Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Perguruan Tunggal Sadewo II


__ADS_3

Semua hidangan sudah tersedia di meja yang telah disiapkan. Selanjutnya, Tuan Santeno Tanuwijaya segera memperkenalkan mereka kepada kedua tamu istimewanya tersebut.


"Perkenalkan kisanak dan nisanak, ketiga gadis ini merupakan sebagian murid dari Perguruan Tunggal Sadewo, yang ini namanya Sri Ningsih, ini Retno Kumaringin, dan ini Rinjani," katanya memperkenalkan ketiga gadis cantik tersebut.


Ketiganya segera bersalaman dengan Bidadari Tak Bersayap. Seorang demi seorang bsrsalaman. Ketiganya terlihat nampak mengagumi kecantikan Sinta Putri.


Hal ini baginya sudah biasa. Jangankan manusia, mungkin para dewa sekalipun turut mengaguminya.


Di mata Cakra Buana, yang paling cantik di antara ketiganya adalah gadis bernama Sri Ningsih. Nama yang di ambil dari salah satu nama Dewi. Dewi Sri. Atau yang biasa dikenal dengan sebutan Dewi Padi.


Saat kedua gadis lain bersalaman dengannya, Cakra Buana masih mampu bersikap tenang. Walaupun keduanya memberikan senyuman, dia masih dapat menguasai diri.


Tetapi, lain ceritanya ketika giliran Sri Ningsih yang bersalaman. Senyumannya sungguh manis. Semanis madu. Satu lesung pipinya menambah pesona lain. Jentik bulu matanya, gincu merahnya. Semuanya sangat pas dengan wajah dia.


Belum lagi bentuk tubuh yang tidak kalah menggairahkan. Walaupun belum cukup untuk disejajarkan dengan Bidadari Tak Bersayap, tapi juga nampaknya Sri Ningsih tidak terlalu berbeda jauh.


Sikapnya kalem dan sopan. Namun justru di balik semua itu, ada sebuah energi lain yang mampu menarik setiap kaum pria.


Keduanya bersalaman cukup lama. Masing-masing melemparkan senyuman termanis yang mereka miliki.


"Eheemm …"


Suara merdu gadis memecah keheningan dan kedua muda-mudi tersebut.


Siapa lagi kalau bukan suara dari Bidadari Tak Bersayap?


Baik Cakra Buana maupun Sri Ningsih, keduanya sama-sama terkejut. Tanpa terasa tangan mereka yang tadi menempel, kini langsung di tarik kembali.


"Ah, maaf, maaf. Aku tersedak," kata Bidadari Tak Bersayap lalu minum kembali kopi pahit yang tadi dihidangkan.

__ADS_1


Tetapi sebelum minum kembali, matanya sempat melirik ke arah Cakra Buana. Lirikannya tenang. Bahkan sambil tersenyum pula. Hanya saja di balik semua itu, bagi Cakra Buana khususnya, gadis tersebut telah berubah.


Berubah menjadi seekor harimau betina yang sedang marah dan siap menerkam.


Cakra Buana langsung kikuk. Dia pura-pura tidak melihat lalu mendadak terdiam.


"Tuan, apakah kau bisa menjelaskan terkait jasa Pendekar Pedang Kesetanan kepada Perguruan Tunggal Sadewo seperti yang kau ceritakan sebelumnya?" tanya Sinta Putri.


Tuan Santeno sendiri cukup terkejut. Karena dirinya hampir lupa tentang hal tersebut. Mungkin karena banyak beban yang sedang dia tanggung saat ini.


"Ah, maaf nisanak. Aku lupa," kata Tuan Santeno. Dia menyeruput kopi hitam sebelum melanjutkan bicaranya.


"Pendekar Pedang Kesetana memang telah berjasa. Sebab dia sudah memberitahu kami siapa pelaku pembunuh anakku yang sebenarnya. Bahkan dia juga memberikan bukti dan gambaran yang kuat,"


"Bukankah pelakunya si Manusia Kejam Langkah Seribu dan Manusia Berhati Batu?" tanya Cakra Buana keheranan.


Bukankah memang demikian? Toh maha guru itu sendiri yang sebelumnya bicara.


"Hemm, apakah yang tuan maksudkan adalah si Hantu Tanpa Wajah dan Manusia Pasir Besi Panas?" tanya Cakra Buana.


"Tepat. Bagaimana kisanak tahu?"


"Sebelumnya ketika aku dan beliau menemukan mayat Tuan Muda Margono Tanuwijaya dalam kamarku, paman Giwangkara telah menyebutkan nama dua tokoh tersebut. Menurutnya, mereka juga turut menyelamatkan Ratih Kencana. Mungkin juga bersama gurunya dan si Manusia Kejam Langkah Seribu sendiri. Tetapi aku belum percaya sepenuhnya. Baru sekarang aku mengetahui bahwa mereka benar-benar terlibat. Kalau begini caranya, orang-orang yang ingin aku tewas ternyata banyak juga dari tokoh kelas atas," kata Cakra Buana menjelaskan secara singkat.


Semua orang yang ada di sana mengangguk. Mereka setuju terkait ucapan Cakra Buana bahwa banyak orang yang ingin dia tewas.


Bahkan sebelumnya Perguruan Tunggal Sadewo sendiri menginginkan hal yang sama. Tetapi semua itu segera berubah ketika Pendekar Pedang Kesetanan menjelaskan semuanya secara gamblang.


"Kisanak benar. Aku sendiri sempat tidak percaya bahwa si Manusia Kejam Langkah Seribu turut terlibat. Tapi setelah mendengar pengakuan dia sendiri, seketika itu juga aku langsung menyimpulkan bahwa ada juga orang-orang yang ingin menghancurkan perguruanku," kata Tuan Santeno kepada Cakra Buana.

__ADS_1


"Lewat apa Paman Giwangkara menjelaskan semuanya kepada tuan?"


"Dia datang sendiri kemari. Bahkan dia juga yang memberitahu markas cabang Organisasi Tengkorak Maut. Dia pula yang menyuruhku untuk ke sana sekedar memastikan. Dan yang terpenting, dia menyuruhku ke sana untuk melindungi kisanak,"


"Degg …" jantung Cakra Buana berdetak kencang. Tubuhnya bergetar hebat ketika mendengar ucapan barusan.


Sungguh, dia tidak pernah menyangka sama sekali bahwa Pendekar Pedang Kesetanan berbuat sedemikian jauhnya. Cakra Buana semakin merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan nyawanya.


"Dia sungguh orang yang luar biasa. Aku harus membalaskan kebaikannya dengan cara menghabisi manusia-manusia iblis itu," ucap Cakra Buana dengan penuh amarah.


"Kisanak benar. Memang sudah seharusnya kita segera bertindak supaya semuanya kembali seperti sedia kala. Ah, jya, sebelumnya kami juga meminta maaf karena terlalu cepat dalam mengambil keputusan. Sehingga kami telah berani menjadikan kisanak sebagai buronan," ujar Tuan Santeno dengan tulus meminta maaf kepada Cakra Buana.


Pendekar Tanpa Nama tentu menerima permintaan maaf tersebut. Bahkan tidak terlihat ada dendam secuil pun dalam hatinya.


"Tuan tidak perlu seperti itu. Aku bahkan sudah melupakan semuanya. Hanya saja aku berharap ke depannya, kita bisa menjalin hubungan baik,"


"Tentu, tentu sekali kisanak. Kau jangan khawatir, kalian berdua sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Kapan pun, kalian boleh datang kemari," ujarnya menyambut perkataan Cakra Buana penuh rasa gembira.


Siapa yang tidak ingin mempunyai hubungan baik dengan seorang pendekar kelas atas seperti Cakra Buana? Dan siapa pula yang tidak ingin menjalin hubungan baik dengan perguruan besar?


Siapapun sudah pasti mau.


Mereka melanjutkan kembali berbicara berbagai macam hal ringan. Engah itu terkait perguruan, mauapun keadaan dunia persilatan.


"Langkah apa yang akan tuan ambil selanjutnya untuk menangani masalah ini," tanya Bidadari Tak Bersayap.


"Belum jelas. Namun yang pasti, dalam waktu dekat ini, aku akan mengumpulkan orang-orang yang ada di pihak kita. Atau kalau perlu, aku akan mengundang beberapa petinggi Organisasi Pelindung Negeri untuk membahas terkait Organisasi Tengkorak Maut. Menurut nisanak, bagaimana niatku ini, apakah baik?"


"Sangat baik sekali. Lebih cepat, lebih baik. Karena kalau didiamkan terlalu lama, mereka akan semakin gencar melancarkan aksinya. Bukan tidak mungkin bahwa Organisasi Tengkorak Maut akan merekrut para tokoh rimba hijau lainnya," jawab Bidadari Tak Bersayap.

__ADS_1


Semua orang setuju dengan ucapan gadis cantik itu. Untuk melawan sebuah organisasi yang besar dan terkenal hebat, sudah pasti akan melibatkan orang banyak pula.


__ADS_2