
"Trangg …"
"Trangg …"
Benturan logam kembali terjadi seperti sebelumnya. Tapi kali ini Cakra Buana tidak menunggu, begitu tiga senjata lawan menempel pada Pedang Pusaka Dewa, ia langsung menarik kembali pusakanya lalu memberikan serangan lain menggunakan kaki kanan.
Cakra Buana berputar menendang beberapa bagian tubuh lawan sehingga mereka terpental. Namun begitu terjengkang, empat pendekar lainnya maju menerjang Cakra Buana pula.
Senjata pusaka mereka telah di keluarkan dan siap menebas leher Pendekar Maung Kulon. Tapi tentu Cakra Buana tidak mau membahayakan dirinya sendiri. Begitu keempat lawan sudah dekat, dia berputar cepat bagaikan gangsing.
Tubuhnya tertutup sinar putih dari kilatan Pedang Pusaka Dewa. Dia terus berputar hingga menimbulkan gelombang angin yang melindungi dirinya. Alhasil, keempat pendekar tadi tidak mampu menyentuh tubuhnya. Seberapa kuat mereka menyerang, tetap saja yang terkena hanyalah batang Pedang Pusaka Dewa. Bukan tubuh Cakra Buana.
Di sisi lain, pertarungan empat pendekar Kerajaan Kawasenan melawan Pendekar Tangan Seribu berjalan semakin seru. Pria serba hitam dengan sabuk kain merah itu, telah menggelar jurus-jurus maut yang dimilikinya.
Walaupun keempat pendekar itu bukanlah lawan mudah, tapi setidaknya Pendekar Tangan Seribu bisa mengimbangi. Kedua tangannya sudah berubah menjadi merah membara seperti beberapa waktu lalu.
Jurus Tangan Neraka Seribu Bayangan sudah ia keluarkan membuat ruangan tersebut terasa sangat panas seperti dibakar. Pendekar Tangan Seribu bergerak menyerang dengan kedua tangan yang mirip baja panas itu. Kedua kakinya mengikuti irama gerak.
Semua senjata lawan yang beradu dengan tangannya, tak ada yang mampu melukai. Justru sebaliknya, senjata itulah yang gompal. Keempat pendekar kaget, rasa gentar mulai menyelimuti hatinya.
Keringat panas dan dingin mulai bercucuran membasahi pelipis. Pendekar Tangan Seribu masih terus menyerang dengan ganas. Sepak terjangnya bagaikan seekor singa yang sedang marah. Cepat, tangkas, mematikan.
"Awas kepala …"
Pendekar Tangan Seribu berteriak kepada satu lawannya. Pukulan tangan kanannya melayang mengarah kepala, lawan kaget. Dia menundukkan kepalanya. Ia mengira bahwa kepalanya memang sedang di incar, andai kata benar, bisa dipastikan bahwa kepala itu akan hancur berikut isinya.
Tapi detik berikutnya, serangan justru berubah. Ketika tangan kanan Pendekar Tangan Seribu hampir mengenai kepala lawan, ia justru menariknya kembali lalu memberikan pukulan telak memakai tangan kiri yang tepat mengenai dagunya.
__ADS_1
"Bukkk …"
"Ahhh …"
Lawan langsung terpental. Ia jatuh telentang dengan mulut yang hancur. Kulit dagunya berubah gosong akibat tak kuasa menahan rasa panas dari jurus Tangan Tangan Neraka Seribu Bayangan. Bahkan darah yang harusnya mengucur, kini tidak lagi. Justru darah itu menjadi kental. Pendekar tersebut sempat menggelepar beberapa saat sebelum akhirnya tewas.
Sementara itu Cakra Buana sudah melewati pertarungan sebanyak tiga puluh jurus. Ia mulai memainkan jurus-jurus dari Kitab Dewa Bermain Pedang, gerakannya semakin sulit diikuti mata.
Ketujuh lawan semakin gentar karena mereka belum mampu melukai Cakra Buana. Sedangkan di posisi lain, pemuda serba putih itu telah berhasil memberikan luka kepada sebagian lawan.
"Langkah Dewa Angin …"
"Pedang Seribu Bayangan …"
"Wushh …"
Pedang tersebut berubah menjadi banyak di mata lawan. Hembusan angin tajam mengiringi serangan pedang pusaka itu. Ketujuh lawan dibuat semakin ciut nyalinya. Mereka bertujuh, Cakra Buana hanya sendiri. Tapi kenapa saat pemuda itu melancarkan serangan dengan pedang, ketujuh pendekar bisa merasakan bahwa mereka di serang juga secara bersamaan?
Memikirkan hal ini, nyali ketujuh pendekar bertambah ciut. Baru kali ini mereka pertarungan dengan pendekar Seperti Cakra Buana. Di mata mereka, Pendekar Maung Kulon bukanlah manusia. Melainkan iblis atau malaikat. Karena hanya merekalah yang mampu melakukan seperti itu.
Cakra Buana melompat secara tiba-tiba. Pedang Pusaka Dewa ia ayunkan dengan mantap.
"Patah …"
"Clangg …"
Sekali bicara. Sekali tebas. Ketujuh senjata pusaka, patah oleh Pedang Pusaka Dewa. Semua orang tercengang. Tidak ada yang tidak kaget melihat kejadian ini. Semuanya berlalu begitu cepat, sangat cepat.
__ADS_1
Begitu senjata lawan patah, dengan gerakan cepat Cakra Buana melancarkan serangan jarak jauh. Tangan kiri yang tidak memegang apa-apa, ia hentakkan ke depan dengan kuat.
"Wushh …"
Sebuah energi besar melesat lalu menghantam semua lawan. Tak ada yang bisa menghindari serangannya itu karena ketujuh pendekar masih terkejut akibat peristiwa patahnya pusaka mereka.
"Heughh …"
Ketujuh Pendekar Kerajaan Kawasenan mengeluh tertahan. Sekali serangan, dada mereka terasa sangat sesak. Bahkan punggung pun terasa berat. Orang-orang itu merasa ada batu sebesar gunung sehingga mereka tidak bisa berdiri kembali.
Melihat semua pendekarnya kewalahan, Prabu Ajiraga semakin marah. Ia berniat untuk menyerang Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu. Namun sebelum dirinya sampai di dekat keduanya, Cakra Buana sudah mengambil tindakan cepat.
Ia menarik tangan Pendekar Tangan Seribu. Kemudian lari secepat mungkin dari sana menggunakan Ajian Saipi Angin. Baru dua tarikan nafas, keduanya sudah berhasil keluar dari dalam istana. Cakra Buana terus berlari kencang. Ia bagaikan angin yang tidak bisa dikejar siapapun.
Bahkan Prabu Ajiraga tidak dapat mengejarnya. Alasannya karena ia telah diburu oleh nafsu sehingga kehilangan konsentrasinya.
"*****. Kejar dua orang itu!! Jangan biarkan dia lari, cepat kejar. Jangan banyak bicara, bunuh saja mereka. Bawa kepalanya kepadaku," Prabu Ajiraga berteriak sekencang mungkin. Wajahnya merah padam. Asap putih tipis mengepul dari ubun-ubunnya.
Dia menghentakkan kakinya lalu masuk kembali ke dalam. Ruangan yang tadinya rapi, kini menjadi hancur berantakan. Tetesan noda darah ada di mana-mana. Bahkan bau anyir mulai memenuhi ruangan tersebut.
Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma benar-benar geram. Dia ingin mengejar Cakra Buana yang melarikan diri, tapi rasanya itu sangatlah menjatuhkan martabatnya. Seorang raja besar tidak patut turun tangan selama masih ada yang bisa di andalkan.
Waktu masuk ke dalam ruangan dan duduk di singgasananya, Prabu Ajiraga melihat sepuluh orang pendekar yang tadi bertarung sedang berjejer ketakutan. Semuanya tidak ada yang berani mengangkat muka. Ada rasa benci dan penyesalan dalam hati mereka.
Benci karena Cakra Buana mematahkan pusaka mereka dan Pendekar Tangan Seribu membunuh salah satu rekan mereka, dan menyesal karena tidak dapat membunuh keduanya.
"Dasar bodoh. Hanya melawan dua manusia saja tidak mampu. Jumlah kalian bahkan tiga kali lipat, tapi kenapa tidak ada yang sanggup? Apa aku harus turun tangan sendiri? Kalau begitu, berarti aku tidak usah lagi membutuhkan orang-orang ***** seperti kalian ini," kata Prabu Ajiraga dengan nada sangat marah.
__ADS_1
"Cepat bereskan ruangan ini. Bawa mayat teman kalian, aku ingin ruangan ini serapi semula. Setelah itu, kejar dua orang tadi. Jangan kembali sebelum mendapatkannya," setelah berkata demikian, Prabu Ajiraga lalu pergi dari ruangan tersebut sambil terus membawa kekesalannya.