
Akan tetapi, di saat sukmanya sedang dalam perjalanan pulang, sukma itu mendadak tidak bisa pulang kembali ke raganya. Entah karena hal apa, Cakra Buana belum mengetahuinya. Namun sukmanya terakhir seolah tidak bisa lagi di kendalikan.
Sesaat kemudian, sukma Cakra Buana sudah berada di sebuah hutan yang sangat indah. Sekelilingnya terdapat pepohonan rimbun semisal bambu, berbagai macam bunga yang indah, dan lain sebagainya.
Rasanya, tempat indah seperti ini tidak akan ditemui di dunia nyata.
Cakra Buana berdiri di sana sendirian. Dia memutar tubuhnya di tempat lalu pandangan matanya menyapu ke segala penjuru, berharap ada seseorang selain dirinya sendiri. Sayang, seseorang yang di harapkan tidak ada sama sekali.
Cukup lama Cakra Buana berada di sana. Tak lama, dia melihat sebuah sukma yang lain datang ke tampat itu.
Awalnya Cakra Buana tidak mengetahui sukma siapa yang datang. Tapi saat semakin dekat, barulah dia tahu siapa gerangan. Cakra Buana tidak bisa tidak terkejut, sebab yang datang itu adalah kekasihnya.
Ling Zhi!
Ya benar, sukma itu memang Ling Zhi.
Cakra Buana lalu menghampirinya, dia pun melihat wajah kekasihnya sama bingung seperti yang dia alami.
"Ling Zhi …"
"kakang …"
Dua pasangan muda itu sama-sama kaget. Pikiran mereka dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan.
"Kenapa kau bisa di sini?" tanya Cakra Buana.
"Entahlah kakang. Aku sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi sekarang," kata Ling Zhi kebingungan.
Wanita berdarah Tiongkok Pasundan itu melalukan seperti Cakra Buana sebelumnya. Ia memutar tubuh lalu matanya memandang berkeliling. Berharap bisa mendapatkan sebuah jawaban. Hanya saja, dia juga tidak mendapatkan sebuah jawaban apapun.
"Kakang, bagaimana kita bisa kembali kepada raga kita?"
"Aku tidak tahu Ling Zhi. Sebab sukmaku tidak bisa di kendalikan," ucap Cakra Buana.
Pada akhirnya mereka berdua hanya bisa pasrah dengan keadaan.
Tetapi di saat-saat seperti itu, tiba-tiba muncul sebuah cahaya putih yang sangat terang dan menyilaukan. Bahkan Cakra Buana dan Ling Zhi menutup kedua mata mereka menggunakan punggung telapak tangan.
Detik berikutnya, cahaya itu menghilang. Dan kini, tepat di hadapan mereka ada dua sosok kakek tua yang sudah tidak asing lagi baginya.
Keduanya adalah guru Cakra Buana dan Ling Zhi.
Dialah Ki Wayang Rupa Sukma Saketi dan Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat.
Kedua orang tua itu berdiri berdampingan dengan wajah bersinar dan senyum yang memancarkan kedamaian.
"Sampurasun Eyant Guru …" kata Cakra Buana dan Ling Zhi sambil memberikan hormat mereka.
"Rampes muridku …" jawab kedua kakek tua itu.
"Sebelumnya mohon maaf karena kami sudah menarik sukma kalian ke sini," kata Eyang Rembang.
"Apakah kedua Eyang Guru sendiri yang menarik sukma kami berdua?" tanya Cakra Buana.
__ADS_1
"Benar Cakra, kami memang sengaja," jawab Ki Wayang Rupa Sukma Saketi.
"Pantas saja. Aku kira ada orang yang mengganggu," ucap Ling Zhi.
"Tidak, ada sebuah hal penting yang ingin kami bicarakan kepada kalian," kata Ki Wayang.
"Hal penting apakah itu Eyang Guru?" tanya Cakra Buana masih belum mengerti.
Ki Wayang lalu menoleh kepada Eyang Rembang yang berdiri di sebelah kirinya. Matanya memandang penuh arti, sehingga Eyang Rembang mengerti akan hal itu.
"Silahkan kakang saja yang bicara," kata Eyang Rembang.
"Baiklah kalau begitu,"
"Cakra, kau tahu bukan bahwa kami ini sudah tua?"
"Tentu Eyang, aku tahu,"
"Usia kamu hanya berselisih sedikit saja. Dan usia kami sudah mencapai seratus tahun lebih. Kau tahu itu bukan?"
"Tentu Eyang Guru,"
"Nah karena usia kami yang sudah tua itulah, kami sudah memutuskan sebuah hal yang tidak bisa di ganggu gugat lagi," kata Ki Wayang berubah serius.
"Keputusan apakah itu Eyang Guru?"
"Kami berdua memutuskan untuk moksa," katanya dengan tenang.
"Apa?" Cakra Buana dan Ling Zhi terbelalak kaget mendengarnya perkataan Ki Wayang barusan.
"Sejak kapan aku berbohong kepadamu? Sudah saatnya kami menempuh perjalanan abadi. Waktu untuk meninggalkan dunia yang fana telah tiba, maka dari itu kami memutuskan untuk moksa supaya menempuh kehidupan yang abadi,"
"Tapi …"
"Tidak ada kata tapi. Semua ini tidak bisa di ubah lagi Cakra. Tugas kami sudah selesai, kau sudah menjadi seorang pendekar berkepandaian sangat tinggi. Begitupun dengan Ling Zhi,"
"Tapi Eyang Guru, perang besar antara Kerajaan Tunggilis dan Kerajaan Kawasenan sebentar lagi akan terjadi. Apakah kalian tega meninggalkan kami di saat seperti ini? Siapa yang akan sanggup menghadapi musuh-musuh yang kejam jila kalian moksa?" kata Cakra Buana masih tidak terima dengan keputusan dua gurunya itu.
"Cakra, roda kehidupan itu akan terus berputar setiap saat. Bagian kami sudah lewat, sekarang tinggal kalianlah yang muda-mudi meneruskan tugas ini. Sang Hyang Widhi telah memilihmu untuk menumpas segala kejahatan dan keangkaramurkaan yang terjadi di Tanah Pasundan dan sekitarnya. Jadi untuk apa kami masih turun tangan? "
"Tapi Eyang Guru, kalau kalian moksa, itu artinya kita tidak akan bertemu lagi dengan kalian,"
"Setiap pertemuan pasti akan menemui perpisahan. Tak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya akan musnah. Yang bernyawa, pasti akan mati. Kelak di 'sana', kita akan bertemu kembali. Untuk apa kau merasa bersedih?"
"Tapi Eyang, aku belum membalaskan semua jasa eyang," kata Cakra Buana mulai merasa sedih, begitupun dengan Ling Zhi.
"Apakah aku pernah menuntus balas jasa kepadamu?"
"Ti-tidak Eyang,"
"Nah kalau begitu, jangan bicara seperti itu. Kalau kau memang ingin membalas jasaku, cukup menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya, itu sudah lebih dari cukup. Jadilah manusia yang rendah hati dan tidak mementingkan diri sendiri,"
"Semua wejangan Eyang Guru, pasti akan selalu murid ingat,"
__ADS_1
"Bagus, bagus. Aku merasa tenang sekarang. Kalau aku selama mendidik ada salah padamu, harap kau maafkan. Aku juga manusia biasa, sama sepertimu," kata Ki Wayang sambil tersenyum.
"Tidak Eyang Guru, tidak. Eyang Guru sama sekali tidak mempunyai salah kepadaku. Justru sebaliknya, akulah yang banyak bersalah kepada Eyant Guru," ucap Cakra Buana mulai meneteskan air matanya.
"Tidak muridku, kau murid yang baik. Mana ada salah kepadaku? Justru aku sangat bangga terhadapmu," kata Ki Wayang menyudahi percakapannya.
"Ling Zhi," kata Eyang Rembang memanggil cucu muridnya itu.
"Iya Eyang,"
"Apakah Eyang mempunyai salah kepadamu selama ini?"
"Tidak Eyang. Justru Eyang sangat baik kepadaku, aku bida seperti sekarang ini karena Eyang. Aku, aku … tidak mau berpisah dengan Eyang," ucap Ling Zhi lalu menangis.
"Jangan menangis cucuku. Semuanya sudah takdir. Tak bisa di ubah lagi. Jagalau dirimu baik-baik. Jadilah manusia yang baik,"
"Ling Zhi mendengar semua pesan Eyang," ucap Ling Zhi.
"Cakra," panggil Eyang Rembang.
"Aku Eyang,"
"Jagalah Ling Zhi baik-baik. Aku menitipkan dia kepadamu," katanya sambil tersenyum.
"Baik Eyang Guru. Aku akan menjaga Ling Zhi dengan taruhan nyawaku,"
"Bagus, bagus. Terimakasih nak,"
"Eyang, aku merasa sebentar lagi akan menyusul Eyang," kata Ling Zhi tiba-tiba.
Perkataannya membuat Cakra Buana kaget. Ucapan Ling Zhi terdengar ngasal, tapi tidak tahu kenapa Cakra Buana tiba-tiba merasa hatinya sangat sakit.
"Jangan bicara seperti itu. Yang akan terjadi, terjadilah. Nasib bisa di ubah, tetapi takdir tidak. Serahkan semuanya kepada Sang Hyang Widhi," ucap Eyang Rembang kepada Ling Zhi.
Ling Zhi tidak menjawab. Dia sendiri tidak tahu kenapa mulutnya bisa tiba-tiba berucap seperti itu.
"Baiklah, kami pergi dulu," kata Ki Wayang.
"Eyang Guru ……" seru keduanya.
Ki Wayang dan Eyang Rembang tidak menjawab. Keduanya hanya tersenyum lembut sambil memegangi kepala muridnya masing-masing.
Setelah itu, kedua orang tua tersebut lalu hilang seiring munculnya cahaya putih.
Cakra Buana dan Ling Zhi masih terus di posisi seperti itu. Air mata mereka terus jatuh tanpa bisa di bendung.
Kehidupan …
Dunia fana …
Tak ada yang abadi …
Setiap awal, akan ada akhir …
__ADS_1
Setiap pertemuan, akan ada perpisahan …