Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Keyakinan Cakra Buana


__ADS_3

Gadis itu semakin terperanjat kaget. Ada apa dengan tubuhnya? Kenapa tiba-tiba dia tidak bisa menggunakan tenaga dalamnya? Dan kenapa pula tubuhnya mendadak lemas seperti sekarang ini?


Wajahnya memucat kembali. Tatapan tidak percaya dia perlihatkan kepada Cakra Buana.


"A-apa yang sudah kau lakukan terhadapku?" tanya Ratih Kencana dengan bibir bergetar.


"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Cakra Buana sambil tersenyum.


"Kau jangan berbohong. Cepat katakan!" bentak gadis itu.


Cakra Buana tersenyum. Dia memandangi gadis cantik yang ada di hadapannya saat ini.


"Kau itu cantik. Tapi sayang hatimu tidak sama dengan wajahmu," ujar Cakra Buana dengan tenang.


"Jangan banyak bicara. Cepat katakan apa yang sudah kau perbuat dan apa yang kau inginkan?" tanyanya semakin geram.


"Tenang saja. Aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya menutup tenaga dalammu saja. Jadi bagaimanapun kau berusaha mengeluarkan tenaga dalam, hasilnya akan tetap sama. Aku hanya ingin kau bercerita tentang rencana apa saja yang telah kau persiapkan atas diriku?" tanya Cakra Buana penuh selidik.


Ratih Kencana terdiam. Dia tidak mampu memutuskan hal itu tanpa berpikir terlebih dahulu. Tapi di sisi lain, bagaimana caranya dapat kembali seperti semula jika tidak menceritakan apa yang diinginkan pemuda itu?


Pada akhirnya setelah berpikir cukup lama, Ratih Kencana mulai menceritakan semuanya.


"Kami memang merencanakan sesuatu untukmu. Orang-orang yang setahun lalu mempunyai masalah denganmu, kini mereka akan kembali mencarimu untuk membalaskan dendam dan juga menuntaskan masalah itu. Sebenarnya kau memang berubah total. Bahkan wajahmu hampir saja tidak bisa dikenali oleh orang lain. Tetapi bagiku, tetap bisa tahu bahwa itu memang kau. Cakra Buana. Seorang pendekar yang setahun belakangan banyak berselisih dengan pendekar Tanah Jawa. Terlebih lagi mereka yang sempat membantu Kerajaan Kawasenan dan pendekar aliran hitam,"


"Hanya sayangnya kau dulu sempat menghilang dan kami mengira bahwa kau sudah tewas. Siapa sangka sekarang malah kembali lagi, dengan penampilan dan nama yang berbeda pula. Terlebih lagi ilmumu meningkat sangat pesat. Karena itulah aku berniat untuk meracunimu mewakili orang-orang yang mempunyai dendam kepadamu. Tidak disangka malah mengalami kegagalan. Dan sekarang, di manapun kau berada, orang-orang itu akan selalu mengingtaimu," kata Ratih Kencana menjelaskan panjang lebar rencananya bersama para pendekar lain.


Seperti diberitakan sebelumnya bahwa Cakra Buana akan membalaskan dendam kematian para pendekar yang membantu Kerajaan Tunggilis. Selain itu, dia juga akan membalaskan dendam kematian kekasihnya, Ling Zhi.


Dan sebagian dendamnya sudah dia balaskan, meskipun belum tuntas sepenuhnya. Tak nyana, justru sahabat ataupun keluarga orang-orang yang telah dia bunuh, malah mencari dirinya.


Pada akhirnya Cakra Buana paham bahwa dendam hanya akan mendatangkan masalah bagi hidup seseorang. Bahkan mungkin sampai mati, dan hingga ke generasi berikutnya, dendam itu akan terus bertumbuh dan tertanam dalam jiwa manusia jika tidak segera mengakhirinya.

__ADS_1


Sebenarnya Cakra Buana sendiri sudah hampir melupakan dendamnya. Terlebih karena dia sudah belajar banyak tentang kehidupan saat terjebak di lembah beberapa waktu lalu.


Tetapi mau bagaiamana lagi? Saat dia sudah melupakan, ternyata orang-orang masih ada saja yang mencarinya. Bahkan mungkin jumlahnya tidak sedikit.


Tapi apakah dia takut? Apakah dia akan lari atau menghindar?


Tidak. Pemuda itu tidak akan lari ataupun menghindar. Sebaliknya, Cakra Buana akan menghadapi semuanya sampai titik darah penghabisan. Kalau ditakdirkan dia bisa melewati semua masalahnya, maka semua pasti akan terlewati. Kalau memang ditakdirkan dia harus mati, Cakra Buana sendiri tidak takut.


Toh semua manusia pada akhirnya akan mati juga bukan?


Berpikir sampai di situ, jiwanya kembali tenang. Senyuman dari pria jantan kembali mekar.


"Singkatnya, orang-orang itu menginginkan nyawaku bukan?" tanya Cakra Buana dengan tenang.


"Tepat. Ke mana pun kau pergi, akan ada saja orang-orang yang ingin membunuhmu," ucao Ratih Kencana serius.


"Baiklah," jawabnya tersenyum lembut.


"Tidak sama sekali,"


"Kau akan lari?"


"Tidak. Justru dengan senang hati aku akan menghadapi mereka semua," jawabnya penuh percaya diri.


"Kau sangat yakin sekali, bisa menghadapi seorang diri,"


"Aku tidak yakin untuk tidak terkalahkan. Tapi aku yakin atas kemampuanku yang sekarang. Dan aku juga yakin mampu menghadapi semuanya," katanya memperlihatkan sifat gagah seorang pendekar.


Setelah itu, Cakra Buana segera duduk bersila di pembaringan untuk memusnahkan racun yang diberikan oleh Ratih Kencana. Untungnya dia tahu bagaimana menangani Racun Pemutus Nyawa.


Setelah beberapa saat duduk bersila untuk menghimpun tenaga dalam dan menyalurkan hawa murni, racun pun musnah tanpa sisa. Tubuhnya kembali segar. Bahkan jauh lebih segar daripada sebelumnya.

__ADS_1


Semua racun sudah sirna. Tubuh sudah segar bugar. Maka Cakra Buana segera membebaskan Ratih Kencana supaya dia bisa bergerak lagi. Sebagai pendekar sejati, tentu saja dia harus menepati janji yang sudah dibuatnya sendiri.


"Terimakasih," jawab Ratih Kencana.


"Tidak perlu seperti itu. Maaf aku sudah sedikit kasar," jawab Cakra Buana.


"Silahkan kalau memang kau mau pergi," lanjutnya.


Tapi Ratih Kencana masih terdiam. Bahkan dia memandang pemuda itu lekat-lekat.


"Kenapa belum juga pergi? Apakah masih ingin mencoba untuk membunuhku?" tanyanya.


"A-aku, aku mau minta maaf atas apa yang sebelumnya aku lakukan. Aku mengerti sekarang bahwa kau bukanlah pendekar yang pengecut seperti orang bilang, justru ternyata kau pendekar sejati," kata gadis itu dengan tulus.


"Tidak masalah. Terimakasih sudah memujiku. Aku merasa belum pantas menerima pujian itu," jawabnya lembut.


"Cakra … a-aku …" Ratih Kencana tidak meneruskan perkataannya.


Cakra Buana hanya diam saja sambil memandangi wajahnya. Tetapi tidak berapa lama, tubuhnya mencelat ke atas membobol genteng penginapan.


Dia melihat dua bayangan orang pergi dari sana. Entah siapa gerangan. Tapi yang jelas, mereka pasti bukanlah pendekar sembarangan. Apalagi langkah mereka sangat ringan sehingga Cakra Buana sendiri terlambat menyadari kehadiran dua orang tersebut.


Karena terdorong oleh rasa penasarannya, Cakra Buana memutuskan untuk mengejar orang itu. Dengan ilmu meringankan tubuh yang dia miliki sekarang, bukan perkara sulit untuk mengetahui jejak mereka.


Dia melesat secepat angin. Tubuhnya menyatu bersama terjangan angin itu. Sehingga baru beberapa tarikan nafas saja, Cakra Buana sudah hampir tiba di sebuah hutan. Hutan yang dia yakini sebagai jalan pelarian dia orang tadi.


Cakra Buana berdiri sebentar di tepi hutan tersebut. Dia bukan orang sini, jadi tidak semua tempat bisa dia ketahui.


Namun lagi-lagi rasa penasaran mengalahkannya, sekali menjejak tanah, tubuhnya kembali memburu kedua orang tadi.


Pakaian serba merahnya berkibar tertiup angin. Dia berlari di tengah hutan mengikuti jejak yang dia dapatkan dari dua orang tadi. Hidup di tengah binatang selama hampir satu tahun membuat indera penciumannya meningkat tajam.

__ADS_1


Sekarang penciumannya tidak berbeda jauh seperti seekor harimau. Hanya dengan mencium baunya saja, Cakra Buana bisa mengetahui ke mana mereka pergi.


__ADS_2