Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Memulai Latihan


__ADS_3

Hari terus berganti dengan cepat. Tak terasa besok adalah hari ketiga dimana dia akan memulai latihannya lagi. Selama dua hari itu, Cakra Buana tidak melakukan apapun kecuali berburu, menikmati pemandangan, dan malamnya selalu mendengar ucapan-ucapan gurunya yang selalu penuh makna kehidupan.


Seperti sekarang ini, dia pun sudah banyak dicekoki wejangan kehidupan semenjak dari sore hari. Karena sekarang hari sudah semakin larut malam, Cakra Buana memilih untuk segera beristirahat. Rasa kantuk sudah demikian hebat menyerangnya.


"Eyang, aku tidur dulu ya …" kata Cakra Buana meminta izin.


"Silahkan cucuku," jawab Ki Wayang Rupa Sukma Saketi.


"Eyang tidak tidur?"


"Kau duluan saja,"


"Baiklah eyang."


Cakra Buana pun lalu berjalan ke sebuah goa yang memiliki ruangan yang ada disana. Luasnya kira-kira hanya 1x2 meter saja.


Goa yang dijadikan tempat tinggal oleh ki Wayang memang "istimewa". Goa itu memiliki ukuran yang lumayan besar, sehingga ada beberapa ruangan yang digunakan untuk kamar.


Sedangkan untuk mandi, tinggal pergi ke belakang goa saja. Sekitar seratus langkah dari sana, ada sebuah arti terjun lagi. Tidak terlalu tinggi, tapi airnya sama jernih seperti air terjun yang Cakra Buana jumpai saat berkeliling.


Karena dia sudah merasakan betapa tubuhnya sangat lelah, baru beberapa saat saja Cakra Buana sudah tertidur pulas. Sedangkan ki Wayang Rupa Sukma Saketi, sebenarnya dia tidak tidur. Tidurnya orang yang seperti itu berbeda dengan orang lain.


Jika orang kebanyakan tidur maka benar-benar tidur, maka orang begitu tidak. Raganya tidur, tapi batinnya tidak. Rohnya akan pergi ke segala tempat yang mereka inginkan, bahkan roh mereka bisa mengetahui apa yang terjadi diluar sana.


Biasanya, orang yang sudah benar-benar bisa mengendalikan rohnya, maka dialah orang yang sudah mencapai tahapan tinggi.


###


Hari sudah pagi, suasana dihutan pun sudah ramai oleh nyanyian burung yang terdengar begitu merdu. Burung-burung sudah bangun ketika mentari belum nampak seutuhnya. Hewan lain seperti ayam pun sama, setiap hari mereka bangun selalu tepat waktu. Sangat jarang mereka kesiangan.


Agaknya, terkadang kita selaku manusia memang harus malu. Malu oleh para binatang yang selalu bangun tepat waktu. Pula, sepertinya pepatah memang benar, bahwa manusia harus banyak belajar terhadap binatang.


Cakra Buana sudah bangun dari tidurnya. Semalam dia tertidur nyenyak sekali, dia menuju ke ruangan dimana ki Wayang berdiam, ternyata kakek tua dan dua hewan peliharaannya sudah terbangun. Bahkan mereka sudah bercanda dengan cara mereka sendiri.


"Eh kau sudah bangun cu. Segera bersihkan dirimu, cari singkong lalu rebus. Setelah itu, tumbuk kopi hitam yang ada di saung," kata ki Wayang ketika melihat Cakra Buana melangkah mendekat padanya.


"Baik eyang guru."


Tanpa membantah, meskipun nyawanya belum terkumpul sepenuhnya, Cakra Buana langsung pergi ke air terjun untuk membersihkan diri. Setelah selesai, dia segera melakukan apa yang eyang gurunya perintahkan.

__ADS_1


Dia mencabut beberapa pohon singkong untuk kemudian direbus. Selagi proses merebus itu, Cakra Buana pun menumbuk kopi hitam diatas sebuah lesung.


Suara lesung terdengar berirama ketika burung-burung menyahuti. Terdengar indah. Apalagi diselingi dengan desiran angin pagi.


*Betapa indahnya hidup di alam.


Betapa damainya berteman bersama alam*.


Ah … sungguh indah sekali rasanya.


Sepeminum teh kemudian, semuanya sudah siap. Singkong rebus sudah matang. Kopi hitam pun sudah diseduh.


"Eyang guru, singkong rebus sama kopi hitamnya sudah siap," kata Cakra Buana memberitahukan gurunya dari mulut goa.


Akan tetapi tidak ada suara jawaban. Tiga kali dia berkata dengan ucapan sama. Tetap tidak ada jawaban, kemudian dia memilih untuk masuk kedalam. Betapa kagetnya dia ketika tidak mendapati siapapun didalam sana. Bahkan maung sukma dan maung saketi pun tidak ada.


Kemana perginya eyang guru? Kemana perginya dua kawan barunya?


Cakra Buana langsung melesat keluar kembali ke gubuk. Untuk kedua kalinya Cakra Buana terkejut dipagi hari. Bagaimana tidak? Ternyata eyang gurunya sudah duduk disana sambil menikmati suguhan yang dia minta. Bahkan dua maungnya sedang asyik bermain.


Cakra Buana lalu menghampiri ki Wayang, kemudian dia berkata, "Bagaimana eyang sudah berada disini? Bukankah tadi eyang masih didalam? Bahkan bersama maung sukma dan maung saketi," Cakra Buana jelas memperlihatkan ekspresi wajah kebingungan.


"Baik eyang."


Meskipun hatinya masih diliputi rasa penasaran, tapi Cakra Buana tidak berani berkata lebih. Maka dia pun langsung duduk di pinggir eyang gurunya lalu menikmati sajian yang tersedia.


###


Kini ki Wayang Rupa Sukma Saketi dan Cakra Buana sudah berada disebuah lapangan yang cukup luas. Tak lupa juga dua maungnya turut hadir disana.


Matahari sudah hampir sepenggalah. Sinarnya terang tanpa tertutup awan.


"Sekarang, bukalah bajumu. Coba kau tunjukkan jurus-jurus tangan kosong yang sudah kau pelajari dari sahabatku Resi Patok Pati," kata ki Wayang memberikan perintah.


"Baik eyang."


Cakra Buana melepas bajunya. Kemudian dia berdiri ditengah-tengah. Tubuhnya yang kekar dan ototnya yang menonjol, menjadikan dirinya gagah perkasa. Rambutnya yang diikat kain putih bergerak-gerak tertiup angin.


Cakra Buana memusatkan pikirannya, lalu dia menyalurkan tenaga dalam ke seluruh tubuh. Tak lama kemudian …

__ADS_1


"Grrrhhh …" dia mengeluarkan jurus pertama.


"Auman Harimau …"


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Tangannya bergerak dengan cepat membentuk cakar harimau. Dia memainkan jurus-jurus yang diajarkan Kitab Maung Mega Mendung. Tangan dan kakinya bergerak seirama. Semakin lama, gerakannya semakin cepat dan semakin ulet.


Jurus pertama, kedua, ketiga, hingga sampai jurus berikutnya, dia mainkan dengan maksimal.


Cakra Buana sudah mencapai jurus kesepuluh, maka dengan segera dia mengeluarkan jurus kesebelas yang merupakan jurus terkahir.


"Harimau Mengguncang Semesta …"


"Gggrrrhhh …"


Perubahan mulai terlihat. Matanya berubah seperti mata harimau, begitupun dengan kuku tangannya. Taring pun tiba-tiba keluar.


Dia bergerak. Memainkan jurus terkahir dengan lincah dah gesit. Ada tenaga tak kasat mata yang membarengi setiap gerakannya. Semakin lama, Cakra Buana semakin lenyap dibungkus sinar yang diakibatkan oleh gerakannya sendiri.


Ki Wayang Rupa Sukma Saketi hanya memandangi sambil kadang-kadang mengganggukan kepalanya. Ketik gerakan Cakra Buana hampir selesai, tiba-tiba saja maung sukma dan maung saketi melompat menyerang ke arahnya.


"Grrrhhh …"


"Grrrhhh …"


Dua maung sudah melompat dan siap mencakar. Dengan gesit Cakra Buana berkelit lalu menghindari serangan dua maung. Tanpa sungkan-sungkan, dia pun lalu membalas serangan keduanya.


Ketiganya sudah bertarung. Bahkan pertarungan mereka seperti sungguhan. Maung sukma dan maung saketi menyerang sekuat tenaga mereka. Serangan dua maung itu berbeda dengan maung pada umumnya.


Sebab setiap gerakan mereka, mengandung tenaga luar dan tenaga dalam yang besar. Yang paling membuat Cakra Buana tertegun adalah ketika dia menyadari betapa dua maung itu tidak roboh juga meskipun dia sudah mengeluarkan jurus terakhir.


Padahal jika dia sudah begini, jangankan satu lawan, bahkan tiga lawan seperti Nyai Kembang Ros Beureum pun akan merasa kerepotan. Tapi dua maung ini tidak. Aneh, pikirnya.


"Cukup …"


Ki Wayang angkat suara. Seketika dua maung itupun langsung diam. Begitupun dengan Cakra Buana. Ketiganya langsung menghampiri ki Wayang.

__ADS_1


"Bagus. Aku rasa hanya membutuhkan waktu dua tahun supaya kau bisa mewujudkan impian semua orang. Meskipun itu tidak ada jaminan akan mudah, tapi itu sudah lebih dari cukup," kata ki Wayang kepada Cakra Buana.


__ADS_2