
Melihat kekagetan pemuda yang pernah melukainya, Dewi Bulan pun tertawa bergelak.
"Hahaha … kau kaget bocah pembohong? Bukan suat hal sulit kalau untuk mencarimu … hahaha," kata Dewi Bulan dengan nada penuh gembira.
"Hemmm … sekarang katakanlah, apa maumu sehingga mencariku sampai sejauh ini? Dan siapa kakek ini?" tanya Cakra Buana sambil melirik kepada seorang kakek tua yang bukan lain adalah Bagus Segara.
"Hemmm … kau masih saja berlagak bodoh. Tentu saja akan akan membalaskan kekalahanku tempo hari. Dan dia ini adalah kakak angkatku. Namanya kakang Bagus Segara, kedatangannya tentu saja untuk membantuku membalaskan kekalahanku bocah … hahaha," kata Dewi Bulan dengan suara yang menyeramkan.
"Hemmm … benarkah yang dikatakan nenek tua itu barusan paman?" tanya Cakra Buana kepada Bagus Segara yang daritadi hanya memandang saja.
"Begitulah. Karena urusan adik angkatku, berarti urusanku juga anak muda," jawab Bagus Segara.
"Hemmm … jika memang begitu adanya, mari kita mencari tempat sunyi yang lebih luas. Jangan disini, kasihan para penduduk," kata Cakra Buana.
Setelah berkata demikian, dia pun langsung pergi dari tempat itu menuju ke sebuah hutan yang ada didekat sana. Tak perlu membutuhkan waktu yang lama bagi ketiganya untuk tiba disana.
Ketiganya berdiri disebuah halaman hutan yang agak luas dan penuh dengan daun-daun kering. Sayup-sayup terdengar suara binatang buas di kedalaman hutan. Menjadikan tempat itu semakin angker.
"Mari, sekarang bagaimana?" tanya Langlang Cakra Buana membuka suara.
"Kita teruskan lagi pertarungan kemarin dan kita selesaikan sekarang," kata Dewi Bulan yang terlihat masih marah karena tidak terima akan kekalahannya.
"Berduel hanya untuk laga persahabatan ataukah mengadu nyawa?" tanya Cakra Buana.
"Tentu saja mengadu nyawa. Itupun jika kau berani dan berjiwa pendekar. Tapi jika kau tidak berani pun, tetap saja kami akan membunuhmu," kata Dewi Bulan.
"Apakah benar seperti itu paman? Kau juga ingin membunuhku?"
"Kenapa tidak," jawab Bagus Segara dengan nada dingin.
"Hemmm … baiklah. Maafkan aku jika berlaku kejam kepada kalian," kata Cakra Buana.
"Sombong. Tahan ini …" kata Dewi Bulan sambil membentak dan maju menyerang.
Tak tanggung-tanggung, dia langsung menyerang dengan menggunakan tongkat bulan sabit miliknya. Nenek tua itu meluncur deras ke arah Cakra Buana.
Tongkat bulan sabit miliknya sudah siap menusuk ke ulu hati lawannya.
"Wuttt …"
Deru angin terasa tajam ketika tongkat pusaka itu menyambar kebagian leher Cakra Buana. Dengan mudah saja pemuda serha putih itu mengelak serangan nenek tua tersebut.
"Huppp …"
Nenek tua itu mendarat tepat didepan Cakra Buana. Dengan gerakan tiba-tiba, dia sudah kembali menyerang dengan ganas.
__ADS_1
Tongkatnya dia sabetkan ke arah leher lalu turun ke arah pinggang. Kemudian naik ke atas dan siap memukul kepala lawan.
Akan tetapi semua serangan tersebut bisa dihindari dengan mudah saja oleh Cakra Buana karena kali ini dia sudah berlaku serius. Tidak main-main lagi seperti beberapa waktu lalu.
Melihat bahwa pemuda serha putih itu sudah serius, maka Dewi Bulan pun mengeluarkan semua kemampuannya untuk menyerang lebih ganas lagi.
Serangan berikutnya datang. Serangan itu merupakan tusukan tombak yang bergerak cepat seperti siap menusuk menembus apa saja yang menjadi sasarannya.
Tusukan ini bukanlah gerakan kosong belaka, tusukan tombak ini merupakan salahsatu jurus ampuh Dewi Bulan.
"Tusukan Tongkat Bulan Sabit …"
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Angin tajam datang menyambar Cakra Buana tiada hentinya. Baru beberapa saat saja, nenek tua itu berhasil membuat pemuda serba putih tersebut tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya menahan dan mengelak setiap serangan.
Hingga pada akhirnya, Cakra Buana menggulingkan tubuhnya supaya bisa terbebas dari ancaman tusukan tombak yang bisa kapan saja menembus tubuhnya tersebut.
Akan tetapi meskipun sudah bergulingan, Dewi Bulan terus sja mengejarnya dengan tusukan-tusukan tombaknya.
Secepat kilat Cakra Buana melompat lalu berdiri tegak. Kemudian dia mengirimkan serangan tenaga dalam dari jarak tiga tombak jauhnya.
"Wuttt …"
Ada deru angin yang cukup besar menerpa ke arah Dewi Bulan, buru-buru dia menghindari angin itu dengan melompat ke pinggir. Karena serangan jarak jauh itulah maka serangannya berhenti dan ini menjadi kesempatan yang baik bagi Cakra Buana.
"Sringg …" Pedang Pusaka Dewa dicabut dari warangka (sarung)nya.
"Itu … Pedang Pusaka Dewa …" seru Bagus Segara yang daritadi masih terdiam melihat pertarungan adik seperguruannya itu.
"Benar kakang. Itu memang Pedang Pusaka Dewa, karena itulah aku meminta bantuanmu. Jika kita bisa berhasil membunuhnya, maka pedang pusaka itu bisa kita miliki," kata Dewi Bulan.
"Tidak semudah itu nenek tua. Kau kira jika ingin membunuhku sama gampangnya dengan membalikkan telapak tangan? Jangan mimpi …" ucap Cakra Buana sambil sedikit mengejek nenek tua itu.
"Rasakan ini …" seru Cakra Buana yang kini memilih untuk menyerang lebih dulu.
Cakra Buana menyerang dengan cepat menggunakan Pedang Pusaka Dewa. Seketika itu juga, pedang pusaka tersebut mengeluarkan pamornya.
Ada aura yang membuat Dewi Bulan merasa tertekan keluar dari pedang pusaka tersebut.
Serangan datang. Dewi Bulan pun sudah siap dengan senjata andalannya.
"Trangg …"
__ADS_1
Tongkat dan pedang kembali beradu. Akan tetapi kali ini berbeda dengan sebelumnya, sebab begitu bertemu, Cakra Buana segera menarik kembali Pedang Pusaka Dewa lalu membabatkannya dari kanan ke kiri mengincar leher.
Akan tetapi Dewi Bulan bukanlah pendekar tua biasa, dengan cepat dia menghindari serangan tersebut lalu kembali mengirimkan tusukan dengan tongkatnya yang panjang itu mengarah ke dada Cakra Buana.
Pemuda serha putih itu dengan cekatan menahan tongkat tersebut dengan Pedang Pusaka Dewa.
Kini keduanya sudah terlibat dalam pertarungan yang menegangkan. Keduanya menggunakan pusaka tingkat tinggi.
Deru angin yang berdecit tajam mengiringi pertarungan mereka.
"Sang Dewa Memburu Iblis …"
"Wuttt …"
Cakra Buana mengeluarkan jurus pedangnya dan mengubah gaya serangan.
"Seribu Tongkat Memukul Harimau …"
"Wuttt …"
Tak mau kalah, Dewi Bulan pun mengeluarkan jurus tongkatnya yang lebih hebat lagi.
Tongkat bulan sabit tiba-tiba terlihat menjadi banyak. Sedangkan Pedang Pusaka Dewa bergerak kemana pun lawannya pergi. Dua jurus tingkat tinggi beradu dengan sengit.
Harus Bagus Segara akui bahwa pemuda yang menjadi lawan adik angkatnya bukanlah pemuda biasa, kehebatannya bahkan jauh diatas pendekar yang mungkin sebaya dengannya.
"Pedang Seribu Bayangan …"
"Wuttt …"
Kali ini bukan hanya tongkat bulan sabit yang kelihatan banyak, bahkan Pedang Pusak Dewa pun sama. Pedang itu mendadak banyak jumlahnya dimata Dewi Bulan.
Sehingga beberapa saat kemudian, nenek tua itu mulai terdesak hebat karena kebingungan melihat senjata lawan.
"Srettt …"
"Ahhh …"
Dewi Bulan mengeluh kesakitan ketika menyadari pinggang kirinya berhasil dirobek oleh pedang pusaka itu.
Dia melompat ke belakang lalu menotok area pinggangnya yang terluka supaya luka itu berhenti mengeluarkan darah.
"Kakang, bantu aku. Bocah itu memiliki kepandaian tinggi," kata Dewi Bulan.
"Tentu rai. Mari kita hadapi dia bersama." ucap Bagus Segara.
__ADS_1