Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Perang Besar Dibawah Rintik Air Hujan


__ADS_3

Pasukan Kerajaan Kawasenan dan Kerajaan Galunggung Sukma jaraknya masih lumayan jauh dari Kerajaan Sindang Haji. Tapi karena barisan tengah memakai kuda semua, jarak pun bisa dipersingkat.


Eyang Resi Patok Pati dan para raja memimpin rombongan tengah. Termasuk Langlang Cakra Buana. Sedangkan yang lain lalu berpencar untuk mengepung musuh supaya tidak ada yang bisa melarikan diri.


Rintik air hujan tiba-tiba turun. Langit mendadak mendung. Terpaan angin laut terasa membuat suasana semakin khas. Bulan purnama yang tadi bersinar dengan terang, saat ini mulai tertutup oleh awan yang kelabu.


Tepat sekitar sepeminum teh kemudian, rombongan pasukan dari gabungan dua kerajaan telah tiba di tempat yang begitu luas bagaikan sebuah padang pasir yang hampa.


Derap langkah kaki kuda terdengar menimbulkan suara yang mengerikan. Suara binatang malam yang riuh pikuk mendadak lenyap ketika mendengar suara langkah kaki kuda yang tidak terhitung banyaknya.


Tepat ketika pasukan gabungan dua kerajaan tiba, masing-masing dari mereka menyimpan kudanya. Sebagian menjaga kuda. Sisanya akan maju ke medan perang.


Dengan gagah berani, Eyang Resi Patok Pati yang memakai pakaian ringkas berwarna putih, sudah berdiri di paling depan bersama muridnya Langlang Cakra Buana yang juga memakai pakaian persis seperti gurunya.


"Muridku, mari kita mulai semua ini. Kerahkan semua kemampuanmu demi kejayaan dan kedamaian tanah Pasundan," kata Eyang Resi Patok Pati.


"Baik Eyang Resi …" jawab muridnya.


Kedua guru dan murid itu lalu mencabut pedangnya masing-masing yang dari tadi tersarung dengan rapi. Pedang pusaka itu begitu mengkilau dibawah gelapnya sang malam.


"Semuanya … serang …"


Eyang Resi Patok Pati berseru dengan lantang dan gagah berani. Tak ada ketakutan dalam dirinya. Begitupun Langlang Cakra Buana dan para raja serta petinggi istana. Tak lupa juga dengan pasukan yang berani mati.


###


Di sisi lain, pihak Kerajaan Sindang Haji yang sudah dari tadi melihat banyaknya musuh sudah bersiap pula. Rasa gentar dihati mereka harus dilawan bagaimanapun caranya.

__ADS_1


Dengan gagah berani raja mereka dan petinggi serta para pendekar pilih tanding sudah siap memberikan perintah untuk menyambut serangan dari semua musuhnya.


"Serang …" kata Prabu Jati Sena Purwadadi dengan suara yang sangat berwibawa.


Tanpa berkata lagi, semua pasukan Kerajaan Sindang Haji pun maju brsamaan menyambut musuh mereka yang tak lain saudara setanah air.


Begitupula dengan pasukan gabungan dua kerajan. Semuanya maju dengan semangat yang berkobar bagaikan api yang tak bisa dipadamkan oleh air sekalipun.


Malam ini, tepat pada malam Jum'at Legi tahun 1170 Saka, perang antar saudara setanah air terjadi. Dibawah rintik air hujan ini, sebuah kejadian yang menjadi catatan sejarah baru dimulai.


Ribuan pasukan sudah saling bertarung dengan sebilah pedang ditangan mereka. Hanya beberapa tarikan nafas saja, suasana malam yang hening menjadi riuh mengerikan.


Suara teriakan dari masing-masing pihak begitu menggema dimalam itu. Para pasukan bertarung dengan ganas. Suara senjata yang beradu begitu nyaring. Bahkan suara senjata itu seolah mampu membuat telinga berdengung tiada henti.


Hanya beberapa saat saja, korban dari kedua belah pihak sudah berjatuhan. Mayat-mayat para punggawa bergelimpangan bagaikan kambing yang mati secara serentak.


Jeritan kematian dari para punggawa menggema menghiasi malam tiada hentinya. Jeritan yang begitu pilu dan menyayat hati. Rasanya, jeritan ini bahkan lebih sakit daripada alunan melodi kesedihan sekalipun.


Malam ini, nyawa manusia sungguh tiada berarti. Nyawa manusia bagaikan nyawa binatang. Tapi mau bagaimanapun juga, mereka yang gugur akan dikenang sebagai pahlawan.


Tak ada rasa sesal sedikitpun bagi para punggawa ataupun pejuang yang gugur itu. Justru mereka merasa bangga, bangga karena mereka bisa tewas di medan perang ketika membela tanah airnya masing-masing.


Semakin lama, semakin terkikis lah pasukan Kerajaan Sindang Haji. Sudah sepertiga lebih pasukan yang tewas. Begitupun dengan dua kerajaan, tak kurang dari lima ratus orang nyawa manusia sudah melayang.


Harus diakui bahwa kekuatan punggawa Kerajaan Sindang Haji, memiliki kepandaian silat diatas pasukan dua kerajaan. Jika satu-persatu pastilah akan merepotkan, tapi jika secara seperti ini, maka ceritanya akan lain lagi.


Para punggawa dua kerajaan ada yang tewas dengan tertancap anak panah pada jantung mereka. Karena memang, pasukan Kerajaan Sindang Haji banyak sekali yang berperang dari jarak jauh menggunakan busur panah.

__ADS_1


Sedangkan pasukan dua kerajaan semuanya hanya bersenjatakan tombak dan pedang. Tapi meskipun begitu, tetap saja pasukan itu tak gentar. Entah berapa ratus pasukan Kerajaan Sindang Haji yang tewas dengan leher yang hampir putus ataupun dada yang tertusuk oleh pedang.


Malam ini bagaikan kiamat bagi mereka. Hiruk pikuk jeritan kematian terus bersahutan bagaikan nada yang tiada henti. Menyedihkan memang. Tapi apa daya, hanya ini satu-satunya cara dan jalan terakhir untuk menyatukan dan memperkuat tanah Pasundan. Hanya satu kata, menyedihkan.


Di sisi lain, para pendekar pilih tanding dan Prabu Jati Sena Purwadadi pun tak kalah hebatnya. Mereka menyapu bersih pasukan dua kerajaan yang berani menghadangnya.


Bukan perkara sulit untuk tokoh-tokoh sakti itu melepaskan nyawa para punggawa. Sehingga sekali gebrak, minimal sepuluh nyawa melayang.


Bukan main hebatnya memang. Senjata pusaka masing-masing dari mereka pun entah sudah menelan berapa banyak nyawa. Yang jelas, warnanya sudah berbeda jauh dari awal. Darah sudah memenuhi senjata mereka.


Bahkan pakaian yang bersih dan suci pun kini sudah terlumuri oleh darah para pasukan yang sudah mereka bunuh. Mereka terus membabat habis pasukan musuh tanpa mengenal kata lelah dan ampun.


Dengan ilmu yang digdaya, menghadapi seratus orang pasukan atau punggawa kerjaan kelas bawah bukanlah suatu hal yang berarti. Bagi mereka yang sudah mumpuni, bahkan hanya dengan sedikit gerakan tangan pun bisa mengambil nyawa seseorang.


Baru beberapa saat saja, lapangan luas yant tadinya dipenuhi oleh pasukan dari masing-masing kerajan, kini sudah berbeda. Yang ada hanyalah mayat-mayat disetiap tempat.


Tak ada ruang sedikitpun yang tidak ada mayat. Bahkan mereka berperang sambil menginjak-injak pasukan yang kini sudah tak bernyawa. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya perang besar ini.


Sehingga tak lama kemudian, kedua pasukan dari masing-masing pihak sudah berkurang drastis. Yang tersisa paling dibawah setengahnya.


Yang lebih mengejutkan lagi adalah kini jumlah pasukan Kerajan Sindang Haji dan dua kerajaan yang terisa jumlahnya hampir sama. Betapa mengerikannya para pendekar tingkat tinggi Kerajaan Sindang Haji itu dalam membabat semua lawannya.


Lapangan yang gersang dan lapang. Kini sudah di banjiri oleh darah dan mayat. Tak dapat dibayangkan betapa ngerinya tragedi ini.


###


Mohon maaf kala belakangan ini jarang up ya. Author lagi repot nulis naskah buat novel LPH yang sebentar lagi mencapai puncak. Semoga terhibur🙏

__ADS_1


__ADS_2