Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Menghadapi Orang Sombong, Maka Akupun Harus Lebih Sombong


__ADS_3

Pedang Pusaka Dewa tercabut memantulkan cahaya putih menyilaukan karena terkena sinar matahari. Pertarungan Cakra Buana melawan Ki Begang berhenti sejenak.


Pendekar tua itu memperhatikan pedang yang kini digenggam erat oleh Cakra Buana. Sebuah pedang yang bagus dan memancarkan aura besar, pikir Ki Begang.


Tiba-tiba, dari dalam ruangan, adipati Surya Wilaloni melompat ke arena pertarungan antara Cakra Buana dan Ki Begang. Dia berdiri tepat disebelah kiri pendekar tua itu.


"Tidak salah lagi, itu Pedang Pusaka Dewa. Pusaka yang sempat menggemparkan dunia persilatan," kata adipati Surya Wilaloni.


Karena suaranya lumayan keras, maka siapapun yang ada disana mendengar ucapan tersebut. Termasuk Ki Jangkung yang berada sekitar jarak lima tombak darinya. Pertarungan antara Ki Jangkung melawan Ayu Pertiwi pun turut berhenti.


Pendekar tua itu tiba-tiba meloncat dan merapat kepada Ki Begang dan adipati Surya Wilaloni. Tak mau ketinggalan, Ayu Pertiwi juga turut meloncat menghampiri Cakra Buana.


Langlang Cakra Buana sedikit kaget ketika adipati Surya Wilaloni berkata demikian. Sebab, mendiang Eyang Resi Patok Pati tidak pernah berkata bahwa pedang itu merupakan sebuah pusaka yang pernah menggemparkan dunia persilatan. Dia tidak pernah menyangka sama sekali.


Tapi kalau dipikir ulang, tak mungkin juga rasanya jika adipati itu berbohong. Maka untuk menutupi keterkejutannya, Cakra Buana pun segera angkat bicara.


"Benar, ini adalah Pedang Pusaka Dewa. Aku mendapatkan pedang ini dari guruku," ujarnya.


"Bagus kalau kau mengakui. Sekarang, serahkan baik-baik pedang pusaka itu. Jika kau bersedia, maka kau bisa pergi dengan selamat dari sini," kata adipati Surya.


"Hemmm … jangan mencoba mengancamku lagi, apakah kau akan bilang jika tak mau menyerahkan pedang ini maka aku takkan selamat dari sini?"


"Hahaha … kau pintar juga. Benar, kau tidak akan selamat jika tidak mau memberikan pedang itu secara sukarela," katanya.


"Apa yang membuatmu yakin bisa bicara seperti itu?"


"Hahaha … apakah kau tidak bisa melihat? Sekarang kau dikelilingi oleh prajuritku. Belum lagi ada aku, ki Jangkung, dan Ki Begang. Bagaimana kau bisa keluar dengan selamat? Karena itulah, serahkan sekarang juga Pedang Pusaka Dewa padaku," pinta adipati Surya Wilaloni.


"Hemmm … kau pikir aku tidak berani menghadapi kalian semua? Pantang bagiku untuk menyerah sebelum mencoba," ucap Cakra Buana.


"Sombong …"


"Menghadapi orang sombong, maka akupun harus lebih sombong,"


"Keparat. Tahan serangan …"

__ADS_1


"Hiattt …"


Adipati melompat berniat menerjang Cakra Buana. Kaki kanannya terjulur ke depan siap menghantam dada. Tapi dengan santainya Cakra Buana menghindari serangan adipati tersebut.


Melihat lawannya menghindar, adipati Surya Wilaloni bertambah geram.


"Ki Begang, Ki Jangkung, ayo serang dua orang sombong ini," seru sang adipati.


Tanpa diperintah dua kali, dua pendekar tua itu kembali menyerang lawannya masing-masing, seperti pertarungan sebelumnya.


Ki Jangkung kembali menyerang Ayu Pertiwi dengan belati kembar. Tapi gerakannya kali ini berbeda. Lebih cepat, dan tentunya lebih tajam.


Dua buah belati siap mencabik-cabik tubuh Ayu Pertiwi. Ki Jangkung langsung menyerang dengan jurus-jurus tingkat tinggi miliknya. Ayu Pertiwi tak mau kalah, diapun mengeluarkan jurus selendang tingkat tinggi. Pertarungan sengit seperti sebelumnya terulang lagi.


Ki Jangkung dan Ayu Pertiwi sudah melanjutkan pertarungan. Keduanya sudah saling pukul, saling tendang. Bahkan kerap kali dengan sengaja mereka mengadukan tenaga dalam masing-masing.


Sementara itu, Ki Begang sudah memainkan cambuk beracun miliknya. Cambuk itu menyerang dari jarak jauh dengan jurus-jurus andalannya yang dia miliki.


Cambuk itu meliuk-liuk tiada hentinya. Kemanapun Cakra Buana melompat atau menghindar, maka cambuk itu selalu mengikutinya. Inilah salahsatu kehebatan jurus Ki Begang jika memainkan cambuknya. Sebuah jurus yang mengangkat namanya ketika muda dulu.


Beberapa saat lamanya pemuda serba putih itu hanya bisa menghindar dan terus menghindar tanpa mampu membalas.


Hingga pada akhirnya, Cakra Buana memutuskan untuk mengadu pusakanya dengan pusaka lawan.


"Trangg …" cambuk dan Pedang Pusaka Dewa beradu.


Anehnya, cambuk itu menjadi sangat keras seperti sebuah besi, bahkan baja. Tangan Cakra Buana bergetar, begitupun dengan tangan Ki Begang.


Keduanya saling pandang. Dalam hati, masing-masing saling mengagumi lawannya. Cakra Buana mengagumi bahwa baru kali ini dia mendapatkan lawan yang usianya tua tapi masih kuat.


Sebaliknya, Ki Begang mengakui bahwa kekuatan pemuda serba putih itu diatas rata-rata pendekar yang seumuran dirinya. Seumur hidup, baru kali ini dia mendapatkan lawan seorang pendekar muda yang hebat seperti Cakra Buana.


Tapi pertarungan keduanya hanya berhenti beberapa tarikan nafas saja. Karena pada saat lengah, tiba-tiba adipati Surya Wilaloni melompat dari samping kanan sambil memegangi sebuah keris pusaka luk sembilang yang siap mencabik-cabik tubuh Cakra Buana.


Keris itu sangat elok. Sepanjang luk-nya, terukir gambar naga berwarna emas. Bahkan gagang kerisnya juga bergambar kepala naga. Keris itu memang ada campuran emasnya.

__ADS_1


Cakra Buana tersentak atas serangan tiba-tiba ini, buru-buru dia melompat ke belakang dua langkah.


"Wuttt …"


Serangan adipati Surya mengenai udara kosong. Tapi dengan cepat adipati itu membalikkan tubuhnya lalu kembalikan menyerang Cakra Buana. Tak mau ketinggalan, Ki Begang pun turut melompat dan ikut serta menyerang Cakra Buana.


Pertarungan yang lebih dahsyat berlangsung. Dua melawan satu. Keduanya menyerang Cakra Buana dengan ganas. Bagaikan dua ekor serigala yang mengincar buruan, mereka tak melepaskan Cakra Buana, untuk bernafas pun tidak bisa dengan tenang.


Sementara itu, Ayu Pertiwi yang sedang bertarung melawan Ki Jangkung nampak kewalahan. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya. Entah sudah beberapa kali belati kembar hampir menghilangkan nyawanya. Beberapa kali itu pula Ayu Pertiwi selamat dari ancaman maut.


Nafasnya sudah memburu, bahkan dia sudah terasa lemas.


Dari jauh, Cakra Buana pun menyadari keadaan Ayu Pertiwi. Sehingga sebisa mungkin dia menarik lingkaran pertandingannya supaya mendekati Ayu Pertiwi. Akan tetapi tentu saja kedua lawannya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Karena menyadari lawan berusaha mendekati rekannya, maka adipati Surya Wilaloni dan Ki Begang menambah kecepatan dan kekuatan dalam setiap serangan mereka.


Cakra Buana marah karena hal ini, dia melompat mundur ke belakang lalu bertumpu pada kaki kanannya dan langsung melesat seperti seekor rajawali yang menyambar mangsa.


Pedang Pusaka Dewa dia gerakkan dengan cepat hingga mengimbangi serangan kedua lawannya, tak jarang juga dia mengincar leher keduanya. Terpaksa adipati dan Ki Begang melompat mundur, tentu saja. Mereka tak mau lehernya terkena tebasan pedang.


Ayu Pertiwi semakin terpojok, bahkan tangan kirinya sudah terluka oleh belati Ki Jangkung. Luka itu sepanjang jari telunjuk, tapi cukup dalam. Sehingga dia merasakan perih yang luar biasa.


Ayu Pertiwi jatuh terduduk karena lemas dan tak kuasa menahan perih yang mulai mendera tubuhnya. Ki Jangkung beberapa langkah lagi tiba didepannya dan siap menusuk jantung pendekar wanita itu. Akan tetapi …


"Trangg …"


Suara baja terdengar berbenturan keras hingga menimbulkan suara nyaring. Salahsatu belati Ki Jangkung terlempar. Ternyata barusan itu benturan antara Pedang Pusaka Dewa dan belati.


"Ayu, cepat pergi dari sini. Tunggu aku diluar …" kata Cakra Buana.


"Tapi …"


"Cepat, tidak ada waktu lagi. Biar aku yang menghajar mereka," desak Cakra Buana.


Karena dia didesak, maka dengan terpaksa Ayu Pertiwi pun melompat secepat mungkin melewati prajurit lalu pergi dari area kediaman adipati.

__ADS_1


__ADS_2