ada yang terdesak. Justru pihaknya berusaha mencecar lawan dengan jurus hebatnya masing-masing.


Ketenaran nama para guru dan maha guru Perguruan Tunggal Sadewo memang bukan berita kosong.


Lima belas jurus berikutnya, pertarungan telah selesai. Semuanya berhenti karena lawan-lawan mereka telah menemui ajalnya.


Masing-masing tokoh dari pihak Organisasi Tengkorak Maut mendapatkan luka yang berbeda. Hanya saja, mereka semua merasakan hal yang sama. Yaitu tidak menyangka bisa tewas di tangan orang-orang Perguruan Tunggal Sadewo.


Keadaan hening kembali. Semua orang yang ada di sana menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh untuk mengobati luka yang di derita.


Setelah itu, Tuan Santeno Tanuwijaya segera menghampiri Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap yang sudah berdiri sejajar.


"Terimakasih atas kemurahan tuan maha guru karena telah menolong kami berdua," kata Cakra Buana penuh sopan santun. Bahkan sambil memberi hormat.

__ADS_1


"Tidak perlu dipikirkan. Maaf juga kalau kami datang terlambat. Andai kami datang lebih awal, mungkin kalian tidak akan repot-repot sampai terluka seperti ini," kata maha guru tersebut.


Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap hanya tersenyum menanggapi perkataan itu.


Kalaupun orang-orang tersebut tidak datang, sebenarnya Cakra Buana bisa juga menghadapi mereka semua. Hanya saja, dibutuhkan waktu yang cukup lama dan tenaga yang sangat besar. Dan itupun, jika kekuatan 'aneh' yang terus keluar akan semakin menguasai dirinya.


"Ngomong-ngomong, apakah benar bahwa murid dari Wanita Berhati Batu sudah tewas?" tanyanya.


Cakra Buana tidak langsung menjawab saat di tanya seperti itu. Bagaimana mau menjawab, sedangkan dia sendiri tidak ingat semua seluruh kejadiannya.


"Benar, wanita itu telah tewas. Dan aku sendiri yang membunuhnya," jawab Bidadari Tak Bersayap karena tahu bahwa Cakra Buana kebingungan.


"Sinta, siapa sebenarnya wanita yang kau maksud?" tanya Pendekar Tanpa Nama kebingungan.


"Dia, gadis yang mengejar-ngejarmu. Kalau tidak salah, namanya adalah Ratih Kencana,"


"Ah …" Cakra Buana spontan terkejut.


"Ada apa kakang, kau tidak senang aku membunuh gadis itu?"


"Ah, eum, anu. Senang, sangat senang sekali. Hanya saja aku sedikit terkejut, tak disangka kau dapat mengalahkannya," jawab Cakra Buana gelagapan.


Entah apa yang dia rasakan. Namun yang pasti, dia jadi teringat kejadian malam hari yang dilewatkan bersama Ratih Kencana.


Kejadian yang paling membekas saat bersamanya.


###


Mhehehe, terimakasih buat yang selalu support. Semoga kalian tetap stay ya hhi.


Dan jujur, author tidak menyangka bakal ketemu kakang dan nyai di sini yang pernah "menyelami" novel cersil nusantara zaman dahulu. Author senang sekali.


Semoga cersil genre nusantara yang benar-benar asli dan tidak bercampur dengan zaman modern, dapat berjaya kembali ya.


Kita tunggu kelahiran novelis muda penerus Bastian Tito, SH Mintardja, dan KPH atau dll.


Sampurasun dulur ……


Salam rahayu


Oh iya, kalau ada yang ingin bersilaturahmi atau sekedar menambah saudara, bisa hubungi wa author ya. Atau mungkin juga ada yang ingin novel pdf karya guru2 kita? Tersedia banyak wkwkwkwk

__ADS_1


Ini: 087708736886


__ADS_2