Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pertarungan Tiga Raksasa


__ADS_3

Cakra Buana dan buta ijo sudah bertarung dengan sengit. Meskipun tubuh keduanya sangat berbeda jauh, tapi itu bukanlah masalah besar. Sebab Cakra Buana pun bisa melayaninya dengan baik.


Keduanya sama-sama menguntungkan. Keuntungan Cakra Buana adalah dia bisa bergerak lebih cepat, sedangkan lawannya sangat lambat karena tubuhnya yang terlalu besar. Tapi di sisi lain si buta ijo pun sama, dia di untungkan memiliki tubuh yang besar.


Karena dengan begitu, dia bisa memberikan pukulan ataupun tendangan yang kekuatannya berlipat-lipat. Meskipun tenaga dalamnya tidak besar, namun makhluk sejenis ini berbeda dengan manusia. Biasanya mereka memiliki ketahanan tubuh beberapa kali lebih hebat, ditambah lagi biasanya mereka memiliki tenaga luar yang sangat besar.


Karena tubuhnya lebih kecil, maka Cakra Buana kadang-kadang harus bertarung di udara hampa. Untuk pendekar sekelas dirinya, bertarung di udara bukanlah perkara yang sulit. Namun tentu saja hal itu membutuhkan tenaga dalam yang jumlahnya lebih besar lagi.


"Bukkk …"


"Bukkk …"


Cakra Buana dan buta ijo beradu pukulan. Keduanya sama-sama merasakan tangannya bergetar, terlebih lagi Cakra Buana. Di tengah pertarungan keduanya yang seru itu, tiba-tiba Cakra Buana merasakan ada angin dingin dari belakang yang melesat dengan cepat ke arahnya.


Karena tubuhnya sudah terlatih dalam kondisi bahaya, maka tiba-tiba saja dia mendarat. Ternyata benar, dari arah belakang si setan gundul mengirimkan serangan menggunakan rantai bola besi miliknya.


Untung bagi Cakra Buana bisa bertindak lebih cepat, sebab kalau tidak, tubuhnya mungkin bakal remuk kena hantaman senjata lawan.


Dua siluman itu tak mau menunda waktu, mereka kembali menyerang Cakra Buana. Kali ini si buta ijo dan setan gundul maju bersama. Dua serangan dari dua sisi pun tak dapat terhindarkan lagi.


Cakra Buana mulai kerepotan menghadapi dua serangan yang datang secara berbarengan itu. Tubuhnya melompat ke sana ke mari untuk menghindari semua serangan lawan.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Cakra Buana melesat bagaikan sebuah bayangan putih di kegelapan malam. Beberapa kali dirinya terkena hantaman lawan, untung hanya keserempet. Jika kedua senjata itu menghantam dengan telak, mungkin dia sudah tewas daritadi.


"Ajian Dewa Tapak Nanggala …"


"Wuttt …"


Cakra Buana mengeluarkan ajiannya. Dia melesat ke arah buta ijo dengan telapak tangan kanan di julurkan ke depan. Bukanya menghindar, justru siluman itu malah terdiam di posisinya.


"Haaa …"


"Bukkk …"

__ADS_1


"Ughhh …"


Cakra Buana terpental sampai lima tombak ketika tangannya menghantam dada lawan. Ternyata benar, pertahanan siluman itu lebih kuat dari yang dia bayangkan. Pendekar Maung Kulon itu langsung muntah darah. Organ dalamnya terguncang.


"Hahaha … hanya segini saja kemampuanmu manusia hina?" si buta ijo tertawa lantang ketika melihat Cakra Buana muntah darah.


Pendekar Maung Kulon itu semakin marah. Tiba-tiba tubuhnya terasa panas luar bisa. Penglihatannya kabur. Tubuh Cakra Buana bergetar dengan hebatnya. Bukan hanya tubuhnya, bahkan tempat di sekitar pun turut bergetar.


Buta ijo dan setan gundul cukup terkejut. Keduanya lalu mengambil posisi berdiri sejajar sambil menyaksikan apa yang akan terjadi. Di sisi lain, Ling Zhi semakin khawatir. Dia baru pertama kali melihat Cakra Buana seperti ini.


"Arghhh …"


"Rrgghh …"


Cakra Buana berteriak dengan sangat kencang. Hembusan angin pun tiba-tiba datang menerpa tempat sekitar. Tubuh Cakra Buana mengeluarkan cahaya yang menyilaukan. Ling Zhi dan dua siluman pun sampai menutup kedua matanya dengan tangan mereka karena tak kuasa memandang cahaya tersebut.


"Rrgghh …"


"Bruggg …"


Ling Zhi dan dua siluamn itu pun memandang ke arah Cakra Buana. Ketiganya dibuat kaget dengan apa yang mereka lihat. Cakra Buana lenyap, yang ada di hadapan mereka saat ini, justru makhluk raksasa yang ukurannya sama dengan buta ijo dan setan gundul.


"Aa-apa … apakah ini Ajian Tiwikrama yang biasa disebut oleh eyang guru? Bukankah ajian legendaris ini yang dimaksud ada dalam pewayangan?" kata Ling Zhi bertanya-tanya saat melihat perubahan yang terjadi kepada Cakra Buana.


Gadis itu benar-benar dibuat terkejut. Sebab sebelumnya, Eyang Rembang memang pernah menyebutkan apa saja ajian legendaris. Dan salah satunya adalah Ajian Tiwikrama. Tapi konon katanya, ajian itu sudah punah. Tak disangkanya dia bisa menyaksikan langsung saat ini, bahkan pelakunya adalah pemuda yang ia cintai. Kebanggaan tiba-tiba timbul di hati gadis blasteran Jawa-Tiongkok itu.


"Mari kita tuntaskan semua ini makhluk jelek," kata Cakra Buana yang kini menjelma sebagai raksasa, suaranya menggelegar bagaikan Guntur.


"Kau pikir kami takut kepadamu? Dasar manusia hina …"


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Buta ijo dan setan gundul menyerang lebih dulu. Mereka menyerang bersama lagi. Sedangkan Cakra Buana yang kini menjelma dalam sosok raksasa, menanti dengan tenang.


"Desss …"

__ADS_1


"Bukkk …"


"Bukkk …"


Ketiga raksasa sudah kembali bertarung. Mereka saling tendang dan saling pukul. Karena tiga sosok itu, tempat sekitar dibuat bergetar.


Buta ijo dan setan gundul semakin mengganas. Keduanya mengeluarkan seluruh kemampuan demi untuk membunuh lawan. Tapi meskipun begitu, Cakra Buana selalu bisa menghadapi setiap serangan yang diberikan oleh lawan.


Tiga raksasa bertarung sengit. Sekalipun buta ijo dan setan gundul menggunakan senjata, tapi itu bukanlah masalah bagi Cakra Buana saat ini. Sebab dalam keadaan seperti sekarang, seluruh tubuh Cakra Buana sama halnya dengan baja. Sangat keras dan tentunya sangat sulit untuk dilukai. Kecuali bagi mereka yang memang memiliki kepandaian di atasnya.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


"Bukkk …"


Suara kaki dan tangan bertemu semakin lama semakin keras. Cakra Buana sudah tidak tahan lagi, sebab tenaga dalamnya hampir habis. Jika sampai benar-benar habis, maka efeknya akan fatal. Bisa saja dia jadi semakin tak terkendali, atau bahkan tewas.


"****** kau …"


"Bukkk …"


"Bukkk …"


"Ughhh …"


Setan gundul dan buta ijo terpental. Tubuhnya sampai dibuat meluncur karena tak kuasa menahan pukulan Cakra Buana yang memiliki tenaga sangat besar.


"Brakkk …"


Kedua siluman itu menabrak puluhan pohon hingga hancur. Tubuh mereka berhenti meluncur ketika menabrak batu yang sangat besar. Keduanya langsung tewas dengan tubuh yang hancur. Tak perlu waktu yang lama, dua siluman itu lenyap menjadi abu.


Sementara itu, Cakra Buana pun langsung mengembalikan keadaan tubuhnya setelah dipastikan kedua lawan tewas. Cahaya menyilaukan kembali menerangi malam beberapa saat setelah akhirnya Cakra Buana kembali ke keadaan semula.


Di beberapa bagian tubuhnya nampak berbagai macam luka. Baik luka lebam maupun luka akibat hantaman senjata. Pendekar Maung Kulon itu langsung mengambil sikap semedi untuk memulihkan tenaga dalamnya.


Ling Zhi langsung berlari menghampiri Cakra Buana. Gadis itu khawatir dengan keadaan kekasihnya, apalagi dia pertama kali melihat Cakra Buana sampai seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2