
Ketika tengah berbicara, mendadak satu orang murid Perguruan Tunggal Sadewo memasuki ruangan.
"Ada apa?" tanya Tuan Santeno kepada murid yang baru masuk tersebut.
"Jasad Pendekar Pedang Kesetanan sudah tiba tuan," kata si murid memberitahu.
"Ah, baiklah. Kalau begitu aku segera keluar. Persiapkan saja semua yang diperlukan," ujar Tuan Santeno.
Si murid mengangguk. Dia segera kembali untuk mempersiapkan segala yang diperlukan. Sedangkan Tuan Santeno langsung mengajak Cakra persiapan yang lain untuk melakukan persiapan pula.
Prosesi pemakaman Pendekar Pedang Kesetanan berjalan apa adanya. Dengan sangat sederhana tetapi khidmat. Semua murid Perguruan Tunggal Sadewo turut menyaksikan upacara pemakaman.
Setelah semuanya selesai, Cakra Buana ditinggal sendiri. Dia memang meminta supaya diberi waktu untuk menyendiri.
Mungkin hanya sekedar mengenang semua yang telah mereka berdua lewati bersama. Walaupun singkat, setidaknya semua kenangan itu sangatlah indah.
"Sahabat, kau tenanglah di sana. Aku berjanji akan menumpas Organisasi Tengkorak Maut. Jiwa pendekarmu akan selalu aku bawa. Aku sangat bangga bisa mempunyai sahabat sepertimu. Beristirahatlah, semua bebanmu kini telah tiada. Biarlah aku yang membereskan sisanya," ucap Cakra Buana berbicara seolah sahabatnya ada di depan dia sendiri.
Sebelum pergi, Cakra Buana lebih dahulu memberikan penghormatan terakhir. Setelah itu, dia segera menyimpan Pedang Haus Darah di atas kuburannya.
Dia sengaja menyimpannya sebagai tanda kuburan tersebut. Walaupun hanya di tancapkan, tetapi dijamin tidak akan ada yang sanggup mencabutnya kecuali mereka yang memiliki ilmu sepadan dengan Cakra Buana.
Alasan kenapa pedang tersebut tidak bisa sembarangan di ambil, adalah karena Cakra Buana menancapkannya sambil mengerahkan tenaga dalam tinggi. Bahkan dia "mengunci" dengan kekuatannya sendiri.
Walaupun sepuluh atau dua puluh orang murid berusaha mencabutnya, Pedang Haus Darah akan tetap ada di tempatnya. Dan itu pasti.
Setelah itu, Pendekar Tanpa Nama segera berjalan kembali ke ruang tamu tempat dia tadi berbincang. Tetapi sebelum tiba, terlihat Tua Santeno menghampiri dirinya.
"Kisanak, bisakah aku meminta waktumu sebentar?" tanyanya kepada Cakra Buana.
"Tentu tuan, tapi bagaimana dengan …"
__ADS_1
"Dengan kekasihmu? Dia berkata ingin istirahat. Kau tenanglah, dia berada dalam tanggungjawabku," ujarnya memotong perkataan Cakra Buana.
Setelah mendengar bahwa kekaoshnya pergi untuk istirahat, akhirnya Cakra Buana tenang. Setidaknya gadis pujaan hatinya bisa memulihkan tenaga yang sudah banyak terbuang.
Tuan Santeno Tanuwijaya mengajak Cakra Buana berjalan-jalan ke gunung untuk menikmati pemandangan yang disuguhkan denagn sangat indah. Di sepanjang perjalanan, keduanya membahas berbagai macam hal, baik itu ringat, maupun berat.
Hanya dalam waktu singkat, Cakra Buana dan Tuan Santeno sudah terlihat sangat akrab. Sesekali mereka bercanda seperti halnya sahabat yang sudah lama tidak berjumpa.
Ternyata Cakra Buana baru menyadari bahwa maha guru itu mempunyai sifat kemiripan dengan mendiang sahabatnya, Pendekar Pedang Kesetanan.
Dan Tuan Santeno sendiri, merasakan hal yang sama dengan Cakra Buana. Orang tua itu menyadari bahwa si pemuda yang kini di depannya, memiliki kemiripan dengan anaknya yang terbunuh.
"Cakra, andai organisasi itu telah berhasil dihancurkan, ke mana tujuanmu selanjutnya?" tanya Tuan Santeno yang kini sudah tidak menyebut kisanak lagi kepada Cakra Buana.
"Aku akan segera pergi ke Timur Paman. Lebih tepatnya ke Tiongkok, ada tugas penting yang harus aku segera selesaikan," jawab Cakra Buana.
"Kau akan pergi sendiri?"
"Tentu, karena tugas ini adalah tugas langsung dari mendiang guruku,"
"Dia aku suruh untuk menunggu. Yah, semoga saja dia mau,"
"Hati-hati, wanita itu rumit. Oh iya, bagaimana menurutmu gadis bernama Sri Ningsih itu?" tanyanya sambil tertawa.
"Eumm, ca-cantik. Manis dan baik pula. Memangnya ada apa paman?" tanya Cakra Buana heran.
Sebelum menjawab, Tuan Santeno menghela nafas dalam-dalam terlebih dahulu. "Asal kau tahu saja, tadinya anakku akan aku jodohkan dengan dia. Hanya saja, Sang Hyang Widhi berkata lain. Sehingga harapanku menjadi gagal," katanya penuh duka.
Kenyataan bahwa anakya tewas sepertinya belum mampu diterima ikhlas oleh orang tua tersebut. Walaupun anaknya sudah dimakamkan dengan layak, tapi rasa pedihnya masih belum juga hilang.
"Kau sabar saja paman. Berusahalah untuk ikhlas walaupun memang sulit. Aku tahu bagaimana perasaanmu, sebab aku sendiri pernah merasakan di posisi seperti itu," ujar Cakra Buana penuh pengertian.
__ADS_1
Dua orang yang sedang mengalami perasaan sama. Dua orang yang pernah merasakan di posisi yang sama. Sudah pasti kalau keduanya menyatu, maka mereka akan saling mengerti satu sama lain.
Seperti Cakra Buana dan Tuan Santeno Tanuwijaya sekarang contohnya.
Saat keduanya sedang asyik bicara sambil menikmati pemandangan indah, tiba-tiba saja telinga Cakra Buana menangkap adanya sesuatu dari kejauhan.
Tanpa banyak bicara lagi, Pendekar Maung Kulon segera menjejakkan kakinya ke tanah. Hanya dalam satu tarikan nafas, dia telah melesat secepat angin menuju ke asal sumber suara yang mencurigakan tersebut.
Tidak lama, Tuan Santeno juga menyusul Cakra Buana dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tidak kalau cepat dan hebat.
Pendekar Tanpa Nama melesat layaknya sebuah bayangan. Hanya dalam waktu yang tidak seberapa lama, Cakra Buana berhasil mendahului dua orang yang sedang berusaha melarikan diri.
"Berhenti!!!" kata Cakra Buana begitu tiba di hadapan dua orang asing tersebut.
Sontak saja kedua orang asing tersebut segera menghentikan langkah mereka.
"Siapa kau?" tanya seorang wanita yang sudah cukup tua.
"Justru sebaliknya aku yang harus bertanya seperti itu. Siapa kalian dan apa tujuannya datang kemari bahkan sampai berani menguping," ucap Cakra Buana dengan nada tidak senang.
Sebelum kedua orang asing itu mampu menjawab, mendadak Tuan Santeno tiba di sana. Begitu melihat siapa orang asing yang ada di hadapan Cakra Buana, darahnya segera mendiidk bagaikan air belerang yang terus mengeluarkan gelembung.
"Bagus. Entah mungkin memang kalian sengaja atau tidak sehingga berani mendatangi kandang harimau. Tapi yang jelas, aku sangat berterimakasih kepada Sang Hyang Widhi karena mempertemukan aku dengan kalian," kata Tuan Santeno menahan amarah yang siap meledak kapan saja.
Cakra Buana masih bingung. Dia belum mengerti sama sekali atas apa yang sedang terjadi di depan matanya.
"Paman, sebenarnya siapa mereka ini?" tanya Cakra Buana tidak tahan terhadap rasa penasarannya.
"Cakra, asal kau ketahui saja, merekalah dua orang yang dimaksud oleh mendiang Pendekar Pedang Kesetanan,"
"Apa? Maksud paman, mereka adalah Hantu Tanpa Wajah dan Manusia Pasir Besi Panas?" tanya Cakra Buana penuh keterkejutan.
__ADS_1
Sebelumnya memang dia tidak tahu dengan dua tokoh tersebut. Jangankan mengenal dekat, bertemu tatap muka sekalipun rasanya Cakra Buana belum pernah. Hanya kali inu Cakra Buana mengetahui siapa keduanya.
"Jadi, mereka juga yang telah memfitnah dan membunuh Tuan Muda Santeno?"