Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Sepasang Elang Merah Dari Selatan


__ADS_3

Cakra Buana dan Ling Zhi tiba di lokasi tepat sesuai yang sudah mereka perkirakan sebelumnya. Saat matahari lebih dari separuhnya tenggelam, saat itulah keduanya tiba di Bukit Maut.


Sebuah bukit yang penuh dengan misteri, entah sudah berapa banyak para pendekar yang tewas di tempat ini. Tapi di balik itu semua, Bukit Maut adalah sebuah bukit yang juga menyimpan panorama alam mempesona.


Sejauh mata memandang, di sebelah kanan disuguhkan dengan hamparan pesawahan yang hijau. Sedangkan sebelah kiri, jauh di depan sana ada sebuah laut yang di kenal dengan nama Pantai Pangandaran. Meskipun jauh, tapi tetap bisa terlihat hamparan samudera birunya.


Cakra Buana dan Ling Zhi berdiam di atas sebuah pohon besar. Keduanya memilih untuk bersembunyi sambil memahami situasi di sana. Kira-kira dua puluh tombak di depan keduanya, puluhan pendekar sudah berkumpul. Mereka itu ada yang dari golongan hitam, putih, maupun merdeka.


Golongan merdeka artinya golongan yang berada di tengah-tengah. Pendekar yang berada di golongan merdeka, selalu berbuat sesuka hati. Mereka tidak di beratkan dengan istilah hitam ataupun putih. Mereka akan bertindak sesuai dengan keinginan hatinya sendiri.


Para pendekar yang berkumpul pun beragam macam usianya. Mulai dari yang tua, sampai yang muda. Bahkan terlihat ada beberapa orang warga setempat turut ingin menyaksikan pertandingan yang sebentar lagi akan segera berlangsung.


Cakra Buana terus mempertajam indera pendengarannya dengan Ajian Sapta Pangurungu, sehingga walaupun jaraknya terbilang lumayan jauh, namun Pendekar Maung Kulon itu dapat mendengar apa saja yang sedang di bicarakan para pendekar tersebut.


Menurut hasil pendengarannya, ternyata meskipun para pendekar sudah berkumpul mengelilingi arena pertandingan, tapi dua belah pihak yang akan bertarung belum juga ada di sana. Keduanya belum menampakkan batang hidungnya.


###


Matahari sudah tenggelam dengan sempurna dan digantikan rembulan purnama. Cakra Buana dan Ling Zhi masih terdiam di tempat tadi. Mereka tidak bergerak, kecuali mengawasi keadaan sekitar.

__ADS_1


Ternyata di sana semakin ramai. Para warga setempat mulai berdatangan lebih banyak, ketika rembulan sudah naik semakin tinggi, udara di sana tiba-tiba mencekam. Para pendekar yang hadir pun langsung diam membisu.


Tapi keadaan itu hanya sebentar, karena tak lama mereka bersorak-sorai lebih keras lagi saat melihat dua bayangan turun dengan indah di tengah arena pertarungan.


Dua bayangan itu seperti terbang, mereka turun tanpa menimbulkan suara sama sekali. Keduanya sepasang pendekar yang sudah lanjut usia. Mungkin usianya sekitar lima puluh tahunan.


Keduanya memakai pakaian merah hitam. Terlihat si pendekar pria memegang sebuah cambuk sebagai senjatanya, sedangkan si wanita memegang sebatang tombak perak.


"Ling Zhi, ayo kita mendekat. Pertarungan sebentar lagi akan segera dimulai. Kita harus hati-hati, sebab mungkin saja sebagian dari mereka telah mengenal wajahku," kata Cakra Buana mengingatkan Ling Zhi.


Tentu saja dia harus berhati-hati karena sebelumnya atau bahkan sampai sekarang pun, dirinya masih menjadi buronan kerajaan.


"Baik kakang. Mari kita ke sana," jawab Ling Zhi.


Pasangan muda-mudi itu langsung menyenilap ke kerumunan orang-orang yang hadir di sana hingga akhirnya mereka bisa sampai tepat di pinggir arena pertarungan.


Ternyata, sepasang pendekar tadi berwajah sangar. Dari wajah saja bisa ditebak bahwa keduanya berasal dari golongan hitam. Cakra Buana mengingat-ingat barang kali pernah bertemu dengan dua sosok pendekar tua itu, sayangnya seberapa keras mengingat, dia merasa belum pernah bertemu. Kecuali baru kali ini saja.


Setelah sepeminum teh berlalu, entah kapan dan entah bagaimana caranya, kini di arena pertandingan sudah ada dua sosok lagi. Tak salah tebakan Cakra Buana, yang akan bertarung kali ini adalah Sepasang Kakek dan Nenek Sakti yang dulu sempat menolongnya.

__ADS_1


###


Di arena pertandingan, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti sudah bersiap dengan pedang yang menjadi senjata utama keduanya. Masing-masing pasangan pendekar itu sudah memperlihatkan kekesalan dari pancaran matanya.


Sepertinya mereka diam-diam melakukan perang batin. Sehingga udara di sekitar pun berubah menjadi lebih mencekam lagi. Bagi pendekar yang sudah memiliki kepandaian tinggi, mereka akan melihat bola transparan ditengah-tengah arena.


Bola itu terus bergulir kesana-kemari. Hingga pada akhirnya bola transparan tersebut lenyap dari pandangan.


"Hemmm … selamat malam Sepasang Kakek dan Nenek Sakti," kata lawan memberikan sambutan.


"Selamat malam kembali Sepasang Elang Merah dari Selatan," jawab Kakek Sakti.


"Terimakasih sudah menerima tantanganku. Apakah kau ingin berubah pikiran? Jika iya, masih ada waktu untuk kau mengatakannya. Silahkan katakan kau menyerah lalu beritahu dimana pemuda yang memegang Pedang Pusaka Dewa itu sekarang," kata si Elang Merah Jantan, sebutan untuk Sepasang Elang Merah dari Selatan jika perorangan.


Cakra Buana kaget mendengar ucapan si Elang Merah Jantan, ternyata Sepasang Kakek dan Nenek Sakti bertarung hanya karena tidak ingin memberi tahu dimana keberadaan dirinya. Seketika itu juga Cakra Buana merasakan darahnya bergejolak. Tapi dia tidak segera bertindak, dia harus bisa memahami situasi lebih jauh lagi.


"Hemmm … sampai kapan pun aku tidak akan memberitahu dimana pemuda itu. Lagi pula, aku memang sudah lama tidak bertemu dengannya. Jadi percuma jika aku memberitahukannya kepadamu," jawab Kakek Sakti.


"Kau memang pandai bersilat lidah. Kesabaranku sudah habis, bersiaplah untuk pergi ke neraka …" kata Elang Merah Jantan lalu mengambil sikap kuda-kuda.

__ADS_1


###


Btw maaf ya sekarang up ngga tiap hari, kemaren ada persoalan. Semoga aja ke depannya bisa up tiap hari lagi. Satu lagi nanti nyusul ya😁


__ADS_2