
Sudah beberapa waktu Cakra Buana mengejar kedua bayangan tadi. Tidak terasa dirinya terus memasuki hutan semakin dalam. Entah di mana sekarang dia berada.
Bahkan dia sendiri tidak tahu secara pasti. Karena yang jelas, sejauh matanya memandang, yang terlihat hanyalah hamparan rumput ilalang dan pohon-pohon yang tumbuh subur di hutan.
Suasana di sana lumayan gelap. Bukan gelap karena malam hari, tetapi gelap karena daun pohon menutupi cahaya matahari.
Cakra Buana terdiam di tengah-tengah. Di sekelilingnya hanya ada pohon. Di dalam hutan di kejauhan sana, suara binatang liar menggema ke seluruh area.
"Sialan, aku telah terkena perangkap mereka. Ternyata kedua orang tadi hanya sebagai umpan. Hemm, tapi ke mana mereka? Ke mana tidak kelihatan batang hidungnya. Kalau mereka bersembunyi atau lari ke arah lain, pasti hutan ini pernah diinjak oleh manusia," gumam Cakra Buana sambil memutarkan tubuhnya memandang sekeliling.
Pendekar Maung Kulon atau yang sekarang di kenal sebagai Pendekar Tanpa Nama itu baru menyadari bahwa dirinya sudah terjebak dalam perangkap kedua orang tadi. Dia baru benar-benar sadar bahwa dirinya sudah sangat dalam memasuki hutan.
Tapi ada keyakinan di dalam hati Cakra Buana. Kalau kedua orang itu berani masuk ke hutan yang tampak menyeramkan ini, sudah pasti mereka tahu tempatnya. Entah itu bersembunyi, atau mereka keluar lewat jalan lain.
Sekarang, Cakra Buana tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Lebih tepatnya belum bisa melakukan apa-apa.
Tetapi tidak ada rasa khawatir yang tergambar di wajahnya. Bahkan dia tetap tenang. Setenang air danau yang jernih.
Dalam menghadapi situasi apapun, hendaknya tetaplah tenang. Jangan pernah merasa cemas, bahkan walaupun kematian sudah di depan matamu, kalau bisa, tenanglah. Karena dengan ketenangan, kau akan mendapatkan perasaan berbeda. Dan hanya kau sendiri yang mampu menjelaskan perasaan seperti itu.
Dengan ketenangan, manusia bisa lebih mengontrol dirinya. Bahkan dengan ketenangan pula, otaknya akan berpikir lebih jernih.
Dan hal itulah yang dilakukan oleh Cakra Buana sekarang. Dia bahkan duduk bersila. Kadang juga dia naik ke pohon yang memiliki buah dan bisa di makan.
Dia tidak merasa ketakutan sama sekali. Bahkan sebisa mungkin Cakra Buana menikmati keadaan ini. Alam dengan udara yang sejuk, semilir angin yang menenangkan dan suara binatang saling sahut membawa nada alamiah.
Setelah beberapa saat 'bermain-main', Cakra Buana mulai serius. Seluruh indera dia buka sampai ke titik teratas.
__ADS_1
Tiba-tiba tubuhnya melompat ke belakang. Saat di tengah udara, tangan kanannya dia hentakkan ke depan. Selarik sinar kuning keluar dari telapak tangan tersebut menghantam ke tumpukan daun kering.
"Blarrr …"
Ledakan terdengar. Daun kering beterbangan ke segala penjuru. Saat debu sudah mulai menghilang, sebuah lubang mendadak terlihat. Di bawah lubang itu terdapat puluhan batang bambu yang ujungnya runcing.
Andai dia tidak berkonsentrasi, sudah pasti Cakra Buana akan terjatuh dan mungkin kini dirinya sudah tewas tertancap bambu runcing itu. Sesaki-saktinya dia, tetap saja dirinya adalah manusia.
Membayangkan hal tersebut tidak terasa bulu kuduknya merinding sendiri. Ternyata cara orang-orang itu ingin membunuhnya benar-benar keji.
Baru saja dia berkonsentrasi kembali, lagi-lagi sesuatu yang tidak terduga sebelumnya mendadak muncul. Dia melompat lagi ke atas, tangan kanannya melakukan kibasan dengan keras.
Daun kering kembali berhamburan seperti di hantam badai. Dari balik dedaunan tempatnya berdiri sebelumnya, ada banyak benang putih yang tipis sekali. Saking tipisnya hampir tidak terlihat. Cakra Buana yakin bahwa benang itu bukanlah benang biasa.
"Benang Sutera Penjerat Nadi," gumamnya.
Pendekar Tanpa Nama mulai kesal. Jebakan demi jebakan sudah bermunculan. Untungnya, dia bisa selamat dari jebakan itu semua. Salah satunya karena faktor ketenangan.
Cakra Buana memejamkan matanya. Tenaga dalam dia salurkan ke kaki kanan. Setelah tenaga dalam terkumpul, dia menghentakkan kakinya ke tanah.
Seketika tanah di sekitar hutan dalam jarak jangkauan seratus tombak berguncang. Bahkan di beberapa tempat tercipta ledakan yang cukup keras.
Ini adalah jurus yang dia ciptakan sendiri. Jurus yang dia pakai untuk mendeteksi keadaan musuh dalam persembunyian dengan jarak tertentu.
Nama jurus itu adalah Mengguncang Bumi Menggetarkan Udara.
Tidak berapa lama setelah ledakan terjadi, mendadak beberapa sosok mulai bermunculan dari tempat yang tadi mengalami ledakan.
__ADS_1
Cakra Buana masih diam seperti patung. Dia sedang menghitung semua orang yang ada di sana. Setelah mendapatkan kepastian, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Tapi secepat mungkin Pendekar Tanpa Nama menenangkan diri kembali.
Jumlah pendekar yang hadir di sana ternyata ada sekitar sepuluh orang. Yang membuatnya terkejut dan sangat tidak menyangka adalah bahwa kekuatan mereka setara dengan tiga sosok pendamping dan pengawas Organisasi Tengkorak Maut yang kemarin bertarung dengannya.
Kemarin tiga orang saja sudah lumayan hebat, apalagi kalau ada sepuluh orang? Bahkan dipastikan mereka semua berada satu atau dua tingkat di atas tiga sosok yang dibunuhnya (Banteng Tanpa Ampun, Tubuh Baka Pukulan Besi dan Gada Pemukul Gunung).
"Orang yang kalian cari sudah datang. Kenapa masih bersembunyi dan tidak menampakkan diri?" kata Cakra Buana dengan pengerahan tenaga dalam sehingga suaranya terdengar jelas ke telinga semua orang yang hadir.
Tidak berapa lama beberapa suara tawa terdengar membahana menebarkan hawa pembunuhan yang sangat kental. Bahkan karena suara tawa tersebut, binatang liar yang tadi ramai mendadak sepi seketika.
Suasana di sana terasa jadi lebih mencekam
"Werrr …"
Tiba-tiba dari arah belakang Cakra Buana terdengar hembusan angin dingin yang sangat cepat. Sebuah senjata berukuran satu jengkal melesat secepat kilat ke arahnya.
Tetapi dengan tenang dan rasa percaya diri, Cakra Buana akhirnya berhasil menangkap senjata tersebut. Bahkan tanpa berpaling sedikitpun. Hanya dengan tangannya dia julurkan ke belakang, senjata rahasia berupa pisau belati itu sudah tertangkap di dua jarinya.
"Clangg …"
Pisau belati patah menjadi dua bagian. Ada asap putih tipis keluar saat pisau itu patah.
"Racun seperti ini hanya sia-sia kalau digunakan kepadaku. Keluar saja, aku tidak suka bermain belakang seperti ini," katanya dengan suara dingin.
"Hahaha, hebat-hebat. Pemuda bernama Cakra Buana alias si Pendekar Maung Kulon atau kini yang mengaku sebagai Pendekar Tanpa Nama memang bukanlah nama kosong. Ku akui bahwa kau memang hebat anak muda," kata seseorang dengan suara serak parau.
Entah sejak kapan, tiba-tiba saja ada seorang kakek tua berdiri di hadapannya dalam jarak sepuluh tombak. Tidak berapa lama kemudian, muncul juga sosok yang lainnya.
__ADS_1
Baru muncul pun mereka sudah mengurungnya secara ketat. Semua yang hadir memperlihatkan bahwa mereka memang bukan pendekar sembarangan.