
Sedangkan si Dewa Maut sendiri juga bukanlah seorang debt collector yang bisa seenaknya berbuat. Karena nyawa Cakra Buana bukan barang kreditan dan si Dewa Maut bukan pula debt collector, maka pertarungan menjadi berjalan lebih dahsyat lagi.
Di saat jurus Malaikat Memaksa Mengambil Nyawa mencecar hebat tanpa henti, saat itulah Cakra Buana mencari celah. Begitu menemukan celah, tubuhnya berputar dengan sangat cepat seperti baling-baling.
Serangan Dewa Maut tidak berhasil mencabut nyawa Cakra Buana. Tetapi walaupun begitu, dia masih tetap meneruskan serangan dengan jurus yang sama.
Cakra Buana melihat celah kosong lainnya, dia mengubah laju putaran lalu dengan gerakan gesit, kaki kanannya menendang dari bawah ke atas mengincar dagu.
Andai saja lawannya pendekar kelas teri, mungkin dia sudah menjadi ikan asin karena tendangan itu. Namun, Dewa Maut bukanlah pendekar seperti itu.
Dengan kegesitan yang tidak kalah cepat, dia menarik kembali serangannya lalu menjejak tanah untuk mundur ke belakang.
Pendekar Tanpa Nama tidak berhenti memberikan serangan. Tadi lawannya sudah menggempur, maka kali ini dia harus balas menyerang.
Jurus Harimau Membelah Gunung keluar. Seperti yang kita ketahui, jurus ini adalah jurus terhebat kedua setelah jurus Harimau Mengguncangkan Semesta dari Kitab Maung Mega Mendung.
Jadi bisa dibayangkan bagaimana dahsyatnya serangan Cakra Buana kali ini.
Serangannya menjadi lebih berat dan jauh bertenaga. Kalau dengan kekuatannya yang dulu saja mampu membunuh beberapa pendekar, apalagi jika menggunakan kekuatannya yang sekarang?
Begitu mulutnya menggeram seperti harimau marah, serangan yang diberikan pun semakin mengerikan. Kedua tangannya bergerak secepat kilat dan seberat puluhan tenaga banteng.
Hantaman dan cakaran yang datang menerjang Dewa Maut bagaikan seorang raksasa melawan manusia. Tenaganya benar-benar hebat.
Tapi Dewa Maut belum kehabisan akal dan tentunya tidak kehabisan jurus. Jurus selanjutnya segera dia keluarkan juga.
Dengan jurus Malaikat Menarik Sukma Memukul Batu, dia mulai mampu menahan semua gempuran Cakra Buana. Yang lebih hebatnya lagi, kakek tua itu bahkan sesekali mampu memberikan serangan balasan yang tidak kalah mengerikannya.
Dua jurus kelas atas mulai menimbulkan benturan dan ledakan keras. Beberapa kali gelombang kejut tercipta dan menumbangkan pepohonan.
__ADS_1
Dewa Maut sudah dapat mengimbangi semua serangan Cakra Buana. Bahkan dia mulai bisa kembali membalikan posisi. Jurus ketiganya memang lebih hebat. Kaena semakin tinggi hitungan jurus, semakin dahsyat juga akibatnya.
Kedua tangannya kadang kala berusaha menarik. Tapi bukan menarik tubuh yang kasar. Melainkan tubuh yang halus.
Seperti juga namanya. Jurus ini memang dapat menarik sukma seseorang, walaupun si pengguna sedang dalam pertarungan sengit.
Lima puluh jurus sudah terlewati oleh keduanya. Selama pertarungan ini berjalan, keadaan masih tetap sama seperti sebelumnya. Tetap imbang. Karena masing-masing dari mereka sesekali mampu mendesak dan tidak jarang terdesak juga.
Kilatan cahaya yang diakibatkan dari dua jurus maut itu terkadang membuat malam yang gelap menjadi terang untuk beberapa saat.
Bulan semakin bergeser ke barat. Sepertinya sebentar lagi waktu subuh akan segera tiba. Tapi kedua pertarungan masih berjalan dengan sangat sengit.
Di sisi lain Bidadari Tak Bersayap juga sedang mencecar Kagendra Malawa. Dengan pedang berwarna biru muda miliknya, dia perlahan mampu mendesak pemuda tersebut.
Namun sepertinya si pemuda juga terlihat mampu mengimbangi semua serangan pedang Milik Bidadari Tak Bersayap. Walaupun dia hanya bersenjatakan sebuah keris yang panjangnya paling tidak dua jengkal, tetapi keris itu bukanlah keras biasa.
Tapi merupakan keris pusaka yang entah sudah berapa banyak menelan korban jiwa. Setiap kali kerisnya bergerak, selalu timbul warna hitam legam membawa hawa kematian. Samar-samar jeritan roh penasaran terdengar di telinga.
Namun, siapapun sudah mengetahui siapa itu Bidadari Tak Bersayap. Hampir semua pendekar, baik itu yang muda ataupun generasi tua, semuanya mengakui kemampuan gadis maha cantik itu.
Sehingga walaupun telinganya terus mendengar jeritan roh penasaran, dia masih tetap adem ayem. Bahkan sama sekali tidak terganggu. Padahal, suaranya terdengar sangat menyeramkan. Kalau di ibaratkan mungkin lebih seram dari pada orang bermuka dua.
Iya yang itu. Yang di depan bicara A di belakang bicara B.
Karena serangan yang selama ini sudah mampu di baca oleh musuh, maka Bidadari Tak Bersayap mengubah gaya serang dan bertarungnya. Jurus yang lebih hebat pun sudah dia keluarkan lagi.
"Bidadari Terbang Mencari Cinta …"
"Wushh …"
__ADS_1
Gadis maha cantik itu menjejakkan kakinya ke tanah. Pedang pusakanya dia julurkan. Kapanpun siap untuk memberikan tebasan ataupun tusukan hebat. Tenaga yang terkandung di dalam jurus itu pun sangat mengerikan.
Bidadari Tak Bersayap melancarkan serangan pertama yang berupa sabetan pedang, mengincar lengan kanan Kagendra Malawa.
Namun lawan juga tidak buta. Saat melihat sebuah benda tipis berkilau mengincar lengan kanannya, dia segera memiringkan badannya untuk menghindari serangan yang dapat membunuhnya tersebut.
Dengan gerakan memutar yang cepat, Kagendra Malawa sudah berhasil terlepas dari sergapan Bidadari Tak Bersayap.
Namun siapa sangka, begitu tubuhnya lepas dari jerat kematian, justru serangan susulan susah kembali menerjangnya. Sebuah tusukan maha hebat melesat menuju satu titik.
Jantung. Organ dalam yang paling berpengaruh bagi manusia adalah jantung.
Kagendra Malawa terkejut. Sebisa mungkin dia menghimpun tenaga dalam secepat yang dia bisa. Keris pusaka yang dia genggam erat, kemudian di gerakan untuk memapak tusukan Bidadari Masut.
Sebuah sinar hitam legam kembali meluncur dengan hebat. Bidadari Tak Bersayap tidak berniat untuk mundur satu langkah sekalipun. Pedang yang tadinya di tusukkan mengincar jantung, kini menjadi berhenti di tengah jalan karena ada sesuatu yang menahannya.
Sebuah sinar hitam dari keris milik Kagendra Malawa, ternyata menahan jurus Bidadari Tak Bersayap. Dua jurus bertemu di tengah-tengah. Keduanya nampak terpaku seperti patung.
Tetapi bukanlah hanya diam percuma. Justru di balik diamnya itu, ada sebuah pergolakan tenaga dalam yang hebat.
Kedua pendekar sedang beradu tenaga dalam. Siapa yang terpental, maka sudah pasti dia yang harus siap menerima konsekuensi selanjutnya.
Bidadari Tak Bersayap sendiri merasa terkejut dengan kekuatan Kagendra Malawa. Gadis itu tadinya sudah memperkirakan bahwa kekuatan lawan paling tidak dua tingkat di bawahnya.
Tetapi teryata bukan. Justru lawan hanya berada setengah atau satu tingkat di bawahnya. Di tambah lagi dengan pengalaman yang lebih matang dari pada dirinya sendiri.
Tentu bahwa pertarungan menjadi sedikit sulit.
Setelah tertahan untuk beberapa waktu, pada akhirnya peraduan tenaga dalam tersebut selesai. Sebuah ledakan dan sinar merah memisahkan mereka. Keduanya sama-sama tepental.
__ADS_1
Namun walaupun begitu, Bidadari Tak Bersayap nampak tidak terluka sama sekali. Justru saat ini dia berniat untuk menunjukkan kemampuan yang sesungguhnya.