Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Seorang Anak Kecil


__ADS_3

Cakra Buana dan Ling Zhi bangun ketika matahari sudah sepenggalah. Bahkan saat ini keduanya masih dalam keadaan tanpa pakaian sehelai pun. Cakra Buana bangun lebih dahulu, tangannya masih memeluk erat Ling Zhi. Tak lama, gadis itu pun turut bangun.


Keduanya terdiam untuk beberapa saat, hingga pada akhirnya Cakra Buana membuka suara terlebih dahulu.


"Ling Zhi," Cakra Buana memanggil gadis itu dengan lemah lembut.


"Kenapa kakang?" tanya Ling Zhi keheranan. Ling Zhi lalu memindahkan kembali kepalanya ke atas dada Cakra Buana dengan manja.


"Maafkan aku,"


"Maaf untuk apa?"


"Kejadian semalam. Aku telah berbuat lancang karena mengambil kesucianmu," ucap Cakra Buana, seperti ada penyesalan dalam nada bicaranya.


"Kau tak perlu meminta maaf kakang. Lagi pula memang aku juga yang mau, kau tidak salah. Aku suka padamu, dan kau pun suka padaku. Aku rasa bukanlah kesalahan besar jika aku memberikan kesucianku kepadamu. Asalkan kau tidak main-main dengan cintamu itu,"


"Tentu saja. Mana berani aku main-main kepadamu, apalagi kau juga murid Eyang Rembang. Lagi pula aku memang benar-benar mencintaimu Ling Zhi. Sejak pertama bertemu, aku sudah jatuh cinta kepadamu,"


"Aku pun begitu. Tapi sebagai wanita, aku malu untuk mengatakan lebih dahulu. Apakah kau tak akan meninggalkanku?" tanya Ling Zhi.


"Tidak akan. Apapun yang terjadi, aku akan selalu di sampingmu dan selalu melindungimu. Bahkan biarpun nyawa taruhannya," jawab Cakra Buana dengan mantap.


"Sungguh?"


"Tentu. Aku tidak main-main," jawab Cakra Buana.


Ling Zhi sangat senang mendengar semua ucapan Cakra Buana. Begitupun dengan Pendekar Maung Kulon itu. Dia bahagia karena pada akhirnya, cintanya terbalas juga.


Ling Zhi menggerakan kepalanya, mendekatkan mulutnya dengan mulut Cakra Buana. Semakin lama, mereka kembali dilanda nafsu asmara. Hingga pada akhirnya dua muda-mudi itu kembali melakukan hubungan badan. Mereka berdua tenggelam bersama gelora cintanya.


Pada zaman seperti ini, hal seperti itu bukanlah hal aneh. Bahkan terbilang lumrah. Asalkan dua insan benar-benar saling mencintai tanpa adanya paksaan, maka mereka sudah dianggap sah menjadi pasangan.


Cakra Buana dan Ling Zhi baru selesai ketika matahari sudah berada tepat di atas kepala. Cakra Buana memakai pakaian kembali, lalu bergegas keluar untuk mencari ikan. Sedangkan Ling Zhi memilih untul bermeditasi, memulihkan tenaga dalamnya yang belum kembali sempurna.

__ADS_1


###


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Saking betahnya hidup di dunia, kadang waktu terasa begitu singkat. Satu hari seperti satu menit. Satu tahun kadang seperti satu bulan. Semua kejadian di tahun sebelumnya, masih membekas di ingatan. Tapi, apakah dalam setiap waktu itu, kita sudah bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan?


Seminggu sudah berlalu, Cakra Buana dan Ling Zhi terus melakukan perjalanan bersama. Bahkan kini keduanya semakin akrab, seperti pasangan suami istri. Selama seminggu belakangan, tak ada masalah berarti bagi keduanya. Semua perjalanan mereka terbilang lancar, walaupun ada sedikit masalah. Tapi itu tidaklah berarti.


Saat ini, Cakra Buana dan Ling Zhi berada di sebuah pedesaan. Entah desa apa namanya, tapi yang jelas desa ini terbilang cukup ramai. Meskipun kehidupan warganya tidak semua sejahtera. Bahkan lebih banyak yang ekonominya kekurangan. Sepertinya desa ini dekat dengan istana kerajaan.


Kondisi sekarang sore hari, matahari memancarkan sinar jingganya ke bumi. Mengubah warna rerumputan hijau menjadi jingga, memberikan kehangatan dan keindahan bagi penghuni bumi.


Dua muda-mudi itu berjalan dengan langkah santai menyusuri pasar yang semakin ramai. Di kanan kiri jalan, orang banyak berjualan. Baik itu berupa makanan, penginapan, atau bahkan pakaian dan sejenisnya.


Keadaan di sana terbilang tenang, kecuali bising dengan suara para penjual yang menjajakan dagangannya. Tapi sayangnya suasa seperti itu hanya beberapa saat saja, sebab tak lama digantikan dengan suara orang-orang yang berlarian. Mereka mengejar seorang anak kecil yang kurus tanpa memakai baju. Di tangan anak itu ada sebuah buntalan sarung. Entah barang apa yang ada di dalamnya.


"Heii bocah nakal, jangan lari kau …"


"Pencuri kecil, kau harus aku beri pelajaran …"


Berbagai teriakan dan sumpah serapah terdengar dari mulut orang-orang yang mengejar anak kecil tadi. Tapi anak itu terus berlari, dia tidak menghiraukan sama sekali. Entah kenapa sebabnya, anak kecil itu menghampiri Cakra Buana dan Ling Zhi. Dia bersembunyi di belakang keduanya.


"Paman, bibi, tolong aku. Mereka mau memukulku," kata anak itu dengan suara ketakutan.


"Kamu kenapa adik kecil?" tanya Ling Zhi.


"Mereka …" belum sempat melanjutkan ucapannya, terlihat para warga sudah mengelilingi mereka bertiga. Sumpah serapah kembali di lontarkan semakin gencar.


"Tenang semuanya, tenang," kata Cakra Buana dengan suara yang berwibawa.


Seketika juga, orang-orang yang tadi melemparkan sumpah serapah, mendadak terdiam. Tak ada lagi yang berani buka suara, pandangan mereka tertuju kepada seorang pemuda yang baru saja bicara.


"Siapa kau ki dulur?" tanya seorang warga.


"Aku Cakra Buana. Tolong tenang semuanya, bisa dijelaskan ada apa?" tanya Cakra Buana penasaran.

__ADS_1


"Anak kecil itu sudah mencuri beberapa pakaian dari toko milikku," kata salah seorang pria tua sambil menunjuk ke anak kecil tadi.


"Apakah yang dikatakan paman itu benar?" tanya Cakra Buana kepada si anak.


"Be-benar paman. Tapi aku melakukan ini terpaksa, sungguh. Aku melakukannya karena kasihan melihat kakekku yang kedinginan," jawab anak itu dengan suara bergetar menahan tangis.


Cakra Buana terdiam, dia memandangi anak itu beberapa saat untuk memastikan. Ternyata anak itu memang tidak berbohong, tatapan matanya tidak menunjukkan sebuah kebohongan.


"Berapa harga pakaian yang dia ambil? Biar aku yang membayarnya," kata Cakra Buana.


"50 keping perak ki dulur. Kenapa ki dulur mau membayarkan anak itu? Biarkan saja, dia memang pantas di beri pelajaran,"


Cakra Buana tidak menjawab. Dia lalu mengambil kepingan perak lalu diberikan kepada pemilik toko pakaian yang dicuri oleh anak kecil tadi.


"Hei minggir, minggir. Ada apa ini rame-rame?"


Tiba-tiba, enam orang berpakaian seragam lengkap datang ke sana. Masing-masing dari mereka menaiki seekor kuda. Orang-orang itu pun membawa pedang tang tersoren di pinggangnya. Di lihat dari penampilan, sepertinya mereka punggawa kerajaan.


Setelah bertanya demikian, salah seorang lalu menceritakan kejadian semuanya secara singkat kepada punggawa itu. Keenam mata punggawa langsung menatap Cakra Buana dan Ling Zhi dari atas sampai bawah.


"Benar kau bernama Cakra Buana?" tanya punggawa memastikan.


Cakra Buana berdiam beberapa detik, dia membalas tatapan punggawa tersebut.


"Benar, aku Cakra Buana. Memangnya kenapa?" tanya Cakra Buana dengan suara menantang.


Dia sengaja berkata dengan nada seperti itu supaya memancing keributan. Sebab dia yakin bahwa dirinya masih menjadi buronan kerajaan. Dan tentu saja para punggawa pun tahu akan hal itu.


"Munding nyamperkeun tukang jagal (Kerbau menghampiri tukang jagal," kata seorang punggawa memberikan pribahasa dalam bahasa sunda.


"Kalau begitu, ikut kamu ke istana sekarang juga," kata punggawa sedikit membentak.


"Boleh, dengan catatan kalian bisa mengalahkanku," jawab Cakra Buana dengan tegas.

__ADS_1


__ADS_2