Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Tamu Penting


__ADS_3

Setelah beberapa saat merenung seorang diri, akhirnya Cakra Buana memutuskan untuk kembali. Lagi pula rasa ngantuknya mulai mendera.


Kamar Cakra Buana bersebelahan dengan kamar Bidadari Tak Bersayap. Ketika dia mau memasuki kamarnya, terlihat sang kekasih berdiri di depan pintu kamar.


"Kau sedang apa Sinta?"


"Menunggumu," jawab si gadis.


"Kenapa kau belum tidur?"


"Aku ingin tidur denganmu. Aku kedinginan," jawab gadis itu lalu menarik lengan Cakra Buana untuk memasuki kamarnya.


Tanpa banyak berkata lagi, Sinta langsung segera memeluk erat tubuh Cakra Buana. Permainannya dimulai.


Cakra Buana sendiri tidak menyangka bahwa malam ini, dirinya akan mendapatkan dua ikan sekaligus. Tanpa menolak, dia segera meladeni permainan Bidadari Tak Bersayap. Apalagi, dia memang benar-benar mencintai gadis maha cantik tersebut.


Kalau dibandingkan permainannya bersama Sri Ningsih dan Bidadari Tak Bersayap, tentu Cakra Buana jauh lebih menikmati permainan saat ini.


Bermain bersama seseorang yang sangat kau cintai, siapa yang tidak akan menikmati?


Singkatnya, pasangan kekasih tersebut sudah selesai menyelami samudera kenikmatan bersama rasa dingin dan rasa cinta yang menggelora dalam tubuh.


Bagian ini sengaja tidak diceritakan terlalu detail, karena nanti bakal banyak pro kontra. Bahkan bisa saja ada yang baper.


Setelah mereka selesai bermain, Bidadari Tak Bersayap masih memeluknya. Kepala dengan rambut panjang yang harum mewangi itu, menempel pada dada bidang Cakra Buana.


"Kau menikmatinya kakang?" tanya Sinta.


"Sangat menikmati," jawabnya.


"Hemm, lebih nikmat permainan gadis bernama Sri Ningsih, atau aku?"

__ADS_1


"Degg …"


Detak jantung Cakra Buana mendadak tidak karuan. Kalau jantungnya hanya menempel, mungkin saat ini jantung tersebut sudah jatuh. Keringat dingin mulai keluar dari pelipisnya.


Bidadari Tak Bersayap tersenyum lembut dan penuh kehangatan. "Baiklah kalau kau tidak mau menjawabnya. Tetapi aku sudah tahu apa yang baru saja kau lakukan bersamanya," kata Bidadari Tak Bersayap.


"Ja-jadi …"


"Sssttt …" jari telunjuk yang lembut nan halus menempel di bibir Cakra Buana. "Aku tidak marah, asal jangan bermain gila di depanku. Kalau di belakang, terserah. Toh kau belum resmi menjadi suamiku, jadi aku tidak bisa melarangmu secara berlebihan. Apapun yang ingin kau lakukan, lakukanlah. Selama itu tidak merugikanmu, aku tidak marah. Hanya saja aku minta, jaga cintaku ini," ucapnya dengan lembut dan penuh kemesraan.


Seorang wanita yang sudah mengatakan hal seperti ini, sesungguhnya dia sudah amat benar-benar mencintai prianya. Kalau di antara kalian, baik itu pria maupun wanita, kekasihmu berkata seperti ini, tetapi kau malah meninggalkannya, sungguh … kau lebih kejam dari pada ibu tiri.


Wanita kalau sudah mencintai, dia rela melakukan apa saja. Sedangkan pria kalau sudah benar-benar mencintai, dia berani berkorban apapun demi wanitanya.


Ini adalah fakta. Fakta yang mungkin masih sedikit orang tahu.


Di sisi lain, para buaya langsung berkhayal ingin memiliki seorang wanita seperti Bidadari Tak Bersayap. Berkhayal lah. Karena berkhayal sungguh indah.


"Baik, baiklah. Terimakasih kau sudah mau bersamaku. Aku tahu aku salah, aku juga tahu kalau …"


Kedua pasangan muda itu segera beristirahat. Tubuh mereka sudah lelah. Matanya juga sudah tidak kuat untuk melek lagi.


###


Siang hari, tepat ketika matahari berada di atas kepala, Perguruan Tunggal Sadewo kedatangan lima orang tamu. Mereka yang datang bukanlah sembarangan orang, sebab mereka itu adalah orang-orang penting dunia persilatan.


Salah satunya merupakan perwakilan dari Organisasi Pelindung Negeri dan datuk rimba hijau Tanah Jawa.


Para tamu sudah duduk di balairung. Di sana ada Tuan Santeno, Cakra Buana, Bidadari Tak Bersayap, dan beberapa guru lainnya.


Orang-orang tersebut masih belum membicarakan tujuan utama mereka. Sebaliknya, justru mereka lebih dulu untuk makan siang bersama.

__ADS_1


Karena terkadang ada bahasa, kalau kenyang, maka pikiran akan lancar.


Setelah makan siang selesai, orang-orang tersebut mulai berusaha untuk serius. Pertama-tama sekali, Tuan Santeno Tanuwijaya sebagai tuan rumah, memberikan sambutan dan rasa terimakasihnya kepada para tamu penting tersebut.


"Aku rasa, karena waktu yang tersedia tidak banyak, bagaimana kalau sekarang kita mulai ke pembahasan utama?" tanya Tuan Santeno kepada orang-orang yang hadir di sana.


"Aku setuju. Lebih cepat lebih baik, supaya kita segera menemukan jalan terbaik dari masalah ini," kata salah seorang pendekar tua.


Dia memakai pakaian biru tua. Umurnya sekitar lima puluh tahun, di punggungnya tersoren dua batang tombak kembar berwarna kuning emas. Dia merupakan perwakilan dari datuk rimba hijau.


Pendekar tua tersebut biasa disebut sebagai Raja Tombak Emas dari Utara.


"Apa yang dikatakan oleh Raja Tombak Emas dari Utara memang benar. Lebih cepat lebih baik. Karena itu, segeralah kita mulai saja tuan," ucap seorang pendekar lainnya.


Yang bicara barusan, umurnya baru sekitar enam puluh tahun. Pakaiannya putih, kedua alisnya tebal dengan jenggot putih. Beliau itu merupakan salah satu sesepuh dari Organisasi Pelindung Negeri.


Julukannya adalah Kakek Sakti Alis Tebal.


Karana para tamu sudah menyetujui niatnya, maka tanpa berlama-lama lagi, Tuan Santeno Tanuwijaya segera memulai pembicaraan seriusnya.


"Aku rasa tuan-tuan sekalian sedikit banyak sudah mengetahui maksudku. Yaitu untuk memusnahkan Organisasi Tengkorak Maut yang beberapa waktu belakang ini mengganas dan bahkan sangat membahayakan kondisi Tanah Jawa. Semoga saja atas masalah besar ini, kita semua dapat bersatu. Karena kalau dilakukan sendiri-sendiri, rasanya sangat mustahil. Apalagi menurut informasi yang berhasil aku dapatkan, setidaknya Organisasi Tengkorak Maut mempunyai anggota kurang lebih empat ratus orang yang tersebar di berbagai penjuru," kata Tuan Santeno menjelaskan.


"Mengingat masalah ini menyangkut Tanah Jawa, maka aku pastikan tiga datuk rimba hijau lainnya, akan bergabung. Entah bagaimana tanggapan tuan-tuan yang lain," kata Raja Tombak Emas dari Utara.


"Hemm, kalau para datuk saja bergabung, sudah pasti kami juga akan ikut," ucap seorang pendekar tua lainnya diikuti seorang rekan dia sendiri.


"Semua orang sepakat untuk bergabung, karena itu aku putuskan juga, Organisasi Pelindung Negeri, siap untuk bergabung bersama Perguruan Tunggal Sadewo dan yang lain untuk menghancurkan Organisasi Tengkorak Maut," ucap Kakek Sakti Alis Tebal.


Mendengar jawaban para tamu penting tersebut, baik Cakra Buana maupun Tuan Santeno Tanuwijaya dan yang lainnya, merasa senang bukan kepalang.


Mereka semua mengangguk setuju. Walaupun tidak ada bayaran dalam rencana ini, tetapi kalau menyangkut tanah air, maka hal tersebut bukanlah masalah utama.

__ADS_1


Jika masalah menyangkut tanah air, yang jahat pun bisa jadi baik. Yang hitam jadi putih. Dan yang bermusuhan, bisa jadi bergabung.


Terkadang dalam hidup ini, masalah memang diperlukan untuk menyadarkan manusia yang mulai lalai.


__ADS_2