
Lima belas jurus berlalu. Seperti juga hari kemarin, si kera nampak selalu unggul dari Cakra Buana. Dis benar-benar kagum kepada sahabatnya tersebut.
Untuk diketahui, dua ekor kera dan satu ekor harimau itu memang bukanlah binatang sembarangan. Khususnya dua ekor kera, dia merupakan sahabat sekaligus 'murid' dari Pendekar Tanpa Nama yang diperkirakan hidup pada lima puluh tahun lalu.
Pada zaman itu, Pendekar Tanpa Nama sedang bersembunyi dari pelariannya. Lima puluh tahun yang lalu itu dunia persilatan dibuat geger. Seorang pendekar sakti dari tanah Tiongkok lari ke daerah sini khususnya dekat perbatasan Tanah Sunda dan Tanah Jawa.
Dia melarikan diri karena suatu masalah yang menimpanya. Setelah tiba di negeri ini, Pendekar Tanpa Nama sempat mengembara beberapa waktu. Hanya dalam waktu singkat, dirinya sudah mendapatkan nama besar karena sepak terjangnya dalam membela keadilan.
Tapi keberadaannya mulai terendus oleh orang-orang yang menginginkan nyawanya. Karena alasan tersebut, Pendekar Tanpa Nama menyepi di lembah yang sekarang jadi tempat tinggal si kera dan yang lainnya.
Selama menyepi, Pendekar Tanpa Nama membuat kitab dari hasil usahanya membedah semua jurus yang dia miliki. Sebenarnya kitab yang dipelajari oleh Cakra Buana adalah hasil dari pengembangan dan penyederhanaan jurus-jurus yang dia kuasai.
Karena alasan usia, Pendekar Tanpa Nama memilih untuk mengundurkan diri dari dunia persilatan. Selama menghabiskan hari tuanya itulah dia melatih dua kera untuk menjaganya selama dia masih hidup. Karena Pendekar Tanpa Nama melatih mereka dengan tekun, maka si kera mendapatkan hasil yang maksimal.
Bahkan dia merupakan raja hutan di sekitar tempat tersebut. Hampir semua kepandaian Pendekar Tanpa Nama dia wariskan ke si kera. Jadi wajar kalau dia bisa berumur panjang dan menjadi binatang sakti.
Oleh sebab itulah Cakra Buana tidak mampu mengalahkannya. Sebab sumber mereka sama. Bedanya kalau si kera masih murni, kalau Cakra Buana sudah melalui pendalaman dan penyederhanaan.
Bahkan lagi, dua kitab yang dulu sempat digosipkan ada di tangan Orang Tua Aneh adalah dua kitab ini. Entah bagaimana caranya sehingga ada orang luar tahu mengenai dua kitab tersebut.
Hanya saja, tidak ada yang tahu di mana tempat pasti kitabnya. Sebab siapapun yang ke sini, tidak bisa kembali dengan selamat. Tentunya semua itu karena tindakan si kera.
Bisa dibayangkan bagaimana kagetnya nanti orang-orang kalau menyadari bahwa Cakra Buana sudah berhasil mempelajari dengan sempurna kitab yang menjadi rebutan dunia persilatan.
Saat ini pertarungan masih berlangsung. Tiga puluh jurus sudah terlewati, si kera berada di atas angin. Sedangkan Cakra Buana berada dalam posisi mulai terdesak.
Dia sedang mencari posisi yang tepat untuk melancarkan jurusnya. Tetapi nampaknya kera itu tidak memberikan kesempatan. Cakra Buana segera mengerti maksud sahabatnya.
Mungkin dia sedang mengajarkan kepada Cakra Buana bagaimana caranya mengeluarkan jurus dalam keadaan seperti ini.
Karena dia sudah menyadari jalan pikir si kera, maka Cakra Buana mencoba memecahkan rintangannya. Sebisa mungkin dia mencari setitik kesempatan. Walaupun setitik, tapi itu bisa mengubah posisinya. Dan untungnya dia segera menemukan kesempatan tersebut, maka tanpa sungkan lagi dia segera melancarkan jurus terakhirnya.
__ADS_1
"Hujan Kilat Sejuta Pedang …"
"Wushh …"
"Glegarr …"
Halilintar bergemuruh beberapa kali. Keadaan jadi mendung.
Dia mulai memberikan balasan serangan. Rantingnya berkelebat menyambar segala titik. Sabetan dan tusukan membayangi ke mana pun perginya tubuh si kera.
Kilatan cahaya keluar setiap saat dia menggerakan ranting tersebut. Seperti namanya, dis benar-benar mampu mengeluarkan serangan dengan jumlah tidak terhitung dalam waktu singkat.
Seperti hujan kilat yang menakutkan. Begitu juga dengan jurus yang Cakra Buana keluarkan.
Sayangnya semua itu masih dapat diimbangi juga oleh si kera. Walaupun dia sendiri sedikit mengalami kesulitan.
Saat mencapai lima puluh jurus, mereka segera menghentikan latihan. Semua binatang yang di sana bersorak kembali. Cakra Buana sendiri sangat gembira dengan hasil kerja kerasnya yang hampir setahun belakangan ini.
Mereka segera berkumpul untuk memakan buah-buahan yang ada. Mereka bercanda riang gembira. Setelah malam tiba, seperti hari-hari sebelumnya. Dia akan berburu untuk makan malam.
Dua kera sahabatnya memberikan isyarat kepada Cakra Buana supaya dia meninggalkan lembah tersebut. Waktu latihannya sudah lebih dari cukup. Semua ilmu yang ditinggalkan oleh Pendekar Tangan Nama sudah dia kuasai dengan sempurna.
Sekarang, Cakra Buana menjadi pendekar yang jarang ada tandingannya. Khususnya di Tanah Sunda dan Tanah Jawa.
Cakra Buana tertegun sesaat. Bagaimanapun juga, dia merasa sangat sedih sekali. Hampir setahun belakangan ini, sahabat-sahabatnya sudah meraawat, mendidik, bahkan menyayangi dirinya seperti keluarga sendiri.
Begitu juga dengan Cakra Buana. Baginya, binatang-binatang ini merupakan penyelamat hidupnya.
Bagaimanapun juga, dia pun memiliki perasaan yang sama seperti mereka.
Langit mendung. Gerimis mulai membasahi bumi. Suasana di sekitar sana sedang muram. Semuanya sedih. Tak ada lagi suara decitan kera gembira. Tidak terdengar lagi raungan harimau bahagia. Semuanya sedih.
__ADS_1
Cakra Buana bukannya tidak sadar atau lupa terhadap kewajibannya sebagai pendekar pembela kebenaran. Tapi apa mau dikata? Kesedihan tidak memandang siapapun juga.
Kesedihan akan selalu menghampiri semua makhluk yang hidup. Baik itu binatang, tumbuhan, manusia. Semuanya bisa merasakan sedih. Hanya saja dengan cara mereka sendiri.
Karena terus dipaksa untuk segera pergi, akhirnya dia menguatkan dirinya. Cakra Buana meminta si harimau untuk mengubah wujud.
Si harimau seperti mengerti, dia mengangguk lalu tak lama tubuhnya segera lenyap dan berganti menjadi sebatang pedang. Pedang bersarung merah yang sangat indah.
Di sarung bagian kanan terdapat gambar harimau dan kilat. Di bagian kiri terdapat gambar naga dan kilat. Bahkan di batang pedangnya pun sama.
Gagangnya bergambar kepala naga dan harimau. Di batang gagang ada tulisan yang dia mengerti. Di bawahnya juga ada tulisan, hanya dia tidak paham. Mungkin itu aksara Tiongkok, pikirnya.
"Pedang Naga dan Harimau …"
"Pendekar Tanpa Nama …"
Betapa gembiranya dia mendapati pedang pusaka seperti itu. Apalagi kepala naga dan harimau dihiasi juga oleh mustika.
Di saat begitu, seekor kera menghampiri dan memberikannya satu kotak kayu berisi satu stel pakaian dan kain untuk membungkus pedang serta satu kantong emas sebagai bekal perjalanan.
Pakaian itu berwarna merah darah. Tanpa menunggu lama, dia segera berganti pakaian. Setelah itu Cakra Buana kembali ke sana, tapi kawanan kera tersebut menyuruhnya untuk segera pergi.
Mereka mengantar Cakra Buana dan menunjukan jalan berbeda dari sebelumnya dia datang.
Cakra Buana mulai melangkah ke jalan yang dimaksud. Sebuah tebing bebatuan tinggi. Tapi dia yakin bisa mendakinya.
Pemuda itu melirik lagi ke belakang di mana kawannya berdiri. Tetapi mereka berteriak kepadanya. Bukan teriakan marah. Tapi teriakan memilukan. Sebagian kera meneteskan air matanya. Begitu pula si harimau. Mereka benar-benar sedih.
Cakra Buana pun sama. Air matanya mengalir membasahi pipi.
"Sampai jumpa lagi sahabat-sahabatku. Suatu saat nanti aku akan mengunjungi kalian lagi," kata Cakra Buana sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
Decitan kera dan raungan harimau kembali terdengar. Memilukan. Menyedihkan. Semuanya menjadi satu.
Perpisahan memang menjadi sesuatu yang tidak ingin dialami oleh siapapun.