
Malam semakin larut. Semilir angin laut berhembus dingin dan mesra menerpa tubuh. Suara burung hantu dan jangkrik terdengar bersahutan. Satu persatu pengunjung mulai keluar dari rumah makan tersebut.
Yang ada di sana tinggal beberapa orang saja. Itupun jarang ada yang berbicara, karena mereka sedang menikmati kehangatan yang diberikan oleh kendi arak ataupun tuak.
Cakra Buana dan Sinta Putri pun diam. Belum ada yang bicara lagi dari kedua mulut mereka. Si gadis cantik itu menggosokkan kedua telapak tangannya lalu ditempelkan ke pipi kanan dan kiri untuk mengurangi rasa dingin.
Cakra Buana yang sedari tadi diam, bahkan mulai mengantuk, kini mendadak segar. Begitu dua pipi gadis itu bersemu merah, Cakra Buana semakin terbengong. Dia terlihat semakin cantik dengan pipi kemerahan itu.
"Apakah kau kedinginan?" tanya Cakra Buana dengan polos.
Siapapun yang mengatakan hal ini di hadapan wanita maha cantik, kalau tidak pria bodoh, sudah pasti pria gerogi sehingga bingung mencari pembicaraan lain.
Dalam hati penulis, dia ingin sekali memaki Cakra Buana. Seseorang yang menggosokan kedua telapak tangan lalu ditempelkan ke pipi, ya sudah pasti kedinginan. Mana ada orang gerah melakukan hal seperti itu?
Mendengar perkataan konyol Cakra Buana, Bidadari Tak Bersayap hanya tersenyum lalu menggeleng kepalanya pelan.
"Lalu kenapa kau melakukan hal itu?" tanya Cakra Buana mulai dibuat penasaran lagi.
"Aku lapar," jawab si gadis dengan polos juga.
"Sebentar lagi makanan sudah siap. Tapi, aku baru pertama kali melihat orang lapar menggosokkan telapak tangan lalu di tempel ke pipi," ujar pemuda itu kebingungan.
"Hihihi," suara tertawa lembut Bidadari Tak Bersayap terdengar lagi. "Kakang, lagi pula kenapa kau bertanya hal seperti itu? Di mana-mana orang yang melakukan hal seperti ini sudah pasti kedinginan. Kau malah bertanya lagi. Bukankah itu konyol?"
Cakra Buana terdiam lagi. Rasa malunya bertambah bertumpuk-tumpuk. Dia mati kutu di hadapan wanita cantik dan amat pintar ini. Seumur hidup, rasanya Cakra Buana baru mengalami hal seperti ini.
"Emm, bisa saja kau melakukannya karena alasan lain," katanya tidak mau kalah.
"Mungkin memang bisa. Tapi hampir semua orang melakukan hal ini karena merasa kedinginan," jawab Sinta Putri.
Cakra Buana diam lagi. Dia benar-benar merasa menjadi orang bodoh. Tangannya lalu menuangkan arak di kendi kepada cangkir kecil dari bambu.
"Kau tidak suka minum tuak atau arak?"
"Tidak,"
"Kenapa? Padahal ini enak. Apalagi kalau keadaan dingin seperti sekarang ini. Sangat cocok sekali,"
__ADS_1
"Aku kurang menyukai arak. Apakah enak?"
"Tentu saja. Nanti tenggorokan dan perutmu akan terasa hangat. Mau coba?"
Bidadari Tak Bersayap nampak ragu. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya dia mengangguk pelan.
"Boleh, tapi aku hanya ingin mencobanya sedikit saja,"
"Baik,"
Cakra Buana mengambil cangkir dari bambu. Kemudian dia segera menuangkan arak sedikit.
Bidadari Tak Bersayap menerimanya, lalu dengan perlahan dia mencoba untuk minum.
Tak berapa lama setelah arak masuk ke tenggorokan, gadis cantik itu mengernyitkan keningnya.
"Rasanya aneh sekali,"
"Kalau baru mencoba, memang akan terasa aneh," kata Cakra Buana yang terus meminum araknya.
Cakra Buana terbengong. Dia tidak menyangka akan mendapatkan hal seperti ini. Bagaimanapun juga, tentu saja dia tidak akan menolak. Pemuda itu mengangguk lalu menyodorkan cangkir.
Si gadis menuangkan arak dengan gerakan lemah gemulai dan lembut. Selembut kulitnya yang putih.
Walaupun tidak terlihat jelas, tapi gadis itu melihat bahwa cangkir sedikit bergetar. Dia diam saja, pura-pura tidak tahu. Setelah cangkir penuh, Cakra Buana segera mendekatkannya ke mulut.
Sedangkan si gadis langsung menopang dagu dengan kedua telapak tangan di meja, memperlihatkan Cakra Buana yang akan minum.
"Kenapa kau melihatku?" tanya Cakra Buana kembali gugup.
"Tidak. Aku hanya ingin melihat pria tampan minum," jawabnya sedikit menggoda.
Cakra Buana benar-benar merasa senang. Entah semalam pernah bermimpi apa sehingga mendapatkan rezeki nomplok. Tapi di balik itu, kegugupannya juga tidak kalah besar dengan rasa senangnya.
Karena terus dipaksa, Cakra Buana pun mulai minum. Tapi matanya tidak menatap cangkir. Sebaliknya, mata itu justru menatap wajah bidadari di depannya.
"Hihihi," Bidadari Tak Bersayap tertawa cekikikan sambil menutup mulut dengan tangan.
__ADS_1
Awalnya pemuda itu tidak sadar dan masih memandangi wajah yang semakin cantik ketika tertawa tersebut. Tapi kemudian, dia baru menyadari bahwa kejadian yang paling memalukan dari hal apapun, baru saja terjadi.
Cangkirnya memang menempel ke mulut. Tapi araknya tidak masuk ke tenggorokan. Melainkan arak itu malah bercucuran jatuh ke meja sehingga terdengar suara gemercik air.
"Kalau minum jangan melamun," kata si gadis sambil menggoda.
"Euu, aaanu, anu,"
Cakra Buana tidak bisa menyelesaikan bicaranya. Dia malu semalu-malunya. Kalau tadi hanya malu, mungkin yang sekarang dia rasakan adalah buyutnya malu.
Kalau sampai para pendekar mengetahui kejadian ini, sudah pasti dia akan menjadi bahan tertawaan semua orang.
Dia dikenal sebagai seorang pendekar ternama, terkenal sakti dengan ilmunya yang dahsyat, dan tidak pernah merasa takut terhadap pertarungan apapun. Tapi malam ini, dia sudah dibuat malu bahkan tubuhnya dibuat bergetar hanya karena berhadapan dengan seorang gadis.
Harga diri Cakra Buana terasa jatuh. Kalau tubuhnya hanya terbuat dari lilin, mungkin sekarang dia sudah meleleh menjadi cair karena tidak kuat menahan malu.
Untung bahwa saat itu masakan sudah datang. Tanpa banyak basa basi lagi, keduanya segera melahap makanan hangat tersebut. Cakra Buana makan lebih dulu supaya dia tidak melakukan tindakan bodoh lagi.
Selesai makan, keduanya masih diam di sana dan bicara beberapa hal. Terutama sekali Bidadari Tak Bersayap yang menanyakan ke mana tujuan Cakra Buana selanjutnya.
"Aku akan mencari informasi lebih jelas tentang fitnah yang menimpa diriku. Sebelum aku melakukan tugas lainnya, aku harus membersihkan dulu persoalan ini supaya tidak menjadi penghalang," kata Cakra Buana.
"Benar. Bagaimanapun juga, kau harus bisa membersihkan kembali namamu," ucap Bidadari Tak Bersayap.
"Tentu, itu sudah pasti akan aku lakukan secepat sedekat mungkin. Siapapun yang berada di balik semua masalah ini, aku tidak akan mengampuninya," kata Cakra Buana berubah tegas dengan semangat berkobar.
"Aku suka pria sejati sepertimu," ucap Bidadari Tak Bersayap.
"Terimakasih," jawabnya sambil menunduk karena Cakra Buana belum berani lagi menatap wajahnya.
"Kau mau aku tuangkan arak lagi?" tanyanya menggoda.
"Ah, tidak, tidak. Terimakasih," ujar si pemuda buru-buru menolak.
"Gara-gara arak aku sampai menanggung malu sebesar ini. Haishh, mau ditaruh di mana mukaku kalau semua pendekar tahu," gumam Cakra Buana lirih.
Pemuda itu tidak sadar bahwa gadis di hadapannya pun mendengar gumaman lirihnya. Hanya saja dia memilih untuk diam sambil menahan tawanya.
__ADS_1