
Ayam sudah berkokok dengan kencangnya. Burung-burung penghuni hutan pun sudah berkicau merdu. Sepenanak nasi lagi sang surya akan menampakkan dirinya.
Disebuah ruangan kamar yang tidak besar juga tidak sempit, seorang pemuda baru saja terbangun dari tidurnya. Tubuhnya masih lelah padahal, tapi dia segera teringat dengan tugas dan kewajibannya.
Buru-buru pemuda itu pergi ke pemandian lalu menuci wajahnya yang masih terlihat kusut. Setelah selesai menuci mukanya, kini dia sudah merasa segar. Meskipun ngantuk masih mengganggunya.
Pemuda itu tak lain adalah Langlang Cakra Buana. Dia sekarang sedang bersiap-siap untuk melakukan perjalanannya yang tertunda beberapa hari. Buru-buru dia menuju ke tempat Eyang Tajimalela.
Dia berniat untuk meminta izin akan segera melanjutkan perjalanan. Padahal masih pagi-pagi buta. Bahkan orang-orang disana pun belum semuanya bangun. Tapi tetap saja Langlang Cakra Buana nekad untuk pergi sekarang juga. Dia tidak ingin membuang waktu terlalu lama.
"Sampurasun eyang. Apakah eyang sudah bangun?" tanya Langlang Cakra Buana dengan sopan ketika sudah sampai di ruangan Eyang Tajinlmalela.
"Rampes. Sudah, masuklah Langlang." jawab Eyang Tajimalela.
Langlang Cakra Buana langsung saja masuk setelah mendapatkan izin. Tanpa basa-basi lagi dia segera berbicara kepada intinya saja.
"Eyang, aku mau pamit undur diri. Aku mau melanjutkan perjalanan sekarang juga," ucap Langlang Cakra Buana meminta izin.
__ADS_1
"Aihhh … padahal masih pagi-pagi buta seperti ini. Baiklah kalau begitu, maaf eyang tidak bisa membekali barang dan sesuatu apapun yang terbaik untukmu," ucap Eyang Tajimalela dengan nada sedikit bergetar.
"Tidak papa eyang. Aku sungguh sangat berterimakasih karena eyang sudah mau menerimanya dan memberikan izin untuk aku tinggal disini," balas Langlang Cakra Buana.
"Aku pergi sekarang eyang. Sampaikan salamku kepada paman yang lainnya. Sampurasun," ucapnya sambil bersiap untuk pergi.
"Baiklah, rampes. Jaga dirimu baik-baik Langlang. Jika kau ingin singgah kesini lagi maka singgahlah. Tempat ini selalu terbuka lebar untukmu," kata Eyang Tajimalela.
Setelah berpamitan, Langlang Cakra Buana dengan segera pergi dari Padepokan Kuda Sembrani. Dengan cepat dia menggunakan ilmu Saifi Angin miliknya.
###
Langlang Cakra Buana pun kini sedang berjalan dengan santainya. Dia sudah tiba disebuah desa yang cukup ramai dan luas. Kehidupan disana terbilang stabil, tapi kelihatannya mereka hidup dalam sebuah tekanan.
Terlihat dari wajah warga desa yang pemuda itu temui. Dimana para warga itu selalu menunjukkan raut wajah yang sama. Yaitu kesedihan, namun tidak berani untuk dikatakan.
Langlang Cakra Buana terus menyusuri desa itu dengan santainya. Hampir semua warga yang dia temui, sepertinya mereka berkeja sebagai petani. Karena memang selama Langlang Cakra Buana berjalan, dia selalu saja disuguhi dengan pemandangan sawah yang sangat luas.
__ADS_1
Sekarang sedang musim panen padi, terlihat ada banyak para warga yang sedang memanen padi mereka. Baik yang bekerja pada orang lain maupun memang sawah miliknya.
Langlang Cakra Buana terus berjalan menyusuri desa itu. Hingga akhirnya dia berhasil menemukan sebuah kedai makan diujung pandangan matanya. Kedai itu terlihat kecil, tapi banyak juga orang-orang yang sedang sarapan disana.
Setelah sampai didepan kedai, dia langsung memesan ubi rebus dan juga teh sebagai menu sarapannya. Dia duduk di kursi bagian belakang dan paling pojok. Didepannya terlihat ada tiga orang petani yang sedang membicarakan sesuatu.
Sepertinya mereka membicarakan sesuatu yang agak penting. Terlihat dari cara bicaranya, para petani itu memasang wajah yang campur aduk. Ada ekspresi senang karena panennya melimpah ruah, ada juga ekspresi sedih yang memang menujukkan mereka berada dalam sebuah tekanan.
"Hei, apakah kalian sudah menyiapkan upeti untuk kepala desa? Dia pasti akan meminta upeti lebih banyak daripada bisanya. Apalagi kepala desa itu tahu bahwa panen kita sekarang cukup memuaskan," kata salahseorang petani itu.
"Belum Kacung. Iya itu sudah pasti. Kepala desa itu pasti akan meminta upeti lebih. Menurutku pribadi, ini bukan hanya upeti. Tapi ini sama halnya dengan pemerasan," timpal salahseorang temannya.
Belum sempat ketiga petani itu menyelesaikan obrolannya. Tiba-tiba saja dari luar terdengar derap langkah kaki kuda yang kemudian berhenti tepat di kedai yang memang ada Langlang Cakra Buana disitu.
Dan benar saja, derap langkah kaki kuda berhenti tepat didepan pintu masuk kedai. Ternyata kuda-kuda itu ditunggangi oleh tiga orang pendekar. Mereka memakai baju merah semerah darah. Sebuah golok besar terselip di pinggang mereka masing-masing.
Buru-buru saja ketiga pendekar tadi memasuki kedai. Mereka langsung meminta upeti kepada pemilik kedai dengan cara paksa. Pemilik kedai itu sedikit memohon dengan sangat karena memang belum mendapatkan untung dari para pembeli.
__ADS_1
Tapi tetap saja ketiga pendekar tersebut terus memaksa, bahkan Langlang Cakra Buana melihat ketiga pendekar tersebut melakukan kekerasan.
"Cepat berikan upeti untuk kepala desa!!!" gertak salahsatu pendekar tersebut.