
"Ah, aku tidak setahu yang paman sangka. Aku hanya pernah mendengar saja dari eyang guru. Menurut beliau, jurus Auman Raja Singa merupakan jurus hebat. Di mana si pengguna akan menyalurkan tenaga dalamnya lewat suara auman tersebut. Sehingga jika siapa pun yang mendengar jurus ini dan tidak kuat menahan gelombang suaranya, dipastikan dia akan tewas dengan darah yang keluar dsri setiap lubang di tubuh. Apakah benar seperti itu paman?" tanya Cakra Buana.
Ling Zhi dan Raden Kalacakra bungkam. Keduanya tidak tahu menahu tentang jurus ini. Jadi mereka lebih memilih untuk diam daripada ikut bicara. Sedangkan di sisi lain, Prabu Katapangan semakin terkejut karena ternya Cakra Buana bahkan tahu bagaimana jurus Auman Raja Singa menyerang lawan.
"Hebat. Benar-benar hebat. Semua ucapanmu itu tidak salah Cakra, paman kagum kepadamu," katanya bangga.
"Tapi paman, bagaimana paman bisa tiba-tiba menggunakan jurus Auman Raja Singa jika memang tidak sengaja? Bisakah paman menjelaskan kepada kami?"
Prabu Katapangan terdiam sejenak. Dia menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mengangguk.
"Asal kalian tahu saja, jurus Auman Raja Singa adalah jurus pertama yang berhasil aku miliki saat dahulu belajar kepada guru. Saking senangnya, bahkan aku melatih terus menerus jurus itu setiap hari. Sehingga akibatnya, jurus itu bisa keluar sendiri saat kondisiku berada dalam bahaya," kata Prabu Katapangan.
"Hemm … pantas saja. Ternyata begitu," kata Cakra Buana sambil mengangguk-angguk di ikuti Ling Zhi dan Raden Kalacakra.
"Benar. Karena itulah tadi jurus itu memang keluar dengan sendirinya,"
"Ah iya, selamat buat kalian bertiga. Kalian telah berhasil menguasai ilmu tak berarti yang aku ajarkan. Semoga kalian bisa membawa ilmu itu dan menggunakannya untuk menegakkan kebenaran. Dan ingat, jangan gunakan jurus ini jika tidak terdesak dan tidak menghadapi lawan tangguh," ucap Prabu Katapangan.
"Kami semua akan mengingat pesan ini," kata Raden Kalacakra mewakili yang lainnya.
"Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu,"
Prabu Katapangan langsung pergi setelah selesai berpamitan. Baru beberapa tarikan nafas, dia sudah tidak ada lagi di hadapan ketiga orang muda tersebut. Tak lama, mereka pun pulang juga ke kerajaan.
###
Sejak zaman dahulu, hukum rimba memang sudah berlaku. Siapa yang kuat maka dia yang bebas menindas. Siapa yang lemah, maka dia harus siap untuk di tindas. Pada zaman ini, setiap orang yang berkuasa akan berbuat sesuka mereka. Tak ada yang dapat mengalahkannya kecuali dengan cara menyatukan kekuatan.
Hari masih pagi. Matahari baru menampakkan sinarnya sebagian. Dari arah kejauhan, terlihat ada sepuluh orang berpakaian pendekar sambil membawa bendera lambang kerajaan.
Sepuluh orang itu melarikan kudanya sekencang mungkin sehingga debu-debu mengepul menutupi jalan yang telah mereka lewati. Postur tubuh kesepuluh orang itu rata-rata hampir mirip. Tinggi kekar dan gagah. Sayangnya wajah mereka menggambarkan kebengisan.
__ADS_1
Kuda-kuda itu terus berlari tanpa henti. Si penunggang kuda bahkan tidak memberikan waktu bagi hewan itu untuk sekedar merumput. Kesepuluh orang itu adalah utusan dari Kerajaan Kawasenan. Mereka akan pergi ke Kerajaan Tunggilis untuk meminta upeti seperti waktu-waktu sebelumnya.
Kerajaan Kawasenan memang selalu meminta upeti kepada Kerajaan Tunggilis dan beberapa perguruan silat yang ada di bawah naungan mereka. Biasanya, pihak kerajaan akan meminta upeti setiap enam purnama sekali.
Perjalanan dari Kerajaan Kawasenan ke Kerajaan Tunggilis setidaknya membutuhkan waktu sekitar tiga hari jika berkuda. Kesepuluh utusan Kerajaan Kawasenan sudah berangkat tiga hari sebelumnya.
Dan pada saat sore hari, mereka baru tiba di kotaraja Kerajaan Tunggilis. Kesepuluh orang itu langsung menuju ke Istana Kerajaan.
"Selamat datang di Kerajaan Tunggilis tuan-tuan," kata penjaga gerbang saat melihat kedatangan urusan kerajaan tersebut.
Sepuluh orang itu tidak menjawab. Mereka hanya mengangguk sambil memandang sinis para penjaga gerbang. "Cepat buka pintunya," pinta salah seorang di antara mereka agak sedikit membentak.
"Buka pintu gerbang," teriak kepala penjaga gerbang.
Gerbang kerajaan yang terbuat dari kayu hitam tebal itu terbuka perlahan. Rantai sebesar tangan terdengar begitu berisik. Begitu gerbang terbuka, urusan Kerajaan Kawasenan langsung masuk tanpa mengucapkan kata sedikit pun.
"Sombong sekali orang-orang itu. Mentang-mentang mereka berkuasa," gerutu salah seorang penjaga gerbang.
Kesepuluh utusan Kerajaan Kawasenan tersebut sudah tiba di halaman utama kerajaan. Para pelayan kerajaan yang bertugas mengurus kuda-kuda istana langsung menghampiri mereka dan memabwa kuda itu. Sedangkan orang-orangnya berjalan memasuki istana.
Saat mereka datang, orang-orang istana sedang berada di ruangan belakang. Mereka sedang bicara terkait keadaan rakyat yang semakin terpuruk. Di sana ada juga Cakra Buana dan Ling Zhi.
"Paman, kapan waktu yang cepat untuk kita me- …" belum sempat Cakra Buana menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba seorang pelayan memasuki ruangan tersebut. Dia terlihat terburu-buru.
"Ada apa pelayan? Kenapa kau buru-buru?" tanya Prabu Katapangan agak kesal karena merasa terganggu.
"Anu baginda, anu. Mo-mohon maaf kalau terganggu. Tapi di ruang tamu, ada utusan dari Kerajaan Kawasenan," kata pelayan tersebut sedikit ketakutan.
"Utusan kerajaan? Hemmm … pasti mereka akan meminta jatah upeti," gumam sang prabu.
"Baik, beritahukan kepada mereka, sebentar lagi aku akan segera ke sana,"
__ADS_1
"Baik baginda,"
Pelayan itu langsung pergi setelah mendapatkan perintah. Prabu Katapangan duduk kembali di kursinya, wajahnya terlihat kesal.
"Paman, untuk apa mereka kemari?"
"Mereka akan meminta jatah upeti Cakra. Kerajaan Kawasenan selalu menagih upeti setiap enam purnama sekali,"
"Apakah upeti yang mereka minta banyak?"
"Bahkan terbilang sangat banyak. Jatah dengan penghasilan tidak sesuai. Menurutku, mereka sengaja mencekik supaya aku mau menyerahkan kerajaan ini," kata Prabu Katapangan Kresna menjelaskan.
"Keparat. Kita habisi saja mereka, aku sudah muak kepada orang-orang Kerajaan Kawasenan," ucap Cakra Buana geram.
"Sabar dulu Cakra. Jangan gegabah. Paman akan memikirkan rencana. Dalam waktu dekat, kita pastikan akan menyerang Kerajaan Kawasenan,"
"Baik. Aku menuruti keinginan paman,"
"Kalau begitu aku ke sana dulu untuk menemui mereka. Kau tunggu saja, jangan temui mereka. Sekarang bukan saatnya untukmu menujukkan diri," kata Prabu Kawasenan.
"Baik paman,"
Mereka lalu keluar dari ruangan tersebut. Di sana hanya ada Cakra Buana dan Ling Zhi saja. Sisanya menuju ke ruang utama di mana para utusan itu sedang menunggu.
"Maaf telah membuat kalian menunggu. Aku sedikit ada urusan," kata Prabu Katapangan Kresna sambil memberikan salam kepada mereka.
"Tidak masalah. Kau memang terbiasa membuat kami menunggu," kata salah seorang.
"Kau …" Raden Kalacakra kesal mendengar ucapan itu, untung bahwa Prabu Katapangan segera memegangi tangan anak tunggalnya tersebut.
"Anakku, jangan gegabah. Biar ayahanda yang menangani mereka," gumamnya pelan.
__ADS_1
"Sekali lagi aku minta maaf. Ah kalian pasti lapar dan lelah, mari kita makan saja dulu. Masakan sudah siap, kebetulan sebentar lagi makan malam," kata Prabu Katapangan mengajak sepuluh orang utusan itu untuk makan.