
Untuk beberapa saat, Dewi Bulan dan Bagus Segara terpaku dan tubuhnya tidak bisa digerakkan. Melihat kesempatan baik ini, Cakra Buana lalu menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh untuk menghentikan darah yang terus keluar dan menghilangkan rasa sakit yang mulai melanda seluruh tubuhnya.
Meskipun kekuatan pemuda serba putih itu bisa dibilang setingkat diatas mereka, tapi jika diserang secara bersamaan maka hasilnya akan beda lagi. Lagi pula dia masih kalah jauh pengamalan jika dibandingkan dengan keduanya.
Setelah semua luka ditubuhnya sudah berhenti mengeluarkan darah dan rasa sakitnya sudah mendingan, Cakra Buana pun lalu menyerang kedua tokoh tua yang masih terpengaruh dengan pamor Pedang Pusaka Dewa itu.
Akan tetapi tepat ketika Pedang Pusaka Dewa hampir mengenai sasaran, tiba-tiba saja keduanya terlepas dari pengaruh tadi sehingga mereka pun terbebas dari sambaran pedang yang dahsyat itu.
"Keparat …" maki Bagus Segara dengan sangat geram.
Untung saja keduanya bisa membebaskan diri dari pengaruh Pedang Pusaka Dewa, jika tidak, maka pasti kedua pendekar tua itu sudah terbabat oleh kehebatan pedang pusaka tersebut.
Kini Bagus Segara mengeluarkan lagi ajian lain yang tak kalah dahsyat. Mulutnya komat-kamit, matanya terpejam. Angin berderu tajam menerpa arena pertarungan. Kiranya dia mengeluarkan sebuah ajian yang menakutkan.
Ajian Racun Kalajengking.
Sebuah aji pukulan yang mengandung hawa beracun yang setara dengan puluhan atau bahkan ratusan kalajengking. Bisa dibayangkan bagaimana jika terkena aji pukulan itu.
Bagus Segara sudah siap melanjutkan pertarungan lagi. Dengan ajian pamungkas miliknya, dia yakin bisa membunuh Cakra Buana. Trisula miliknya sudah diselipkan kembali ke pinggangnya. Agaknya dia sudah mengetahui bahwa tidak mudah jika melawan pemuda serba putih itu kalau menggunakan senjata.
Begitupun dengan Dewi Bulan. Dia pun turut mengeluarkan ajian tendangan miliknya yang hebat.
Ajian Brajawikalpa.
Sebuah ajian tendangan yang digdaya. Kedahsyatannya tidak diragukan lagi. Batu hitam sebesar kerbau pun mampu dihancurkan oleh ajian tersebut. Tongkat bulan sabit miliknya dia tancapkan hingga berdiri tegak didepannya.
Kedua pendekar tua sudah siap melanjutkan pertarungan dengan tanpa senjata, namun kini mereka memilih bertarung dengan mengggunakan ajian pamungkas.
Langlang Cakra Buana bukanlah pengecut, sehingga ketika dua lawannya tidak menggunakan senjata, maka dia pun segera menyarungkan Pedang Pusaka Dewa. Padahal tadinya dia berniat untuk mencoba mengeluarkan jurus tingkat tinggi dari Kitab Dewa Bermain Pedang untuk yang pertama kalinya.
Tapi apa boleh buat, tak ada pilihan lain lagi, pikirnya.
Lalu Langlang Cakra Buana pun menyarungkan kembali Pedang Pusaka Dewa.
Pedang sudah disarungkan dengan rapi. Meksipun begitu, akan tetapi pamornya masih kelihatan karena tadi sudah terlanjur Cakra Buana mengeluarkan jurus yang dahsyat, sayangnya dia tidak jadi mengeluarkannya. Sehingga efek dari jurus tersebut masih terlihat.
__ADS_1
Kini pemuda serba putih itu memejamkan matanya dan memfokuskan pikirannya. Seketika itu juga dia langsung mengeluarkan dua jurus andalan.
Ajian Dewa Tapak Nanggala ditangan kanan, Ekor Melilit Buruan ditangan kiri.
Dua ilmu sudah siap untuk menghadapi musuh. Begitupun dengan dua musuhnya, ajian pamungkas mereka sudah siap untuk mencabut nyawa pemuda serba putih itu.
Ketiga pendekar saling pandang kembali seperti sebelum mereka bertarung. Tidak ada yang bicara dari ketiganya. Hanya mata mereka saja yang saling pandang dan nampaknya tatapan mata itulah yang berbicara.
"Haittt …"
"Terima serangan …"
Dewi Bulan bergerak menyerang, begitupun dengan Bagus Segara.
"Haaa …"
Cakra Buana pun sama halnya. Dia melesat menyerang. Ketiganya bergerak secara bersamaan. Padahal tidak ada yang terlihat bicara, tapi anehnya mereka bisa bergerak bersama. Mungkin batin mereka yang bicara itu.
"Desss …"
Ketiga pendekar bertemu ditengah jalan dan sudah saling serang dengan jurusnya masing-masing.
Bagus Segara mengirimkan serangkaian pukulan yang amat hebat. Kedua tangan yang sudah berubah warna menjadi agak kehitaman itu menyerang dengan ganas.
Dewi Bulan menyerang dengan kedua kakinya dan diikuti pula oleh serangan pukulan. Serangan nenek tua ini pun tak kalah hebat. Dimana kini kaki kanannya sudah keras bagaikan baja. Ajian pukulan dan ajian tendangan dari dua musuh sudah menghujani Cakra Buana.
Namun Cakra Buana bukanlah pendekar muda yang ecek-ecek. Sehingga dia pun bisa menahan dua ajian digdaya itu dengan kedua tangan dan kakinya. Meskipun kedua tangan dan kakinya bergetar, tapi dia tidak takut. Justru malah semakin ganas.
Ketiga pendekar sudah saling serang dengan tangan dan kaki. Bagus Segara mengirimkan hujan pukulan yang mengandung bau busuk.
Dewi Bulan memberikan tendangan yang sukar untuk dihindari. Tendangan itu memang agak lambat, akan tetapi didalam kelambatan itu justru menyimpan kekuatan yang dahsyat.
Dengan penuh keyakinan Cakra Buana melawan keduanya tanpa henti. Puluhan jurus sudah dilalui oleh ketiga pendekar tersebut.
Saling pukul dan saling tendang terus terjadi. Luka lebam dan rasa nyeri sudah dirasakan oleh ketiganya. Akan tetapi belum juga ada yang terlihat menyerah di wajah tiga pendekar yang beda generasi tersebut.
__ADS_1
Peluh sudah membasahi ketiganya. Nafas mereka sudah tidak karuan. Terutama Bagus Segara dan Dewi Bulan. Meskipun Cakra Buana juga mengalami hal yang sama, namun dia masih bisa mengatur nafasnya sedikit demi sedikit.
Karena merasa tenaga dalamnya sudah menipis, maka Cakra Buana pun melompat mundur tiga langkah dan kembali menyerang dengan jurus yang berbeda.
"Harimau Mencabut Nyawa …"
"Wushhh …"
Bayangan dua harimau yang mengamuk tiba-tiba terlihat oleh dua musuhnya. Harimau itu berada dibelakang Cakra Buana tanpa pemuda serba putih itu sadari.
Serangan Cakra Buana kali ini benar-benar dahsyat. Suara raungan harimau yang marah terdengar membuat bulu kuduk merinding. Kedua lawannya mulai terdesak akibat jurus ganas ini.
Suara bergemuruh kerap terdengar akibat beradunya ajian-ajian kedigdayaan diantara mereka. Luka-luka yang diterima oleh Bagus Segara dan Dewi Bulan semakin banyak. Baik itu luka dalam maupun luka luar.
Cakra Buana tiba-tiba bergerak menambah kecepatannya. Kedua tokoh tua yang sudah mulai kelelahan itu semakin pusing karena tidak bisa melihat gerakan apa yang dilakukan Cakra Buana.
Hingga pada akhirnya, pemuda serba putih itu berhasil memberikan serangan dengan telak.
"Rrgghh …" Cakra Buana mengeluarkan suara mirip harimau meraung.
"Srettt …"
"Ahhh …"
"Ahhh …"
Kedua tokoh tua itu terpental tiga langkah ke belakang. Bagus Segara mendapatkan luka cakaran yang dalam pada dadanya sehingga jeroanya sedikit keluar.
Dewi Bulan pun sama, punggungnya tergores panjang. Ada bekas cakaran yang mirip cakar harimau. Keduanya bergeliat untuk beberapa saat hingga akhirnya mereka diam tak bergerak lagi. Mati.
Kedua musuh sudah tewas. Mereka tewas karena ulahnya sendiri yang dibutakan oleh nafsi amarah.
Melihat kedua lawan sudah tewas, maka iapun membondong tubuh keduanya lalu pemuda serba putih itu menguburnya secara sederhana.
Meskipun dua tokoh tua itu hampir membunuhnya, tapi Cakra Buana tidak dendam. Baginya, yang jahat itu sifatnya. Bukan orangnya. Sehingga dia merasa berkewajiban untuk memakamkan keduanya.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, maka dia pun cepat pergi dari tempat itu untuk kembali ke kadipaten.