
Semua orang kembali saling pandang tak percaya. Berbagai pertanyaan muncul seketika dalam benak mereka.
Siapa yang berani menaruh racun? Racun apa ini? Apa tujuannya?
Belum ada yang berani bicara. Semua orang masih di serang oleh rasa kaget. Kejadian seperti ini kali pertama terjadi.
"Ini racun yang ganas. Sebab bisa di campur dalam makanan tanpa meninggalkan bau, bahkan racun ini sama sekali tidak bisa tertangkap oleh mata biasa," kata Gagak Putih sambil memperhatikan racun tersebut.
"Jenis racun apa ini paman?" tanya Cakra Buana.
"Rasanya aku baru lihat. Tapi yang jelas, ini racun langka. Artinya, obat penawarnya pun juga langka. Bahkan mungkin tidak ada," kata Gagak Bodas sambil mencoba duduk kembali.
"Kurang ajar …" Prabu Katapangan menggeram marah. "Ini pasti ulah lima prajurit tadi. Aku yakin, mereka sebenarnya penyusup. Sekarang juga, tangkap mereka!!!" kata Prabu Katapangan memberikan perintah dengan nada marah.
"Tahan," kata Cakra Buana sambil memberikan isyarat.
"Ada apa lagi pangeran?"
"Mereka tidak salah. Mungkin makanan ini memang beracun dari sananya," kata Cakra Buana, ia melangkah perlahan ke dekat pintu lalu membukanya seolah-olah hendak keluar.
Pada saat itu, prajurit yang tadi menguping kaget. Ia buru-buru melarikan diri dari sana supaya tidak ketahuan
Di dalam ruangan sendiri terjadi keheranan. Ucapan Cakra Buana sama sekali tidak masuk akal. Mereka ingin bicara, tapi Cakra Buana mendahuluinya.
"Aku bicara seperti itu karena di luar ada seorang yang sedang menguping," ia berhenti sebentar melihat reaksi yang lainnya, setelah itu, dia segera menyambungnya kembali. "Kalau di tindak secara kasar, meraka akan tahu lebih dulu dan bakal sia-sia. Tapi kalau secara halus, kemungkinan besar mereka tidak akan menyadarinya," kata Cakra Buana memberikan saran.
"Benar,"
"Setuju,"
Semua orang yang ada di sana akhirnya menyetujui usulan tersebut.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang pangeran?" tanya Prabu Katapangan.
"Kita periksa prajurit yang mencurigakan dan beberapa prajurit lainnya. Biar aku yang melakukan hal ini,"
"Baiklah kalau begitu. Kita lakukan sekarang," kata Prabu Katapangan.
Semua orang lalu segera keluar dari sana. Mereka berjalan ke halaman Istana Kerajaan. Cakra Buana paling depan di temani oleh Ling Zhi.
"Baik dayang maupun prajurit, aku perintahkan kalian untuk berkumpul," ucap Cakra Buana dengan keras.
Dalam waktu sekejap saja, semua prajurit yang ada di sekitar halaman Istana Kerajaan, langsung berkumpul. Jumlah yang ada di dekat lokasi Cakra Buana tidak banyak, paling hanya sekitar tiga puluh orang pria dan tiga puluh orang dayang wanita. Semuanya berjejer rapi.
__ADS_1
Cakra Buana lalu berjalan mengelilingi mereka, dia sedang mencari lima prajurit tadi.
Dapat!
Cakra Buana mendapatkan kelimanya. Lalu mereka di suruh maju ke depan.
Mau tidak mau, kelimanya lalu maju mengikuti arahan Cakra Buana.
Suasana di sana hening. Tak ada yang berani bicara.
"Tenanglah, aku tidak akan berbuat macam-macam kepada kalian," kata Cakra Buana saat melihat ketegangan di antara mereka.
"Apakah kalian tahu siapa aku?" tanyanya kepada lima orang tersebut.
"Tahu, Anda adalah Pangeran Cakra Buana," jawabnya serempak.
"Bagus. Perlihatkan lencana yang kalian miliki,"
Serempak mereka langsung memperlihatkan lencana Kerajaan Tunggilis. Cakra Buana hanya mengangguk-angguk.
"Lepaskan pakaian prajurit kalian," kata Cakra Buana memberikan perintah.
Kelima prajurit saling pandang. Semua orang yang ada di sana, tidak mengerti apa yang Cakra Buana lakukan.
"Tapi pangeran …, nanti kami malu kalau pakaian ini di lepas. Apalagi aku seorang wanita," kata seorang dayang dengan wajah sedih.
Para prajurit lain bergidik ngeri melihat Cakra Buana yang sedang marah itu.
Kelima prajurit saling pandang kembali. Seorang di antara mereka, merogoh sesuatu dari balik baju lengan panjangnya.
"Wuttt …"
Tanpa diduga sebelumnya oleh semua orang, prajurit tersebut melemparkan sebuah senjata rahasia berupa jarum beracun. Jarak Cakra Buana dan lima prajurit itu sekitar lima langkah. Menurut logika, mustahil Pendekar Maung Kulon bisa menghindarinya. Apalagi kecepatan jarum itu, sangat cepat.
Siapa sangka, Cakra Buana justru menangkap semua jarum itu dengan mudah.
"Tapp …"
"Tapp …"
Jarum yang ternyata berjumlah lima belas, berhasil di tangkap dengan mulus. Dengan gerakan dadakan, ia melemparkan balik jarum-jarum tersebut kepada pemiliknya.
"Wuttt …"
__ADS_1
"Tapp …"
Tiga belas jarum berhasil di tangkap olehnya. Tapi sayangnya, dua jarum bersarang di tubuh prajurit tersebut. Hanya dalam hitungan nafas, ia roboh dengan mulut berbusa. Matanya mendelik. Dia kejang-kejang sebentar sebelum akhirnya tewas.
Semua orang dibuat kaget. Terlebih keempat rekan prajurit yang kini jadi mayat itu. Nyali mereka menjadi ciut. Keempatnya berniat untuk melarikan diri, tapi sayangnya niat itu segera di ketahui oleh Cakra Buana.
"Berani kalian lari dari sini, aku jamin tidak sampai lima langkah akan menjadi mayat," katanya dengan garang.
Pada akhirnya mereka membatalkan niat untuk lari. Tapi bukan berarti mereka berdiam diri saja. Karena sudah tertangkap basah, maka detik berikutnya keempat orang itu melepas pakaian secara bersamaan lalu menyerang Cakra Buana dengan gerakan dadakan.
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Empat bayangan melompat serempak sambil memberikan berbagai serangan. Berbarengan dengan itu, tiga bayangan dari pihak Kerajaan Tunggilis juga melompat ke arena yang sebentar lagi akan menjadi akan pertarungan.
Ketiganya adalah Ling Zhi, Sanca, dan Dadung Amuk.
Sebelumnya sudah di ceritakan bahwa dua orang itu disuruh oleh Cakra Buana agar pergi ke Kerajaan Tunggilis. Dan memang hal itu mereka lakukan. Keduanya di terima dengan baik di sini, bahkan mereka dijadikan kepala prajurit.
Dan sekarang saat melihat kejadian ini, keduanya melompat dari belakang secara tiba-tiba. Mereka ingin membuktikan kepada Cakra Buana atas kesungguhannya untuk berubah.
Dalam lima tarikan nafas, empat orang sudah bertarung di saksikan oleh semua orang Istana Kerajaan Kawasenan.
Keempat orang tadi memang benar orang-orang Kerajaan Kawasenan. Mereka para pendekar yang diberikan tugas seperti pernah diceritakan sebelumnya.
Pertarungan sengit tak terhindarkan lagi. Tentu saja, sebab keempatnya bukan pendekar kelas bawah. Tapi kelas atas.
Sanca dan Dadung Amuk menujukkan taringnya. Mereka bertarung langsung mengeluarkan jurus-jurus tingkat tinggi.
Keduanya bergerak bagaikan dua ekor singa jantan liar. Jurus maut sudah keluar. Dua lawan kaget saat mengetahui lawan mereka ternyata seorang yang tangguh. Mereka tak mau kalah, jurus maut yang dimilikinya, turut di keluarkan.
Dadung Amuk dan Sanca bertarung dengan ganas. Seolah mereka haus akan sebuah pertarungan. Cakra Buana sendiri kaget, dia tidak menyangka bahwa Dadung Amuk dan Sanca memiliki kepandaian sekelas pendekar kelas atas, hampir mendekati pendekar pilih tanding.
Pukulan demi pukulan mereka lancarkan. Desiran angin mewarnai pertarungannya. Sanca dan Dadung Amuk bertarung saling membantu. Satu menyerang, satu melindungi.
Hingga pada akhirnya, kedua orang itu mengeluarkan jurus pamungkasnya.
"Semburan Ular Sendok …"
"Mematuk Batu Hitam …"
"Wuttt …"
__ADS_1
"Wushh …"
Dua jurus saling melengkapi menyerang dua lawan. Semburan milik Dadung Amuk berwarna hitam pekat. Semburan itu tentunya mengandung racun mematikan. Sedangkan jurus milik Sanca, berupa gerakan yang secepat kilat. Ia memberikan totokan maut dengan kelima jarinya. Di mana lima jari tersebut, mengandung racun yang sama ganasnya dengan ular sendok.