Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Kakang, Kapan Kau Akan Selesai Dari Semedimu?


__ADS_3

Pertarungan yang lebih mirip dengan pembantaian itu berhenti beberapa saat. Semua murid Perguruan Gunung Waluh yang tersisa diam mematung. Mereka bergumam dalam hatinya. Tak di nyana bahwa wanita yang dianggap lemah, ternyata malah sebaliknya. Dia bahkan mirip seperti Dewi Kematian. Sepak terjangnya membuat semua orang jeri.


Andai kata para tokoh rimba persilatan melihat pertarungan ini, mereka pun pasti merasakan apa yang dirasakan oleh semua murid Perguruan Gunung Waluh. Tapi di balik itu semua, para murid tidak tahu bahwa sekarang Ling Zhi sudah benar-benar lelah.


Tenaga dalamnya habis dia gunakan untuk melakukan pembantaian berdarah. Nafasnya semakin lama semakin tersengal. Bahkan Ling Zhi tidak dapat memegang Pedang Bunga dengan benar saking lemasnya. Tubuh gadis itu bergetar hebat. Efek terlalu memaksakan diri menggunakan tenaga dalam mulai ia rasakan sekarang.


Tatapan mata yang tadinya setajam dan sebuas harimau betina itu, kini mulai kabur. Ling Zhi merasakan kepalanya sedikit pusing. Wajahnya memucat.


Keadaan murid tunggal dari salah satu tokoh legendaris itu tak lepas dari pandangan semua murid Perguruan Gunung Waluh. Mereka yang menyaksikan kondisi tubuh Ling Zhi, mulai mengerti apa yang sudah terjadi.


"Wanita itu sudah kehabisan tenaga dalam. Kini saat terbaik untuk menyerangnya," gumam Rendra dengan tatapan penuh dendam.


Rendra menatap semua murid lainnya. Ia melihat bahwa rekan-rekannya pun mulai lelah. Namun di balik itu, para murid masih mempunyai tenaga dalam walau sisa sedikit serta memiliki dendam kesumat yang bisa dijadikan sebagai penyemangat.


"Semaunya, mari kita serang kembali wanita sialan itu. Dia mulai kelelahan. Kita serang sekarang …" Rendra berteriak lantang kepada seluruh murid perguruan.


Teriakannya itu disambut baik oleh semua murid. Mereka yang tadinya sudah menyerah, kini menjadi bersemangat lagi. Mereka yang sudah merasa lelah, seketika terasa pulih tenaganya.


"Yaa …"


"Mariii …"


"Bunuh dia …"


Semua murid Perguruan Gunung Waluh kembali bergerak. Senjata mereka masing-masing kembali di acungkan ke atas. Setelah ada komando, kesemua murid yang tersisa sekitar enam puluh orang itu langsung bergerak dengan cepat.


Di sisi lain, Ling Zhi semakin merasa tubuhnya lemah tak bertenaga. Tapi saat melihat para murid kembali maju untuk menyerangnya, mau tidak mau dia harus menghadapi mereka.


Malam semakin larut. Bulan purnama yang tadi bersinar sangat terang, kini mulai tertutup oleh awan kelabu. Suara decitan kelelawar mulai terdengar riuh. Bahkan beberapa burung gagak pun sudah terbang mengelilingi wilayah Perguruan Gunung Waluh. Seolah binatang-binatang itu ingin menyaksikan pertarungan hebat ini.

__ADS_1


"Aku harus kuat. Aku harus melindungi kakang Cakra Buana walau nyawaku jadi taruhannya. Aku pasti bisa," gumam Ling Zhi untuk meyakinkan hatinya.


Seketika itu juga, amarahnya berkobar bagaikan api besar yang siap membumi hanguskan apa saja. Tenaga Ling Zhi terisi kembali meskipun tidak banyak. Tapi setidaknya itu sedikit membantu.


"Mati kalian …" teriak Ling Zhi dengan lantang.


Setelah berkata demikian, gadis itu langsung bergerak lagi. Meskipun kecepatannya berbeda jauh dengan sebelumnya, tapi tetap saja para murid yang menyerang merasa gentar. Mereka masih ingat di saat gadis itu bergerak, maka nyawa pasti ada yang melayang.


Melihat bahwa lawannya bergerak, semua murid langsung berhenti. Mereka menanti gadis itu mendekat. Semuanya bersikap waspada. Senjata sudah siap ditebaskan, kuda-kuda telah terpasang.


"Trangg …"


"Trangg …"


Ling Zhi mulai menyerang musuh dengan jarak dekat. Pedang Bunga sudah dia gerakan dengan kekuatan penuh. Saking hebatnya, bahkan senjata musuh yang beradu dengan Pedang Bunga, hingga dibuat patah.


Lagi-lagi murid Perguruan Gunung Waluh di buat ciut nyalinya oleh Ling Zhi. Tapi di balik itu semua, mereka juga merasakan kegembiraan. Sebab semakin lama, perubahan pada diri Ling Zhi semakin terlihat jelas.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Laju cahaya yang jelas merupakan energi dari tenaga dalam seseorang itu tidak begitu cepat. Tapi karena Ling Zhi sudah lelah, dia tidak bisa bertindak lebih jauh.


Gadis blasteran itu melompat setinggi yang ia bisa untuk menghindari serangan jarak jauh tersebut. Namun sayangnya, ia gagal.


Karena gerakannya melambat, maka sebelum ia berhasil melompat tinggi, kedua energi tersebut sudah datang lebih dulu dan menghantam tubuhnya dengan telak.


"Wushhh …"

__ADS_1


"Bruggg …"


"Ahhh …"


Ling Zhi terhantam. Dia jatuh ke tanah hingga menimbulkan suara bedebum. Organ dalamnya sedikit terguncang. Dada Ling Zhi terasa sesak dan sakit. Dia memuntahkan darah segar kehitaman. Pedang Bunga terlepas dari genggaman.


"Hahaha … kena juga kau setan. Mampuslah sekarang … hahaha …," Rendra tertawa lantang. Ternyata satu dari dua energi tadi memang berasal dari dirinya sendiri.


Dengan langkah ringan, dia perlahan berjalan mendekati Ling Zhi yang kini sedang berusaha untuk bangun. Gadis itu terus memegangi dadanya yang terasa sangat sakit. Ling Zhi berhasil berdiri, ia berniat untuk mengambil pedang pusaka miliknya.


Tapi sebelum niatnya tercapai, beberapa murid Perguruan Gunung Waluh sudah menyerangnya dengan menyabetkan senjata mereka ke tubuh Ling Zhi.


"Srettt …"


"Srettt …"


Beberapa pedang menggores tubuhnya dengan sempurna. Ling Zhi jatuh terduduk kembali. Darah segar mulai keluar deras dari luka-luka itu.


"Hahaha … sekarang tiba sudah ajalmu wanita sialan. Ucapkan permohonan terakhir sebelum kau kami kirim ke neraka menyusul guru-guru kami bersama rekanmu itu," ucap Rendra dengan angkuhnya.


Ling Zhi tidak menjawab. Yang ada justru dirinya balik memandang Rendra dengan tatapan kebencian.


Saat ini dua pendekar muda itu sudah kembali di kelilingi oleh semua murid Perguruan Gunung Waluh. Tinggal menunggu perintah, maka semua murid akan membunuh Cakra Buana dan Ling Zhi.


"Kakang, kapan kau akan selesai dari semedimu? Bangunlah kang, aku sudah tidak bisa lagi memberikan perlindungan padamu. Tenagaku sudah habis," gumam Ling Zhi pelan sambil melirik ke arah Cakra Buana yang masih terpejam.


"Hemmm … ternyata kau tidak mau menjawab. Keras kepala juga," kata Rendra geram.


"Jangan banyak bicara bocah iblis. Jika kau ingin membunuhku, bunulah sekarang. Tapi aku minta jangan bunuh rekanku," kata Ling Zhi. Walaupun kondisinya memprihatinkan, tapi bicaranya masih mengandung tekad yang kuat untuk bertahan.

__ADS_1


"Enak sekali mulutmu bicara seperti itu. Bagaimana mungkin aku tidak bisa membunuh rekanmu, sedangkan dia adalah orang yang sudah membunuh guruku. Masa depan Perguruan Gunung Waluh jadi sura gara-gara temanmu itu," tutur Rendra. Kali ini nada bicaranya meninggi. Jelas dia memperlihatkan rasa dendam mendalam kepada Cakra Buana.


"Terserah apa katamu tikus buduk. Lekas lakukan jika memang menginginkan nyawaku," kata Ling Zhi menantang.


__ADS_2