Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Dua Jurus Maut


__ADS_3

"Ahh …" Ling Zhi mengeluh menahan rasa perih yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia melompat mundur ke belakang. Niatnya untuk memberhentikan darah yang terus keluar itu, hanya saja Dewi Penggoda Pria tidak memberikannya sedikit pun kesempatan.


Dia mulai menyerang Ling Zhi kembali. Dalam satu kesempatan, Dewi Penggoda Pria mengambil pedang yang satunya di mana sebelumnya sempat terlempar.


Setelah itu, dua pedangnya ia mainkan kembali untuk menggempur Ling Zhi. Dia mengeluarkan seluruh kemampuannya. Tenaga yang berlipat ganda keluar saat pedangnya mengincar sasaran.


Pedang iti berkelabat ke segala arah. Cepatnya sulit untuk digambarkan. Setiap kilatan pedang membawa kengerian tersendiri. Ling Zhi berada di bawah angin. Sedikir demi sedikit dia mulao terdesak. Gerakan pedangnya menjadi terhambat oleh semua serangan lawan.


Darah masih terus keluar. Wajah Ling Zhi mulai memucat. Tubuhnya melemas secara perlahan. Kalau tidak dipaksakan, dirinya pasti akan tumbang. Maka dengan modal nekad, Ling Zhi menggigit bibirnya lalu mulai membalas serangan lawan.


"Hiyaa …"


Dia membentak keras sambil menerjang. Pedang Bunga ia sabetkan sekuat tenaga dari sisi kanan ke sisi kiri. Kilatan pedangnya mengeluarkan cahaya merah muda serta mengeluarkan bau harum bunga Mawar.


Amarah Ling Zhi tidak terkendali. Gerakannya menjadi ganas seperti harimau betina yang terluka. Setiap kali menyerang, setiap itu juga dia membentak.


Pertarungan mulai berjalan sengit kembali. Masing-masing pendekar wanita itu sudah mengeluarkan kekuatannya sampai puncak. Luka yang diakibatkan oleh salah satu pedang Dewi Penggoda Pria, tidak Ling Zhi rasakan.


Dia sedang terfokus kepada lawannya.


Semangat yang hampir hilang, kini datang lagi. Hawa pedang yang hampir redup, kini menyala kembali. Gerakannya menjadi lebih tangkas dan gesit.


Dalam beberapa jurus, Ling Shim sudah berada dal posisi akan kembali. Tubuhnya seperti sedang menari dalam gulungan sinar pedang Dewi Penggoda Pria.


"Pedang Bayangan Sukma …"


"Wushh …"


Jurus dahsyat kembali dia keluarkan. Dewi Penggoda Pria merasak kewalahan serta kebingungan. Dia tidak tahu ke mana arah serangan Ling Zhi karena semua arah dia libas habis. Bahkan sinar pedangnya kini tertutup oleh sinar pedang Ling Zhi.


"Diam …"


Ling Zhi membentak keras. Suaranya menggelegar di telinga Dewi Penggoda Pria. Seperti ada kekuatan ghaib yang dahsyat, detik itu juga dia langsung terdiam. Tahu-tahu, ada benda sedingin es menusuk jantungnya.

__ADS_1


Ternyata pedang Ling Zhi. Entah kapan pedang itu menusuknya. Sekarang dia baru menyadari hal tersebut, dan itu tentu sudah terlambat.


"Ka-kau …"


Dia tidak mampu menyelesaikan perkataannya, karena detik berikutnya dia roboh ke tanah seiring Ling Zhi mencabut kembali pedangnya.


"Akhirnya selesai juga …" keluhnya lalu dia sendiri terkulai lemas karena tenaganya sudah habis.


Untung ada seorang pendekar wanita yang bergerak cepat menolongnya. Sehingga sebelum tersungkur ke tanah, tubuh Ling Zhi sudah bisa di tarik kembali.


Sementara itu, pertarungan Cakra Buana melawan Eyang Batara Bodas sudah berjalan lebih dari tiga puluh jurus. Keduanya mengeluarkan kekuatannya masing-masing.


Cakra Buana menyerang dengan kecepatan di luar nalar, sedangkan si kakek tua menyerang mengandalkan serangan seberat ribuan kati. Setiap ayunan tongkatnya, mampu membelah batu hitam sebesar kerbau.


Angin dari pertarungan mereka menerbangkan apapun yang ada di sekitarnya. Tubuh mereka terbungkus di antara semua serangan.


Eyang Batara Bodas menyodokkan tongkat panjangnya, mengincar jalan darah penting di tubuh Cakra Buana. Hal ini menjadi keuntungan dia sendiri karena tongkatnya yang panjang itu.


Kini keduanya sudah membenturkan kembali senjatanya masing-masing. Kilatan pedang dan tongkat bersinar di antara kobaran api. Di saat seperti itulah tubuh Cakra Buana berputar lalu dengan sekasi sentakan, dia membenturkan tangannya dengan tongkat milik Eyang Batara Bodas.


"Trakkk …"


Tongkat Eyang Batara Bodas terlepas dari genggaman tangannya. Kakek tua itu sendiri merasa kaget bukan kepalang. Seumur hidup, mimpi pun tidak jika tongkatnya bisa dipentalkan oleh seorang pendekar muda.


Alasan tongkat Eyang Batara Bodas terpental karena tadi dia merasakan adanya sebuah tenaga sebesar gunung yang menghantam tangannya. Sehingga tangan yang erat itu tiba-tiba mengendor, oleh karena itulah tongkatnya lepas.


Cakra Buana sendiri tidak melanjutkan serangannya, dia berhenti sejenak lalu memasukan Pedang Pusaka Dewa kembali.


"Kenapa kau tidak meneruskan serangan itu?" tanya Eyang Batara Bodas keheranan.


"Aku bukan seorang pengecut. Lawan tidak menggunakan senjata, bagaimana aku bisa menggunakannya? Lebih baik kita bertarung dengan tangan kosong sampai ada yang tewas di antara kita berdua," tantang Cakra Buana penuh percaya diri.


"Hahaha …, bagus, bagus. Aku salut kepadamu. Baiklah, mari kita akhiri pertarungan ini. Aku akan merasa bahagia jika bisa mati di tangan pendekar sejati sepertimu," kata Eyang Batara Bodas dengan tulus.

__ADS_1


"Baik. Silahkan kau mulai duluan," kata Cakra Buana lalu menyiapkan kuda-kuda.


Tanpa banyak bicara lagi, Eyang Batara Bodas kemudian menyiapkan jurusnya yang pertama. Sebenarnya Cakra Buana bisa dibilang sangat nekad, sebab kakek tua ini dulu terkenal dengan ilmu tangan kosongnya yang pernah menggemparkan dunia persilatan.


Apalagi dengan ilmu tapaknya yang bernama Tapak Guntur. Kalau dia sudah mengeluarkan ajian ini, apapun yang dia serang bisa langsung hancur berantakan. Kalau sampai terkena ke tubuh manusia yang tingkatannya di bawah Eyang Batara Bodas sendiri, bisa jadi orang itu bakal langsung tewas dengan tubuh gosong. Dan organ dalamnya akan hancur.


Sedangkan kepandaian Cakra Buana saja, paling hanya selisih setengah tingkat saja.


Dan ternyata, Eyang Batara Bodas memang tidak tanggung-tanggung. Saat ini dia berniat untuk bertarung sampai titik terakhir, karena itulah jurus pamungkasnya langsung keluar.


"Tapak Guntur …"


Begitu ajian maut ini sudah siap, langit yang kelam berubah menjadi kelam lagi. Gemuruh guntur dan kilatan petir mulai meramaikan malam ini. Kekuatan Eyang Batara Bodas menjadi berlipat ganda.


Cakra Buana tergetar. Dia benar-benar kaget karena baru mengetahui bahwa kekuatan kakek tua itu ternyata diluar dugaannya sendiri.


'Tidak ada jalan lain kecuali aku mengeluarkan jurus dari Eyang Guru Sukma Saketi,' batin Cakra Buana.


Eyang Batara Bodas sudah memulai gerakannya. Tubuhnya melesat dengan tangan kanan menjulurkan tapak. Dari jauh, Cakra Buana bisa melihat bahwa telapak tangan kakek tua itu mengandung tenaga dalam seberat dua gunung.


Para pendekar yang melihat pertarungan ini pun merasakan tekanan kuat. Mereka mengkhawatirkan Cakra Buana.


Begitu lawan sudah dekat jaraknya, Cakra Buana langsung mengeluarkan ajian pamungkas yang dia miliki.


"Ajiam Curuk Dewa …"


"Wushh …"


Sebuah sinar berkekuatan sangat dahsyat melesat keluar dari jari telunjuknya. Eyang Batara Bodas pun sangat kaget, sebab doa seorang tokoh tua. Sudah pasti dirinya tahu bagaimana dahsyatnya ajian tersebut.


'Celaka …' batinnya khawatir saat jurus Cakra Buana semakin dekat dengannya.


Dua jurus maut siap bertemu. Entah siapa yang akan menang dan siapa yang akan tewas. Yang jelas, semua yang ada di sana merasakan ketegangan yang teramat sangat.

__ADS_1


__ADS_2