Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Ling Zhi Terdesak


__ADS_3

Melihat bahwa lawan mulai kewalahan, buta ijo dan setan gundul tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Keduanya menyerang lebih ganas lagi.


Si buta ijo menyerang dari sisi kanan. Di tangannya kini tergenggam sebuah gada yamg besar. Warna gada itu hitam legam, kepalanya diselimuti oleh duri besi.


Sedangkan si setan gundul menyerang dari sisi kiri, di tangannya sudah tergenggam senjata rantai berkepala besi. Kedua siluman itu menyerang secara bersamaan. Ling Zhi semakin terpojok, beberapa kali tubuhnya hampir menjadi korban senjata kedua siluman itu.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


"Werrr …"


"Utsss …"


Ling Zhi melenting ke belakang ketika gada milik si buta ijo hampir menghantam tubuhnya dari samping.


"Menyebalkan. Terpaksa aku harus berjuang sampai titik darah penghabisan. Tak ada cara lagi selain berlaku nekad," gumam Ling Zhi.


Gadis itu lalu mengatur nafasnya dalam-dalam. Perlahan matanya terpejam. Dari tubuhnya keluar sinar putih transparan. Pedang Bunga pun nampak berkilau dibawah gelapnya malam.


"Haittt …"


Ling Zhi bergerak kembali. Kali ini dia mengerahkan semua tenaganya yang tersisa. Biarlah, jika memang harus mati maka mungkin ini takdir, pikirnya.


"Trangg …"


"Trangg …"


Dentingan logam keras bertemu terdengar keras. Tubuh Ling Zhi bergetar hebat. Dalam hal tenaga dalam, gadis itu kalah jauh dari kedua siluman tersebut. Tanpa menunggu lagi, dia langsung mengeluarkan jurus terakhir dari Kitab Tujuh Jurus Bunga Kembang.


"Amarah Dewi Bunga …"


"Wuttt …"


Si buta ijo dan setan gundul mendadak kebingungan seperti halnya para pendekar yang bertarung dengan Ling Zhi sebelumnya. Sebab kedua siluman itu pun, untuk beberapa saat tak mampu mendeteksi keadaan gadis tersebut.


Tapi karena tenaga dalamnya terbatas dan hampir habis, ilusi itu tidaklah bertahan lama. Sehingga ketika Ling Zhi akan melancarkan serangan beruntun, tubuhnya tiba-tiba saja dapat terlihat oleh lawan kembali.


"Trangg …"

__ADS_1


"Bukkk …"


"Ahhh …"


Ling Zhi terpental hingga menabrak sebuah pohon besar ketika punggungnya jadi sasaran bola besi milik setan gundul yang datang dari arah tak disangka. Gadis itu langsung muntah darah saat itu juga. Bahkan dia sudah tak mampu untuk berdiri dengan benar.


Di sisi lain, Cakra Buana semakin khawatir. Sebab firasatnya mengatakan hal buruk sedang terjadi kepada Ling Zhi. Untung saja upaya menyelamatkan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti sudah selesai.


Begitu semuanya beres, Pendekar Maung Kulon itu langsung melakukan meditasi. Dia mencoba untuk mengumpulkan tenaga dalamnya kembali setelah sebelumnya terkuras habis. Karena dia menghimpun tenaga dalam dengan metode yang di ajarkan oleh Ki Wayang, maka Cakra Buana tidak membutuhkan waktu yang cukup lama.


Baru sekitar sepuluh menit, tenaga dalamnya sudah terisi hampir setengahnya. Dengan serta merta, dia lalu melesat keluar goa.


Cakra Buana langsung terkejut ketika sampai di mulut goa. Di mana dia melihat Ling Zhi sudah tidak berdaya. Dua sosok siluman sudah mengepungnya dan siap untuk membunuh gadis itu.


"******* …"


"Werrr …"


Cakra Buana mengirimkan pukulan jarak jauh ke arah buta ijo dan setan gundul. Kedua siluman itu sudah merasakan adanya sesuatu yang mengarah ke arahnya. Maka begitu membalikan tubuh, si buta ijo langsung menepis serangan yang di kirimkan oleh Cakra Buana.


"Wuttt …"


Dua tenaga dalam bertemu di tengah-tengah, seketika cahaya menyilaukan langsung menyeruak dan meledak hingga menimbulkan suara dentuman yang lumayan keras.


Tanpa pikir panjang, Cakra Buana lalu melesat ke arah Ling Zhi.


"Ling Zhi bertahanlah, maaf jika aku terlambat. Sekarang biar aku saja yang menghadapi dua makhluk jelek ini," kata Cakra Buana sambil membantu Ling Zhi yang sedang berusaha untuk berdiri.


"Tak apa kakang. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Bagaimana keadaan Kakek dan Nenek Sakti?" tanya Ling Zhi sambil melirik Cakra Buana.


"Mereka selamat. Tenanglah, sekarang lebih baik kau mundur. Biar aku saja yang melawan mereka," kata Cakra Buana.


"Kau yakin mampu mengalahkannya kakang? Makhluk jelek itu sungguh kuat,"


"Jangan khawatir. Kurasa aku mampu menghadapi mereka," ucap Cakra Buana meyakinkan Ling Zhi.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati,"


Selesai berkata demikian, Ling Zhi langsung mundur. Kemudian gadis itu mencoba semedi untuk menyembuhkan luka dan mengumpulkan tenaga dalamnya kembali.

__ADS_1


Berbarengan dengan semua kejadian tersebut, si buta ijo dan setan gundul sangat geram. Keduanya tak terima karena ada seorang manusia yang berani mengganggunya.


"Ternyata ada lagi manusia yang mengantarkan nyawanya ke sini. Siapa dan ada perlu apa sehingga kau berani memasuki wilayahku tanpa izin?" tanya setan gundul sedikit menahan amarahnya.


Dua siluman itu tidak mau bertindak gegabah, sebab dari serangan pertama saja mereka bisa menilai bahwa lawan yang satu ini bukanlah lawan biasa.


"Tidak perlu bertanya lagi. Kurasa gadis tadi sudah menjelaskannya kepada kalian," jawab Cakra Buana.


"Jadi kau satu rombongan dengan gadis itu? Pantas saja lagakmu juga sombong. Asal kau tahu saja, siapa yang berani mengganggu wilayah kami, maka jangan harap untuk biss keluar lagi," kata setan gundul memberikan ancaman kepada Cakra Buana.


"Hemmm … asal kalian juga tahu, bahwa siapapun yang memancing amarahku, jangan harap bisa selamat," ucap Cakra Buana membalas ancaman si setan gundul.


Kedua siluman itu menjadi semakin marah setelah mendengar perkataan Cakra Buana barusan. Mereka menggenggam senjata masing-masing lebih erat lagi. Giginya sudah gemeretak berbunyi.


"****** kau manusia hina …"


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Dua senjata yang berukuran besar menyerang Cakra Buana dari sisi kanan dan kiri. Gada dan rantai bola besi itu datangnya sungguh cepat, untung saja Cakra Buana bisa lebih cepat.


"Utsss …"


Cakra Buana bersalto di udara dua kali sambil menghindari serangan tersebut. Begitu kakinya mendarat, dia langsung melesat maju menyerang.


Cakra Buana langsung mengincar titik kematian di tubuh lawan. Tangan kanannya siap memberikan sebuah pukulan berbahaya. Mangsa pertamanya adalah si buta ijo, sebab menurut penglihatannya, dia lebih rendah ilmunya.


"Bukkk …"


Saking cepatnya Cakra Buana, sampai-sampai si buta ijo tak dapat menghindari pukulan tersebut. Meskipun tubuhnya beberapa kali lipat lebih besar, namun tetap saja dia sedikit terhuyuny ketika pukulan Cakra Buana dengan telak menghantam dada kanannya.


Pendekar Maung Kulon itu tak berhenti sampai di situ saja, dia langsung memberikan kembali serangkaian pukulan dan tendangan kepada si buta ijo. Cakra Buana tidak mau menghilangkan kesempatan emas ini, apalagi kondisinya saat ini kurang menguntungkan karena tenaga dalamnya tidak banyak.


"Wuttt …"


"Bukkk …"


"bukkk …"

__ADS_1


Pukulan dan tendangan Cakra Buana mulai menghujani tubuh si buta ijo. Karena postur tubuhnya yang mirip raksasa, dia jadi susah untuk menghindari serangan lawan. Tapi siluman itu pun tak mau kalah, sesekali dia membalas pukulan ataupun tendangan. Meskipun selalu bisa di hindari Cakra Buana.


__ADS_2