Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Hari Berkabung


__ADS_3

Malam telah berhenti pagi. Semalaman Cakra Buana menemani Ling Zhi tanpa terdtidur barang sekejap. Begitu waktu menjelang pagi, tak terasa dia ketiduran. Kepalanya tertidur tepat di samping kepala jasad yang sudah terbujur kaku itu.


Semalam, rembulan tidak menampakkan dirinya. Dan hari ini juga, mentari tidak terlihat di cakrawala. Langit tampak mendung.


Semendung hati Cakra Buana.


Belum lama terbangun, pintu kamar diketuk orang lagi.


"Cakra, apakah kau sudah bangun?" sebuah suara terdengar dari luar kamar.


Walaupun Cakra Buana masih berada dalam kesedihan. Walaupun dia masih merasa pilu, tapi tidak separah kemarin. Saat ini dia terlihat kuat. Lebih tepatnya menguatkan.


"Sudah paman," jawab Cakra Buana karena yang memanggilnya memang Prabu Katapangan.


"Apakah paman boleh masuk?"


"Silahkan,"


Tak berapa lama, seorang tua yang gagah dan masih tampan berjalan perlahan memasuki kamar.


Kamar yang penuh dengan kesedihan.


Raja itu mengambil sebuah kursi yang ada di sana. Kemudian dia duduk tepat di samping Cakra Buana yang masih saja setia berada di samping Ling Zhi.


"Cakra, sudah waktunya. Para pahlawan yang gugur di medan perang sebentar lagi akan di semayamkan," kata Prabu Katapangan.


Perkataannya berhenti sampai di situ. Dia tidak menyelesaikannya. Tapi walaupun begitu, Cakra Buana sudah paham apa maksud pamannya ini.


"Baiklah. Mari kita keluar," katanya sambil mencoba untuk tersenyum walaupun terasa susah.


Prabu Katapangan mengangguk. Dia keluar lebih dulu diikuti Cakra Buana yang sedang membopong Ling Zhi.


Tubuh yang sudah kaku itu diserahkan kepada seseorang untuk di rapikan lebih dulu. Sedangkan Cakra Buana dan paman langsung keluar Istana.

__ADS_1


Ternyata memang benar. Di sebuah halaman yang luas, ratusan orang sudah berkumpul di sana. Mereka akan memberikan penghormatan terkahir bagi sanak saudaranya yang telah gugur di medan perang dalam membela kebenaran.


Tak berapa lama, jenazah Ling Zhi sudah di bawa keluar oleh beberapa orang. Jasad para pendekar di sediakan tempat khusus. Sedangkan untuk para prajurit, akan dikuburkan dalam beberapa lubang besar.


Penguburan pun mulai dilakukan. Ratusan prajurit ditugaskan dalam hal ini. Para pendekar lain menyaksikan ini berbarengan dengan rasa sedih. Tak terkecuali Cakra Buana.


Penguburan ratusan ribu prajurit selesai saat hari menjelang sore. Penguburan ini menghabiskan banyak waktu karena korban yang tewas pun tidak sedikit.


Prajurit Kerajaan Tunggilis dibagi dua. Yang satu menguburkan jasad pihak Kerajaan Kawasenan termasuk sang raja sendiri di sebuah tempat kosong di sana. Sedangkan sisanya menguburkan di sini.


Ternyata kemarin Prabu Katapangan langsung mengutus prajurit tersisa untuk segera membereskan mayat-mayat itu. Mayat musuh dan mayat orang-orangnya sendiri di pisahkan.


Walaupun mereka musuh, tetap saja raja bijaksana ini memperlakukannya dengan sama. Sebab jasad hanyalah jasad. Raga hanyalah raga. Raganya tidak bersalah. Yang bersalah ialah orangnya.


Kini telah tiba penguburan para pendekar yang sangat berjasa dalam perang kemarin bagi Kerajaan Tunggilis. Tak kurang dari seratus pendekar kelas atas tewas. Mereka dikuburkan dalam lubang masing-masing.


Semua kawan atau kerabat serta keluarga mereka, menyaksikan penguburan ini dengan air mata. Ada yang teringat kenangan saat berlatih bersama, mengembara bersama, dan lain sebagainya. Semua kenangan itu memenuhi pikiran masing-masing orang.


Dan yang terkahir dikuburkan adalah jasad seorang wanita yang sangat istimewa. Seorang wanita cantik bak bidadari.


Penguburan terkahir adalah penguburannya. Cakra Buana berjalan ke depan. Dia ingin menyaksikan wajah cantik itu untuk yang terakhir kali.


Hanya saat ini. Dan terkahir kali.


Wajah cantik itu, mata yang jernih dan bulu mata yang lentik. Tubuh mulus sehalus kain sutera. Kulit yang putih seperti salju. Kini semua keindahan dan kesempurnaan itu tak dapat lagi dinikmati oleh Cakra Buana.


Sebab sekarang, tubuh itu telah kembali lagi ke asalnya.


Secantik apapun wajahnya, sebagus apapun rupa seseorang. Jika dia telah mati, tetap saja tidak membawa apa-apa. Yang dia banggakan tidak akan di bawa lagi.


Sanak saudara tidak akan menemani mereka lagi. Mereka sendirian. Semua kebanggaan, lepas begitu saja saat kematian tiba.


Cakra Buana memandanginya dengan lekat sekali. Tak terasa air matanya kembal keluar. Bibirnya bergetar menyaksikan kekasihnya dikuburkan.

__ADS_1


"Selamat jalan kekasihku. Semua janji yang telah aku ucapkan, kelak akan aku buktikan. Aku akan mencari mereka yang telah membunuhmu. Aku juga akan mencari mereka yang telah membunuh semua saudaraku," ucapnya dengan penuh kesedihan.


Cakra Buana adalah manusia. Manusia biasa. Sekuat apapun manusia, pasti dia pernah menangis dalam hidupnya.


Pemandangan ini, mungkin menjadi pemandangan yang siapapun tidak ingin mendapat gilirannya. Pemandangan yang paling mengerikan. Saat-saat yang paling ditakutkan dalam kehidupan.


Adalah berpisah dengan seseorang yang amat sangat kita sayangi dan cintai. Dan Cakra Buana sedang mengalami hal ini. Bagaimana mungkin dia tidak menangis?


Waktu terus berjalan, dan penguburan pun telah selesai. Orang-orang sudah banyak yang kembali lagi ke rumah mereka. Pikiran semua orang saat ini sedang dipenuhi dengan berbagai macam kenangan.


Hanya kenangan yang tersisa. Tak ada yang lain lagi.


Seharian tadi, Kerajaan Tunggulis berada dalam situasi berkabung. Deraian air mata kesedihan keluar dari mereka yang bersangkutan. Tak terkecuali Cakra Buana.


Saat ini, puluhan pendekar telah berkumpul di ruangan khusus yang agak besar. Mereka sedang berkumpul bersama. Tapi bukan untuk membahas tentang bagaimana ke depannya terkait kekuasaan.


Melainkan membahas hal-hal lain terkait dunia kependekaran ataupun sebagainya. Hari ini adalah hari yang paling menyedihkan bagi Kerajaan Tunggilis. Jadi, bagaimana mungin mereka mampu membicarakan hal-hal terkait politik saat situasi berduka seperti sekarang?


Tetapi pada saat itu, Cakra Buana memilih untuk memisahkan diri. Dia bahkan pergi tanpa pamit. Tidak ada yang menanyakan ke mana dia akan pergi. Karena semua orang mengerti bagaimana perasaan Cakra Buana saat ini.


Pemuda bernasib malang itu berjalan sendiri ke belakang Kerajaan Tunggilis. Dia berniat untuk menuju ke bukit yang dulu sempat menyimpan kenangan indah bersama kekasihnya.


Dia duduk di pinggir tebing. Matanya memandang jauh ke depan. Wajahnya walaupun sedikit cerah, tapi masih menggambarkan kesedihan mendalam.


Semua kenangan indah bersama Ling Zhi satu-persatu mulai lewat di benaknya. Dia mendadak mengingat semuanya. Mulai dari perkenalan singkat dan tak sengaja. Sampai ke akhir khayatnya.


Cakra Buana memang sudah tidak menangis lagi. Tapi hatinya menjerit sangat keras. Andai kata bisa terdengar, mungkin jeritannya akan terdengar sampai jauh ke sana.


"Kakang, kau jangan bersedih lagi. Bukankah kau sudah berjanji akan menjalani hidup dengan baik? Kalau kau memang mencintaiku, tersenyumlah. Kalau kau tersenyum, di sini aku sangat berbahagia," sebuah suara yang sudah tidak asing bagu Cakra Buana tiba-tiba terdengar di telinganya.


Suara itu sangat kecil. Tapi baginya sangat jelas sekali.


Suara Ling Zhi.

__ADS_1


Entah suatu perasaan belaka atau memang nyata. Cakra Buana sendiri tidak tahu. Tapi yang jelas, suara itu benar-benar terasa nyata.


"Baik. Aku berjanji, aku akan menjalani hidup dengan baik," katanya sambil menyunggingkan senyum bercampur pilu.


__ADS_2