Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Buta Ijo dan Setan Gundul


__ADS_3

Ling Zhi menajamkan penglihatannya, dia memicingkan mata untuk meyakinkan apa yang ia lihat. Beberapa puluh tombak dari arah kanan, terlihat ada dua sosok yang sedang menuju ke goa tempatnya berdiri sekarang.


Dari jarak yang sedemikian jauh, dua sosok itu mampu memancarkan tenaga dalam yang kuat. Bahkan getaran saat melangkahkan kakinya pun sampai ke goa. Ling Zhi semakin waspada.


Dia membentengi dirinya dengan pagar gaib supaya lebih merasa aman. Akan tetapi walaupun begitu, dia tetap merasa resah sendiri. Kalau dari jarak yang sedemikian jauh saja mampu seperti ini, apalagi jika jaraknya sudah dekat?


Waktu seperti berhenti untuk beberapa saat. Ling Zhi tak mampu bergerak. Dia terpaku dengan nafas yang sedikit sedak. Walaupun sudah membentengi diri, tapi sepertinya tidaklah cukup. Sebab dia masih bisa merasakan pancaran tenaga dua sosok tersebut.


Tak perlu waktu yang lama, dua sosok itu semakin mendekat. Meskipun suasana lewat tengah malam, tapi Ling Zhi bisa melihatnya dengan jelas.


Dua sosok itu bukanlah manusia. Melainkan siluman. Yang satu biasa disebut buta ijo, sedangkan satu lagi biasa disebut setan gundul.


Pada zaman ini, makhluk-makhluk seperti itu memang sering menampakkan diri kepada manusia. Terutama kepada mereka yang sudah mengusiknya. Dalam hal ini, agaknya Cakra Buana dan yang lainnya secara tidak sengaja memang sudah mengusik wilayahnya.


Semakin dekat jarak antara buta ijo dan setan gundul, maka tanah dan tempat sekitar goa semakin bergetar hebat seperti dilanda gempa bumi. Tanpa sadar Ling Zhi sudah berkeringat dingin. Tak bisa dipungkiri, bahwa di hatinya dia sedikit ngeri ketika melihat perwujudan makhluk dimensi lain tersebut.


Buta ijo dan setan gundul berhenti melangkah saat jaraknya dengan Ling Zhi tersisa sekitar lima tombak.


Tubuh keduanya tinggi besar, si buta ijo memang seperti namanya. Tubuhnya hijau, jika dalam kegelapan sedikit menyala. Sedangkan si setan gundul, tubuhnya tinggi agak sedikit gendut. Kepalanya botak, dia memakai kalung yang terbuat dari tengkorak manusia. Mata kedua makhluk halus itu menatap tajam ke arah Ling Zhi.


"Hemmm … ada bunga merekah di sini. Apa yang sedang kau lakukan heh?" tanya si buta ijo sambil bertolak pinggang. Matanya semakin tajam menatap Ling Zhi, mulai dari atas hingga bawah, dia tatap semua.

__ADS_1


"Ma-maafkan aku, aku tidak sengaja ke sini. Rekanku sedang terluka, jadi aku terpaksa ke sini untuk mengobatinya," jawab Ling Zhi agak gugup. Keringat dingin semakin membasahi tubuhnya.


"Terserah apa yang kau katakan. Yang jelas aku paling tidak suka jika wilayahku di ganggu. Apalagi oleh manusia," jawab si buta ijo dengan tegas.


"Aku mengaku salah. Mohon maafkan aku, berikan waktu sampai temanku pulih. Setelah itu, aku bersama semua rekanki akan pergi dari sini. Aku berjanji," kata Ling Zhi sambil sedikit memohon.


"Hemmm … boleh, asalkan kau mau menjadi pelayan kami. Bagaimana? Hahaha …"


Mendengar ucapan itu, merah padam wajah gadis cantik tersebut. Amarah Ling Zhi mulai merangkak naik.


Sekilas terdengar aneh memang, di mana siluman bernafsu kepada seorang manusia. Tapi memang begitu faktanya. Di dunia itu pun, mereka sama seperti kita. Punya hawa nafsu, bahkan punya keluarga. Seperti halnya manusia. Dan itu semua memang fakta. Hanya saja tidak setiap orang yang bisa mengetahui itu semua.


"Jaga mulutmu setan alas. Seenaknya saja kau bicara. Derajatku sebagai manusia jauh lebih tinggi darimu, aku tidak sudi menjadi pelayanmu walau sesaat," jawab Ling Zhi dengan tegas. Ketika amarah seseorang nampak, maka ketakutan akan sirna seketika itu juga. Begitu pun dengan Ling Zhi saat ini.


"Aku tahu. Tapi asal kalian tahu juga, tidak setiap manusia seperti yang kau katakan barusan. Manusia yang seperti itu memang dia sudah berteman dengan setan," balas Ling Zhi tak mau kalah.


"Masa bodoh apa katamu. Sekarang bagaimana? Apa kau menerima syarat rekanki ini?" tanya si setan gundul sambil tersenyum menyeringai.


"Aku bilang tidak sudi. Sekali lagi bicara seperti itu, akan aku musnahkan kalian," ucap Ling Zhi sambil berteriak. Amarhny sudah memuncak. Tubuh yang tadinya panas dingin, kini mendadak panas semua.


"Hahaha … jangan bermimpi cantik. Jika memang kau ingin mencoba, majulah. Sekalian aku ingin memegang semua bagian tubuhmu yang mulus itu," kata si buta ijo disusul suara tawa yang menggema.

__ADS_1


"******* …"


"Wuttt …"


Tanpa basa-basi lagi, Ling Zhi langsung melompat tinggi menyerang si buta ijo. Pedang Bunga sudah ia keluarkan dari sarangnya. Meskipun dia sendiri sadar tidak akan mampu mengalahkan dua makhluk halus itu, tapi setidaknya Ling Zhi akan berusaha bertahan sampai Cakra Buana selesai mengobati sepasang Kakek dan Nenek Sakti.


Pertarungan tak dapat terhindarkan lagi. Ling Zhi langsung bergerak memainkan Pedang Bunga dengan lincah. Sekali pun tenaga dalamnya sudah terkuras saat pertarungan di Bukit Maut, tapi nampaknya itu bukanlah persoalan berarti. Karena gadis itu bahkan masih bisa bergerak dengan lincah dan memberikan serangan mematikan.


Sementara itu di dalam goa, Cakra Buana masih sedang berusaha untuk mengobati Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Setidaknya sudah hampir satu jam dia terus menyalurkan tenaga dalam kepada pasangan pendekar tua tersebut.


Tapi apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan sebelumnya. Meskipun sudah mengerahkan seluruh kemampuan, namun proses penyembuhan tetap saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar.


Dan sekarang, Pendekar Maung Kulon itu sudah mencapai titik puncaknya. Hanya beberapa saat lagi, proses penyembuhan akan selesai dan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti bisa di selamatkan.


Tapi konsentrasi Cakra Buana seketika hampir buyar ketika dia mendengar suara ribut-ribut di luar goa. Tak salah lagi, yang sedang bertarung pastilah Ling Zhi, pikirnya.


Karena pikirannya buyar, maka proses penyembuhan menjadi sedikit lebih lama lagi. Dalam hal apapun, konsentrasi memang modal utama untuk menempuh keberhasilan. Apalagi jika hal itu sama seperti dengan apa yang dilakukan oleh Cakra Buana sekarang.


Setelah beberapa saat, perlahan tapi pasti kondis Sepasang Kakek dan Nenek Sakti mulai membaik. Terlihat saat ini nafasnya mulai terlihat kembali. Meskipun belum stabil sempurna, tapi setidaknya Cakra Buana sudah mencapai titik terang.


Sementara itu di luar goa, Ling Zhi sedang bertarung mati-matian. Saat ini yang menjadi lawannya bukan hanya si buta ijo, melainkan bersama setan gundul pula. Keduanya mengeroyok Ling Zhi tanpa henti.

__ADS_1


Sedangkan posisi Ling Zhi, saat ini sedang terdesak. Tak lama lagi mungkin dia akan roboh.


__ADS_2