
Hari sudah menunjukkan pagi. Suasana di hutan sudah ramai karena burung-burung dan binatang lainnya yang siap menyambut datangnya pagi. Cakra Buana sudah bangun dari tidurnya. Saat ini dia sedang melakukan rutinitas biasanya, yaitu merebus singkong dan menumbuk kopi hitam untuk dirinya dan juga untuk ki Wayang Rupa Sukma Saketi.
Semalam, Cakra Buana tidak dapat tidur dengan nyenyak. Bagaimanapun juga, hatinya terus berkecamuk dipenuhi berbagai pertanyaan. Tubuhnya panas dingin setelah mendengar semua penuturan eyang gurunya.
Tapi meskipun begitu, justru hal itulah yang membuatnya bersemangat untuk melakukan pengembaraan lagi. Tekadnya semakin bulat untuk bisa menyatukan tanah Pasundan kembali. Apalagi sekarang dia sudah mengetahui bahwa dirinya adalah seorang putera raja. Seorang pangeran. Maka sudah menjadi kewajibannya untuk merebut kembali kekuasaan yang dulu dipegang oleh orang tuanya, namun kini diambil alih oleh iblis yang menjelma jadi manusia.
Cakra Buana sudah selesai merebus singkong dan menyiapkan kopi hitam. Ki Wayang pun sudah duduk sambil menikmati hidangan tersebut. Cakra Buana lalu duduk di pinggir kakek tua itu.
"Cakra, apakah kau sudah siap untuk melanjutkan perjalananmu kembali?" tanya ki Wayang disela-sela menikmati singkong rebus dan seduhan kopi hitam buatannya.
"Aku sudah siap eyang. Bahkan aku sudah tidak sabar lagi untuk segera mengembara," jawab Cakra Buana.
"Bagus. Memang seharusnya begitu cucuku. Tapi ingat, lakukan semua hanya semata-mata karena tugas dsn kewajiban belaka. Jangan ada rasa dendam dan jangan biarkan dendam itu tumbuh dalam hatimu. Sebab, jika manusia sudah ditumbuhi rasa dendam dan penyakit hati lainnya, maka apapun yang dilakukannya pasti didasari oleh rasa dendam dan sebagainya. Berbuatlah sewajarnya, berbuatlah atas dasar rasa tanggungjawab. Bersihkan hatimu dari segala penyakit hati, maka kau akan menjadi manusia."
"Jika kau sudah pergi mengembara, jangan berhenti untuk belajar menjadi manusia yang selayaknya manusia,"
"Maksud eyang? Bukankah aku sudah berupa manusia eyang? Aku tidak faham apa yang eyang katakan. Mohon maaf atas kedangkalan ilmu yang aku miliki eyang," jawab Cakra Buana.
"Benar. Kau memang berupa manusia, bukan binatang ataupun sebagainya. Tapi itu hanyalah luarnya saja. Apakah "dalam"mu sudah menjadi manusia juga? Siapapun bisa bicara bahwa dia manusia, tapi itu hanya dilihat sekilas saja. Jika diperhatikan secara lebih, maka yang nampak berupa manusia, belum tentu memang manusia. Luarnya manusia, tapi didalamnya belum tentu."
"Dalam diri manusia, selalu tumbuh sifat-sifat binatang. Nafsu-nafsu binatang selalu tumbuh dalam diri manusia. Begitupun dengan nafsu-nafsu setan. Semuanya tumbuh dalam diri setiap manusia. Coba sekarang eyang tanya padamu, sifat serakah, sifat angkuh, sifat menyombongkan diri, sifat bertindak tanpa berpikir lebih dulu, itu semua sifat-sifat yang biasanya dimiliki siapa?"
__ADS_1
Cakra Buana termenung sesaat. Pikirannya melayang jauh mengartikan maksud perkataan eyang gurunya tersebut.
"Itu semua merupakan sifat binatang dan sifat setan, eyang. Setan sangat suka menyombongkan diri, dan binatang terkenal dengan sifat yang serakah," jawab Cakra Buana setelah menemukan jawaban atas pertanyaan ki Wayang.
"Nah, sekarang eyang tanya lagi, apakau sifat-sifat itu ada dalam diri manusia?"
"Pasti ada eyang,"
"Kalau ada, apakah manusia yang seperti itu pantas disebut manusia?"
"Kalau dilihat secara lebih … tentu saja tidak eyang,"
"Bagus. Berarti kau faham apa yang eyang maksud tentang "manusia belum tentu manusia"?"
"Tepat. Kau cerdas cucuku,"
"Hemmm … tapi eyang, bukankah sifat-sifat itu sudah ada sejak lahir? Bukankah kita tidak bisa menghilangkan sifat-sifat tersebut?"
"Betul. Apakah eyang bilang bahwa kita harus bisa menghilangkan sifat-sifat itu? Tidak cucuku. Kita tidak perlu menghilangkan sifat-sifat tersebut. Karena sampai kapanpun sifat-sifat itu tidak akan bisa dihilangkan. Akan tetapi maksud eyang adalah kuasai sifat-sifat tersebut. Jika kau sudah biasa menguasainya, maka "mereka" akan memberikan manfaat kepadamu,"
"Ah … aku mengerti maksud eyang. Terimakasih atas wejangan eyang guru," kata Cakra Buana menghaturkan rasa terimakasihnya.
__ADS_1
"Semoga kau bisa menguasi mereka cucuku. Nah, mentari sebentar lagi menampakkan diri. Kau bersiaplah, pergilah ke kerajaan Tunggilis. Karena hanya kerajaan itu saja satu-satunya kerajaan yang masih dipimpin oleh seseorang yang adil. Pula, dia itu masih terhitung keluarga ayahmu. Dia pamanmu, perkenalkan dirimu maka dia akan mengenali siapa kamu. Berjuanglah dengannya untuk mewujudkan impian yanh sangat mulia ini," kata ki Wayang.
Lagi-lagi Cakra Buana dibuat terkejut. Akan tetapi dengan cepat dia menguasai dirinya kembali.
"Ah … baiklah eyang guru. Aku akan menuruti perintah eyang guru,"
Ki Wayang hanya mengangguk. "Sekarang kau pergilah, maung sukma akan aku suruh untuk mengikutimu kemanapun kau pergi. Dia akan selalu menjagamu, tapi dalam jarak tertentu. Jika kau membutuhkan bantuannya, maka bersuitlah. Nanti dia akan menghampirimu dengan segera," kata ki Wayang Rupa Sukma Saketi.
"Maung sukma akan eyang suruh untuk mengikutiku? Apakah eyang tidak bercanda? Lalu … bagaimana dengan maung saketi sendiri?" tanya Cakra Buana agak terkejut.
"Kau tenanglah Cakra. Nanti kau akan tahu sendiri. Waktunya sudah tiba, sekarang pergilah. Lanjutkan perjalananmu. Eyang selalu memperhatikanmu," ucap ki Wayang memberi perintah.
Cakra Buana mengangguk. Meskipun hatinya terasa berat, tapi dia berusaha untuk melawan rasa itu. Bagaimanapun juga, Cakra Buana mengemban tugas yang sangat berat.
"Baik eyang. Restui muridmu untuk mewujudkan impian eyang dan yang lainnya. Terimakasih atas semua yang sudah eyang ajarkan dan berikan kepadaku,"
"Sama-sama muridku. Ingat semua pesanku kepadamu,"
"Baik eyang. Aku pergi dulu."
Dengan berat hati Cakra Buana melangkahkan kakinya meninggalkan tempat yang selama dua tahun menjadi rumahnya. Cakra Buana tidak membawa apa-apa kecuali Pedang Pusaka Dewa dan kepingan emas pemandian Eyang Resi Patok Pati dahulu. Dan tentunya membawa perasaan-perasaan tersendiri.
__ADS_1
"Aku akan pergi menjejak dunia. Aku akan menggengam dunia." gumamnya sambil mempercepat langkahnya.
Cakra Buana sudah lenyap dibalik rimbunnya pepohonan. Dia akan memulai sebuah langkah yang baru. Yah … langkah baru. Dan tentunya petualangan yang baru pula.