Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Siapa Namamu?


__ADS_3

Malam yang tadinya ramai dengan benturan antar senjata dan juga karena suara gemuruh dari berbagai ajian, kini sudah sepi kembali. Tidak ada seorang pun yang masih hidup disana.


Kecuali mayat-mayat seperti Munding Aji, Adipati Wulung Sangit, dan Nyai Kembang serta beberapa mayat prajurit Adipati.


Mereka semua tewas secara mengenaskan. Sampai sekarang, belum ada yang berani membawa mayat-mayat itu, karena orang-orang pasti khawatir akan bahaya dari binatang buas penghuni hutan.


Hutan yang tadinya bersih dan asri, kini sudah berubah total. Pohon-pohon banyak yang tumbang, daun-daun berguguran. Hawa kematian masih terasakan di sekitar area tersebut.


###


Malam telah berganti pagi. Rembulan sudah lenyap dari pandangan, digantikan dengan sang Surya yang baru saja terlihat separuhnya.


Burung-burung hutan sudah beterbangan dari sarang mereka masing-masing. Nampaknya, hewan-hewan itu merasa ketakutan atas apa yang terjadi semalam.


Semua mayat yang menjadi korban pertarungan, saat ini sudah di bawa ke istana kadipaten. Sontak saja suasana disana menjadi lebih riuh daripada biasanya. Istri Adipati Wulung Sangit menangis sejadi-jadinya saat melihat suami dan anaknya tewas.


Karena kejadian ini, nama Cakra Buana langsung tersebar di daerah sekitar kadipaten. Cakra Buana mulai terkenal di kalangan masyarakat sebagai seorang pendekar muda yang membantu membebaskan rakyat dari kesengsaraan.


###


Cakra Buana sudah pergi cukup jauh dari Kadipaten Ciporoan yang dipimpin oleh Adipati Wulung Sangit. Semalaman dia terus berlari tanpa arah tujuan, entah kemana, yang terpenting adalah menjauh terlebih dahulu dari kadipaten itu.


Bukan karena dia takut, tapi karena Cakra Buana tidak yakin akan menang jika dia harus bertarung lagi, terlebih jika semua pendekar-pendekar peliharaan adipati Wulung Sangit keluar semua. Sebab sampai saat ini saja, Cakra Buana masih merasa lelah.


Saat ini Pendekar Maung Kulon itu sedang berjalan santai. Perutnya mulai merengek minta di isi. Maklum, dia sudah dari kemarin belum makan. Apalagi semalaman terus bergerak tanpa henti, terlebih pula karena dia sudah bertarung hidup dan mati.


Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya Cakra Buana menemukan pedesaan. Desa itu sudah ramai meskipun kondisi masih pagi-pagi buta seperti sekarang.

__ADS_1


Para warga sudah bangun dan mulai melakukan kegiatan sehari-harinya. Mereka itu lebih banyak berprofesi sebagai seorang petani.


Pemuda serba putih tersebut lalu berjalan menuju ke sebuah kedai makan yang dia temui. Setelah sampai, tanpa berlama-lama lagi dia langsung masuk dan memesan makanan.


"Selamat datang den, mau makan apa?" tanya pemilik kedai. Seorang pria Kisaran umur empat puluh tahun.


"Terimakasih paman. Aku mau pesan ayam bakar, apakah sudah ada?" tanya Cakra Buana sambil memilih tempat duduk.


"Sudah den. Silahkan ditunggu sebentar," kata pemilik kedai lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan pesanan.


Cakra Buana duduk di sana sambil merenung kemana lagi dirinya harus mencari Irma Sulastri. Entah kenapa, rasanya ada perasaan khawatir kepada gadis tersebut. Padahal, ketemu saja baru sekali. Itupun tidak terjadi pembicaraan khusus diantara mereka.


Suasana di kedai makan masih sepi. Hanya ada dua orang pelanggan saja yang dengan santainya menikmati seduhan kopi hitam dengan pisang goreng.


Keduanya merupakan pria. Seorang berumur sekitar lima puluh lima tahun dengan tubuh kurus. Sedangkan seorang lagi pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun dengan postur tubuh kekar.


Cakra Buana tidak menghiraukan keduanya karena memang dia tidak kenal. Tapi, ada perasaan lain ketika sepasang matanya bertemu dengan di pria tua. Entah perasaan apa, yang jelas sedikit aneh.


Sekitar sepeminum teh kemudian, pesanan pun datang. Bau harum segera tercium oleh Cakra Buana, membuat perutnya terasa semakin lapar.


Nasi putih dengan tilam daun pisang, memberikan aroma yang khas. Cakra Buana lalu segera memakannya selagi hangat. Dia makan lahap sekali, sehingga tak perlu waktu yang lama untuk menghabiskan semua makanan tersebut.


Setelah selesai, dia segera membayar biaya makannya. Lalu pemuda serba putih itu melangkahkan kakinya untuk keluar kedai dan segera mengembara kembali.


"Keadaan sangat kacau, jika aku terus mengembara tanpa arah tujuan, pasti akan lebih lama lagi untuk sampai ke Kerajaan Tunggilis. Apakah aku harus segera ke Kerajaan Tunggilis?" Cakra Buana bertanya-tanya kepada dirinya sendiri sambil melangkah perlahan menuju ke jalan setapak yang tersambung ke hutan.


"Benar, sepertinya aku memang harus segera ke sana. Biarlah untuk beberapa saat para warga dalam keadaan seperti sekarang, tapi tidak lama lagi, aku berjanji akan mengubah semua keadaan ini," gumamnya sambil mempercepat langkah kakinya.

__ADS_1


Tak terasa matahari sudah semakin meninggi. Sinarnya sempurna menerpa bumi. Cakra Buana merasa gerah, dia segera mencari sumber mata air untuk membasuh wajahnya, atau mungkin sekalian membersihkan diri.


Karena biasanya, di setiap hutan belantara, akan selalu ada yang namanya sumber mata air. Dan dugaannya tidak meleset, telinga Cakra Buana mendengar ada suara air yang cukup keras.


Ketika dia mempercepat langkah, ternyata ada sebuah sungai. Sungai itu penuh dengan bebatuan hitam yang besar-besar, sebagian arusnya cukup deras. Airnya jernih dan tidak terlalu dalam. Sepertinya, sungai ini biasa digunakan oleh warga sekitar untuk memandikan kerbau mereka ataupun mencuci pakaian.


Akan tetapi ketika Cakra Buana sudah sampai di pinggir sungai dan siap untuk melucuti pakaian, tiba-tiba saja dari sebelah atas ada dua orang melompat dan berhenti tepat di depan dirinya.


Cakra Buana kaget ketika melihat siapa dua sosok di depannya itu, sebab dia juga masih ingat bahwa dua orang yang menghadangnya saat ini merupakan pria yang tadi dia lihat di kedai makan.


"Maaf ki dulur, ada keperluan apakah sehingga kalian menghalangi jalanku?" tanya Cakra Buana.


"Hemmm … siapa namamu?" tanya si pria tua.


"Namaku Cakra Buana,"


"Apakah kau mengenal Ki Baya?" tanyanya lagi.


Cakra Buana terdiam sesaat. Dia seperti mengingat-ingat kembali.


"Ah … iya, aku mengenalnya. Bahkan aku sempat bertarung dengan Ki Baya," jawab Cakra Buana dengan nada polos.


"Pernah bertarung denganmu? Apakah kau yang membunuh Ki Baya?"


Cakra Buana meragu beberapa saat, pertanyaan yang di lontarkan pria tua itu sedikit ganjil. Tiada angin tiada hujan, kenapa tiba-tiba ada orang yang menanyakan Ki Baya? Tapi keraguan itu hanya sesaat, sebab selanjutnya Cakra Buana menjawab dengan jujur.


"Benar ki dulur. Aku yang membunuh Ki Baya karena dia berniat untuk merampok diriku di sungai," jawab Cakra Buana.

__ADS_1


Mendengar jawaban Cakra Buana, wajah dua orang pria tua dan muda itu seketika langsung berubah. Wajah mereka yang tadinya biasa saja, sekarang secara tiba-tiba terlihat ada kemarahan dan rasa dendam. Terlebih dalam pandangan mata kedua orang tersebut.


__ADS_2