
Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak Bersayap melangkah berbarengan. Bagaikan seorang pengantin yang berjalan bersama. Bagaikan seorang dewa dan dewi yang maha tampan dan maha cantik.
Langkah mereka perlahan. Tidak terburu-buru, juga tidak tegang. Keduanya bahkan terlihat sangat tenang dan penuh keyakinan. Yakin bahwa mereka bisa mengalahkan sepasang guru dan murid yang terkenal berbahaya.
Terlebih lagi Cakra Buana. Dia sangat yakin melebihi siapapun. Walaupun pemuda itu tahu bahwa lawan yang kini akan dia hadapi merupakan tokoh kelas atas, dia tidak merasa gentar sama sekali. Justru bibirnya mengulum senyum. Senyuman menawan namun membuat musuh semakin muak dan marah.
Melihat orang asing dan gadis pujaan hatinya nampak akrab sampai berjalan berbarengan, panas juga hati Kagendra Malawa. Bahkan panasnya melebihi kalau dia di panggang.
Wajahnya menjadi merah padam. Nafasnya mendengus dingin dan berat. Andai kata bahwa dia itu seorang banteng, mungkin dari hidungnya sudah keluar asap putih. Bersama kotoran-kotorannya malah.
"Heh bangsat busuk. Yang guruku panggil adalah tokoh sakti, bukan pemuda ingusan semacam kau," katanya sambil menuding wajah Cakra Buana.
"Heh, bangsat yang lebih bangsat dari pada raja bangsat. Tahu apa kau? Memang akulah orang yang menantang gurumu," kata Cakra Buana sambil meledek.
Mendengar ucapan yang berupa ejekan seperti itu, semakin panas suhu tubuh Kagendra Malewa. Kasarnya, ditambah satu atau dua hinaan semacam itu lagi, mungkin kulitnya akan melepuh saking panasnya.
Di bilang lebih bangsat dari pada raja bangsat, siapa yang tidak akan marah? Seorang bangsat saja bagi sebagian orang sudah memuakan. Apalagi rajanya? Bahkan ini lebih daripada raja bangsat. Mungkin leluhurnya bangsat.
"Bocah kurang ajar. Berani sekali mulutmu. Sepertinya kau memang memintaku supaya merobek mulut busukmu itu," katanya sambil bersiap mengirimkan serangan jarak jauh.
Namun, sesuatu diluar dugaan segera terjadi. Hal ini tidak pernah dibayangkan baik itu oleh Dewa Maut, maupun muridnya, Kagendra Malawa.
Tiba-tiba saja sebuah sinar merah membara meluncur deras dari jari telunjuk Cakra Buana. Sasarannya tentu tubuh Kagendra Malawa. Kecepatannya bahkan lebih cepat dari pada saat seorang kekasih yang disuruh kekasihnya untuk ke rumah karena sedang kosong.
"Wushh …"
Secepat sinar merah meluncur, secepat itu pula kecepatan Dewa Maut menarik muridnya.
"Blarrr …"
Dua batang pohon besar hancur berkeping-keping. Asap seketika mengepul dan daunnya berguguran.
Mata Dewa Maut melotot. Kalau mata tersebut hanya menempel tanpa terikat oleh urat syaraf, mungkin saat ini sudah copot. Bisa dibayangkan bagaimana rasa kagetnya.
"Ajian Curuk Dewa …" desis Dewa Maut terus menatap asap yang mengepul masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
"Apakah sekarang kau percaya buyutnya bangsat?" tanya Cakra Buana kepada Kagendra Malawa tetap menggunakan ejekan sebelumnya.
Murid Dewa Maut itu ingin sekali menjawab. Namun sayangnya sang guru lebih dulu melarang untuk dia membuka suara.
"Anak muda, apa hubunganmu dengan Ki Wayang Rupa Sukma Saketi?" tanya Dewa Maut.
"Hemm, kau ternyata kenal dengan Eyang Guruku. Tidak disangka," ucap Cakra Buana.
Eyang Guru? Apakah perkataan itu tidak salah? Dewa Maut kembali terkejut saat mendengarnya.
"Apakah kau yang bernama Cakra Buana, si Pendekar Maung Kulon?"
"Benar. Itulah namaku dan orang-orang menyebutnya,"
"Tapi kalau dari penampilanmu, kau sepertinya sangat mirip dengan Pendekar Tanpa Nama,"
"Memang itu aku juga. Pendekar Maung Kulon adalah Pendekar Tanpa Nama. Dan Pendekar Tanpa Nama adalah Pendekar Maung Kulon,"
"Jadi maksudmu, satu orang dua julukan, satu nama pula. Dan nama itu adalah Cakra Buana?"
Tergetar hati Dewa Maut. Dia merupakan pendekar kelas atas. Seorang tokoh tua yang namanya tenar di kalangan para pendekar. Mana mungkin dia tidak tahu dua julukan pendekar besar yang namanya sedang naik daun?
Tanpa terasa, rasa gentar muncul juga di hatinya. Tetapi perasaan itu hanya sesaat saja. Karena selanjutnya kakek tua tersebut berhasil menguasai diri kembali. Walaupun memang dia gentar, tapi toh kekuatannya juga sangat dapat diandalkan. Bahkan semua orang mengakui kehebatannya.
Mendadak muncullah kesombongan yang sudah bersama yang dalam dirinya.
"Hahaha, bagus. Akhirnya aku bisa menemukanmu," ata Dewa Maut sambil tertawa lantang.
"Memangnya selama ini kau mencariku?" tanya Cakra Buana.
"Tidak,"
"Dasar orang tua. Lalu untuk apa kau berkata seperti itu jika tidak mencariku,"
"Karena aku sangat ingin membunuhmu. Sepak terjangmu membuatku muak," ucapnya.
__ADS_1
"Baik. Kita selesaikan dengan segera. Apakah aku yang akan terbunuh, atau kau yang akan kubunuh," tegas Cakra Buana.
Sebelum kedua orang itu memulai pertarungan, Kagendra Malawa lebih dulu menyerang. Dia menjejak tanah lalu segera mengirimkan sebuah pukulan keras yang mengincar wajah.
Tapi sebelum pukulannya mengenai sasaran, sebuah tangan yang lembut dan halus, serta harum, menahan pukulan Kagendra Malawa hanya dengan satu tangannya.
Tangan Bidadari Tak Bersayap.
Tangan yang cantik dan indah itu menahan serangan pukulannya dengan lembut tapi penuh tenaga dahsyat.
"Lawanmu adalah aku manusia hina," kata Bidadari Tak Bersayap penuh amarah.
Gadis itu sudah kelewat geram terhadap Kagendra Malawa. Mendapatkan kesempatan seperti ini, tentu saja gadis itu tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja.
Selesai berkata demikian, dia segera menghentakkan tangannya sehingga Kagendra Malawa terpental dua langkah. Tapi kali ini, dengan cepat dia dapat menguasai dirinya kembali. Selain itu, hentakkan Bidadari Tak Bersayap masih jauh untuk dibandingkan dengan lemparan kerikil Cakra Buana sebelumnya.
Mendapati bahwa serangannya di tangan oleh gadis pujaan hati, kemarahannya kembali naik. Kalau tadi hanya puncak, mungkin puncaknya puncak. Jangan dibayangkan, karena penulis sendiri tidak mampu membayangkannya.
"Baik, kalau memang kau ingin bertarung denganku, aku siap melawanmu. Apakah kau pikir aku tidak berani membunuhmu karena tahu aku jatuh cinta terhadapmu? Jangan bermimpi," ucap Kagendra Malawa.
Rasa cinta yang sempat tumbuh mekar sekian lama, sekejap saja sudah berubah menjadi perasaan benci yang mendalam. Lebih dalam dari pada tengah laut sekalipun.
"Bagus, memang itu yang aku harapkan. Kalau memang kau mampu mengalahkanmu, aku siap menjadi istrimu. Tapi kalau tidak sanggup, jangan pernah berharap untuk bisa melihat hari esok," tegas Bidadari Tak Bersayap.
Bicaranya penuh keyakinan. Sangat yakin.
Tapi dia tidak tahu bahwa ada seorang pemuda yang kaget sampai menoleh saat dia berkata demikian. Bahkan hatinya sedikit anjlok ke jurang. Pikirannya mendadak tidak karuan.
Kalau sampai pemuda itu mampu mengalahkannya? Sudah pasti si gadis akan menjadi istrinya.
Tidak, hal itu tidak boleh terjadi. Bagaimanapun caranya, dia harus bisa membantu si gadis.
"Hati-hatilah," kata Cakra Buana sambil menepuk punggung Bidadari Tak Bersayap.
Hanya tepukan kecil, tapi mengandung kekuatan besar. Kekuatan kanuragan, dan kekuatan cinta yang mulai tumbuh.
__ADS_1