
"Grrrh …" suaranya begitu menggelegar bagaikan raungan seekor harimau yang mengamuk karena terluka.
Matanya berubah seperti harimau, dua taring yang sangat tajam keluar secara tiba-tiba. Cakra Buana menghentakkan kedua tangannya ke depan.
Hasilnya adalah sebuah energi tak kasat mata menyerang Ki Begang, Ki Jangkung, dan adipati Surya Wilaloni dengan sangat keras.
Ketiganya buru-buru melompat ke belakang dengan tubuh bergetar. Sungguh tak pernah disangkanya bahwa pemuda serba putih itu memiliki kesaktian diluar dugaan mereka bertiga.
Cakra Buana bangkit kembali. Pedang Pusaka Dewa dia sarungkan. Beberapa saat matanya menatap tajam ketiga lawannya tersebut.
Cakra Buana memejamkan matanya, sebuah energi terkumpul disekitar dirinya. Mulutnya komat-kamit merapalkan sebuah ajian.
*Aing ngarapal ajian si gelap ngampar
Oyag dina jero dada aing
Oray jalu di beheung aing, maung galak dina bengeut aing
Panon poe kembar dijero panon aing
Durga dek aya dina pingping aing
Gelap ngampar aya dina jero omongan aing
Gelap sewu (seribu petir) aya dina sora aing
Ah … aing si gelap sewu*
Versi Indonesia:
*Aku merapal ajiku si gelap ngampar
__ADS_1
Berkibar-kibar dalam dadaku
Ular jantan leherku, harimau galak ada di wajahku
Surya kembar dalam mataku
Durga dek akan berada dipahaku
Gelap ngampar berada dalam perkataanku
Gelap sewu (seribu) ada dalam suaraku
Ah ... aku si gelap sewu*
Langit mendadak mendung. Angin kematian berdesir dengan kencang menyapu tempat kediaman adipati itu. Baik prajurit maupun ketiga tokoh utama, semuanya merasa bergidik ngeri.
"Arghh …" Cakra Buana kembali berteriak. Tapi teriakannya kali ini jauh lebih mengerikan.
Teriakannya menggema. Bagaikan seribu sambaran halilintar. Semua prajurit tewas. Dari setiap lubang hidung, lubang telinga, dan mulut, semuanya mengeluarkan darah.
Semua prajurit tewas dengan kondisi serupa. Sedangkan keadaan Ki Begang, Ki Jangkung, dan adipati Surya Wilaloni, ketiganya pun tak jauh berbeda dari semua prajurit.
Hanya saja mereka tidak langsung tewas. Ketiganya masih bertahan meskipun hanya bernafas tersengal-sengal. Jelas bahwa organ dalam merela terguncang hebat.
Tak mau membuang waktu, Cakra Buana memghentakkan kedua tangannya dari jarak jauh mengarah kepada ketiga lawannya tersebut.
"Haaa …"
"Darrr …" mati.
Ki Begang, Ki Jangkung, dan sang adipati, semuanya tewas dengam dada pecah dan tubuh mereka gosong. Hanya satu kali serangan.
__ADS_1
Yah … hanya satu kali.
Inilah jurus tertinggi yang dia miliki. Jurus yang pernah diajarkan oleh Eyang Resi Patok Pati. Jurus bukan sembarang jurus, karena itulah Eyang Resi melarang muridnya untuk menggunakan jurus itu jika tidak benar-benar dalam keadaan terdesak hebat.
Tepat, inilah Ajian Gelap Ngampar. Gelap dalam bahasa sunda berarti halilintar/petir, dan ngampar berarti menyambar. Itu artinya, gelap ngampar sama saja dengan petir menyambar.
Orang yang tidak kuat tenaga dalamnya, maka ketika mendengar suara si penggunanya saja, bisa langsung tuli. Atau bahkan langsung tewas.
Jika terkena pukulan, maka akibatnya tak beda jauh seperti halnya tersambar petir.
Ajian Gelap Ngampar. Konon katanya tidak semua orang zaman dilidulu bisa menguasai ajian ini. Selain karena tirakatnya sangat berat, ada juga efek samping lain jika si pengguna belum benar-benar kuat wadahnya.
Ajian ini biasanya hanya dimiliki oleh para raja dan petinggi lainnya yang sangat digdaya.
Setelah tidak sengaja mengeluarkan Ajian Gelap Ngampar dan ajian itu sudah ******* semua musuhnya, Cakra Buana pun merasakan betapa badannya terasa sangat lemas.
Tapi sekuat tenaga dia berusaha untuk bertahan. Dia harus buru-buru pergi dari situ. Karena kalau tidak, maka pasti akan ada yang melihat kejadian ini dan itu berarti dia berada dalam bahaya.
Dan dugaannya memang tidak salah. Ada seseorang yang melihat kejadian ini dari sebuah pohon yang berada dipinggir luar istana kadipaten. Entah siapa. Tapi sayangnya Cakra Buana tidak menyadari hal itu.
Setelah dipastikan semuanya beres, maka dia pun segera pergi dari tempat itu dan berniat mencari dimana Ayu Pertiwi menunggu dirinya.
Saat ini, Cakra Buana sudah berada diluar kadipaten kediaman adipati Surya Wilaloni, saat ini dia sedang berjalan di pinggir hutan. Langkahnya semakin lama semakin gontai.
Matanya sudah semakin buram. Bahkan wajahnya pun sudah pucat pasi. Hal ini mungkin disebabkan karena dia kehabisan tenaga dalam, atau bisa jadi efek dari luka-luka yang diberikan oleh lawannya tadi. Atau … bisa jadi juga dua-duanya.
Langlang Cakra Buana terus menguatkan dirinya. Dia belum menemukan Ayu Pertiwi, jadi dia takkan membiarkan dirinya tergeletak.
Akan tetapi dia juga manusia biasa, mempunyai batasan-batasan wajar tentunya. Sehingga dia tidak kuasa lagi menahan dirinya dan Cakra Buana pun hampir jatuh.
Untung saja berbarengan dengan itu, sekelebat bayangan seseorang segera meraihnya dan buru-buru orang itu membawa pergi Langlanh Cakra Buana.
__ADS_1