Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Lima Belas Pusaka Dan Dua Pedang


__ADS_3

Kali ini giliran Pendekar Pantai Selatan yang terkejut. Dia pun seperti halnya Cakra Buana, merasa aneh dan asing saat melihat jurus yang digunakan oleh Pendekar Maung Kulon itu.


Cakra Buana menyerang dengan gerakan yang kaku. Tapi anehnya, hawa yang terkandung dalam setiap serangan itu terus bertambah besar seiring berjalannya waktu.


Dua jurus silat yang lentur dan kaku bertemu. Para pendekar yang menonton dibuat takjub. Tak ada yang bisa berkomentar. Bahkan termasuk Sepasang Kakek dan Nenek Sakti pun kaget.


Dia masih ingat bahwa dahulu, Cakra Buana tidak sehebat ini. Tapi kenapa sekarang dia bisa bertambah hebat dengan waktu singkat? Dua tokoh tua itu tidak tahu bahwa Cakra Buana jarang mengeluarkan kekuatan aslinya jika memang tidak terdesak.


Pendekar Pantai Selatan semakin terpojok. Beberapa kalo tangan dan kakinya beradu dengan lawan, tapi dia merasakan kesakitan. Bukan seperti berbenturan dengan tangan atau kaki, tapi seperti berbenturan dengan baja.


"Bukkk …"


"Bukkk …"


"Ahhh …"


Pendekar Pantai Selatan terpental. Dia langsung muntah darah ketika pukulan tangan kanan Cakra Buana mengenai dadanya.


"Belum selesai, jangan dulu berpikir yang bukan-bukan," kata Cakra Buana yang entah bagaimana bisa tiba-tiba ada di depannya.


"Serangan Kedelapan …"


"Bukkk …"

__ADS_1


Cakra Buana memukul bagian leher Pendekar Pantai Selatan. Dia terpelanting lalu jatuh kembali. Pendekar kenamaan itu mencoba untuk bangun lalu bersiap. Tapi lagi-lagi tidak sempat karena Cakra Buana sudah kembali ada di hadapannya.


"Serangan Kesembilan. Gerak Penghancur …"


"Wuttt …"


"Bukkk …"


"Brakkk …"


"Ahhh …"


Pendekar Pantai Selatan terpental hingga tiga tombak. Tubuhnya menabrak satu buah pohon besar hingga roboh. Semua yang ada di sana seperti tercekat melihat sepak terjang pendekar muda tersebut.


Ketika Cakra Buana berniat untuk membunuhnya, tiba-tiba saja lima belas pendekar kelas atas menghadangnya. Dari sekian puluh yang hadir, hanya lima belas pendekar saja yang ambil tindakan.


Sepertinya pendekar yang lain lebih memilih diam karena mereka masih sayang nyawanya. Bagaimana tidak? Orang sekelas Pendekar Pantai Selatan saja bisa dibuat tak berdaya, apalagi mereka yang masih kelas teri?


Agaknya yang berlaku nekad itu hanyalah mereka yang sudah tidak memperdulikan hal lain. Kelima belas pendekar tersebut berdiri dengan senjatanya masing-masing. Tak mau kalah, Sepasang Elang Merah dari Selatan pun turut melompat ke arena.


Keduanya langsung menuju ke Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Ling Zhi pun turut andil. Dia melenting lalu mendarat tepat di pinggir Cakra Buana.


"Sekarang kamilah lawanmu. Jangan berpikir kau hebat karena bisa mengalahkan Pendekar Pantai Selatan. Jika memang kau hebat, lawan kami semua," kata seorang di antara mereka.

__ADS_1


Cakra Buana tidak langsung menjawab. Dia memperhatikan kelima belas pendekar tersebut, dari semua pendekar yang hadir, memang mereka ini yang kelas atas. Meskipun tingkata kekuatannya ada yang satu atau dua tingkat di bawahnya, tapi jika maju serempak seperti sekarang, maka akan sama atau sedikit lebih merepotkan daripada melawan Pendekar Pantai Selatan.


Untung saja ada Ling Zhi di sampingnya. Karena itulah Cakra Buana tidak perlu mengeluarkan semua kemampuannya hinga tahap akhir untuk menghadapi mereka ini.


"Kalau memang kalian ingin mencoba, majulah. Aku dan wanitaku sudah siap untuk menjadi malaikat maut bagi kalian. Keluarkan semua kemampuan yang kalian miliki. Aku ingin melihat sampai di mana kekuatan orang-orang bodoh seperti kalian ini," kata Cakra Buana sengaja memancing emosi semua lawan.


Niatnya berhasil. Seketika itu juga, lima belas pendekar kelas atas tersebut langsung merasakan darahnya naik ke muka. Wajah mereka memerah, bahkan ada sebagian pendekar yang mengepulkan asap tipis.


Serempak kelima belas pendekar tersebut langsung mencabut senjatanya masing-masing. Mulai dari pedang, hingga tongkat, semuanya lengkap. Tenaga dalam sudah di salurkan ke senjata pusaka masing-masing.


Ling Zhi tak mau kalah, wanita muda itu pun turut mengambil sikap kuda-kuda. Tak tanggung-tanggung, dia langsung mencabut pedang yang tersoren di punggungnya. Pedang itu bergagang merah dan memiliki motif berbagai macam bunga.


Pedang itu adalah pusaka baru bagi Ling Zhi. Dia memberikan nama Pedang Bunga. Pusaka tersebut merupakan sebuah hadiah dari Eyang Rembang ketika beberapa waktu lalu sebelum ikut Cakra Buana, dia berhasil menamatkan ajaran kitab Tujuh Jurus Bunga Kembang.


Di sisi lain, Cakra Buana pun tak mau kalah. Karena tenaganya sudah terkuras, Pendekar Maung Kulon itu turut serta mengeluarkan Pedang Pusaka Dewa.


Tangannya melepaskan kain putih pembungkus pusaka tersebut, kemudian dia menyorenkan kembali sarungnya di punggung setelah mencabut Pedang Pusaka Dewa.


Pamor dari pusaka itu langsung keluar. Asap kehitaman muncul lalu menekan tempat sekitar. Semua pendekar yang ada di sana merasa gentar ketika melihat pamor Pedang Pusaka Dewa.


Apa boleh buat, mundur rasanya tidak mungkin. Dengan bermodalkan harapan dan nekad, kelima belas pendekar itu langsung menyerang secara serentak.


Udara tiba-tiba menjadi panas seperti terbakar ketika semua energi menyatu. Kelima belas pendekar sudah maju menyerang. Mereka terbagi menjadi dua. Sepuluh menyerang Cakra Buana, sisanya yang lima menyerang Ling Zhi.

__ADS_1


Cakra Buana dan Ling Zhi pun sudah siap dengan semua serangan tersebut. Keduanya mengumpulkan tenaga dalam dengan jumlah besar. Pertarungan dimulai. Lima belas pusaka akan bertarung dengan dua pedang.


__ADS_2