
"Sudah lama kita tidak berjumpa. Tak di sangka, hari ini kita bisa bertemu kembali. Aku sungguh bahagia," kata Prabu Katapangan Kresna sambil terus merangkul keduanya.
"Kami pun sama sekali tidak menyangka Baginda. Secara tidak sengaja kami bertemu dengan pangeran. Ternyata, dialah orang yang kita tunggu selama ini," kata Gagak Bodas.
Kemudian ketiganya pergi dari ruangan utama. Mereka menuju ke sebuah ruangan yang biasa di gunakan untuk rapat pertemuan. Cakra Buana pun ikut ke sana. Tak lupa dengan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, Pendekar Tangan Seribu juga ikut.
Orang-orang itu sudah mengambil tempat duduknya masing-masing. Hidangan telah tersedia. Yang doyan arak, di sana juga ada arak atau tuak.
"Kakang, coba kau ceritakan bagaimana awal pertemuanmu dengan keponakanku," pinta Prabu Katapangan.
Tapi sebelum Gagak Bodas atau Jalak Putih bercerita, Cakra Buana lebih dulu mengajukan tanya karena ia merasa penasaran sekali.
"Paman maaf, sebenarnya ada hubungan apa di antara kalian bertiga?"
Yang penasaran bukan hanya Cakra Buana saja, tetapi beberapa pendekar yang ikut pun merasakan hal yang sama. Sehingga ketika Pendekar Maung Kulon mengajukan tanya seperti barusan, mereka mengangguk setuju.
"Begini, sebenarnya kami bertiga dulu teman baik. Kita ini bagian dari pendekar yang mengabdi kepada ayah ibumu. Semenjak malapetaka besar itu, semuanya berpisah. Tak tahu di mana rimbanya, tak di sangka kalau hari ini kami bisa bertemu lagi. Jadi, siapa yang tidak senang bertemu dengan kawan lamanya?" Prabu Katapangan berkata sambil memperlihatkan kebahagiaannya.
"Benar, dan tidak kusangka kau malah menjadi seorang raja. Sebenarnya sudah lama kami ingin pulang, tapi eyang resi sempat memberikan pesan sebelum ia meninggal bahwa kami harus diam di sana sampai ada seseorang yang mengaku keturunan Baginda Raja –ayah Cakra Buana–," kata Gagak Bodas.
"Aihh, aku hanya sementara saja. Selebihnya nanti keponakanku yang akan menduduki kursi singgasana," ucap Prabu Katapangan.
"Aku sudah sabar ingin menunggu waktu di mana Pasundan bersatu kembali. Kalau sudah bersatu, mati pun tidak akan menyesal," kata Jalak Putih.
Semua orang kembali mengangguk membenarkan kata-kata itu. Karena memang, mereka yang sudah tua tentu sangat menantikan waktu itu. Mereka berharap masih bisa bernafas saat kelak Pasundan kembali bersatu.
"Coba kau ceritakan bagaimana bisa bertemu dengan keponakanku," pinta Prabu Katapangan lagi karena tadi kedua sahabatnya itu belum sempat bercerita.
Gagak Bodas lalu menceritakan semuanya secara detail. Mulai dari menolong Cakra Buana, merawatnya beberapa waktu sampai bertarung melawan empat pendekar, juga sampai pada kemarin mereka bertarung dengan Golok Pembelah Kepala dan rekannya.
Selama mendengarkan cerita itu, wajah Prabu Katapangan terlihat sangat kesal. Ia lalu menyuruh Cakra Buana untuk menceritakan pengalamannya di Kerajaan Kawasenan.
Tanpa menunggu perintah dua kali, Cakra Buana kemudian menceritakan semua pengalamannya. Kadang-kadang Pendekar Tangan Seribu pun turut andil dalam menceritakan peristiwanya.
Wajah Prabu Katapangan semakin kelam, kemarahan tergambar jelas di matanya. Tatapan matanya yang lembut berubah menjadi setajam pisau. Darahnya terasa bergejolak.
__ADS_1
"Ajiraga …" geram Prabu Katapangan sambil mengepal kuat kedua tangannya.
"Sepertinya perang besar tidak dapat dihindari lagi. Mungkin sebentar lagi, waktunya akan segera tiba," kata Gagak Bodas lalu menghembuskan nafas panjang.
"Benar. Dan memang itu yang aku harapkan, kalau dibiarkan terlalu lama, kasihan rakyat. Mereka akan terus hidup dalam kesengsaraan. Kita sebagai manusia yang mempunyai hati nurani, harus bisa segera membebaskan penderita mereka. Apapaun yang terjadi, kedaulatan rakyat harus di kembalikan. Rakyat berhak untuk hidup bebas, kita harus berjuang sampai titik darah penghabisan," ucap Prabu Katapangan dengan semangat yang membara bagaikan lahar gunung bergejolak.
Rasa semangatnya itu bisa di rasakan oleh semua orang yang hadir di tempat tersebut. Mereka pun setuju akan ucapannya.
"Paman, langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya?" tanya Cakra Buana. Kalau di luar istana, dia memang biasa menyebutnya paman.
"Kita harus segera menyiapkan strategi. Siapkan pasukan terbaik. Undang seluruh pendekar yang ada di pihak kita. Susun kekuatan sebaik mungkin. Sebarkan telik sandi untuk mengawasi pergerakan musuh. Perketat keamanan di batas-batas wilayah," kata Prabu Ajiraga menjelaskan.
"Persiapan yang bagus. Kau memang cerdas," kata Gagak Bodas.
"Terimakasih kakang,"
"Kakek dan Nenek Sakti,"
"Kami Baginda Raja," dua orang tua itu segera menghadap.
"Perintah akan segera di laksanakan. Kami pamit undur diri,"
"Silahkan,"
Sepasang Kakek dan Nenek Sakti lalu pergi dari sana. Mereka segera menjalankan perintah yang diberikan oleh Prabu Katapangan.
Pembicaraan terus berlanjut. Mereka membicarakan semuanya, mulai dari dunia persilatan, dan hal-hal lainnya. Yang paling banyak bercerita adalah Gagak Bodas, Jalak Putih dan Prabu Katapangan Kresna.
Cakra Buana sendiri hanya menjadi pendengar yang baik. Tak dapat di pungkiri bahwa dirinya belum dapat seperti ketiga orang tua itu. Apalagi dalam masalah strategi berperang. Ia merasa sangat kecil di hadapan ketiganya.
"Paman, aku pamit undur diri. Aku mau mencari Ling Zhi," kata Cakra Buana meminta izin.
"Aih, kau benar. Selama kau pergi, Ling Zhi memang sering menyendiri. kadang-kadang ia berlatih silat sendirian. Kalau sudah bosan, biasanya dia akan pergi ke Taman Khayangan. Pergilah, temui dia," ucap Prabu Ajiraga.
"Hei, siapa itu Ling Zhi?" Jalak Putih mengajukan tanya karena penasaran.
__ADS_1
"Biasa. Wajarlah, anak muda. Kita yang sudah tua-tua ini hanya mendoakan yang terbaik," ucap Prabu Katapangan Kresna lalu tertawa.
"Ehemm … rupanya calon permaisuri," kata Gagak Bodas mengejek sambil melirik Cakra Buana.
"Ah paman ini,". "Aku pergi dulu," kata Cakra Buana lalu segera pergi.
"Dasar anak muda," kata Jalak Putih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
###
Ling Zhi masih duduk terpaku di Taman Khayangan. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa Cakra Buana sudah pulang. Entah sudah berapa lama dirinya di sana, yang jelas sudah cukup lama.
Ia memandangi ikan yang berenang ke sana ke mari bersama pasangannya. Kadang ia memandang burung-burung yang terbang saling kejar. Ling Zhi bahagia menyaksikan pemandangan ini. Kembali ia murung ketika teringat Cakra Buana.
"Kakang, kapan kau akan pulang. Aku rindu," katanya sambil menghela nafas.
"Aku juga rindu. Sudah lama sekali aku ingin memelukmu,"
Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Begitu lembut, begitu nyaring. Dua buah tangan lalu memeluk pinggangnya dari belakang.
"Aku rindu,"
Ling Zhi masih terdiam gugup. Ia masih belum yakin bahwa itu suara orang yang sedang dia rindukan. Sejak kapan ia bisa ada di situ? Ling Zhi tidak mendengar ada orang lain di sana selain dirinya sendiri. Namun, wanita blasteran itu mencoba untuk memberanikan diri menengoknya.
Cakra Buana.
Ternyata benar, kekasihnya sudah datang. Bahkan seutas senyuman diberikan untuknya.
"Kakang …"
Tanpa sungkan lagi Ling Zhi segera memeluk Cakra Buana dengan erat. Tak terasa air matanya mengalir deras. Ia semakin erat memeluk kekasihnya.
Cakra Buana tidak bicara apa-apa. Dia hanya diam membalas pelukan lalu mengusap kepala Ling Zhi.
Wanita hanya butuh perlakuan lembut saat ia memeluk dirimu. Membelai kepalanya saja, itu akan membuatnya terasa nyaman. Sangat nyaman.
__ADS_1